Takdir tak pernah salah, terkadang kita saja yang tak bisa menerima. Semua yang di rencanakan Allah adalah yang terbaik dari rencana manusia.
**
Razka tak menyangka kepergian nya ke negara orang untuk mengawasi proyek ayahnya akan mempertemukan ia dengan seorang wanita yang lemah lembut bernama Fauziah Azahra Raymond
Satu kali saling menatap membuat pikiran Razka kalang kabut.
Demi menghindari zina pikiran, Razka pun berniat melamar Zia. Hatinya sudah mantap.
Hingga Razka pun menyampaikan niatnya pada sang Abi., Awalnya Gabriel sang ayah sangat senang karena anaknya mau membuka hati. Namun, setelah tau siapa ayah dari wanita yang ingin di lamar Razka dirinya hanya diam dan tak tau menjawab.
Bagaimana bisa anaknya ingin menikah dengan anak dari musuhnya yang telah membunuh keluarga istrinya di masa lalu.
Apa mungkin Gabriel akan mengizinkan Razka melamar anak musuhnya yang tak lain adalah putri dari Daniel.
Mengingat istrinya Aria masih belum bisa melupakan kejadian itu walau bibir mengatakan sudah ikhlas.
Bagaimana bisa mereka berbesan nantinya sedangkan masa lalu belum kunjung terlupakan?
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Akankah Gabriel menyetujui. Jika iya, bagaimana dengan Daniel?
Penasaran dengan lika-liku percintaan Razka dan Zia yang di bumbui sedikit hal mistis.
Simak selengkapnya disini di novel author
Cerita ini hanyalah fiksi.
Note:
Tidak menerima tindakan plagiat apapun itu, jika di temukan kasus plagiat maka akan saya bawa ke rana serius.
Hargai manusia selayaknya manusia!
Jika tak suka, silahkan tinggalkan tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Little Rii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Lagi.
00.00
Hiks hiks.
Tepat pukul 12 malam, terdengar suara wanita yang menangis sesegukan dari halaman belakang mansion Raymond. Tak ada yang mendengar tangisan lirih itu, hanya ada gelapnya malam dan juga hewan-hewan nokturnal saja.
Wanita itu tampak duduk di bawah sebuah pohon dengan rambut terurai panjang. Dengan stelan baju tidur berwarna maroon semakin membuat posisi wanita itu tak terlihat.
Rambut sedikit bergelombang terbang di terpa angin malam. Wajah pucat dan juga bekas merah di leher seperti bekas luka. Air mata yang terus mengalir tapi senyuman tak kunjung hilang. Tatapan kosong dan juga bola mata yang semakin mengecil.
Sebuah cahaya tak sengaja mengenai wanita itu, seseorang tengah menggunakan senter ke arahnya.
"Siapa di sana?" tanya orang itu yang tak lain adalah penjaga keamanan di mansion. Biasanya beberapa dari penjaga ada yang masih bergadang sampai larut malam dan sesekali memeriksa keamanan.
"Hei, kau yang di sana! Apa yang kau lakukan sendirian tengah malam begini? Apa kau orang mansion?" tanya pria itu. Ia masih mengarahkan senter ke arah wanita yang duduk sembari menangis itu.
Wanita itu tampak membalikkan wajahnya lalu tersenyum ke arah penjaga.
"No-nona muda," ucapnya gugup.
"Tolong aku," lirih Zia mengangkat tangannya.
"A-apa yang anda lakukan malam-malam seperti ini di belakang, nona? Kembalilah ke dalam," ucap penjaga itu berusaha tidak takut.
"Tolong aku," lirih Zia lagi. Kali ini Zia sudah berjalan mendekati penjaga itu.
Hal itu tentunya membuat sang penjaga langsung ketakutan dan berlari masuk ke dalam mansion.
Dengan cepat penjaga itu berlari menuju kamar Daniel, sesekali ia melirik ke belakang di mana Zia hanya berdiri sembari terkikik saja.
Tok..
Tok..
Tok..
Penjaga itu mengetuk pintu kamar Daniel. Ia berharap Daniel cepat bangun dan membuka pintu.
Tok..
Tok..
Tok..
"Tuan! Buka pintunya!" teriak penjaga itu.
Tubuhnya seketika tegang melihat siapa yang sudah ada di belakang nya. Ternyata Zia mengikutinya, ia pikir Zia hanya berdiri saja tadi.
"Ya Allah, astaghfirullah. Sadarlah nona, ingat Allah." Penjaga itu masih mencoba mengetuk pintu, entah kenapa orang yang ada di kamar lama sekali membuka pintunya.
"Mari kita mati bersama agar aku punya teman. Aku kesepian," ucap Zia mengeluarkan sebuah belati yang ada di dalam saku baju tidurnya.
"Astaghfirullah, jangan main pisau, nona! Bahaya!" teriak penjaga itu. Biarlah seisi mansion bangun, memang itu niatnya.
Ceklek.
Pintu kamar Daniel terbuka, penjaga itu langsung membalikkan badannya dan menghadap Daniel.
"Ada apa?" tanya Daniel.
"Nona muda kesurupan lagi, tuan." Penjaga itu menunjuk ke arah belakang nya, namun seketika raut wajahnya berubah menjadi bingung. Tidak ada Zia di sana.
"Apa maksud mu?" tanya Daniel tak melihat siapapun di belakang penjaga itu.
"Tadi saya melihat nona duduk di belakang, tuan. Dia menangis, jadi saya tanya kenapa dia ada di sana. Dia malah menghampiri saya, makanya saya kemari untuk membangunkan Anda. Namun, sebelum anda membuka pintu, nona mengeluarkan belati dan mengajak saya mati bersama dengannya. Katanya dia kesepian," jelas penjaga itu.
Daniel pun dengan cepat pergi kamar Zia. Jika yang dikatakan penjaga itu benar, maka ia harus melakukan tindakan agar Zia tak membahayakan orang lain.
Daniel membuka kamar Zia yang ternyata tak di kunci. Berarti benar kata penjaga tadi, Daniel pun memilih masuk.
Daniel menyalakan lampu kamar, seketika kamar yang gelap menjadi terang. Daniel berjalan ke arah ranjang, di sana terlihat Zia tengah berbaring dan tidur dengan pulas.
Daniel memilih duduk di tepi ranjang menatap wajah pucat putrinya. Entah apa yang harus Daniel lakukan agar putrinya tak kesurupan lagi.
"Abi," ucap Zia terbangun dari tidurnya karena silau nya cahaya lampu.
"Kenapa Abi di sini?" tanya Zia serak sembari memegang kepalanya yang pusing.
"Zia baik-baik saja?" tanya Daniel memijit kepala Zia.
"Eum, iya."
"Tidurlah kembali, jangan lupa baca doa yah. Abi akan di sini menemani Zia," ucap Daniel masih memijit kepala putrinya.
"Tapi kenapa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Zia bingung.
"Hm, sepertinya kau kesurupan lagi. Jadi Abi akan berjaga-jaga di sini yah," jawab Daniel.
"Maafkan Zia, Bi. Zia hanya bisa merepotkan Abi saja," lirih Zia tak enak hati.
"Abi tak pernah kerepotan. Yasudah, tidur terus. Nanti besok kau harus mengajar bukan?"
"Iya, Abi. Selamat malam," ucap Zia kembali memeluk guling nya dan berusaha untuk kembali tidur.
Daniel mematikan salah satu lampu kamar dan menyalakan lampu lainnya agar tidak terlalu gelap. Ia memilih duduk di sofa sembari merenung sejenak.
Matanya tak lepas dari putrinya yang tertidur, pikiran nya berkecamuk dengan apa yang terjadi belakangan ini.
Brakk!!
Daniel terkejut ketika mendengar suara jendela terbuka. Matanya yang awalannya sedikit terpejam langsung terbuka lebar.
Angin malam masuk ke kamar menyisakan udara sejuk.
Daniel pun berjalan ke arah jendela lalu menutup kembali jendela dengan rapat.
Tak lupa pula Daniel membenarkan posisi gorden agar menutupi gelapnya malam yang terlihat dari kaca jendela.
"Berhentilah mengganggu putri ku!" gumam Daniel namun penuh penekanan.
Daniel pun berjalan menuju ranjang Zia untuk memastikan Zia tertidur. Ia tersenyum melihat wajah putrinya yang menggemaskan sedari bayi.
Masih teringat dimana ia dan Malik memberikan air dingin pada Zia yang baru lahir. Sungguh tindakan bodoh.
Bahkan dulu ketika Zia berusia tiga bulan, Daniel dengan entengnya membelikan eskrim cokelat untuk putrinya dan berakhir dimarahi oleh istrinya sendiri.
"Kau sudah besar sayang, Abi harap kau selalu bahagia. Sebentar lagi kau akan menikah, Abi terus berdoa semoga pernikahan mu dapat mengubah kehidupan mu menjadi lebih baik."
"Abi menyayangi mu, putri Abi yang cerewet."
_
_
_
_
_
...Eum, buk Kunti jangan ngamuk-ngamuk yah nanti pas malam pernikahan. Kasihan bang Razka harus main kejar-kejaran 😂...
typo bertebaran di mana-mana harap bijak dalam berkomentar yah.
tbc.
paraaaaah pokoknya...
top banget otor pokoknya,selain tegang dengan perkelahian kasar,ada perkelahian halus juga...