Elnaya Bellarose Valenzia, gadis polos yang selalu menjadi korban perundungan di Golden International School, mengalami percobaan pembunuhan misterius yang membuatnya koma.
Mengetahui hal itu, saudara kembarnya, Elnara Bellamont Valenzia, seorang bad girl yang bersekolah di luar negeri, kembali ke Indonesia untuk mencari pelaku. Dengan menyamar sebagai Elnaya, ia mulai menyelidiki rahasia di balik kejadian tersebut.
Namun di tengah pencariannya, Elnara justru menarik perhatian dua siswa paling berpengaruh di sekolah: Alaric Alden Adinata, ketua OSIS yang sempurna, dan Nathaniel Atharva Pradana, ketua geng Blaze yang terkenal sebagai bad boy.
Semakin dalam Elnara mengungkap kebenaran, semakin banyak rahasia gelap yang terkuak. Hingga ia menyadari bahwa orang yang menghancurkan hidup saudara kembarnya ternyata lebih dekat dari yang pernah ia bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fayepey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Id Card Baru
"Kok tahu?!" ucap Daddy kaget. Jelas saja ia terkejut, sebab dirinya saja belum tahu yang mana orangnya. Ia hanya baru tahu namanya, sedangkan Alden sudah lebih dulu tahu.
"Tadi ketemu di mal," jawab Alden dengan jujur.
"Cieee, ketemu calon istrinya. Cieee, ngedate nih, yeee," goda Daddy begitu mendengarnya. Wajahnya langsung berubah jahil, seolah menemukan bahan baru untuk menggoda anaknya.
"Cantik enggak calon mantu Daddy? Daddy belum pernah ketemu soalnya," lanjut Daddy dengan nada penasaran.
Alden hanya diam. Ia memilih untuk tidak menjawab dan malah membuang pandangannya ke arah lain. Melihat itu, Daddy semakin penasaran.
"Kenapa harus Naya, Dad? Kenapa enggak orang lain saja?" tanya Alden akhirnya.
Mendengar pertanyaan itu, Daddy langsung menatap Alden dengan bingung. "Lah, kenapa? Dia berasal dari keluarga Valenzia, loh. Masa kamu enggak mau? Emang enggak cantik, kah?"
Daddy terdiam sebentar, lalu menjawab pertanyaannya sendiri dengan santai. "Tapi menurut Daddy, kayaknya dia cantik. Lihat saja Om Ronald sama Tante Felly, mereka saja good looking. Masa anaknya jelek?"
"Bukan itu," sanggah Alden cepat.
"Terus apa?" tanya Daddy, masih belum paham.
"Daddy kan tahu aku ketua OSIS. Yang di mana, selama masih menjabat, aku enggak boleh punya hubungan," jawab Alden sambil menghela napas pelan.
"Aelah, ini mah sampai semester depan doang. Habis itu juga selesai masa jabatan kamu," jawab Daddy santai, seolah masalah itu bukan hal besar. "Santai saja, Keless. Lagian nanti pertunangan kalian juga private."
Alden menatap Daddy dengan wajah datar. Sementara itu, Daddy masih saja terlihat antusias.
"Jadi, gimana? Cantik enggak anaknya?" tanya Daddy lagi, kali ini lebih kepo dari sebelumnya.
"Enggak tahu," jawab Alden malas.
"Gimana sih kamu ini? Kan tadi katanya sudah ketemu," sahut Daddy, tidak puas dengan jawaban anaknya.
"Dia sekolah di GIS. Sudah sering ketemu," jawab Alden akhirnya.
Ucapan itu sukses membuat Daddy melotot kaget. "Serius kamu, Alden?! Jadi dia siswi GIS?"
"Biasa saja, Dad, ngomongnya," ujar Alden yang sudah mulai kesal.
"Ya kamu sih bikin Daddy kaget," jawab Daddy dengan wajah tidak berdosa. Ia lalu tersenyum kecil, seolah baru saja mendapatkan kabar yang menarik. "Oh, gitu. Hehehe. Jadi, gimana? Kamu mau enggak tunangan?"
Mendengar pertanyaan itu, Alden kembali menghela napas. Ia terlihat malas berdebat lebih panjang karena tahu percuma saja kalau Daddy sudah punya kemauan.
"Terserah. Atur saja semau Daddy. Aku ke kamar dulu," ujar Alden, lalu ia langsung pergi meninggalkan Daddy di ruang keluarga.
Setelah Alden pergi, Arka justru tersenyum manis. Raut wajahnya tampak sangat puas, seperti baru saja memenangkan sesuatu.
"Aih, senangnya dalam hati. Punya menantu dua, satu dari Valenzia dan satunya lagi dari Pradana~" ucap Daddy sambil berdendang ala dangdut, mengikuti gaya lagu "Madu Tiga" dengan ekspresi bahagia yang tidak bisa disembunyikan.
****
Keesokan paginya, Nara turun ke bawah untuk sarapan. Sebenarnya, Papi dan Maminya berencana ingin membicarakan sesuatu dengannya semalam. Namun, sayangnya, saat pembicaraan itu baru saja mau dimulai, tiba-tiba Papi mendapat telepon. Akhirnya, obrolan itu pun tertunda begitu saja.
"Gue penasaran, apa yang mau diomongin Mami sama Papi ke gue, ya?" gumam Nara pelan sambil berjalan menuju ruang makan.
Saat sampai di meja makan, Nara langsung tersenyum melihat kedua orang tuanya sudah duduk di sana. "Morning, Mi, Pi," ucap Nara sambil mencium pipi Mami dan Papinya bergantian.
"Morning, Baby. Gimana tidurnya semalam? Nyenyak?" tanya Papinya dengan hangat.
"Nyenyak dong," jawab Nara santai, lalu duduk di kursinya dan mulai memakan sarapan yang sudah tersaji di atas meja.
Beberapa saat kemudian, Nara yang masih penasaran akhirnya menatap Papinya. "Pi, aku penasaran, loh. Papi mau ngomong apa semalam?" tanyanya dengan wajah ingin tahu.
Papinya yang sedang meminum kopi pun langsung menoleh ke arah Nara. Setelah itu, ia sempat melirik istrinya sebentar, seolah meminta isyarat apakah sudah waktunya membahas hal itu atau belum.
"Nanti saja Papi bilang. Soalnya, Papi masih harus memastikan sesuatu dulu," jawab Papinya akhirnya.
Nara mengerutkan kening, tetapi tidak memaksa. Ia hanya mengangguk kecil sambil kembali menyuapkan makanannya. Namun, rasa penasarannya jelas masih terlihat dari wajahnya.
Papinya lalu mengambil sesuatu dari saku jas kerjanya, kemudian memberikannya kepada Nara. "Nih, kartu siswi baru kamu. Sudah bisa diakses ke liftnya juga," ujar Papinya.
Nara menerima kartu itu dan langsung memperhatikannya. ID card barunya terlihat jauh lebih bagus, berwarna emas dengan desain yang mewah. Berbeda sekali dengan kartu lama yang selama ini ada padanya, kartu milik Naya yang hanya berwarna pink biasa.
"Thank you, Papi," ucap Nara sambil tersenyum senang.
"My pleasure," jawab Papinya dengan senyum hangat, lalu kembali menyesap kopinya.
Setelah sarapan, akhirnya Nara berjalan ke arah mobilnya. Ia masuk ke dalam, lalu mengendarainya menuju sekolah. Tidak butuh waktu lama, mobil itu pun sampai di area parkiran GIS. Nara keluar dari mobilnya, kemudian berjalan dengan gaya centil sambil sedikit melenggokkan pinggulnya. Rambutnya yang tertata rapi ikut bergerak saat ia berjalan melewati beberapa siswa yang baru datang.
"Morning, Guys!" sapanya ceria kepada siswa-siswi yang ada di sekitar sana.
Selain harus menyelidiki kasus itu, Nara juga harus membersihkan nama kembarannya dari para pelaku kejahatan yang selama ini sudah menyakiti adiknya. Naya adalah korban, dan Nara tidak akan membiarkan nama adiknya terus dipandang buruk oleh orang-orang yang bahkan tidak tahu cerita sebenarnya.
"Morning, Naya," balas beberapa siswa. Ada yang menyapanya balik dengan ramah, tetapi ada juga yang hanya diam, masih tidak percaya dengan perubahan sikap gadis itu.
"AAAAA, NAYAAA! Gue tahu gini mending gue temenin dia dari kelas sepuluh!"
"Sumpah, aura Naya terpancar banget kalau sudah buka identitasnya."
"Aaaa, mau banget kayak Naya, tapi gue enggak sekuat dia."
Itulah beberapa celotehan yang sempat Nara dengar. Namun, gadis itu benar-benar bodo amat. Bukannya merasa risih, ia malah mengibaskan rambutnya dengan santai, seolah semua komentar itu hanya angin lewat baginya.
Di sisi lain, Alden yang baru saja sampai di sekolah memperhatikan Nara dari kejauhan. Ia mendengus pelan, lalu memilih berjalan ke arah lobi tanpa mengatakan apa pun. Sementara itu, Nara sudah lebih dulu sampai di depan lift. Ia mengambil kartu identitas barunya, lalu menempelkannya ke tempat pemindai. Untungnya, kartu itu berhasil digunakan. Namun, sayangnya ia tetap harus menunggu karena lift masih berisi beberapa orang di dalam.
Saat sedang menunggu, tiba-tiba Nathaniel muncul di sebelahnya. Kehadiran laki-laki itu langsung membuat suasana hati Nara yang tadinya bagus berubah menjadi buruk.
"Nih, lo letakkan bola basket ini ke ruang olahraga sana," ucap Nathaniel sambil menyodorkan bola basket yang sedang ia pegang.
"Ogah. Letakkan saja sendiri," tolak Nara dengan ketus.
Nathaniel terkekeh mendengar jawaban itu. "Gue kira lo kerasukan kemarin, makanya jadi enggak terima ditindas. Ternyata enggak. Sampai sekarang lo masih saja sama kayak kemarin. Jadi, fix, lo enggak kerasukan."
Nara langsung menatapnya tajam. "Jadi, maksud lo, kemarin itu tubuh gue dirasuki setan gitu?"
"Betul. Tumben pintar," jawab Nathaniel dengan santai.
"Wah, fuck you ya, lo! Lo juga nyari ribut sama gue!" ucap Nara emosi.
Namun, belum sempat pertengkaran itu semakin panjang, tiba-tiba seseorang datang dan berdiri di sebelah mereka. Keduanya pun langsung menoleh.
"Jangan cari keributan di sekolah!" perintah Alden yang baru saja sampai.
"Dia duluan!" adu Nara cepat.
"Dih, lo yang duluan," bela Nathaniel tidak mau kalah.
"Lo lah! Kan lo yang bilang gue kerasukan," sewot Nara.
"Gitu doang kok marah. Padahal gue bercanda," jawab Nathaniel dengan wajah setengah tengil.
"Apa lo bilang?" Nara sudah hampir maju, tetapi ucapannya terhenti saat pintu lift tiba-tiba terbuka.
Mau tidak mau, mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam lift. Suasananya langsung terasa sempit, apalagi dengan aura tidak akur antara Nara dan Nathaniel yang masih terasa jelas.
"Sempit. Lo keluar dulu sana," usir Nathaniel sambil melirik Nara.
"Lo yang keluar. Ini lift gue yang buka," balas Nara tidak mau kalah.
Alden hanya mendengarkan perdebatan mereka tanpa ikut campur. Ia berdiri diam di samping, mencoba terlihat tidak peduli, meskipun sesekali matanya tetap melirik ke arah Nara.
"Dih, halu lo. Mana mungkin lo punya ID card anak-anak elite," jawab Nathaniel tidak percaya.
Tanpa banyak bicara, Nara langsung mengambil kartu identitas barunya dari saku almamaternya, lalu menunjukkannya kepada Nathaniel. Seketika, laki-laki itu terkejut melihat kartu berwarna emas mewah tersebut.
"Wow, amazing. Benar-benar orang kaya lo," gumam Nathaniel, masih menatap kartu itu dengan ekspresi tidak percaya.
"Iyalah. Gue mana mau pura-pura," jawab Nara santai.
Sementara itu, Alden yang berdiri di sebelahnya hanya sesekali menatap gadis itu, lalu kembali menatap ke depan. Entah kenapa, sejak tadi perhatiannya terus saja tertuju pada Nara, meskipun ia berusaha terlihat biasa saja.