Hai...
salam kenal dari saya, penghuni baru Noveltoon.
Saya coba up karya saya, semoga bisa menghibur.
Cerita tentang dua pria yang bersahabat dan mencintai satu gadis yang sama, namun akhirnya salah satu dari mereka harus mengalah demi sahabatnya.
Wanita itu adalah Azizah yang dari pertama sudah menyukai Gibran namun cinta mereka gagal bersemi, dan kedua lelaki tampan itu adalah Gibran dan Gery, mereka telah bersahabat sedari kecil karena ayah mereka bekerja pada satu bidang yang sama yaitu pejabat pemerintahan dikotanya.
Gibranpun harus merelakan Azizah untuk Gery, namun ternyata sifat Gery yang playboy masih saja melekat padanya meskipun ia sudah memperistri Azizah yang pernah Gibran cintai.
Lalu bagaimana cerita selanjutnya?
check it out gaesss....
happy reading....😍😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Srie Moelyanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
baku hantam kedua pria tampan
#Cinta_Terlarang
🚫🚫🚫
" Oke, semua anggota sudah lengkap. Kita bergegas menuju pulang, karena gerimispun mulai menyapa, medan yang tak mudah untuk dilalui, tidak ada saling mendahuli kendaraan. Ikuti komando dan jaga kemanan. Sebelum kita berkendara alangkah baiknya terlebih dahulu kita berdoa memohon keselamatan pada Tuhan. Berdoa sesuai kepercayaan masing-masing."
Semua anggota ninja 4 race menundukkan kepala, seraya berdoa memohon keselamatan kepada Tuhan.
Ninja 4 race sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan arah pulang.
Gerimis yang menyapa, membuat bebatuan semakin licin. Cuaca pegunungan semakin dingin.
Gibran tak segan-segan memindahkan jaket nya kepada tubuh Azizah.
" Kak, kamu kan yang mengendarai motor, apa nanti gak akan kedinginan?" Azizah menatap syahdu pada Gibran.
" pakailah, aku tak ingin kau sakit. Aku sudah biasa."
Dengan wajah datar namun tatapan yang hangat cukup membuat wajah Gibran terlihat ramah.
Kembali Azizah melingkari tubuh Gibran dengan pelukannya.
Puluhan kendaraan roda dua tersebut mulai melintasi beberapa desa bahkan kota.
Hingga mereka tiba dibase camp tempat awal start mereka berkumpul.
" Oke, Alhamdulillah perjalanan kita lancar. Setelah ini silahkan menuju tempat masing-masing. Terimakasih, semoga silaturrahim yang solid selalu terjalin untuk semua anggota Ninja 4 race."
sebelum melanjutkan perjalanan kerumah masing-masing, mereka asik bercengkerama di base camp.
Setelah dirasa cukup, Perjalanan dilanjutkan menuju rumah masing-masing.
Sampailah Azizah dan Gibran tiba didepan rumah mereka.
Gibran memastikan sampai Azizah benar-benar masuk kedalam rumahnya, lalu ia pun membuka pagar besi dan memarkirkan motornya.
Gery sudah sangat emosi menunggu kepulangan Azizah didalam rumahnya.
Dengan berkacak pinggang didepan pintu, ia melihat Azizah yang mulai memasuki pagar rumah mereka.
" Assalamualaikum, Mas."
Azizah mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Gery, namun Gery hanya menatap Azizah dengan tajam, seolah ingin memangsa tanpa menurunkan tangannya yang berada dipinggang.
" dari mana saja kau hah! Sudah jam segini baru pulang?"
Dengan napas yang memburu, Gery seolah tak bisa menahan emosinya yang meledak-ledak.
Gery pulang kerumah untuk sekedar menukarkan pakaiannya, sambil menunggu Nunik yang sedang sibuk dengan keluarganya pada resepsi keponakannya.
Azizah hanya tertunduk merasa bersalah, karena sudah jam delapan malam, ia baru pulang.
" ngapain saja kau sama Gibran, selingkuh?"
Gery menunjuk muka Azizah dengan tatapan yang memicing.
" Maaf, Mas. Zi..."
Belum selesai perkataan Azizah,
Plakkk....
Azizah yang berusaha memberi penjelasan namun terpotong oleh tamparan Gery kearah pipinya.
Membuat Azizah menahan napas dan mulai menitikan air mata, menyisakan wajah yang merah disertai rasa sakit luar biasa dalam hatinya.
" Apa? Mau mengelak, sudah jelas kau telah melakukan sesuatu dengan Gibran. Apa kau tak membawa pakaian, sampai kau harus memakai jaket si brengsek itu?"
Gery meninggalkan Azizah dengan tangan yang mengepal, penuh dendam dan membara.
Azizah mulai ambruk, terduduk lemas setelah melihat suaminya begitu terbakar emosi, mendapati Azizah yang masih mengenakan jaket Gibran.
Entah apa yang membuat Gery begitu marah, padahal Azizah sudah mengirimkan pesan jika ia akan pergi bersama Gibran dengan teman-teman motornya.
Pesan dari Azizah yang Gery abaikan, seolah mengizinkan Azizah untuk pergi bersama Gibran. Azizah hanya berfikir bahwa ia pergi dengan sahabat suaminya, tak perlu ada yang dikhawatirkan karena tak mungkin mereka melakukan hal yang tak sepantasnya.
Dengan langkah cepat, Gery menuju rumah Gibran. Tangan kekar yang sudah mengepal siap mendarat pada Gibran.
Melihat pintu pagar rumah Gibran yang terbuka, membuat Gery leluasa memasuki halaman rumahnya dan membuka dengan kasar pintu depan rumah Gibran.
Brugg...
Suara pintu yang terbuka dengan keras, membuat Gibran yang baru saja selesai mandi, melangkah kepintu depan rumahnya hanya menggunakan celana boxer hitam dan kaos singlet warna putih, membuat perut sixpacknya begitu menonjol.
Tanpa basa-basi, Gery yang baru saja melihat Gibran yang masih membawa handuk, langsung mendaratkan bogem pada Gibran.
Bugh.
Satu pukulan sukses mendarat pada wajah Gibran, membuat wajahnya terlempar seketika.
Gibran masih terlihat tenang, sambil memegangi ujung bibirnya yang sedikit robek.
" Ada..."
Bugh.
Kembali Gery melayangkan bogeman pada rahang Gibran yang membuatnya berhenti bertanya.
Ketika Gery hendak kembali melayangkan pukulannya, dengan sigap, Gibran bisa menahannya.
" Ada apa?"
Gibran masih bisa mengendalikan emosi.
" alah, jangan sok polos Lo." Gery seperti sedang kesetanan, membabi buta.
Adu fisik kedua pria tampan dan gagah itu mulai memanas, namun Gibran terus berusaha untuk bertahan tanpa membalas semua pukulan Gery.
Azizah yang menyusuli Gery, berusaha melerai pertikaian keduanya.
Namun ketika Azizah hendak memisahkan tubuh kekar kedua lelaki tampan tersebut, Zizah malah terkena pukulan nyasar dari Gery sampai ia jatuh tersungkur kelantai.
Gibran yang melihat Azizah sudah meringkuk dilantai, mulai beringas membalas semua pukulan Gery, baku hantam keduanya membuat mereka babak belur, hingga akhirnya Gery memilih untuk pergi meninggalkan Azizah dan Gibran.
Melihat Azizah yang masih meringis kesakitan, Gibran membantunya untuk berdiri dan memamapahnya sampai duduk disofa panjang ruang tamu Gibran.
" Za, kamu ga apa-apa?"
Gibran mengusap lembut pelipis Azizah yang terkena pukulan dari Gery yang sudah merona dan hendak membiru.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Gibran, Azizah hanya berhambur memeluk Gibran sambil menangis tersedu.
Gibran sejenak hanya diam, kemudian mulai melingkarkan tangannya kepunggung Azizah dan mengusap lembut rambut Azizah yang terurai dari belakang.
'Lepaskan semua penatmu, aku akan selalu siap menerima semua keluh kesahmu.'
Beberapa saat mereka hanya larut dalam pelukan yang hangat dan cukup menenangkan.
Hingga tangis Azizah mulai mereda, Gibran mulai mengambil jarak dengan Azizah, tangannya masih memegangi lengan atas Azizah dan mengusap air mata yang masih mengalir deras diwajah cantik Azizah.
" kamu ga apa-apa?"
Kembali Gibran menanyakan kondisi Azizah yang tadi terkena serangan membabi buta karena api cemburu dari Gery.
" ga apa-apa, Kak."
Azizah memegangi keningnya yang masih terasa pusing setelah terkena hantaman nyasar dari Gery.
Teringat pada Gery, Azizah langsung beranjak dari duduknya dan melangkah menuju keluar rumah tanpa memperdulikan Gibran.
Gibran mengikuti Azizah dari belakang.
Terlihat pintu pagar rumah Gery sudah tertutup dan gemboknya pun sudah mengatup. Azizah hanya berdiri lemas sambil memegangi pagar rumahnya.
" aku coba buka pintu depan rumahmu."
Gibran memanjat pagar rumah Gery dan mencoba membuka pintu depan rumah Gery, namun ternyata Gery juga sudah mengunci pintu rumahnya.
Gibran menghampiri Azizah yang masih berdiri dipagar rumah.
" Mau aku dobrak pintunya atau gimana?"
Gibran bertanya pada Azizah yang menatap kosong kearah rumahnya.
" gak usah, Kak. Kak Gibran kembali saja kerumah Kakak."
Mendengar perkataan Azizah, Gibran langsung memanjat kembali pagar satu setengah meter itu.
" ini sudah malam, ikutlah denganku. Tidak enak kalo dilihat tetangga."
Gibran menarik pergelangan tangan Azizah dan membawanya menuju rumahnya.
" Mandilah, pakai baju ini."
Gibran memberikan baju mendiang istrinya kepada Azizah.
Azizah melangkah pelan menuju kamar mandi rumah Gibran.
Ia mulai membasahi tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower.
Air mata Azizah tak kalah deras dengan kucuran air dari shower.
Ia melepaskan semua air mata yang sedari tadi tertahan.
Biarlah ini menjadi sebuah pukulan berat untuk Gery, namun ternyata bukan hanya Gery, Gibran dan Azizah pun merasakan akibat dari kesalah fahaman ini.
Gibran yang merebahkan tubuhnya diatas sofa panjang ruang tamu, sambil menatap kosong keatas langit-langit rumahnya.
Ia merutuki dirinya yang sudah mengajak Azizah untuk pergi bersama Club motornya, mengakibatkan permasalahan rumah tangga Azizah semakin rumit dan mau tak mau telah menyeret dirinya kedalam masalah rumah tangga mereka.