•Typo bertebaran dimana-mana, beberapa part di private
•Cerita ini tidak direvisi, jadi tolong dimengerti jika ada yang aneh atau tidak nyambung
• My original work
******
Laura sebagai mahasiswi yang terkenal sangat nakal dikampusnya, dan Reyhan sebagai dosen yang kejam bagi Laura. Laura sengaja sering telat agar ia tidak perlu berlama-lama mendengar penjelasan materi yang dijelaskan Dosennya Reyhan. hingga kemudian temannya Laura bernama Indah tak tahan jika Reyhan terus mengajar dikelas Laura dan Indah dan akhirnya Indah menyukai dan jatuh cinta pada Reyhan, lalu Indah meminta Laura untuk membantunya agar Reyhan mau menerima pernyataan cinta Indah, namun usaha Laura dan Indah gagal...
bagaimana kelanjutannya?
yuk dibaca ya...
jangan lupa vote, rate 5, like, dan komen
bye~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otaku_Wibu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke rumah Reyhan
*Jam istirahat kedua
Saat bel berbunyi, aku terbangun, aku melihat sekeliling, mereka melihat kearahku. Sudah berapa lama aku tertidur? kenapa tidak ada yang membangunkan ku?
"Ehem"
"Eh pak Reyhan.."
Matanya mengisyaratkan bahwa tangan juga tubuhku sedikit menggigil tadi, ia menyuruhku meminum obat setelah pulang, ia ingin saja memelukku tapi tak bisa, karena saat itu jam pelajaran, bukan jam istirahat
"Semua boleh istirahat. Waktunya 15 menit" ujar mas Reyhan
Semua keluar dan meninggalkan kami berdua dikelas. Ia mulai memelukku, memberikan ku kehangatan, aku memandang keluar jendela
"Yah.. mau hujan.."
"Hm.. mas.."
"Laura habis lulus dari sini, mau ke Jawa ya"
"Hm..? ngapain?"
"Laura pengen jadi dokter dari kecil, jadi gitu"
"Oh gitu... iya, semangat. Kalau ngerasa mulai kambuh telpon mas"
Aku mengangguk mengiyakan nya saja
******
"Laura!" teriak Anna
"Hm..?"
"Ini kan hujan, lo pulang sama siapa? nanti lo sakit gimana? pulang sama gue ya, bokap gue bawa mobil tuh"
Ingin ku mengatakan iya, tapi ada mas Reyhan yang selalu menjemput dan mengantar ku pulang, aku merasa enggak enak jika bilang iya pada Anna
"Makasih atas perhatiannya, tapi gue dijemput sama om Manu" bohongku
"Bukannya om Manu kerja ya Ra"
"Iya, tapi enggak masalah kata om Manu. Bentar lagi kesini"
"Ohh, ya udah gue duluan. Dah Laura sayang!"
Aku tersenyum, tapi senyum ku pudar ketika ada yang menepuk pundak ku
"Ehem"
Aku berbalik, dia menyentil kening ku
"Aaww.. kenapa?" tanyaku sambil mengusap keningku
"Anak nakal. Nanti kalau sudah nikah, jangan bohong terus"
"Hoho nggak tau ya dulu aku sering bohong, kalau sekarang masih sih, tapi enggak sering. Emang bisa enggak bohong? oh mustahil" gumamku
"Hm..? jadi gitu.."
"Hah? kenapa?"
"Jangan bilang tadi denger" batinku
"Mau mas kasih hukuman sekarang.. atau nanti, hm?"
"Nanti!"
Mulutku spontan menjawab nanti, oh.. apa maksudnya dengan hukuman nanti? sial
"Okee.. mas tahan ya cantik"
"Tahan?"
Lihat betapa bodohnya aku, kenapa aku tak mencerna omongannya tadi, dan malah menjawabnya dengan cepat
"Nanti juga tau"
Dia tersenyum, dia melepas sepatu, kaos kaki juga jasnya, tak lupa ia menggulung celananya dan kemejanya
"Tunggu sini"
Dia menuju mobil, dia keluar dari mobil membawa satu payung
"Pegang"
"Tapi.. mas gimana?"
"Bodoh" ujarnya sambil menyentil kening lagi
Mas Reyhan menyuruhku untuk melompat ke tubuhnya
(Contohnya)
*Gatau nama gendongannya hiks-
_________________
*Next
Aku memegangi payungnya, ku pastikan tak ada yang basah selain bagian kaki mas Reyhan
Aku menunggu mas Reyhan di dalam mobil, dia sedang mengambil tasnya, buku kami juga beberapa berkas
Clek
"Enggak ada yang basahkan?" tanyanya
"Enggak..."
Kemudian mas Reyhan menutup pintu mobil
"Duduk sini" sambil menepuk-nepuk pahanya
Aku menurut, walaupun tempatnya agak sempit. Dia memelukku, mencium aroma tubuhku dan merasakan detak jantungku
Tapi saat dia memelukku, aku malah bersin. Dia sedikit terkejut saat aku bersin
"Hm... jujur, tadi kena air hujan atau enggak"
"Enggak. Ini karena pengaruh cuaca aja"
Dia mengangguk
"Kan sudah dibilangin cari perempuan lain, jangan kayak Laura yang penyakitan"
"Enggak mau"
Dia melepas satu tangannya dan mulai mengendarai mobil. Aku tau, dia bukan menuju arah rumahku, tapi rumahnya
*Sesampainya di rumah mas Reyhan
"Kenapa kesini?"
"Ketemu papa bentar"
"Selain itu?"
"Udah diam aja"
Hujan sudah berhenti, ia ingin menggendongku tapi aku menggeleng
"Enggak, bisa sendiri kok"
Alhasil dia hanya menggandeng tanganku
*Didalam rumah
"Sudah pulang kamu Reyhan?" tanya seorang pria tua namun terlihat muda
"Sudah"
"Siapa dia Rey?"
"Dia--"
"Saya Laura, mahasiswi dari kelas pak Reyhan"
"Oh?--"
"Bukan pa. Dia calon istri Rey"
Aku tersentak kaget begitupun pria tua itu
"Benarkah?" tanyanya lagi sambil tersenyum
"Hm"
Papa mas Reyhan melihat kearah ku, untuk memberikan jawaban ku
"Itu... Laura sama pak Reyhan memang lagi pacaran om.. tapi--"
"Wah.. jarang-jarang liat kamu suka sama orang, sekali dapat selera nya gini"
"Sayang.. sudah pulang?" tanya seorang wanita yang baru tiba
"Sudah"
"Siapa dia?"
"Laura. Calon istri Rey"
"Woh..? serius?"
"Hai cantik, siapa namanya?" sapanya tersenyum sambil menjulurkan tangannya
"Laura Alexander tan" ujarku dengan mengulurkan tanganku ke tangan tante Viola
Senyuman wanita itu melebar setelah tau margaku Alexander
"Kalau gitu kenalin, nama tante Viola Lhara Smith"
"Halo tan"
"Tante kenal dekat loh sama keluarganya Laura, apalagi mama kamu"
"Ehem. Rey mau ke kamar dulu" ujarnya sambil menarik tangan ku
"Ke kamar? jangan ngapa-ngapain loh ya" goda tante Viola
Wajahku memerah. Saat didalam kamarnya, aku merasa takjub, kamarnya begitu rapi, bersih, elegan dan luas
"Wah.. rapi"
"Kamarmu juga"
"Enggak tuh"
Dia mengambil sesuatu dari dalam lemari, ternyata ia mengeluarkan kemeja dan rok selutut dari dalam lemari
"Pakai, tapi mandi dulu biar sampai rumah enggak usah mandi"
"Um..? kok ada rok dilemari mas? sejak kapan?"
"Iya. Sejak mulai suka sama kamu"
Blush
Wajahku memerah, dengan cepat aku menuju kamar mandi. Selang beberapa menit aku keluar dengan pakaian yang dipilihkan olehnya. Kini gilirannya ke kamar mandi tanpa berbicara denganku
Aku ke bawah, karena aku dipanggil oleh tante Viola. Selesai ia mandi, ia tak menemukan ku dikamarnya, ia turun ke bawah menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya
Hahahaha
Ketika ia sampai di lantai bawah, tempat kami berkumpul ia mendatangi kami
"Om tan, Laura juga--"
"Ehem"
Aku kearah depan, aku melihat mas Reyhan yang menunjukkan perut sixpack miliknya, aku mencoba menahan malu. Ia menarikku ke kamarnya lagi, tak lupa ia juga menutup pintunya
"Kenapa? mas kayak enggak suka lihat aku sama orang tua, ada masalah?" tanyaku
Mas Reyhan meletakkan kepalanya dipundakku dengan malas ia menjawab pertanyaanku
"mas malas berbicara tentang mereka"
"Hm? memang kenapa?"
"5 hari yang lalu, papa sama mama mau jodohin mas sama cewek genit, mas enggak suka, jadi mas tolak mentah-mentah dan jarang ada hubungan kontak sama papa mama"
"Oh.. sudahlah, itu masalah kecil. Baikan ya sama om tante"
"Enggak bisa"
"Enggak ada yang enggak bisa, pasti bisa"
Aku melepas pelukannya, saat ku lihat handuknya, handuk itu hampir jatuh. Dengan sigap aku menahan handuk itu, namun sialnya aku kehilangan keseimbangan
Handuk itu jatuh, dan aku memeluk pinggang mas Reyhan. Aku menelan saliva ku wajahku memerah, mas Reyhan mengusap pucuk kepalaku
"Udah nggak tahan..?" godanya
Aku langsung ke posisi awalku, setelah itu tiba-tiba ada darah yang keluar dari hidungku, apa ini mimisan? oh tidak
"E-enggak. A-aku hanya kehilangan keseimbangan" ujarku sambil mengelap darahku
Lama-kelamaan darah yang keluar semakin banyak, aku berlari ke kamar mandi. Dia tertawa kecil
"Lucu..." gumamnya
Selesai menghentikan darah yang mengalir, aku keluar. Dikasur sudah disiapkan kemeja baru, aku menggantinya dan menuju ke bawah sambil membawa tasku
Ku lihat, mas Reyhan sedang menyeruput secangkir kopi bersama kedua orang tuanya di sampingnya. Mas Reyhan menoleh kearah ku
"Pulang?"
Aku mengangguk. Ia berdiri, mendatangiku dan menarik pelan tanganku
"Om tan, Laura pulang dulu! makasih!" teriak ku, karena jarak kami sudah cukup jauh
"Iya hati-hati" jawab mereka
ceritanya cepet beberapa tahun kemudian
tapi kok Lauranya kuliahnya gk kelar"
ceritanya tidak nyambung
karya nya tidak bisa di terima kami pembaca mengkritik nya...
TIDAK BAGUS CERITANYA...
*Yang Membolak-balikan Hati