NovelToon NovelToon
Pulang

Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama / Cintamanis
Popularitas:1.4M
Nilai: 5
Nama Author: Yoru Akira

"Nya, aku masih di sini. Menunggumu pulang dan membagi lelah selama perjalanan. Sebab jika bukan kamu, aku tak punya tempat melabuhkan segala penat." - Putra -

"Pulang bukan perkara mudah. Jika rumah yang kutuju tak lagi sama seperti dulu." - Kanya -

***

Kanya Gayatri tak lagi menganggap rumah sebagai tempat ia memulangkan lelah saat Sukma - ibunya - memutuskan menikah lagi ketika Adam - sang ayah - meninggal dunia. Seandainya saja lelaki yang dinikahi Sukma bukanlah Eka, mungkin Kanya bisa menerima lelaki itu sebagai ayahnya. Tapi menerima Eka sebagai ayahnya bukanlah perkara mudah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoru Akira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semesta Lebih Tahu Bagaimana Caranya Bekerja

Renjana Kanya

Suara melengking Almira membangunkanku yang baru saja terpejam. Setelah berbincang dengan Damar aku baru bisa memejamkan mata menjelang pukul 04.30 usai adzan Subuh dan sekarang Almira memaksaku bangun dari tempat tidur. Pukul 05.30. Apa yang aka dia lakukan sepagi ini?

"Gue masih ngantuk, Mir," kataku kesal dengan perlakuan Almira. Tidak bisakah dia membiarkan aku tidur sedikit lebih lama?

"Wake up, wake up Ms. Kanya. Matahari udah tinggi woy. Ayo ikut aku jalan-jalan biar sehat." Almira menarik tubuhku dari tempat tidur.

Dengan berat hati, aku bangun dari tempat tidur dan mengikuti kemauan Almira. Demi mengusir kantuk dan menghapus lelah dari wajahku, aku menuntaskan aktivitas pagi di kamar mandi. Mencuci muka yang masih sembab akibat menangis semalam. Mengusir jauh-jauh penat yang masih melekat. Lama, kuperhatikan pantulan wajahku di cermin. Menarik ujung-ujung bibirku yang terasa kaku. Hasilnya tak begitu buruk, meski lelah masih terpancar jelas. Kutepuk-tepuk pipiku untuk mengembalikan semangat yang semakin memudar sejak mendengar kata 'pulang'.

"C'mon, lo pasti kuat Kanya!" kataku meyakinkan diri sendiri. Setelah mengganti pakaian yang lebih nyaman, aku keluar dari kamar. 

Perempuan itu sudah menggunakan pakaian longgar yang nyaman ketika aku ke ruang keluarga. Sedangkan Damar sudah berpakaian rapi dan siap berangkat kerja. Raut wajahnya masih terlihat kesal saat melihatku. Dia bahkan menghindari tatapanku saat menyapanya. Jelas menunjukkan permusahan. Jika tahu akan berakhir seperti ini, aku juga tak ingin menyerahkan hal yang paling berharga dalam hidupku. Memang aku punya pilihan untuk bisa kembali ke masa lalu? ‘Kan tidak juga.

Aku menghela napas panjang. Tak mudah menjelaskan situasiku pada Damar. Dia tak tahu rasanya diperbudak cinta dan benci sekaligus. Sebab cinta butanya sudah terbalaskan.

"Hati-hati jalan-jalannya. Jangan jauh-jauh. Sekitar kompleks aja," kata Damar berpesan pada Almira saat kami hendak keluar rumah. Almira hanya tersenyum cerah dan mencium pipi suaminya. Entah mengapa melihat sikap mereka membuatku geli. Apa jika kelak aku menikah juga akan berperilaku sama dengan mereka? 

Aku mengusir jauh-jauh perasaan geli itu dari pikiranku. Paling penting sekarang bukanlah kisah melankolis yang cuma bisa bikin bawa perasaan alias baper. Aku sudah menguatkan lagi hatiku yang hancur demi menatap masa depan yang lebih baik. Tenagaku yang berlebih bisa kusalurkan untuk pekerjaan lapangan yang sudah menunggu ketika kembali ke Jakarta. Menjauh dari segala kepenatan dan membuat hati semakin melemah. Ya, semudah itu rencanaku.

Dan memang harusnya itu yang kulakukan, tapi aku justru terjebak situasi yang membuat pagiku mendadak kelam. Satu hal yang kulupakan. Rumah Almira dan rumah kakek Putra berada di kompleks perumahan yang sama. Jelas bukan suatu kebetulan jika tiba-tiba kami berpapasan. Kebiasaan lari pagi lelaki itu pun luput dari perencanaanku saat menerima tawaran Almira. Alhasil, pertemuan itu tak dapat dihindarkan.

Sejenak aku terpaku pada lelaki yang kini berdiri tak jauh di depan kami. Badannya terlihat atletis dengan setelan kaus jersey tim sepakbola kesukaannya. Manchester United. Sedangkan kulit coklatnya semakin eksotis karena berkeringat. Semalam aku tak begitu memperhatikan jika dia kini semakin terlihat seksi. Mata kami bertemu. Ia tersenyum. Manis seperti... tidak. Aku segera mengusir perasaan kagum yang tiba-tiba mengetuk pintu hatiku. Bagaimanapun aku tak boleh lagi terlarut dalam pusaran perasaanku sendiri.

“Halo, Nya.” Sapa lelaki itu ramah. Kami berpapasan di taman kompleks saat Almira mengajakku membeli bubur ayam. Aku memilih menyingkir dan memberi tahu penjual bubur ayam jika pesananku tanpa kacang. “Hei Mir, lagi jalan-jalan nih?”

“Eh Put, apa kabar lo? Tumben di sini,” balas Almira kikuk. Ia melirikku yang sudah duduk di kursi plastik yang disediakan penjual bubur ayam. Aku memilih tak peduli dan menikmati bubur ayam yang baru saja diberikan oleh penjualnya.

“Iya, gue tidur di rumah Kakek semalam.”

“Oh... Lama juga ya kita nggak ketemu. Makin sibuk aja nih Nada Sumbang,” goda Almira manahan Putra semakin lama. Lelaki itu hanya balas tertawa dan matanya yang jenaka menatapku lekat. “Sekalian sarapan yuk, Put.”

Ajakan Almira membuatku refleks menoleh kepadanya. “Ngapain sih?”

“’Kan ngajakin dia sarapan, Anya. Elah sensian banget sih kamu tuh. Emang nggak boleh aku ngajak teman lama sarapan bareng?”

Sebentar saja, kedua manusia itu sudah sibuk bercerita. Tidak mengacuhkanku yang mulai bad mood akibat kemunculannya yang tiba-tiba. Membuatku jengah dan ingin segera pergi daari situasi yang menyebalkan ini.

Sesekali Putra mengajukan pertanyaan kepadaku. Namun, aku tak ingin menjawab pertanyaan basa-basi yang dia tanyakan secara acak. Aku tak mau terlibat pembicaraan mereka yang tak penting.

“Ehm, apa gue perlu pulang dulu nih biar kalian bisa ngobrol?” Almira mendadak mengajukan pertanyaan yang semakin menghancurkan mood-ku.

“Nggak! Nggak ada yang perlu diobrolkan juga,” kataku tegas. Aku mulai muak berada di situasi yang membuatku harus pura-pura tegar padahal dalam hati bergejolak menahan amarah. “Kalau kamu udah selesai, buruan yuk. Aku mau ke Margomulyo sama Mas Aldo. Udah ada janji buat liputan batik gedog.”

“Siapa Aldo? Oh, laki-laki yang tadi malam. Pacar kamu?” Pertanyaan tajam Putra membuatku tersenyum sinis.

“Apa peduli lo? Lo nggak punya hak ikut campur urusan gue. Permisi.”

Aku baru saja berniat bangkit dari kursi saat Almira mengeluhkan perutnya sakit. Wajah perempuan itu tampak pucat. Keringat dingin mengalir dari keningnya. Harusnya usia kandungan Almira masih tujuh bulan. Belum waktunya melahirkan. Namun kenapa tiba-tiba dia mengeluh perutnya sakit? Aku yang tak punya pengalaman menghadapi orang hamil hanya bisa panik dan mencoba menghubungi nomor ponsel Damar. Sialnya, nomor suami Almira itu tak juga tersambung.

“Aku bawa mobil, ayo aku antar ke rumah sakit.”

“Gue bisa telepon, Damar!” bentakku membuat gerakan Putra yang mencoba mendekati Almira terhenti. Kupeluk tubuh perempuan itu yang semakin kesakitan sambil mencoba menghubungi nomor Damar.

“Nya, plis. Kali ini biar aku bantuin kamu.”

“Gue bilang, gue bisa telepon Damar, Putra! Tolong, jangan ikut campur!”

“Nya, kamu boleh benci aku, tapi teman kamu butuh pertolongan cepat!” Suara Putra tak kalah meninggi ketika aku dengan egoisnya menolak niat baik lelaki itu. Sedangkan orang-orang di sekitar kami berdiri bergerombol ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada pilihan lain. Aku menurut saat Putra mengambil alih memeluk tubuh Almira.

Dengan cekatan, Putra memapah tubuh Almira menuju mobil yang terparkir tidak jauh dari taman. Lelaki itu dibantu oleh penjual bubur ayam. Sementara aku masih mencoba menghubungi nomor Damar yang belum juga tersambung dan mengikuti langkah mereka. Peluh semakin membasahi tubuh Almira ketika Putra membantunya duduk di kursi penumpang. Lelaki itu sigap mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit.

***

Sudah tiga puluh menit berlalu, tapi dokter yang menangani Almira di ruang gawat darurat belum juga memberi kabar bagaimana keadaan sahabatku itu. Pun telepon Damar tidak juga dijawab sejak tadi. Aku mondar-mandir di depan pintu IGD dan berharap dokter cepat memberi tahu bagaimana keadaan Almira. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Almira dan bayinya, aku tak tahu harus berbuat apa. Jelas, akulah penyebab perempuan itu berada di ruang IGD saat ini.

Air mata jatuh membasahi pipiku. Pikiranku semakin kacau. Bagaimana aku harus menghadapi Damar jika lelaki itu bertanya? Bagaimana aku bisa bertanggung jawab atas keselamatan Almira dan calon bayi dalam kandungannya. Bagaimana jika...

Pelukan hangat mendekap tubuhku yang gemetar. Percuma menolak, sebab nyatanya tubuhku lebih tahu apa yang diinginkan. Sekalipun berontak lelaki itu juga tak akan melepaskan pelukannya.

“Dia akan baik-baik saja. Percayalah.”

Suara yang serupa belaian lembut angin itu berbisik di telingaku. Dekapannya semakin erat. Seakan takut tubuhku lebur jika ia melepaskannya. Untuk kedua kalinya sejak tadi malam, dada lelaki itu menjadi tempatku menyembunyikan tangis.

“Tapi gimana kalau...”

“Nya, plis. Berhenti berpikiran negatif. Tentang apa pun itu. Setidaknya untuk saat ini. Oke?”

Aku menurut. Sebisa mungkin, kuhalau jauh hal buruk dari benakku. Aku tak ingin membuat tubuhku semakin lelah karena memikirkan hal-hal negatif yang menganggu pikiranku.

Tak lama, dokter yang menangani Almira keluar dari balik ruangan. Aku memburunya dan bertanya bagaimana keadaan perempuan itu. Setelah menanyakan apa hubunganku dengan pasien, lelaki setangan baya menggunakan jas snelli itu tersenyum.

“Dia baik-baik saja, jangan khawatir. Hanya stres karena memikirkan sahabatnya yang lagi berantem sama pacarnya,” kata dokter itu membuatku mengerutkan kening. Ditepuknya pundakku dengan senyuman semakin mengembang. Wajahnya tampak tak asing bagiku. Entah di mana kami pernah bertemu. “Dia sudah pulang kalau urusan administrasinya sudah selesai. Bilang sama Damar ya, dia harus lebih perhatian sama istrinya. Kamu juga, jangan bikin Almira kepikiran terus sama pertengkaran kalian.”

“Om Beni?”

Pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulutku saat mengingat siapa lelaki yang kini berdiri di depan kami. Beliau kakak Tante Sari. Secara silsilah berarti Om Beni adalah paman Damar. Suami Almira itu memanggilnya Pak De. Pantas jika aku merasa tak asing dengan wajahnya. Dulu, kami sering main ke rumahnya jika ingin berenang. Selain itu, Om Beni juga punya anak perempuan seusia kami.

“Gimana kabar kamu, Nya? Lama juga kita nggak pernah ketemu ya.”

“Baik Om. Ehm, sebenarnya baru aja merasa nggak baik waktu lihat Almira kesakitan.”

Senyum tak lepas dari wajah lelaki itu. Ditepuknya lagi pundakku dengan tawa masih berderai. “Terkadang semesta juga bekerja lewat tangan-tangan jahil yang nggak pernah kamu duga sebelumnya. Seperti kasus kamu barusan,” kata Om Beni sebelum melangkah pergi dari ruang IGD.

“Maksudnya, Om?”

“Kamu pasti segera paham.”

Om Beni meninggalkan kami dengan tanda tanya dalam benakku. Entah apa yang dimaksud lelaki setengah baya itu dengan meninggalkan teka-teki kepadaku. Ah, aku lupa jika dulu pun beliau sering melakukan hal yang sama saat bertemu. Hanya denganku, beliau memberikan teka-teki yang kelak selalu menjadi jawaban tak terduga.

1
Tismar Khadijah
baguss knp baru ketemu y
Sylvia Ali Imam
sesama anak bawaan boleh kok menikah...
🌸Ar_Vi🌸
kek mana ini.. kelanjutannya dimana??😄
🌸Ar_Vi🌸
laah.. kok habis
🌸Ar_Vi🌸
jantungnya Arez?
Ena Ariani
kutunggu lanjutannnnnyaaaa
Ena Ariani: padahal lum selesai
total 2 replies
Diandari😍
Baghdad bangettt
Air
Luar biasa
Aldi
ya Allah di usia segini aku baru nemuin novel yg luar biasa ini,author i love you
Lasmining Firdasya: coba baca Renjana Senja Kala juga kak, karya Sephinasera bagus2, sayang authornya udah gak di Noveltoon lagi, ada juga karya kak Asya dan banyak lagi, yang mana kebanyakan udah pindah ke lapak sebelah
total 1 replies
Pipin - Theofillo
Luar biasa
Icha Akim
kangeeen araz
@tik jishafa
Setelah sekian purnama baru up lagi ....ampe lupa gak tau lagi ceritanya ni novel..sangking lamaaaanya gak pernah up 🤣🤣
btw terima kasih udah up thor semangaat sampai tuntas ceritanya 🙏
novie lou: iya kak, sama...tapi tetap kumasukkan di list cerita ku/Bye-Bye/
total 1 replies
Dian Puspus
aaaaaaaaa akhirnya dilanjut lagi....
othor kemana aja siii?
sehat² kan??
novel lainnya dilanjut juga dong kak... bagus² lhoo, sayang kalo pada putus tengah jalan...🙏
santi astuti
whoaaa..akhirnya update lagi....
lanjutt....
Riendu
berasa mimpi di sore bolong (krn aku dapet notif update pas sore hari) Pulang update lagi

Haiiii....apa kabar Yoru , laaaaaaama tak bersua

terbukti kan kalo Pulang tetep dinanti , nyatanya meskipun lama tenggelam masih aja tetap ada di daftar favorit aku
yuk semangat yuuukkkk....kencengin lagi updatenya 🥰
Henni Meidiyati: nggak nyangka banget kayak dpt durian runtuh
total 1 replies
Riendu
wowww first komen ni kayaknya
☆heztieprast☆
si kakek lg nyamar kayanta
Misti Benni-ben
lanjut dong thor PULANG nya aku tunggu banget
Cini Kudo
benar2 luar biasa menguras emosi
ayik kanaka
keren
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!