NovelToon NovelToon
BERMUKA DUA

BERMUKA DUA

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:807.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mizzly

Kehidupan sempurna bak putri kerjaan yang Inez rasakan mendadak berubah total ketika Rara menjalankan misi balas dendamnya. Rasa sakit hati kehilangan Papanya membuat Rara ingin membuat Inez merasakan apa yang Ia rasakan.

Tanpa Inez sadari, Rara selalu memakai topeng. Baik di depan dan busuk di belakang. Satu persatu kebahagiaan yang Inez miliki perlahan hilang, termasuk kesuciannya. Apa lagi yang akan Rara renggut lagi dari Inez?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berteman dengan teman yang pernah tidur bareng

Rio menatap tangannya yang sejak tadi terjulur. Berharap Inez akan menyambut uluran tangannya dan mau menjadi temannya.

Rio menatap Inez yang sedang ragu dengan keputusannya. Wajah cantiknya masih terlihat jelas meskipun sedang lelah dan berkeringat karena terik matahari.

"Gak mau nih temenan sama gue?" Rio berpura-pura ngambek. Pegel juga tangannya terus terulur tanpa dibalas dengan jabatan tangannya.

"M...mau..mau kok." Inez membalas jabatan tangan Rio.

Rio tersenyum jahil. Lucu juga melihat wajah Inez yang takut dirinya marah.

"Nah gitu dong. Tenang, Nez. Gue gak akan ngapa-ngapain lo kok. Ya kecuali waktu itu sih." ujar Rio.

"Udah deh gak usah dibahas lagi. Kan gue jadi inget kenangan buruk itu lagi." keluh Inez dengan muka sebal. Inez mengerucutkan bibirnya membuat Rio makin ingin terus menggoda Inez terus.

"Kalo inget mau gue tanggung jawab? Ayo kalo mau gue tanggung jawab, sok atuh. Gue sih oke-oke aja punya istri kayak lo." jawab Rio dengan santainya.

"Tuh kan... katanya mau temenan tapi gitu terus. Gimana sih?" Inez sudah mulai kesal dengan Rio yang senang menjahilinya.

"Iya... iya... Udah gak gue isengin lagi. Ayo gue anter lo pulang. Sekalian gue ada urusan di deket rumah lo." Rio baru saja bangun hendak mengajak Inez naik mobilnya namun Inez tak bergeming. Ia masih duduk di halte.

"Gue udah pindah. Gak tinggal disana lagi." jawab Inez.

Rio yang kaget lalu duduk lagi di tempatnya semula. "Lah kenapa pindah? Sejak kapan?"

"Sejak 6 bulan lalu. Panjang deh ceritanya kalau diceritain mah. Bisa satu novel Harry Potter kali tebelnya." sahut Inez.

"Terus lo tinggal dimana?" Rio masih penasaran dimana Inez tinggal saat ini.

"Di daerah M." jawab Inez singkat.

"Yaudah ayo gue anterin. Rumah gue deket daerah M kok." ajak Rio lagi.

"Bohong. Mana mungkin lo tinggal di daerah M? Itu kan pinggiran kota. Kalo dilihat dari mobil sport yang lo kendarain pasti lo anak orang kaya kan? Mana mau orang kaya tinggal di daerah M?!" sahut Inez sok tahu.

"Ih nih anak sok tau ya. Dibilangin gue tinggal di daerah M gak percaya. Emang kenapa sih dengan daerah M? Kesannya tuh di mata lo terpencil dan pinggir kota banget? Lo gak tau ya kalau udara di daerah M tuh masih sejuk dan asri? Pemandangannya juga indah karena masih banyak pepohonan. Dan yang terpenting, daerah M cocok untuk Mami gue yang punya penyakit asma. Makanya gue sekeluarga pindah ke daerah M." kata Rio menjelaskan panjang lebar.

"He..he..he... iya sih. Maaf ya gue sok tau banget jadi orang. Bener sih kata lo, daerah M emang masih asri banget." kata Inez dengan nada menyesal.

"Yaudah ayo gue anterin. Sekalian gue traktir lo untuk permintaan maaf gue sama lo atas kejadian malam itu. Memang sih, kejadian malam itu gak bisa dibales hanya dengan traktiran aja. Habis lo sih, gue mau tanggung jawab gak dikasih." gerutu Rio.

"Iya.. iya... udah ayo jalan. Gak usah bawel. Awas ya bahas-bahas tentang tanggung jawab lagi!" ancam Inez.

"Siap, Bos. Ayo naik. Udah laper berat nih gue."

Inez pun mengikuti langkah Rio dan naik mobil sport miliknya. Memang beda ya rasanya naik mobil mahal dengan mobil sedan miliknya. Harganya saja sudah jauh berbeda. Inez penasaran bagaimana ya rasanya mengendarai mobil sport mahal kayak gini.

"Ih Dia norak. Gak pernah ya diajak naik mobil sport?" ledek Rio.

"Iya. Emang belum pernah. Keliatan banget ya noraknya?" aku Inez.

Rio tertawa mendengar pengakuan Inez yang amat jujur tersebut. Benar-benar lugu dan lucu. Berbeda dengan apa yang Rara ceritakan. Rio memang sudah sejak awal meragukan penilaian Rara terhadap Inez, dan kini Ia amat yakin kalau Inez tidak seperti yang Rara pikir selama ini.

"Eh, Yo. Lo gak ke rumah Rara?" tanya Inez mencari topik pembicaraan agar suasana diantara mereka tidak kaku.

"Ngapain?" tanya Rio bingung. Rio masih fokus melihat jalanan di depannya.

"Ya kan Rara udah gak tinggal di asrama lagi. Berarti lo sering ke rumahnya dong sekarang?"

"Oh... Pasti lo mikirnya gue sama Inez masih pacaran ya?"

"Emangnya kalian udah putus?" tanya Inez memastikan.

"Emangnya lo gak tau?" tanya balik Rio.

"Ih jawab aja kenapa sih. Kenapa harus jawab pertanyaan dengan pertanyaan balik sih?" gerutu Inez.

Rio menahan tawanya.

Asli... lo tuh lucu dan ngegemesin banget sih Nez. Ah bodoh tuh pacar lo yang udah ngelepasin lo.- Rio.

"Gue udah putus Nez sama Rara." aku Rio.

"Kapan? Kok Rara gak cerita sih sama gue?"

Gak bakalan lah Rara cerita sama lo, Nez. Lo tuh bukan siapa-siapa bagi Rara. Beda sama lo yang nganggep Rara sebagai sahabat.- Rio.

"Lupa kali Rara bilang atau gak sempet kali. Gue denger Rara udah dapet kerjaan karena Dia direkomendasiin dari kampusnya. Mungkin Rara sibuk kali. Maklum, anak pinter mah beda." Rio tak ada niat membela Rara, Ia hanya tak mau Inez kecewa kalau tahu kebenaran yang sebenarnya.

"Iya juga sih. Eh lo belum jawab, kapan kalian putus?" Inez masih penasaran sebelum pertanyaannya terjawab Ia akan terus bertanya.

"Pas hari kita tidur bareng." jawab Rio dengan santainya.

"Ih jangan bilang gitu kenapa. Kok lo gak ada rasa trauma-traumanya sih sama kejadian malam itu?" ujar Inez kesal. Sepertinya hanya dirinya saja yang trauma karena kejadian malam itu dan Rio santai bahkan terkesan tidak menyesal sama sekali.

"Terus gue harus bilang apa? Apa gue harus bilang kayak gini 'Malam saat gue merenggut keperawanan lo yang sudah lo jaga selama ini'? Enggak kan? Maaf Nez, gue bukan tipikal cowok yang pandai merangkai kata hanya untuk memperhalus maksud atau ada tujuan sendiri. Mungkin di mata lo gue seenaknya tapi bagi gue ya inilah gue apa adanya, bukan ada apa-apanya." Inez terdiam mendengar perkataan Rio. Antara kesal dan tak bisa berkata apa-apa.

Rio pun melanjutkan lagi perkataannya. "Sorry kalo udah nyinggung perasaan lo. Kalau ditanya trauma, jujur gue gak trauma Nez. Gue sebagai cowok enggak kehilangan apapun, ya enggak rugi lah apalagi gue tidurnya sama cewek cantik kayak lo. Untung banyak malah. Ups... becanda Nez. Makanya gue siap kok tanggung jawab atas kerugian yang lo alamin."

"Udahlah gak usah dibahas. Gue gak mau minta tanggung jawab lo seperti kata gue tadi. Banyak hal yang harus gue pikirin dan harus gue lakuin saat ini. Saat tau kalau gue gak hamil ya gue udah gak minta lo tanggung jawab. Buat apa? Gue gak mau menghabiskan hidup gue dengan cowok yang enggak gue cintai. Hanya karena sebuah tanggung jawab, gue malah membuat hidup gue makin menderita lagi." kata Inez dengan tegas. Ia sudah memikirkan matang-matang dan keputusannya tak akan goyah meskipun Rio menawarkan tanggung jawab. Jarang loh ada cowok yang gentle dan mau bertanggung jawab atas kesalahannya.

"Pemikiran lo emang beda dari yang lain ya Nez. Lebih dewasa dan berpikir ke depan. Gue minta maaf kalau gue ngebahas tentang kejadian malam itu terus. Tapi kalo lo nanya gue nyesel apa enggak maka gue akan jawab enggak. Oke kita tutup pembahasan tentang malam itu. Dan tawaran gue masih berlaku. Kalo lo mau gue tanggung jawab, gue siap."

"Iya. Kita tutup pembahasan malam itu. Jadi lo udah putus sama Rara? Kok pacaran sebentar banget sih?" Inez mengalihkan topik pembicaraan lagi. Rumahnya masih jauh dan jalanan sedang macet. Gak enak kalau mereka diam-diaman dan bertengkar.

"Mungkin di mata Rara kesalahan yang gue lakukan tidak termaafkan kali ya Nez. Tapi gue coba ambil hikmahnya aja. Tuhan kasih petunjuk buat gue kalau Rara bukan yang terbaik buat gue."

"Kalau Rara yang baik kayak gitu bukan yang terbaik buat lo lalu siapa ya yang terbaik buat lo?" tanya Inez bingung.

"Nez, lo beneran gak ngerti apa gimana sih? Lo temenan sama Rara udah lama kan? Masa sih lo gak kenal Rara kayak gimana?" sekarang Rio yang bingung dengan kebodohan Inez.

Inez menggelengkan kepalanya. "Emang Rara kenapa? Rara tuh baik banget tau."

Rio menghentikan mobilnya tepat di belakang garis stop karena lampu merah. Rio menatap Inez dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana mungkin Inez masih mempercayai Rara setelah semua yang Rara lakukan padanya.

Rio ingin mengatakan kebenaran tentang Rara, namun Rio yakin kalau Inez tidak akan mempercayai perkataannya. Mana mungkin Ia percaya pada cowok brengsek daripada sahabatnya sejak kecil?

"Udahlah, Ra. Gak usah dibahas. Kita makan dulu ya. Gue laper nih."

"Tapi-" belum selesai Inez berbicara Rio sudah memotong perkatannya.

"Laper, Nez. Laper. Lo gak kasihan apa sama gue? Macet nih. Rumah kita masih jauh. Kalau gue pingsan gimana?" rengek Rio.

Kalau sudah begini mana mungkin Inez tega?

"Iya deh. Ayo kita makan dulu. Tapi-" belum selesai Inez bicara lagi sudah dipotong lagi oleh Rio.

"Gue traktir Nez. Gue yang bayar semuanya. Udah lo duduk manis aja ya. Oke?" Rio seakan bisa membaca kekhawatiran Inez.

"Yaudah deh. Gue ikut aja." kata Inez pasrah.

"Nah gitu dong. Tuh di depan ada restauran enak. Gue pernah makan disana. Kita makan disana aja ya." Rio menunjuk restauran di depan yang terlihat ramai dan banyak orang yang makan disana.

"Iya aja deh. Terserah lo."

"Siap! Lets go!" dengan kekuatan perut yang kosong, Rio menyalip mobil dan berhasil mendapatkan parkiran kosong. "Ayo Nez cepetan!"

"Iya. Sabar dong." sambil bersungut-sungut Inez mengikuti langkah Rio masuk ke dalam restoran.

Ternyata restoran yang Rio pilih adalah restoran seafood. Tidak tanggung-tanggung, Rio memesan dua buah lobster ukuran jumbo untuk mereka makan.

"Gak salah nih Yo? Gede banget lobsternya. Kayak badan gue segede apa aja makannya banyak banget." protes Inez.

"Udah ye teman yang pernah tidur bareng sama gue. Makan aja jangan bawel."

"Yo, gue timpuk nih pake lobster kalo lo ngomong lagi kayak gitu!" ancam Inez.

"Makanya makan aja jangan bawel. Mau gue kayak tadi?" ancam balik Rio.

"Iya... iya..." Inez pun menuruti perkataan Rio dan memakan lobster yang Rio pesan. "Hmm.. enak banget."

"Ya kan? Makanya makan aja dulu. Gak habis gak masalah." sahut Rio sambil menikmati lobster miliknya dengan kedua tangannya tanpa memakai alat makan. Lebih nikmat makan dengan tangan langsung dibanding dengan alat makan.

"Ngomong-ngomong tadi kok lo bisa liat sih gue ada di halte? Jangan bilang kalau lo ngikutin gue ya?" tebak Inez asal. Mana mungkin Rio mengikutinya. Inez pindah rumah saja Rio gak tau.

"Gak ada kerjaan banget gue ngikutin lo. Tadi gue abis dari gedung B juga. Gue lihat lo keluar dari gedung itu. Kebetulan gue mau balik dan lihat lo di halte yaudah deh gue berhenti. Tadi lo habis ngelamar kerja disana ya?" tebak Rio.

"Iya. Tapi gak diterima." jawab Inez jujur.

"Kenapa?"

"Gak punya pengalaman kerja. Dan kayaknya masuk kesana harus pakai koneksi deh. Pasrah gue mah kalau main koneksi. Pasti gue kalah sebelum perang." kata Inez dengan putus asa. Ia butuh secepatnya mencari pekerjaan namun sampai sekarang Ia masih menganggur.

"Jurusan lo apa sih waktu kuliah?"

"Ekonomi. Gue basicnya akuntansi."

"Pas banget dong. Gue lagi butuh audit nih buat perusahaan gue. Mau gak?" kata Rio menawarkan pekerjaan pada Inez.

"Beneran?" Inez yang tidak percaya perkataan Rio menyangsikan kebaikan yang Rio tawarkan.

"Ya benerlah. Lo gak percaya sama gue? Biar ganteng begini tuh gue punya perusahaan sendiri tau. Perusahaan baru sih. Perusahaan gue bergerak di bidang jasa. Ada jasa audit perusahaan, ada jasa accounting dan beberapa usaha lain. Gue jalanin anak perusahaan milik Papi gue."

"Beneran?" Inez masih aja gak percaya perkataan Rio.

"Beneran...beneran melulu? Gak percayaan banget sih lo sama gue? Padahal niat gue baik loh. Masiiih aja curigaan dan gak percayaan." gerutu Rio.

"Bukan gak percayaan sih Yo. Pengalaman yang udah-udah dari kemarin nawarin gue kerjaan buat kerjaan kayak gitu, yang menjual fisik dan pakai pakaian sexy. Buat apa gue kuliah tinggi-tinggi kalau ujung-ujungnya hanya fisik gue yang dinilai bukan otak gue."

"Nah makanya ini gue tawarin kerjaan sama lo. Mau gak? Gue gak nawarin dua tiga kali nih!" ancam Rio. Lama-lama Ia sebal dengan sikap curigaan Inez padanya. Karena kejadian malam itu, di mata Inez Ia sudah amat brengsek saja.

"Mau... Gue mau... Jangan marah dulu dong, Yo." pinta Inez.

"Habisnya lo curigaan melulu sama gue. Padahal niat gue udah baik masih aja lo gak percaya sama gue." keluh Rio.

"Iya... iya... maaf... Beneran gue mau. Please... Rio baek deh."

"Tapi cium dulu." ledek Rio.

"Gue timpuk lo ya!"

"Ha...ha...ha...ha... boong Nez... becanda... lucu banget sih lo...." Rio tertawa terbahak-bahak melihat perubahan sikap Inez yang menurutnya amat lucu tersebut.

1
Ran Aulia
ceritanya bagus banget, sudah pasti ada momen terharu lah ya bikin mewek

terima kasih ya kak 😍😍😍😍
Evayanti Sagala
Luar biasa
dream
baik
Susivira Wati97
hampir semua karyanya aq baca thot suka alur cerita ringan
L2h
Kecewa
Mari Anah
akhir y selesai jg,makasih ya thor udh buat novel yg superrrr keren🤗🤗sukses trs bwt karya2 y ya thor😍😍🤩🤩
Mari Anah
emang ya si rara itu hati y busuk bgt,secara g langsung dy yg udh bikin papah willy meninggal
Mari Anah
nah loh kaget kan rio🙄
Mari Anah
gara2 salah faham inez jdi elffil deh sma rio,udh balikan lgi ajah sma andrew nez,hati rio msh ska goyah😁lanjut thor
Mari Anah
si rara murahn bgt ya🙄
Mari Anah
owh ternyata ky gtu toh cerita y,lanjut thor
Mari Anah
duuuuuhhh kpn sih rio cerita sbnr y k inez,ko aku yg jdi geregetan sndri ya🙄🙄🙄
Mari Anah
ada typo thor😁tante vio kli bkn tante video🤣
Mari Anah
idiiiiihh si rara g berubah2 ya msh ajah itu hati y julid,,klo aku mah ogah punya temen ky gtu,tmn bgt mending d tenggelam kan ajah🙄
Mari Anah
ky y inez lbh cocok sma rio deh,klo andrew trllu sempit cara pemikiran y
Mari Anah
Luar biasa
Mari Anah
cocok lah visual rara,ky judes2 julid gtu muka y
Mari Anah
aku hadir thor,ko aku tkt ya kl inez mau ngenalin k andrew,g tkt apa kl andrew hati y pindah haluan🤔
Yosfi Sofianti
Luar biasa
Lusiana_Oct13
udah rara di jodohin sama mantan nya inez aja sama2 bermulut pedas 😂😂 klo aku suka inez sama rio
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!