"Aku merindukan mu"
itulah ungkapan setiap malam. Kanza Mahendra
saat harus berjauhan dengan Rasyi Syakilla.
Gadis ceria yg berhasil mengambil hati manusia dingin. yg bahkan tak tersentuh. namun kini saat berjauhan hati Kanza selalu merindukan nya.
Setelah melewati banyak perjuangan. hingga kini mereka telah benar benar bersama. membuat Kanza ingin selalu bersama dengan wanita yg saat ini telah memenuhi hati nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiia sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 11
*
Setelah mengantar Rani.Damian lanjut mengantarkan Rasyi. sebenar nya rumah Rasyi lebih dekat dari rumah Rani cuma karena Rani tadi hampir tertidur di mobil, Damian memutuskan mengantar Rani terlebih dulu,
"Sudah sampai nona" goda Damian
"terima kasih pak supir tampan" Rasyi balik menggoda Damian yg terus tersenyum.
Namun saat Rasyi baru turun dari mobil. terlihat ibu sudah membukakan pintu. bertanda bahwa ibu sudah menunggu Rasyi dari tadi. Rasyi pun langsung berhambur memeluk ibu nya.
Damian juga turun dari mobil untuk menyapa. ibu Sila sekalian pamit,
"Malam bu" ucap Damian sambil salim kepada ibu Sila
"malam" jawab ibu sambil menatap Rasyi
seolah bertanya siapa pria tampan didepan nya.
"Bu ini Damian" ucap Rasyi
"Damian" ibu yg mengulang ucapan Rasyi
Damian yg merasa ibu Sila sudah melupakan nya. memajukan bibir nya. Damian tidak percaya kalau dulu ibu Sila yg selalu memuji nya. sekarang malah tidak mengenali nya sama sekali
"Iya bu ini Damian, calon menantu ibu yg dulu"
ibu Sila langsung tertawa mendengar perkataan Damian
"Beneran ini kamu, ibu tidak menyangka kamu lebih tampan sekarang padahal dulu kamu"
Belum sempat ibu menyelesaikan kata-kata nya Rasyi sudah memeluk lengan ibu nya, agar ibu nya berhenti bicara sebelum benar-benar membuat Damian malu karena cerocosan ibu nya.
"Hahaha, ibu besok saja ngobrol lagi dengan Damian ini kan sudah malam ibu kasihan Damian" ucap Rasyi dengan memainkan mata nya. berharap ibu nya paham
"Oh iya benar" ucap ibu Sila canggung
"kalau gitu makasih ya Damian sudah mengantar Rasyi, ibu masuk dulu" ucap ibu sambil menepuk pelan pundak Damian lalu melangkah masuk.
"Maafin ibu ya" ucap Rasyi salah tingkah
"iya gak papa, lo takut gua tersinggung ya kalau ibu ngomong gua dulu gemuk trus pake kacamata lagi" ucap Damian menyelidik.
"Gua cuma gak enak aja sama lo"
"gak papa kali Rass' emang dulu gua jelek kan" ucap nya sambil menaikan bibir nya.
Rasyi pun hanya tersenyum, lalu Damian mengeluarkan ponsel dari saku nya,
"Gua boleh minta nomor lo gak??
tanya Damian sambil memberi ponsel nya kepada rasyi.
"Sini" ucap Rasyi sambil mengambil ponsel Damian. dan langsung mengembalikan nya setelah mengetik nomor nya.
Damian yg girang. membuat senyum terus di wajah nya. yg membuat Rasyi terus memandang nya.
"Kalau gitu gua balik dulu ya" ucap Damian sambil menunjuk mobil nya.
"Iya lo hati-hati ya, dan makasih buat makan malam nya. trus ini" ucap Rasyi sambil mengangkat buket bunga nya kepada Damian.
"Okk" dengan wajah yg terus tersenyum Damian berjalan menuju mobil nya dengan sesekali melihat ke belakang, yg masih ada Rasyi berdiri menunggu nya pergi,
Saat sudah melihat mobil Damian hilang. Rasyi langsung masuk ke dalam dan melihat ibu nya yg duduk di sofa. Rasyi langsung tiduran di pangkuan ibu nya dengan tangan yg enggan melepas kan buket bunga pemberian Damian,
"Dari Damian?? tanya ibu yg sambil membelai rambut Rasyi
tapi Rasyi hanya mengangguk. dengan tangan yg terus membelai bunganya.
"Cantik kan bu?? ucapan Rasyi seolah ingin ibu nya tahu bahwa bunga yg dia pegang cantik dan bisa membuat nya bahagia,
"Iya, cantik sekali" jawab ibu dengan mencubit pelan pipi Rasyi
"Ayo kita tidur, ini sudah malam"
"ayo bu" Rasyi langsung bangun dan menuju kamar nya begitu juga dengan ibu nya.
Saat di kamar Rasyi langsung mencari vas bunga untuk meletakkan bunga nya di nakas, setelah selesai Rasyi langsung bersihkan diri di kamar mandi. sebelum pergi tidur
*
Pagi ini Kanza berangkat lebih pagi. karna ada rapat penting pagi ini. Edo yg biasa selalu ke unit Kanza namun karna pagi ini mereka sibuk Edo langsung ke kantor untuk bertemu Kanza.
Setelah selesai meeting, Kanza dan Edo yg kembali masuk ruangan Kanza. namun hari ini Kanza terlihat pucat
"Apa anda sakit tuan?? tanya Edo yg memberikan air ke Kanza
"entah lah rasanya kepala ku pusing sekali" ucap nya
"mau saya panggilkan dokter yudha tuan???
"tidak usah, tolong kau carikan saja aku obat pereda sakit dan vitamin" perintah Kanza.
"Baiklah tuan, akan saya carikan tapi tuan lebih baik anda istirahat di ruang istirahat anda saja tuan, saya akan keluar sebentar unyuk mencarikan obat anda" jelas Edo
"Baiklah" namun saat hendak bangun Kanza yg hampir terjatuh langsung tertangkap oleh Edo. karna melihat tuannya lemas Edo langsung memapah Kanza sampai di ruang istirahat pribadi nya yg ada di ruangan nya,
Setelah meletakkan nya di ranjang. Edo keluar namun hanya menutup pintu kamar setengah agar mudah nanti bagi nya untuk masuk kesitu kembali.
Edo pun langsung keluar dari ruangan Kanza, namun Edo juga teringat hari ini janjinya ketemu Rasyi. saat melihat arlojinya sudah menunjukan jam makan siang,
"Apa tidak apa-apa aku pergi?" tanyanya sendiri. yg ada dipikiran Edo adalah. dia takut nanti saat dia pergi Rasyi datang dan akan menunggu nya seperti kemarin-kemarin
"Kalau begitu, aku akan menyuruh pengawal saja. ucap nya sambil melangkah ke lift yg sudah ada dua pengawal yg memang menjaga disini. untuk melindungi tuan nya.
Setelah memberi perintah ke pengawal Edo pun langsung keluar kantor dengan mobil nya menemui dokter Yudha di rumah sakit.
Dokter Yudha adalah psikiater yg sudah lama menjadi dokter pribadi Kanza,
Setelah bersiap siap untuk datang ke kantor Kanza. Rasyi melihat amplop yg berisi uang dari hasil jual motor kemarin. akhir nya Rasyi mengambil nya dan akan memberikan nya pada ibu,
Namun, saat Rasyi keluar kamar keadaan rumah sudah sepi. Rasyi yg mencari sosok ibu namun tidak ada juga. tapi saat melihat ada note di kulkas. Rasyi baru tahu kalau ibu kepasar
Rasyi balik meninggalkan note. Rasyi menulis meminta izin kalau dia pergi sebentar,
Setelah turun di halte bis Rasyi berjalan menuju Kanz.corp
setelah sampai depan perusahaan. Rasyi melihat arloji nya sudah waktu nya makan siang. dia pun menarik nafas nya dalam dalam sebelum masuk.
Menuju resepsionis, namun belum sempat Rasyi bertanya sudah ada dua laki-laki berpostur tubuh tegap dengan pakaian serba hitam menghampirinya,
"Nona Rasyi" sapa mereka
Rasyi yg merasa dipanggil langsung menoleh kebelakang.
"Iya" jawab nya bingung
"tuan Edo, berpesan saat anda tiba meminta kami mengantar anda langsung keruangan tuan Kanza" jelas salah satu pria tersebut.
Mereka pun mempersilahkan Rasyi menuju lift, dan membawanya ke ruangan Kanza.
Tapi saat keluar lift. mata Melisa langsung menatap tidak suka Rasyi. tapi dua orang yg membawa Rasyi tidak memperdulikan Melisa dan melewati nya begitu saja,
"Kalian akan kemana??" ujar Melisa kepada dua pengawal Kanza
" kami dapat perintah membawa nona Rasyi ke ruangan tuan Kanza" ucap mereka.
"Tapi tuan Kanza sedang tidak ingin diganggu, dan lagian tuan Edo sedang tidak ada di tempat" jelas nya dengan penekanan yg terus menatap Rasyi.
Rasyi yg melihat keadaan mulai dingin, hanya diam pada tempat nya.
"Maaf nona, tapi kami dapat perintah langsung dari tuan Edo untuk mengantar nona Rasyi keruangan tuan Kanza"
Setelah memberikan penjelasan mereka berlalu meninggalkan Melisa yg terlihat kesal dengan pengawal Kanza,
Pengawal mengetuk pintu ruangan Kanza. namun tidak ada sahutan dari dalam.
"Bukan nya wanita tadi mengatakan kalau tuan Kanza sedang tidak ingin diganggu ya" ucap Rasyi sambil melihat pengawal Kanza bergantian,
"Tapi ini perintah tuan Edo nona ,lagian tuan Kanza ada di dalam. anda masuk saja nona" kata pengawal sambil membuka ruangan Kanza
"Eeh" Rasyi yg kaget dengan maksud orang didepan nya
"silahkan nona" Rasyi pun mau tidak mau mengikuti pengawal yg mengantar nya hingga di sofa ruangan Kanza.
"Silahkan anda menunggu disini nona. mungkin sebentar lagi tuan Edo kembali"
"Tapi pak, apa tidak sebaiknya saya menunggu di luar saja?"
"kami hanya menjalan kan tugas nona"
"apa bapak tidak takut saya akan mencuri disini??" Rasyi berharap pengawal akan membawanya keluar. namun seperti nya perkataan Rasyi sama sekali tidak berpengaruh dengan pengawal.
"Anda tenang saja nona. setiap gerak gerik anda di dalam ruangan ini bisa langsung di monitor oleh tuan Kanza ataupun tuan Edo. karna ruangan ini memiliki cctv di setiap sudut" jelas pengawal dengan tangan menunjuk cctv yg menggantung disana.
Rasyi merasa frustasi dengan niat nya. hanya menepuk jidat nya pelan,
"iya juga bagaimana bisa ruangan seorang CEO. damai tanpa camera, bodoh banget lo sih Rass" gerutunya dalam hati.
"Kalau gitu nona. kami permisi dulu anda silahkan duduk tenang disini saja" ucap pengawal yg langsung berlalu meninggalkan Rasyi sendirian di ruangan Kanza,
"Apa yg mesti gua lakuin disini??" ucapnya sambil melihat kanan kiri. Rasyi yg sedang menikmati pemandangan di ruangan Kanza melihat setiap sudut ruangan yg tertata rapi.
Tidak ada yg terlewat dari pandangan Rasyi. ruangan yg di desain dengan gaya perpustakaan kasual. terlihat rapi dan bersih. dan juga tercium udara yg berbau mint. yg membuat Rasyi tersenyum sebentar.
Namun saat menikmati lamunan nya Rasyi kaget seperti mendengar benda jatuh. yg langsung membuat nya langsung berdiri dari duduk nya,
"Suara apa itu??" ucap nya gemetar. karna melihat tidak ada orang bagaimana bisa ada suara. Rasyi pun menadah kan pandangan nya ke setiap sudut ruangan. namun tidak ada yg aneh. ruangan Kanza juga terlihat kedap suara bagaimana bisa ada suara rame begitu,
Rasyi pun melangkah menuju kamar mandi di sudut ruangan namun saat melihat di dalam tidak ada orang. dia kembali menatap tempat dia duduk tadi. saat tidak sengaja mata Rasyi menatap rak buku yg sedikit miring.
Rasyi curiga. lalu berjalan mendekatinya. saat dia sudah tepat didepan rak buku Rasyi mendengar. seperti ada suara berat yg sedang memanggil manggil nama seseorang,
Rasyi berinisiatif buat masuk dan mendorong rak buku namun saat sudah masuk Rasyi terkejut melihat Kanza yg seperti tidak sadar kan diri, dengan bibir yg trus memanggil nama
"Tuan Kanza" ucap Rasyi yg mendekat berusaha menolong Kanza agar tidak jatuh dari ranjang.
namun Kanza yg trus mengigau. memanggil nama orang dengan mata tertutup nya,
"Aiden" jangan yg tinggalkan kakak Aiden. kakak mohon maafkan kakak" Kanza trus mengigau tanpa henti.
"Tuan Kanza, anda tidak apa-apa?? ucap Rasyi dengan membenarkan kepala Kanza di bantal.
Namun saat tangan Rasyi menyentuh tubuh Kanza. tangan nya merasa suhu panas. Rasyi pun memeriksa kening Kanza dan benar ternyata Kanza demam.
"Panas sekali"
"saat dia sakit begini, kenapa tidak ada satu pun orang di sisi nya" keluh Rasyi pelan sambil melihat sekitar mencari sesuatu.
Karna tidak dapat menemukan apa yg dia cari, Rasyi berniat meminta kepada pengawal yg berjaga didepan. namun saat ingin bangun. tangan Kanza memegang tangan Rasyi kuat
"Aiden, jangan pergi" dengan mata tertutup Kanza trus berucap tangan nya yg memegang Rasyi. kini semakin erat bahkan Kanza memeluk tangan tersebut.
Rasyi yg bingung. lalu teringat saat dia sakit ibu selalu membelai rambut nya. Rasyi yg reflek langsung membelai rambut Kanza.
"Aku tidak akan kemana-mana, izinkan aku mencari obat untuk mu" perkataan lembut Rasyi membuat Kanza melonggarkan pegangan nya. dan membuat Rasyi bisa menarik tangan nya
Sebenarnya Rasyi mencari kotak p3k, namun dia sudah memeriksa semua tempat di ruangan Kanza namun tidak menemukan apa-apa"
"Sebenarnya ini kantor, atau gudang sih kenapa benda yg penting malah tidak ada!! ucap Rasyi kesal yg sudah mutar-mutar namun masih belum ketemu dengan apa yg di cari nya.
Akhirnya Rasyi menuju pintu, berharap pengawal masih ada di depan ruangan Kanza. ternyata tebakan Rasyi benar pengawal masih didepan ruangan. berdiri disisi kanan dan kiri ruangan Kanza,
"Ada apa nona?? tanya pengawal yg menghampiri Rasyi
"dimana saya bisa dapat kotak p3k?? tanya Rasyi yg sedikit panik.
"Ada apa nona, apa anda terluka" pengawal pun yg tidak kalah panik.
"Saya tidak apa-apa"cepat lah dimana saya bisa mendapatkan kotak nya?"
"Ada di pantri nona, akan saya ambilkan." pengawal pun berlari ke arah pantri untuk mengambil apa yg diminta Rasyi
Setelah mendapatkan kotak p3k, pengawal memberikan nya pada Rasyi. lalu Rasyi mengingat dia juga membutuhkan sesuatu.
"Ehm, bisakah kalian membantu saya ambilkan es batu juga handuk kecil" pintanya
Pengawal yg dari awal bingung untuk apa Rasyi meminta benda-benda tersebut hanya memasang wajah serius,
"Aku meminta karena tuan kalian sakit!! bentak Rasyi yg merasa sudah membuang-buang waktu nya dengan pengawal
"Tuan Kanza sakit" ucap mereka barengan,
"iya, makanya cepatlah tolong carikan apa yg ku minta"
"baiklah nona akan saya carikan"
"cepatlah""
Rasyi pun menutup pintu, dan kembali keruangan yg ada Kanza di dalam nya, namun baru masuk Rasyi melihat Kanza sudah jatuh ke bawah. Rasyi langsung berlari kecil memapah nya menaikan nya ke atas ranjang kembali.
"Kenapa kau berat sekali" ucap nya sambil memapah Kanza. dengan membuang nafas kasarnya. Rasyi menaikan alis nya
"Uang mu banyak, kenapa tidak kerumah sakit malah tidur disini" keluh nya yg tak percaya kenapa dia malah terjebak disini mengurus orang yg sudah membuat nya hampir kehilangan ibu nya,
Setelah merasa posisi Kanza sudah benar, Rasyi membantu membukakan sepatu Kanza dan dasi dilehernya.
"Maafkan aku tuan, tapi percaya lah aku hanya menolong"
ucap nya dengan memasang wajah aneh,
Saat mendengar ada ketukan pintu Rasyi melangkah menghampiri kedepan karena Rasyi tahu itu pasti pengawal yg membawa barang pesanannya.
"Ini nona" pengawal dengan menyerahkan mangkuk berisi es dan juga beberapa helai handuk kecil,
Rasyi yg ingin berniat masuk kembali dan menutup pintu dihadang oleh pengawal,
"Apa tuan akan baik-baik saja nona??
"kalau kau tidak percaya dengan ku, kenapa tidak kau saja yg mengurus nya" ketus Rasyi
"Apa kita panggilkan saja dokter pribadi tuan??
Rasyi yg merasa perkataan pengawal ada benarnya.
"Baiklah tolong kau telpon tuan Edo, katakan padanya tuan Kanza demam nya terlalu tinggi" dan sebelum tuan Edo sampai aku akan mengompres nya dengan es" jelas Rasyi
Namun saat mereka membahas Kanza sakit, Melisa sudah sampai disitu dan mendengar apa yg Rasyi katakan. Melisa pun langsung memotong jalan pengawal yg membuat nya bertatap muka dengan Rasyi,
"Apa tuan Kanza sakit?? tanya Melisa
"benar nona" jawab Rasyi
mata Melisa langsung menangkap mangkuk es yg ditangan Rasyi. lalu berusaha mengambil nya. namun Rasyi langsung menghindar yg membuat Melisa gagal.
"Berikan padaku, biarkan aku yg mengurus nya dan anda bisa pulang nona" ucap Melisa dengan nada penekanan.
"Baiklah aku akan pulang setelah tuan Edo sampai kemari"
"kkau" Melisa yg kesal mengepalkan tangan nya dihadapan Rasyi.
Namun Rasyi. hanya tersenyum melihat tingkah Melisa. lalu Rasyi pun yg ingin masuk kedalam dan menutup pintu dihadang oleh Melisa. karna bingung Rasyi pun menatap pengawal dan memberi kode mata. agar mereka menyingkirkan Melisa,
Pengawal pun langsung menyeret Melisa keluar dan menutup pintu, agar Rasyi bisa menolong tuan nya.
"Kalian membela anak kecil itu!! ucap Melisa kesal
"maaf nona tapi nona Rasyi orang suruhan dari tuan Edo"
"bagaimana kalau dia berbuat macam-macam di dalam"
Namun daripada menjawab pertanyaan Melisa pengawal pergi masuk ke lift turun ke loby, untuk menelpon Edo.
happy reading😊
silahkan berikan saran kepada author, karna ini katya pertama author karna masukan kalian. merupakan motivasi buat author
🥰🥰
mampir juga yuk keceritaku
RAIN BUKAN HUJAN
terimakasih