Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 7
“Nduk … Nduk, bangun. Ada masalah di sawah!” Dasim dengan wajah panik menggedor kamar Ndoro kecilnya, kakinya mondar-mandir tak tenang, keringat mengembun di pelipis menghitam.
“Anne! Bangun nduk. Kita dalam masalah besar!” Lagi dia mengulangi, gedoran pada pintu jati semakin kuat.
Dalam kamar dengan lampu kuningan dan kipas baling putar, jendela berteralis dibiarkan sedikit terbuka, Anne menggeliat, pusing di kepala belum reda. Mata sendunya mengerjap, tangan meraih bantal menutupi telinga dari berisik di depan pintu kamarnya.
“Anne!”
Malas-malas ia beranjak, pikirnya ingin bersantai hari ini rupanya masalah pelik menyapa pagi hari. Dengan rambut terurai, berantakan, Anne membuka pintu kamar, pikiran belum sepenuhnya sadar.
“Nduk, kita dalam masalah besar. Padi-padi yang bulan depan harus nya bisa di panen menguning semua, sebagian mati. Saat ini penduduk sedang berkumpul di balai desa, sebagian berada di sawah.” Dasim langsung menyerbu, wajah paniknya begitu ketara lewat tangan yang mencengkram pundak gadis muda di hadapannya.
“Bicara pelan-pelan, Kang, kepalaku masih pening rasanya,” protes Anne sambil mengibaskan tangan Dasim.
Dasim menghela napas pelan, seraya mengikuti langkah sang ndoro kecilnya yang masih terlihat sempoyongan.
“Ibumu, kan sudah bilang, Nduk. Jangan minum arak saat mendekati masa panen, karena sewaktu-waktu masalah bisa datang, kowe liat sendiri sekarang?!” Ia terus mengomel sampai mereka duduk di teras belakang.
Dari arah dapur, Wulan membawa dua gelas wedang jahe panas untuk meredakan sakit kepala juga pengar. Cangkir masih mengepulkan asap itu ia sodorkan pada sang juragan.
“Diminum dulu, Nduk, biar pengarnya cepet reda, perut juga hangat.”
Anne menyeruput wedang jahe pelan, rasa hangat merambat di tenggorokan, mual pada lambung perlahan mereda. Gadis masih memakai baju tidur, rambut sudah digelung asal, menyandarkan kepala pada sandaran kursi.
“Bagaimana bisa kembali menguning daunnya dan mati?! Bukankah dua hari lalu baru saja dilakukan pemupukan? Aku juga tak melihat adanya tanda-tanda hama ataupun wereng, kondisi air pun bagus. Apa ada yang merubah pola tanpa melapor padaku?!” Anne balik mencerca, meski sedang dalam kondisi kepala berdenyut, laporan Dasim masuk di telinga, terserap otak yang langsung berpikir cepat.
“Kami juga belum tau, Nduk, tadi kang Dasim lihat, noni Maria dan beberapa petugas berkumpul di balai desa,” jawab Dasim.
“Sepagi ini?” seru Anne.
“Sepertinya ada penduduk yang lebih dulu melapor pada mereka, atau memang hari ini mereka menjadwalkan penyuluhan—”
“Jadwa penyuluhan sudah lewat tiga minggu yang lalu, kalaupun akan diadakan lagi Maria akan memberitahu ku lebih dulu,” sergah Anne, ia lalu meneguk habis wedang jahe di cangkirnya. “Berapa banyak yang mengalami kerusakan.”
“Hampir seluruh sawah yang berada di desa Lereng Bukit. Sebagian lagi sawah yang berada di perbatasan barat Lereng Gunung—”
“Punjer?” Anne kembali memotong.
“Belum ada laporan dari wilayah Joglo Punjer, Nduk. Kemungkinan besar tak terdampak,” jelas Dasim.
“Ini jelas bukan serangan hama biasa,” gumam Anne, sudut matanya memicing, meyakini firasat telah mengusik pikiran beberapa hari ini.
“Siapkan temon, aku akan berganti pakaian,” perintahnya seraya masuk kembali kedalam rumah.
Dasim gegas berlari ke kandang kuda, memasang pelana pada punggung temon juga kliwon—kuda milik Jan Van Beek. Ia memilih ikut menunggangi kuda ketimbang kembali ngontel sepeda tua miliknya.
Tak selang berapa lama Anne sudah siap, dengan satu hentakan kaki temon membawanya berlari, menyusuri jalanan-jalanan setapak menuju persawahan.
Sayup-sayup dapat didengar suara raungan tangis para petani, meratapi padi-padi mereka yang telah layu, hampir mati. Gadis tetap setia dengan jarik dan kebaya itu berjalan tenang, menyusuri pematang. Tatapan menjurus langsung tertuju padanya, kasak-kusuk mulai menggema, menyusup di sela daun padi yang berayun malas.
“Sekarang alasan apalagi yang akan sampean berikan wahai Ibu Ketua? Apa sampean mau menyalahkan kami kembali dengan mati nya padi-padi ini?!” teriakan Rusli—si pria muda yang kapan hari paling lantang suaranya menyambutnya.
“Duh Gusti … semua tabungan kami gunakan untuk modal tanam, tenaga tak terhitung lelahnya, kami tumpahkan demi panen yang melimpah, tapi apa yang terjadi … padi-padi mati tanpa ada penyebabnya!” Raungan petani tua kembali terdengar.
Di tengah cercaan penduduk desa, Anne melangkah tenang, tatapannya lurus pada sang sahabat, sudah lebih dulu menceburkan kaki pada lumpur sawah.
“Apa ada tanda-tanda serangan hama atau sejenisnya, Maria?” tanyanya dengan suara pelan.
“Aku belum menemukan apapun, Anne. Tak ada tanda telur wereng, tungro, hanya terdapat beberapa keong sawah, masih dalam batas wajar, mungkin terbawa arus sungai,” jelas Maria, wajahnya yang putih pucat memerah, tersengat surya pagi menjelang siang hari. “Aku akan bawa beberapa batang ke laboratorium untuk melihat apakah ada kandungan bahan kimia berlebih akibat kesalahan pemupukan seperti tempo hari, mungkin sore atau paling lambat besok pagi hasilnya akan keluar.”
“Tapi padi ini baru saja di beri urea dua hari lalu, kondisi batang dan daun pun tak ada menunjukkan tanda-tanda virus ataupun sejenisnya, bagaimana bisa—”
“Kita tak pernah tau serangan virus pada daun, Anne. Itulah sebabnya kita harus membawa ke laboratorium untuk memeriksanya, dan tentu agar cepat penangannya,” sela Maria.
Alis tebal Anne bertaut rapat, tatapannya berpindah pada tanaman padi telah tertidur dengan batang dan daun menguning, sebagian mulai mengering.
“Bu ketua, Bu Mantri. Jangan hanya berbisik-bisik, kami perlu tau apa penyebab padi-padi ini mati!” teriak salah seorang penduduk, laki-laki hitam berkumis tebal.
“Sabar saudara-saudara. Nduk ketua dan bu Mantri sedang berdiskusi perihal rusaknya tanaman padi kita.” Kasmuri lurah desa mencoba menenangkan penduduk kian ramai berkasak-kusuk.
Maria menegakkan punggungnya, tatapan menyapu para penduduk, wajah ningrat khas Eropanya mengulas senyum hangat. “Saudara-saudara, mohon bersabar. Saya akan membawa batang padi ini ke laboratorium di kota untuk melakukan pemeriksaan, sebab tak ada tanda-tanda hama atau pun virus di padi kita. Kemungkinan sore nanti atau esok pagi baru akan keluar hasilnya, nanti kami akan mengumumkan hasilnya di balai desa.”
“Jika menunggu dua hari, bukankah padi-padi ini sudah mati semua!”
Betul ….
Betul …
“Betul. Kemarin kami begitu percaya, tapi hari ini lihat, sawah desa yang dulunya begitu melimpah panennya, turut rusak, gagal panen di depan mata, bukan tidak mungkin setelah ini merambat ke desa lainnya!” teriak Rusli.
Suasana seketika berubah menjadi gaduh, warga mulai saling tuding, tentu paling besar tertuju pada Anne yang dinilai gagal dan menjadi penyebab utama rusaknya pertanian mereka.
“Ibu ketua, apakah sampean cuma bisa diam atau kembali bersiap mencari kambing hitam!” tuduhan dari sebuah suara yang jelas Anne kenal siapa pemiliknya berhasil menyulut amarah gadis itu.
Anne berbalik badan, tatapan menjurus pada pemuda tak lagi menutupi wajahnya dengan caping di kepala.
“Sebagai pendatang yang cukup banyak bicara, apa kau punya cara untuk mengatasi ini semua?”
Bersambung
(Note: Mohon koreksi jika ada kesalahan dalam penggambaran masalah pertanian, pupuk dan pestisida. Author hanya mengandalkan riset google dan beberapa bacaan. 🙏)
❤️❤️❤️❤️❤️
ada saat nya Anne jatuh cinta pada mu
ada info apa
saudara tiri anne duduu ?
di gelitik pakee jariii too,
🤣🤣
apa ngga muall kamu maria
harus akting bermanis2 di depan anne
wis eruh kedok asli mu topeng mu wujud Rahwana
licik juga kau
apa iyaa anne bakal tunduk padamu
jgn2 malah kena seruduk
makin ruwett
siap mobat mabitt Maria