Reva, datang ke Taiwan dengan niat bersungguh-sungguh untuk kuliah dan lulus dengan nilai terbaik.
Steven, pemilik apartemen yang ditinggali Reva dan tinggal di gedung sebelah. Menganggap Reva anak bawang tapi juga mengagumi kecantikan Reva yang mirip dengan Tia, penyanyi sekaligus istri bossnya.
Sosok yang menjadi standarnya saat mencari pendamping hidup.
Sandy, yang dianggap sebagai Om oleh Reva, selalu memberinya dukungan dan pertolongan dalam beradaptasi dengan lingkungan baru.
Kisah cinta Sandy membuat Reva terpaksa membantunya dan membuatnya terjebak dalam kerumitan hubungan diantara mereka bertiga.
Hubungan Mereka bertiga, pacar Sandy dan pengagum Steven.
Siapa yang akan dipilih Reva?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EnderGamer 1256, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menguji Teori
"Halo Tia.." sebuah suara manja menyapa.
Tia tersenyum.
"Halo Jenny..
Sama siapa ?"
"Sama Steven.." jawab Jenny sambil menggelendot manja di lengan Steven.
Steven tetap diam.
Matanya kembali menatap Reva.
Reva menatap Steven.
Lalu menatap Jenny.
Kemudian memalingkan mukanya.
"Halo Boss..." sapa Josh.
"oh..ada Reva." katanya.
"Oo...ini keponakan Tia yang terkenal itu ?" kata Jenny tersenyum lebar.
Reva kembali menoleh.
Tersenyum pada Jenny.
"Aku ? Terkenal ?" kerutnya.
Lalu memandang Tia.
Tia mengangkat bahu.
"Iya.. kamu terkenal.
Dia suka bicarain kamu." tunjuk Jenny pada Steven.
"Jen !" tegur Steven.
Jenny tertawa.
Dia makin menggelendot manja.
"Boss..kami makan dulu.
Kita gak mau ganggu kalian lebih lama." kata Josh.
Michael tersenyum, mengangguk.
Robert melambai.
Sandy menganggukkan kepalanya.
"Bye Va..
Oiya...kamu kelihatan beda malam ini.
Cantik." kata Josh dengan mata mengagumi.
Reva memberikan senyum nya.
"Makasih Josh."katanya.
"Bye Tia.." kata Jenny.
"Ayo.." katanya menarik lengan Steven.
"Pergi dulu Boss..
ReVa.." pamit Steven.
Reva tidak menjawab.
Dia memalingkan mukanya.
Steven masih memandang Reva lalu berbalik.
Sandy menatap Reva tajam.
Lalu tersenyum kecil.
Michael dan Robert serta Biliyan tidak melewatkan momen itu.
Diam-diam mereka saling pandang.
Sementara Tia menatap Reva dengan cemas.
"Va.."panggilnya.
Reva mengangkat kepalanya.
"Besok ikut Tante ke studio."
"Studio Maxx Tante ?" tanya Reva.
"Iya.
Disana kan ada drum.
Kamu udah lama gak main kan ?"
Mata Reva berbinar.
"Bener Tante?"
Tia mengangguk.
Lalu menatap semua orang.
"Reva drummer dulu.
Bagus.
Udah berapa kali menang Va ?"
Reva memerah.
"Ah Tante..saya jadi malu."
"Lho kok malu ?
Kamu gak ketemu band di kampus Va ?"
"Enggak Tante.
Mungkin sayanya yang kurang gaul.
Abis saya kan juga harus ngejar kuliah.
Nanti beasiswanya kelepas." jawab Reva.
"Kamu kenalin dong sama Alex." saran Michael.
"Iya..
Besok Tante kenalin sama Alex.
Drummer nya Jim."
"Alex, Tante?
Beneran ?" kata Reva berbinar-binar.
Tia mengangguk.
Diam-diam bersyukur sudah berhasil mengalihkan perhatian Reva.
Tadi dia khawatir saat melihat Jenny bergelendot di lengan Steven.
Dia memperhatikan bahwa Reva tidak mau menatap Steven.
"Besok gue cuti." kata Sandy masih menatap Reva.
"Hah ?!
Lu cuti melulu.
Kenapa ?
Cindy mau ngapain lagi kali ini ?" kata Michael.
"Ah enggak.
Mau liat Reva jadi drummer." senyum Sandy.
Reva mengangkat matanya menatap Sandy.
Mukanya memerah.
"Ah Om !!
Aku biasa aja kok."
"Eh... beneran.
Besok Om anter ke Maxx.
Kan Om punya orang dalam yang bisa masukin Om ke sana.
Tuuh dia.." canda Sandy menganggukkan kepalanya pada Tia.
"Kalo gitu gue juga cuti ah...
Mau nonton Reva besok.
Lu jaga kandang ya Kel." sahut Robert.
"Eh..sialan lu semua.
Kalo bini sama anak gue mau manggung, ya gue kudu ikut juga dong." protes Michael.
Semua tertawa.
Reva juga tertawa.
Semua orang lega.
Mereka berhasil mengalihkan pikiran Reva.
Diujung ruangan, Steven diam-diam melirik meja para Bossnya.
Melihat Reva tertawa bersama mereka.
Tadi dia melihat perubahan sikap Reva.
Reva tidak mau memandangnya.
Juga tidak menjawab ucapan pamitnya.
Steven mengeluh diam-diam.
Lalu menoleh.
Mencoba untuk berkonsentrasi pada obrolan di mejanya.
Lalu kembali melirik.
Tadi dia seperti tidak percaya melihat Reva.
Cantik sekali.
Gaunnya mengubah Reva menjadi seorang gadis cantik dibandingkan gaya berpakaiannya sehari-hari.
Biasanya, dia biasa melihat Reva, tapi tadi...
Steven belum pernah tertegun seperti tadi.
Dia pria cerdas.
Terbiasa memprediksi reaksi orang lain.
Dia kaget dengan reaksinya sendiri.
Steven kembali melirik.
Reva sedang tertawa pada sesuatu yang dikatakan Sandy.
Steven mengernyit.
Dia masih ingat kemarahan Sandy tadi pagi di sasana.
Juga pertarungan mereka.
Tadi Sandy betul-betul melampiaskan kemarahan padanya.
Kenapa ?
Hanya karena dia membanting dan mengunci Reva ?
Kenapa?
Dia biasa melakukan hal yang sama pada Anna.
Sandy tidak pernah marah.
Diantara ketiga Bossnya, Sandy yang paling kalem.
Steven melirik lagi.
Memperhatikan Sandy.
Marah karena dia dianggap membahayakan keponakannya ?
Jadi dia benar-benar menganggap Reva sebagai keponakan betulan ?
Atau...
Tapi Sandy punya pacar.
Pacar brengsek tapi Sandy sangat tergila-gila padanya.
Apa mungkin...
Mungkin sekarang pikiran waras Sandy sudah kembali ?
Steven kembali mengernyit.
Dia tidak suka Sandy kembali waras.
Biar saja Sandy dengan pacar brengseknya itu.
Lagipula Reva masih kecil.
Masih kecil...
Steven melirik lagi.
Masih kecil apanya ?!
Dengan gaun itu dan tatanan rambutnya, Reva terlihat seperti wanita dewasa yang matang.
Berumur sembilan belas tahun.
Buyutnya dulu menikah umur delapan belas tahun dan sudah nyaris dibilang perawan tua !!
"Steve...heh... Steve !!" panggil Jenny.
Steven mendongak.
Jenny dan Josh nyengir.
"Kemana aja kamu ?"
"Disini kok
Dari tadi dengerin kalian."
"Ah..masa ?!"
"Emang tadi kita lagi ngomong apa ?" tantang Jenny.
Steven memerah.
Dia tidak bisa menjawab.
"Kan aku udah bilang..
Dia jatuh cinta sama keponakan Boss." kata Josh.
Steven memerah lagi.
"Kalo ngomong jangan sembarangan !"
"Jadi..teori kita bener gak ?"
"Teori apa?"
"Kalo tu cewek juga suka sama si Steve ?" angguk Jenny pada sosok Reva.
Josh mengerutkan keningnya.
Steven memandangnya.
Dia jadi tertarik mendengarkan.
"Tadi... dia gak mau nyapa Steven abis kamu gelendotan di tangannya Steven." jawab Josh.
"Yang artinya..." lanjut Jenny.
"Yang artinya dia marah sama Steven." jawab Josh.
"Kamu tadi sengaja ya ?" kata Steven.
Jenny dan Josh tertawa terbahak-bahak.
"Tapi kamu jadi tau kan..
Kalo dia marah sama kamu karna ada cewek lain gelendotan di tangan kamu." kata Jenny.
"Kalo aku tau kamu bakal gelendotan kayak gitu, aku gak bakal nyamperin dia." gerutu Steven.
"Tapi kamu nyamperin dia." tuduh Josh.
"Ya wajar kan..
dia..eh..dia penyewa apartemen ku.
Aku kan harus sopan." elak Steven.
"Kan..kan..aku bilang juga apa !
Steven jatuh cinta!" kata Josh.
"Heh ! Kalo ngomong sembarangan.!" bentak Steven.
"Aku tadi nyamperin Boss kita.
Bukan Reva.." cengir Josh.
"Dan aku juga nyamperin Tia." cengir Jenny.
"Jadi... siapa yaaa..
Yang nyamperin Reva..." tanya Jenny berpura-pura berfikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
Steven melotot.
Tawa kembali terdengar dari meja para Bossnya.
Dia menoleh.
Reva sama sekali tidak melihat ke arah meja mereka.
Dia bahkan menghadapkan tubuhnya membelakangi mereka.
Seakan bisa saja.
Posisi kursi Reva sedikit menghadap meja Steven.
Steven tersenyum sendiri.
Jadi anak kecil itu marah.
"Nah kaan...dia senyum-senyum sendiri." cetus Jenny memutus pikirannya.
"Apa ?" kata Steven ketus.
"Pikirin gimana kamu cari cara biar bisa deketin dia lagi.
Kayaknya dia udah gak mau tuh sama kamu." senyum Jenny.
Wajah Steven kembali keruh.
Satu jam kemudian, Reva dan keluarganya berdiri.
Mereka sudah selesai makan.
Tampak Sandy menawarkan lengannya untuk digandeng Reva.
Reva menerimanya sambil tersenyum.
"Josh.. Steven..kami pulang dulu." tegur Michael.
"Jenny..aku pulang dulu yaa" sapa Tia.
"Josh.. Steven..." pamit Robert, sementara Biliyan tersenyum pada mereka.
"Steven, Josh.." senyum Sandy.
Tangannya memegang telapak tangan Reva di sikunya.
Reva tersenyum pada Josh dan Jenny.
Josh, Steven dan Jenny berdiri.
"Silakan Boss.." jawab Josh dan Steven.
"Iya Tia.." senyum Jenny.
Mereka lalu berbalik meninggalkan Josh, Steven dan Jenny.
Senyum Steven membeku.
Reva sama sekali tidak mau melihatnya.
Dan dilihat dari dekat seperti barusan.
Astaga.. Reva cantik sekali.
Steven memandang Reva dari belakang.
Gaunnya mengayun.
Sesekali menyapu pipa celana Sandy.
Reva mendongak, menatap Sandy yang menunduk berbicara padanya.
Tangan Steven mengepal.
"Steve..heh.. Steve..." panggil Jenny.
Steven menoleh.
Lalu menunduk.
Teman-teman nya sudah duduk kembali.
Dia sendiri yang masih berdiri.
Steven menghela nafas, lalu duduk.
Josh dan Jenny kembali tertawa terbahak-bahak.
...🌴🍎🎋...
kerennnnn
jangannbilang terjadi huru hara saat pesta lho kak author
baca novel ini....... !@#$^&*%!!
cheers 🥰🥰🥰