Halo semuanya 👋😁
Perkenalkan ini novel pertamaku. Jadi mohon pengertiannya ya, kalau novel ini belum sebagus novel-novel yang lain.
Karena jujur, aku masih dalam tahap belajar menulis yang baik dan benar nih guys 😄
Jadi mohon pengertiannya, untuk semua readers yang mampir disini 😘😘
👇👇👇
Demi membayar hutang kelurganya Siska harus masuk di Universitas terbaik se Indonesia yaitu; Universitas Dharma Wijaya. Agar ketika lulus nanti, Siska bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Sehingga dia bisa menafkahi dan melunasi semua hutang kelurganya.
Namun siapa sangka, dalam perjalanan perkuliahannya Siska harus mendapatkan banyak rintangan. Ada seorang mahasiswi yang tidak suka dengan Siska dikampus. Karena melihat Siska yang terus berurusan dengan Felix cowok yang disukai oleh mahasiswi itu. Namun semuanya itu tidak dihiraukan oleh Siska, karena tujuan Siska berkuliah disana untuk mengubah masa depan keluarganya.
Penasaran dengan kisah mereka? Mangga dibaca yaa 🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vero, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Felix hanya diam ketika erik datang membawa siska. Kak erik membawa siska ke danau kecil yang berada dibelakang kampus, karena danau itu jarang didatangai oleh mahasiswa, maka kak erik sengaja membawa siska ke situ. Kak erik membawa siska untuk duduk di bangku kayu yang berada di danau itu.
"Kamu tidak kenapa-kenapa kan?" tanya kak erik khawatir.
Siska tidak menjawab pertanyaan kak erik, ia hanya menganggukan kepala nya. Karena melihat siska yang masih bersedih, kak erik memberikan waktu untuk siska menenangkan diri. Kak erik pergi mengambil beberapa batu kecil yang ada di sekitar danau. Setelah mendapatkan nya, kak erik kembali duduk disebelah siska, mengambil salah satu tangan siska, dan memberikan batu itu untuk siska.
"Batu ini untuk apa kak?" tanya siska heran.
Kak erik hanya tersenyum pada siska dan menyuruh siska untuk berdiri, dan maju ke depan danau itu.
"Coba kamu tatap danau itu," perintah kak erik pada siska. Siska pun mengikuti perintah kak erik untuk menatap danau itu.
"Kalau kamu sudah melihat danau nya, kamu ambil batu yang ada ditangan kamu, kemudian lemparkan batu ini sejauh mungkin, sambil teriak apa yang menjadi keluh kesah didalam hatimu," ucap kak erik sambil menatap siska.
"Tapi, aku nggak mau kak, soalnya nanti kakak tahu semua masalah aku."
Saat mendengar jawaban siska, kak erik mengambil tas nya dan mengeluarkan earphone yang ada didalam tas nya.
"Surprise," teriak kak erik.
"Aku punya ini sis," ucap kak erik sambil menggoyangkan earphone milik nya di depan muka siska.
"Kalau kamu nggak mau aku untuk mendengar semua keluh kesah kamu, maka aku akan pakai ini ditelinga ku. Supaya saat kamu teriak sebentar aku nggak dengar, karena aku pakai earphone ini," jelas kak erik pada siska. Akhirnya kak erik pun memasang earphone ditelinga nya dan siska mulai melemparkan batu yang ada ditangan nya itu, sambil berteriak mengeluarkan semua keluh kesah yang dia rasakan."
"AKU MOHON NGGAK AKAN ADA MASALAH LAGI SETELAH INI," teriak siska dan langsung melemparkan batu itu ke danau. Tindakan siska dilihat oleh kak erik. Sebenar nya kak erik tidak memutar musik di earphone nya, karena dia juga ingin tahu apa yang dirasakan oleh siska. Sehingga dia mendengar dengan jelas teriakan siska barusan.
Kak erik mendekat ke arah siska dan bertanya: "Bagaimana sis, apakah kamu sudah merasa lega?"
"Iya kak, sudah agak mendingan, daripada sebelum nya. Terima kasih ya kak," ucap siska sambil tersenyum cerah didepan kak erik.
"Nah kalau begitu, masih mau disini atau balik? Kan kamu mau kerja kan?" tanya kak erik.
"Iya kak, habis dari sini aku langsung ke coffe shop. Tapi, aku masih mau duduk disini, kalau kakak mau balik duluan ya nggak apa-apa kak, aku bisa balik sendiri kok," jawab nya sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku disini juga deh, biar kamu nggak sendrian disini."
Akhirnya mereka kembali duduk di bangku kayu itu. Saat hendak duduk tiba-tiba hp kak erik bunyi.
"Halo, ada apa?"
"Harus sekarang ya?" jawab kak erik sambil melirik siska yang sudah duduk.
"Baiklah, saya akan kesana sekarang," jawab kak erik dan langsung memutuskan panggilan itu. Kak erik menaruh handphone nya didalam saku nya, kemudian menatap siska, dan hendak berbicara tapi kak erik kalah cepat dengan siska, "Kak erik mau pergi kan?" tanya siska.
"Iya sis, ada rapat BEM sekarang jadi aku harus pergi. Kamu nggak apa-apa nih, tinggal sendiri disini," tanya kak erik.
"Nggak apa-apa kok kak, aku bukan anak kecil kali," ucap siska sambil sedikit tertawa.
"Baiklah sis, kalau begitu aku duluan ya," pamit kak erik pada siska, dan langsung berjalan pergi.
Setelah kak erik pergi, siska masih duduk dibangku itu sambil menatap keindahan danau. Pikiran siska kembali mengingat kejadian tadi antara dia dan felix. Siska masih tidak percaya kalau felix akan langsung meminta maaf seperti tadi.
"Yang tadi dia bicarakan itu asli dari dalam hati nya, atau cuma tipu muslihat dia saja, biar aku tersentuh sama dia. Sudahlah, aku juga malas mengingat kejadian tadi. Semoga hari esok akan lebih baik dari hari ini."
Siska terus berpikir tentang tingkah felix tadi, hingga tanpa siska sadari bahwa, ada seorang laki-laki yang sedang berdiri dibalik pohon, dan menatap siska dari jauh. Ya benar, cowok dibalik pohon itu adalah felix. Ternyata sedari tadi dia berada disana. Dia melihat semua hal yang siska dan erik lakukan didanau itu. Saat melihat siska yang kembali tersenyum, membuat felix merasa lega.
"Sudah jam 14:00 waktu nya aku untuk kerja. Semangat sis, kamu pasti bisa," ucap siska kemudian mengambil tas nya. Karena melihat siska yang hendak berdiri meninggalkan danau, dengan cepat felix pergi meninggalkan danau sebelum siska melihat keberadaan nya.
***
Siska kembali ke coffe shop untuk bekerja dan felix masih tetap mengikuti siska, hingga di coffe shop. Sampai pulang pun felix masih mengikuti siska dengan rumah nya. Melihat siska masuk dirumah yang cukup kecil nan sederhana membuat felix semakin merasa bersalah. Akhirnya, setelah siska masuk kedalam rumah nya felix pun pulang, buoan ke rumah nya tapi ke rumah bayu. Saat sampai dirumah bayu, felix langsung menuju kamar bayu dan langsung tidur disebelah bayu.
"Datang-datang bukannya ucapkan salam dulu sama tuan rumah nya, ini malah langsung tidur. Nggak bilang selamat malam kek, atau apa gitu."
Felix tidak menjawab bayu, tapi dia langsung mengambil bantal dan selimut menutupi seluruh tubuhnya.Tak lama kemudian, felix menghempaskan selimut yang menutupi seluruh badan nya itu dan langsung bangun duduk berhadapan dengan bayu.
"Bay, gue mau tanya sesuatu sama lo?" tanya bayu serius.
"Serius amat...mau ngomong apaan sih?" jawab bayu dengan sedikit bercanda.
"Gue berencana untuk mengakui perbuatan gue ke dekan besok. Menurut lo bagaimana?"
"Menurut gue sih, lo harus mengakui perbuatan lo. Cuma yang bikin gue bingung itu, tumben banget lo mau mengakui kesalahan lo. Padahal, selama ini kan nggak pernah lo seperti ini. Gue curiga nih sama lo, seperti nya ada sesuatu dibalik semua ini. Hayo....ngaku aja lo," tanya bayu penasaran.
"Lo apa-apaan sih, nggak jelas," tegas felix kepada bayu.
"Yakin nih, nggak ada apa-apa? Jujur aja kali" tanya bayu meledek.
"Terserah lo deh, mau menanggapi nya seperti apa. Inti nya, gue cuma mau minta pendapat lo tentang pengakuan yang ingin gue lakukan besok."
"Tadi kan gue sudah jawab pertanyaan lo dan gue setuju sama niat lo. Cuma, heran aja seorang felix wijaya mau mengakui kesalahan nya, ini sesuatu hal yang sangat langkah."
"Sebenarnya ya bay, gue juga nggak mau melakukan ini, cuma pas tadi lihat dia nangis seperti itu, membuat gue....ya gitu......"
"Hati lo pasti sakit pas lihat dia nangis, makanya seketika itu juga lo langsung luluh."
"Entahlah bay...yang pasti, besok gue akan mengaku perbuatan gue."
***
Pukul 06:50 siska memasuki kampus Dharma Wijaya, saat sedang berjalan seorang mahasiswi menghampiri siska dan berkata kepada nya: "Siska, lo dipanggil untuk ke ruangan dekan sekarang juga."
"Okok...thanks ya untuk info nya."
"Astaga, ini ada masalah apa lagi sih? Masih sepagi ini, dan aku sudah dipanggil ke ruangan dekan sekarang. Indah nya hidup ku."
Siska langsung berjalan menuju ruang dekan.
"Tok...tok....tok,"
"Masuk," sahut pak dekan dari dalam ruangan. Siska masuk dan bertanya: "Selamat pagi pak, apakah bapak memanggil saya untuk ke sini?" tanya siska.
"Iya siska....benar sekali. Saya memanggil kamu ke sini, karena saya ingin mencabut surat peringatan yang telah saya berikan kemarin. Karena kamu terbukti tidak bersalah dalam kasus kemarin," jelas pak dekan kepada siska.
"Kok bisa sih? Sedangkan bukti yang aku rekam kemarin sudah dihapus sama amel."
"Serius pak? Surat peringatan saya dicabut?" tanya siska heran karena tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya siska dan tentang beasiswa kamu masih menerimanya."
"Baik pak. Terima kasih pak untuk bantuannya," ucap siska sambil menundukan kepala nya pertanda bahwa dia sangat berterima kasih kepada pak dekan.
"Sama-sama siska...Tapi, bukan kepada saya kamu berterima kasih, kamu harus berterima kasih kepada seseorang yang sudah menolong kamu," ucap dekan kepada siska.
"Menolong aku? Siapakah orang yang sudah membantu aku hingga seperti ini? Apa mungkin kak erik yang sudah menolong aku, atau ini bantuan dari siska sama mia?"
"Pak, bolehkah bapak memberitahukan saya, siapa orang yang sudah memberikan bukti kepada bapak?" tanya siska memohon.
"Maaf, orang tersebut melarang bapak untuk memberitahukan identitas dia kepada kamu."
"Baiklah pak, tapi orang itu perempuan atau laki-laki?"
"Dia laki-laki siska. Sudah-sudah, sekarang kamu kembali ke aula karena kegiatan ospek sudah di mulai," ucap pak dekan, dan diluar ada seorang laki-laki yang sedang mendengar percakapan mereka. Dia bahagia, karena nama siska sudah kembali bersih dan beasiswa masih tetap dia terima.
"Baik pak, sekali lagi terima kasih," ucap siska, dan langsung meninggalkan ruangan itu. Disepanjang perjalanan siska terus memikirkan siapa laki-laki yang dimaksud tadi.
"Apa iya, kak erik dibalik ini semua? Karena cowok yang aku kenal dikampus ini cuma kak erik, dan kak erik sangat baik kepada ku. Siapa lagi yang akan menolong aku selain kak erik?"
Apakah kak erik yang membantu siska dari masalah itu? atau ada orang lain yang dengan diam-diam menolong siska?
Kalau kalian penasaran, yuk di baca terus ya novel ini😊
Jangan lupa klik 👍 dan kasih komentar kalian tentang novel ini di kolom komentar 😁
Aku ucapkan banyak terima kasih, untuk semua readers yang masih setia sama novel ini 🤗 So, kalian jangan bosan-bosan ya, untuk terus mampir disini ☺
mudah marah dan gak konsisten dia nya..
😊😊😊😊😊😡
semangat author 💪💪