"Aku lihat kamu mirip seseorang."
"Mirip siapa?"
"Mirip menantu idaman Papaku."
---
Diego dan Alita, mereka terlihat seperti remaja biasa. Ke sekolah dan belajar seperti siswa pada umumnya.
Perfect partner yang usil dan jahil, tidak sesederhana yang terlihat. Layaknya tumbuhan hijau pemangsa, keduanya menunggu dan memangsa, dan akan menyerang balik jika ada yang mengganggu.
Siang dan malam adalah waktu yang berbeda, begitu pula dengan identitas Mistletoe, Shaun dan Lele.
Status : Tamat.
Lagu rekomendasi :
Johnny Orldano - What if - ft Mackenzie Ziegler
Johnny Orlando - Everybody Wants You
Johnny Orlando - Last Summer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xiie Lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Shaun & Lele 10
Happy reading!
.
Tolong perbaiki rate-nya ya gengs😊, entah tangan siapa yg jahil, rate-nya Shaun & Lele anjlok😑😑😑😑
***
"Woiii, tunggu!!!"
Alita berteriak, memanggil pemuda skate board yang baru saja menyelamatkannya dari kejaran polisi gendut.
"Heiii, siapa namamu?" Kembali lagi pemilik manik hijau itu berteriak, tapi pemuda yang berhoodie hitam tidak menyahut. Dia berlalu tanpa jawaban membuat Alita menghentakkan kaki kesal.
"Kalau dia tampan 'kan lumayan buat tambahan koleksi pacar," gumamnya sambil terus menatap punggung yang menjauh, berlari di atas papan beroda empat.
"Wooiiii, kenalan dong!!!"
Meski tahu tidak akan mendengarkan, Alita terus saja berteriak. Lumayan untuk menghilangkan perasaan khawatir pada Dylan. Bukan karena pemuda itu kesakitan akibat pukulan, tapi lebih cemas pada kartu emas berjalan milik Alita.
'Kan lebih mengkhawatirkan kalau Dylan memutuskannya hanya karena dia bukan gadis manis dan baik-baik. Martabatnya sebagai seorang playgirl akan lenyap begitu saja. Alita akan kehilangan kekayaannya juga dalam sekejab.
"Mau jadi pahlawan ya? Huh, aku masih bisa menangani pengecut seperti itu apalagi polisi gendut yang tidak bisa berlari," ucap Alita sambil menatap kepalan tangannya yang sudah siap melayangkan pukulan pada pemuda tadi.
"Tapi, tidak apa-apa. Kamu sudah menyelamatkan aku hingga aku tidak perlu berlari lagi dari kejaran polisi itu."
Sadar bahwa dia masih berdiri dengan memegang papan skateboard pemberian orang asing tadi, Alita kembali berlari dan melajukan papan itu dengan tawa menggema.
"Lebih menyenangkan dari pada bermain bersama si jelek itu," gumamnya kemudian.
Bermain skateboard di kerumunan orang sambil mencari Dylan, Alita melihat polisi tadi masih berada di area itu. "Apa dia masih berpikir untuk menangkapku? Polisi bodoh."
Untuk menghindari kejaran polisi yang sangat ketat terhadap kejahatan, Alita menyusuri daerah yang sepi. Setelah menemukan mobil Dylan, Alita segera menelpon seseorang untuk menjemputnya.
"Aku dikejar polisi, Diego! Tolong akuuuu!!!!"
Alita sengaja berteriak dan menghembuskan napasnya kasar seperti seseorang yang benar-benar dikejar polisi. Karena Diego akan segera datang sebagai malaikat penolong untuknya.
"Maaf ya, aku lagi tidur."
Jawaban santai dan menyebalkan dari Diego sungguh tidak disangka oleh Alita. Dia menatap nanar layar ponselnya. "Dia benar Diego, bukan?"
"Yang benar saja. Apa dia akan melupakanku begitu saja? Tidak akan menjemputku, huh?"
Alita menghembuskan napas kasar. Kalau jawaban Diego sudah seperti itu, berarti pemuda itu tidak akan datang. Jangan berharap lagi.
"Ah, lupakan saja. Dia memang menyebalkan. Aku saja yang kesurupan hingga meminta bantuan dia disaat dia tidak mengizinkan aku pergi."
Dering ponselnya membuat Alita berhenti. Dan karena posisinya yang tidak seimbang, Alita hampir saja jatuh dari papan itu.
"Apa ini seperti peribahasa 'Sudah jatuh tertimpa tangga pula'?" gumamnya dengan wajah lesu.
"Aku akan segera menemuimu. Maaf membuatmu menunggu, Dylan," jawabnya saat seseorang di sana menanyakan keberadaannya.
Mengangkat papan skateboard dan membawanya pergi menemui Dylan, Alita memasang wajah penuh senyuman.
Mengendap-endap di balik kerumunan, Alita berusah menutup mukanya, takut polisi tadi menemukannya. Alita tidak melakukan penyamaran karena tidak memiliki uang yang cukup. Ya iyalah, masa bawa uang kalau jalan sama pacar. Apalagi Alita mata duitan.
Malang sekali, sebelum Alita benar-benar sampai di mobil, seseorang menepuk pundaknya. Dia menoleh dan mendapati orang yang sangat dia hindari tepat di belakangnya dengan senyuman puas.
"Mau lari ke mana kamu, Anak kecil?" Polisi perut buncit dan berkaki pendek seperti Minions mengejutkan jantung Alita. Sesaat sekelilingnya seperti berhenti berputar dan otak Alita mulai bergerak gelisah.
***
Tidak ada lagi jalan lain selain berlari. Dengan mengandalkan papan skateboard yang diberikan pria asing tadi, Alita memutari area itu dan membuat sang polisi mengejarnya.
Seluruh bangunan sudah diputari Alita, tapi rupanya si polisi masih kuat mengejarnya.
"Aku pikir dia gendut dan tidak bisa tahan, nyatanya prediksiku salah," batin Alita yang sudah hampir menyerah mengerjai polisi itu.
Sudah hampir setengah jam, Alita sengaja memutari area itu. Panas terik tidak menjadi masalah lagi dengan kulit yang sangat dia sayangi.
Polisi perut buncit tidak kalah, dengan topi yang menutupi kepala dia mengejar Alita sambil mengendarai sepeda. Perputaran waktu tidak terasa dan Alita baru menyadari dia belum memberi kabar pada pemuda yang dia habiskan uangnya.
Sambil menunggu polisi yang masih sedikit jauh darinya, Alita mengambil ponsel dan memberitahu Dylan kalau dia masih punya urusan yang paling penting dengan seorang pencopet.
"Semoga saja Dylan tidak curiga padaku," gumam Alita seraya menoleh ke belakang di mana polisi tadi masih semangat mengejar.
"Bisa gawat kalau dia marah dan ... ah, tidak, tidak, jangan berpikiran yang buruk. Dylan bukan orang yang seperti itu," ucapnya lagi menenangkan diri. Bisa gawat kehidupan miskinnya kalau itu terjadi.
Orang berpakaian hijau terus mengejar dan Alita masih berpikiran untuk tetap mengerjai. Dia memegang papan skate itu dan berlari menaiki tangga sebuah gedung. Dan benar saja, polisi itu masih saja mengejar. Yang membuat Alita tertawa, sang polisi rela menggendong sepedanya dan berlari mengejarnya di tangga.
Di sebuah kerumunan, Alita mendapati seorang penjual manik-manik dan Alita berpikir untuk menghabiskan uang sakunya demi mempermainkan polisi yang mengincarnya.
Setelah menampakkan dirinya pada polisi itu, Alita berlari lagi dan meninggalkan papan skate itu pada seseorang. "Jangan dipakai, itu barang curian dan sangat haram," ucapnya pada seorang anak kecil yang menerima dengan mulut ternganga lebar. Bingung.
"Jangan pakai sepeda, Pak! Itu tidak adil! Ayo kita olahraga siang, sayang-sayang kalau sinar mataharinya mubazir!" teriak Alita pada si polisi yang sangat setia, setia mengejar maksudnya.
Sedikit mencengangkan, polisi itu menuruti perkataan Alita. "Baiklah, tapi larinya jangan terlalu cepat ya. Aku tidak kuat kalau seandainya kamu mengajakku kawin lari," ujar polisi itu yang semakin membuat Alita bingung.
"Apaan sih," gumamnya seraya berlari dan membawa polisi itu pada area yang tidak terlalu ramai.
Alita memutuskan tiga utas manik-manik cantik di tangannya, dan mulai menghamburkan butirannya di jalanan aspal. Terus berlari dan sesekali menoleh ke belakang, Alita tertawa saat melihat pemandangan di belakangnya.
"Dia tidak punya mata, hahahaha ...."
Polisi itu terjatuh dan kepalanya ikut terantuk di aspal yang keras. Alita berhenti sebentar dan menertawakan hasil perbuatannya.
"Kita tidak jadi kawin lari, Pak. Yang ada kawin sama aspal," ujar Alita sambil memegang perutnya yang sedikit keram.
Tidak berhenti sampai di situ, seorang polisi yang melihat kejadian tersebut mendekat dan ikut mengejar Alita setelah membantu polisi yang terjatuh.
"Kamu tidak akan bisa lari lagi, Anak Kecil," ujar polisi pertama.
"Kenapa kamu mengejarnya?" tanya polisi kedua.
Alita yang mendengar itu langsung menyahut. "Dia ingin menjadikan aku simpanannya, Pak. Mau mengajak kawin lari katanya makanya kami berlari di jalanan!"
"Jangan hiraukan, dia pembuat onar! Cepat tangkap!"
Polisi yang tidak tahu akar permasalahan itu bingung. Entah apa yang harus dilakukannya.
"Pergi saja, Pak. Kami sedang kawin lari!" tukas Alita yang masih ngakak mengingat kejadian terjatuhnya sang polisi akibat ulahnya.
"Tangkap dia! Beritahu yang lain ada buronan!"
Tidak lama kemudian, beberapa polisi datang dan ikut mengejar Alita. Dikepung dari seluruh sudut membuat ruang gerak Alita tidak leluasa. Disaat otaknya tidak lagi mampu berpikir, dia mencoba lagi meminta pertolongan pada Diego.
"Maaf, Sayang. Aku masih di tempat tidur dan tidak ingin bangun. Berjuanglah sendiri, kamu pasti bisa."
Jawaban yang sama. Alita mengerucut.
.
---
***