Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Isabel bahwa kisah cintanya akan berakhir dengan cara menyakitkan. Dua orang yang saling mencintai, harus terpisah oleh takdir yang membuatnya tidak berdaya.
Kala ia mulai merelakan takdirnya, sebuah asa baru muncul. Seolah memberinya nafas baru yang membawa kehidupan padanya. Dalam waktu 100 hari, ia diajarkan tentang rasa cinta dan kecewa. Bagaimana 100 hari itu membawa perubahan besar dalam hidupnya. Perubahan yang menyeretnya pada takdir yang kembali mengharuskannya untuk berkorban.
Sacrifice is a part of unconditional love.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rusmini Prihatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Alice memiringkan tubuhnya, memerhatikan Isabel yang tertidur pulas di ranjangnya. Wajah Isabel tampak sangat pucat. Matanya bengkak karena terlalu banyak menangis. Perlahan tangan Alice bergerak membelai wajah Isabel. Rasanya Alice ikut merasakan sakit yang dirasakan sahabatnya itu.
"Kau pasti bisa melewati semua ini. Aku akan selalu ada untukmu, Bells," gumam Alice.
Gadis itu membalik tubuh hingga posisi tubuhnya telentang. Dia melirik jam digital yang ada diatas nakas. Jam 3 dini hari.
"Perfect! Besok pagi aku ada ujian dan aku sama sekali tidak ada persiapan. Aku juga hanya punya waktu tiga jam untuk tidur."
Dengan cepat Alice menarik selimut menutupi sekujur tubuhnya. Semoga saja dia bisa langsung tidur, karena besok adalah hari yang berat untuknya.
Rasanya baru sebentar Alice memejamkan mata, suara alarm dari ponselnya sudah meraung-raung memenuhi seluruh ruangan.
Dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka, Alice meraih ponselnya yang berada diatas nakas.
Alice menggeram ketika melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan angka 06.30. Meskipun masih sangat mengantuk, Alice memaksa tubuhnya untuk bangkit. Dia bersandar pada kepala ranjang, lalu melirik Isabel yang masih terlihat sangat pulas. Dia bergerak perlahan turun dari ranjang agar tidak membangunkan Isabel. Gadis itu butuh banyak istirahat. Setengah jam kemudian Alice sudah terlihat rapi, namun Isabel belum juga bangun.
"Maaf, aku harus meninggalkanmu, Bells. Setelah kelasku selesai aku akan segera kembali." Alice meninggalkan note kecil dibawah ponsel Isabel. Dia juga menyiapkan sarapan untuk Isabel sebelum berangkat kuliah.
Satu jam kemudian Isabel terbangun. Kepalanya terasa pening saat membuka mata. Mata yang bengkak membuatnya tidak benar-benar bisa membuka mata.
Perlahan dia menurunkan kakinya ke lantai. Dalam posisi duduk Isabel meraih ponsel diatas nakas. Matanya menangkap note kecil yang ditinggalkan Alice. Dia mengambil note itu lalu membacanya.
"Aku ada ujian pagi. Sarapan ada di pantry. Jangan siksa dirimu. Aku akan segera kembali setelah kelasku selesai. Love you, Bells."
"Thank you, Alice," gumamnya.
Isabel mengaktifkan ponselnya yang semalam sengaja dia nonaktifkan. Begitu jaringan tersambung, banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan yang masuk, terutama dari Mike. Ada juga beberapa pesan dari Aiden yang isinya permintaan maaf.
Hati Isabel terasa sakit saat melihat wallpaper di ponselnya. Foto dirinya bersama Aiden yang tampak sangat dimabuk cinta, sangat bahagia. Rasanya sungguh miris.
Sebelum air matanya kembali jatuh, Isabel memaksa kakinya melangakah ke kamar mandi. Patah hati bukan berarti tidak punya kebutuhan di kamar mandi.
Begitu selesai dengan segala urusan di dalam kamar mandi, Isabel kembali mengambil ponselnya. Dia berniat menghubungi Mike untuk meminta izin menginap di apartemen Alice beberapa hari kedepan, paling tidak sampai hatinya sedikit lebih tenang.
Panggilan itu tersambung dengan cepat, sepertinya Mike memang sedang menunggu telepon dari adiknya itu. Dan benar saja, suara Mike langsung menyambut Isabel dengan nada khawatir. Setelah sedikit perdebatan yang terjadi, akhirnya Isabel mendapat izin untuk menginap. Kenapa Isabel tidak meminta izin langsung pada ayahnya? Karena suara Mike lebih di dengar oleh Jhon. Asalkan Mike sudah buka suara, 95% dari kemungkinan yang ada, Jhon akan menyetujuinya.
Isabel memeriksa lagi pesan di ponselnya. Melihat beberapa pesan dari Aiden, Isabel sama sekali tidak berniat untuk membalasnya. Masih terlalu sakit luka yang di torehkan Aiden.
"Kenapa kau lakukan ini padaku?" gumam Isabel yang kembali menangis mengingat pernikahan Aiden dengan Chloe.
Air mata kembali mengalir di pipi Isabel. Sakit, teramat sakit. Tubuh Isabel merosot ke lantai. Tubuhnya bersandar pada sisi ranjang.
"Sakit, Aiden. Dadaku sakit sekali. Aku sangat mencintaimu. Aku bisa gila tanpamu, Aiden."
Rintihan Isabel terdengar sangat memilukan. Suaranya yang serak membuat suasana semakin sendu. Isabel menjambak surainya dengan frustasi, lalu dia memeluk kedua lututnya dan membenamkan wajahnya diatas lutut. Ini terlalu berat untuknya.
Bisakah Isabel bertahan tanpa Aiden? Cintanya pada Aiden terlalu besar. Bertahan tanpa Aiden disisinya sepertinya bukan hal yang mudah bagi Isabel. Sebelumnya dia tidak pernah meragukan Aiden sedikit pun. Dia sangat mempercayai Aiden. Siapa yang menyangka, laki-laki yang selama ini menjaganya dengan baik tega mengkhianati dirinya.
Ponsel Isabel berdering. Sebuah nama muncul di layar ponsel. Aiden.
Isabel memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan ponsel itu terus melantunkan nada hingga satu panggilan tidak terjawab. Lantas dering berikutnya terdengar lagi, masih dengan nama yang sama di layar ponsel.
"No, Aiden. Aku tidak mau mendengar suaramu," lirih Isabel.
Dering kedua berhenti dan meninggalkan dua panggilan tidak terjawab di ponsel Isabel. Beberapa saat kemudian terdengar notifikasi pesan.
Isabel membuka pesan yang baru saja masuk ke ponselnya. Pesan dari Aiden. Antara iya dan tidak, Isabel ragu untuk membuka pesan itu.
Setelah berpikir sejenak akhirnya Isabel membaca pesan dari Aiden.
"Willow Spring. Jam 11 siang. Aku menunggumu. I love you, Bells."
Satu pesan singkat yang terasa sangat menyakitkan. Setelah apa yang terjadi dan Aiden masih menuliskan kata cinta. Belati tak kasat mata itu berhasil menusuk hati Isabel lebih dalam lagi.
"I love you too, Aiden." Isabel membalas pesan Aiden dengan suara lirih yang terdengar menyayat hati.
Helaan napas berat terdengar saat Isabel meletakkan ponselnya di lantai.
Sejujurnya, Isabel sangat ingin menemui Aiden. Meskipun hatinya sakit, tapi cintanya pada laki-laki itu tetap merajai hatinya. Ingin rasanya Isabel membenci Aiden, tapi tidak bisa. Rasa cintanya terlalu kuat untuk di hancurkan dengan kebencian.
"Aarrgh ...!" teriak Isabel tertahan. Dia mencengkeram erat rambutnya.
"Aku mencintaimu Aiden. Jangan lakukan ini padaku. Aku tidak sanggup. Aku tidak ingin berakhir seperti ini. Aku mencintaimu, Aiden," rintih Isabel dengan suara serak.
Puas menangis, Isabel meraih ponselnya. Jam 10.40.
"Aku harus menemuinya. Dia pasti akan mengatakan kalau kemarin dia hanya bercanda denganku. Aku yakin Aiden masih mencintaiku. Dia tidak mungkin mengkhianatiku. Ya, Aiden sangat mencintaiku. Aku tidak pernah meragukannya."
Isabel mengusap air matanya dengan kedua tangan. Dia segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan wajah.
"Masih ada waktu. Aku harus cepat ke Willow Spring," gumamnya setelah selesai berganti pakaian--meminjam pakaian Alice.
Isabel datang ke Willow Spring dengan taksi. Jam 11 lewat 10 menit, Isabel sampai di depan cafe. Dia masuk lalu melihat sekitar. Pandangannya berhenti di sudut kiri cafe.
Tanpa ragu Isabel mengayunkan kakinya melangkah ke arah laki-laki dengan setelan jas biru tua yang sedang duduk menghadap jendela.
"Aiden," sapanya saat sudah sampai di sisi kiri Aiden.
"Isabel." Aiden yang tadinya melamun sambil memainkan minuman di hadapannya segera berdiri ketika Isabel memanggil namanya.
Melihat Isabel berdiri di hadapannya, Aiden tidak bisa menahan diri lagi. Aiden memeluk erat tubuh Isabel. Dia tidak menyangka Isabel masih mau menemuinya. Padahal tadi tidak ada balasan pesan dari Isabel. Lewat sepuluh menit, Aiden sempat mengira Isabel tidak akan datang.
"I miss you so bad," bisik Aiden saat memeluk Isabel. Tidak bohong. Aiden memang sangat merindukan Isabel. Sama seperti Isabel. Laki-laki itu juga merasakan sakit saat harus melepaskan Isabel.
"Me too." Isabel juga memeluk erat tubuh Aiden. Saking rindunya, air mata Isabel kembali mengalir di wajahnya.
Aiden melepas pelukannya lalu menangkup wajah Isabel dengan tangan besarnya. Kedua ibu jari Aiden bergerak menyeka air mata yang terlanjur jatuh dari mata Isabel.
"Aku sangat mencintaimu, Bells. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu." Mata biru Aiden berubah sayu. Terlihat ketulusan dalam mata itu. Melihat wajah Isabel yang sembab dan pucat, membuat Aiden semakin terluka.
Isabel memegang tangan Aiden di wajahnya. " I know," katanya dengan suara rendah.
"Duduklah." Aiden melepaskan wajah Isabel lalu mereka duduk berseberangan.
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," kata Aiden. Ekspresi wajahnya berubah ketika mengatakan kalimat itu. Dia tampak gusar. Tapi matanya juga menyiratkan kesedihan yang mendalam.
Dalam hati Isabel, dia berharap Aiden akan mengatakan kalau apa yang dia ketahui kemarin adalah bohong. Itu hanyalah prank atau sekadar candaan. Namun dia masih diam, menunggu apa yang akan dikatakan Aiden.
"Bells, kau tahu aku selalu mencintaimu. Aku ... aku tidak pernah berhenti mencintaimu." Aiden berhenti bicara. Dia menelan saliva, mungkin dia sedang berusaha mencari kata-kata yang tepat.
"Kau tahu, aku ... aku dan Chloe ...."
Mendengar nama Chloe di sebut membuat hati Isabel berdenyut nyeri. Dia memejamkan mata untuk mengurangi rasa nyeri itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya harapan untuk mendengar berita baik sudah pupus saat nama gadis itu disebut.
"Pernikahanku dan Chloe sebenarnya karena ...." Jeda lagi. Aiden tidak tega mengatakan alasannya menikahi Chloe.
"Just say it," kata Isabel dengan suara bergetar. Dia tidak ingin melihat wajah Aiden karena pasti itu akan terasa sangat menyakitkan.
Aiden meraih tangan Isabel dan menggenggamnya. Isabel tidak menolak. "Dengarkan aku, Bells. Aku sungguh minta maaf. Aku sangat menyesal. Aku tidak mengira kejadiannya akan seperti ini. Aku tidak bermaksud untuk--"
"Tidak bermaksud untuk apa, Mr. Muller?" Suara bariton seorang pria membuat Aiden berhenti bicara dan langsung berpaling padanya. Pria dengan kemeja hitam itu menatap tajam pada Aiden.
"Eric?" Aiden terkejut melihat Eric berdiri di sampingnya yang tidak dia sadari sejak kapan.
"Aku sudah memerhatikanmu sejak tadi. Dan kurasa kita perlu bicara sebentar," kata Eric dengan nada sinis. Matanya terus mengintimidasi Aiden.
"Biarkan aku menyelesaikan urusanku. Setelah itu aku akan ikut denganmu," kata Aiden dengan tatapan tak kalah tajam.
Pria bernama Eric itu mengalihkan pandangannya pada Isabel yang masih duduk dengan wajah sedih sekaligus bingung.
"Kau--" Eric menunjuk Isabel dengan telunjuknya, "--sebaiknya kau pulang, Nona." Eric benar-benar menunjukkan sikap dominannya. Kalimatnya tidak terdengar seperti permintaan, tapi ancaman.
Sikap Eric membuat Isabel jengah. Maksudnya apa dia datang dan mengusir Isabel?
"Kenapa aku yang harus pergi? Aku masih ada urusan dengan kekasihku." Kalimat Isabel terdengar seperti tantangan, terutama Eric.
Eric melangkah mendekati Isabel. Kedua mata kelabunya tampak lebih gelap. Rahangnya juga terlihat mengeras.
"Dia--" Eric menunjuk Aiden tanpa melihatnya, "--bukan lagi kekasihmu. Jadi sebaiknya kau tinggalkan tempat ini sekarang juga atau aku akan berbuat kasar padamu," ancam Eric.
"Eric!" Aiden berdiri. Dia merasa Eric sudah keterlaluan terhadap Isabel.
Isabel ikut berdiri. Di wajahnya tidak tampak rasa takut sedikit pun atas ancaman Eric.
"Punya hak apa kau mengusirku dari sini? Dan dia--" Isabel menunjuk Aiden tanpa melihatnya juga, "--masih menjadi kekasihku dan kau tidak berhak mengatakan apapun tentang hubungan kami," kata Isabel dengab suara meninggi. Dari matanya terpancar emosi yang sepertinya ingin dia luapkan sejak kemarin. Kebetulan sekali hari ini dia mendapatkan pelampiasan.
Eric maju satu langkah menepis jarak dengan Isabel. "Aku punya hak untuk mengusirmu, karena tempat ini adalah milikku," desis Eric tepat di depan wajah Isabel.
Great! Tempat yang tepat untuk bertemu dengan Isabel. Sepertinya Aiden tidak tahu apa-apa tentang Willow Spring. Dia sama sekali tidak tahu kalau Willow Spring milik Eric, kakak laki-laki Chloe.
***
tbc.
Waduh.....kenapa Aiden bisa salah tempat ya ?
Apakah Isabel akan mundur karena ancaman Eric ?
Apa yang akan dilakukan Aiden ? Melindungi Isabel dengan cara menghajar Eric atau menjauhkan Eric dari Isabel dengan menuruti permintaan untuk bicara dengannya ?
see you next part dears...!!!
sumpah, q terharu bgtzzz
salah satu hal positif di crita nie ttg ikhlas dan memaafkan
smgtzzz thor .smoga karya2 u smakin memukau
😊
btw...crita u bagus thor...sayang nya baru baca ... 2 hr nie q kejar tayang baca novel u
😁