Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa menjadi menantu numpang di keluarga kelas menengah, Reno diperlakukan seperti pelayan, dihina oleh ibu mertuanya, dan dianggap suami "tidak berguna" oleh orang-orang di sekitarnya. Namun, satu-satunya alasan Reno bertahan dan berpura-pura menjadi orang miskin adalah untuk melindungi istrinya, Alya, perempuan polos yang pernah menyelamatkan nyawanya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan Alya dengan seorang pria kaya raya yang sombong. Di hari yang sama ketika surat cerai disodorkan ke wajahnya, organisasi rahasia terbesar di dunia—Grup Naga Hitam—akhirnya menemukan keberadaan Reno.
Ternyata, Reno bukanlah orang biasa. Dia adalah Tuan Muda Penguasa Tunggal dari keluarga terkaya di benua ini yang sengaja menghilang untuk menyelesaikan misi rahasia.
Begitu batasan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Bayangan Musuh Baru dan Ambisi Alya
Malam baru saja menyisihkan sisa-sisa hujan di pelataran parkir gedung pertunjukan megah itu. Di dalam kabin kedap suara mobil Rolls-Royce Phantom yang meluncur mulus membelah jalanan kota, atmosfer terasa begitu hening. Reno menyandarkan punggungnya pada jok kulit berkualitas tinggi. Sepasang matanya yang tajam menatap keluar jendela, mengamati pendar lampu jalanan yang membias di atas kaca yang basah.
Di sampingnya, Bagas duduk dengan posisi tubuh tegap. Tablet tipis bertatahkan kustomisasi khusus dari Grup Naga Hitam berada di tangannya. Layar itu menampilkan ratusan jaring data finansial, peta koneksi politik, hingga rekam jejak tersembunyi para petinggi kota.
"Tuan Muda," suara Bagas memecah keheningan dengan nada penuh penghormatan. "Seluruh aset milik Keluarga Pratama telah resmi disita. Brandon Pratama kini menanggung beban utang yang tidak akan sanggup ia lunasi sepanjang hidupnya. Ayahnya pun telah resmi dicopot dari jajaran dewan komisaris."
Reno hanya mengangguk pelan. Wajahnya tidak menunjukkan rasa bangga berlebih. Bagi seorang penguasa tertinggi yang menggenggam kendali ekonomi lintas benua, meruntuhkan keluarga seperti Pratama hanyalah perkara membalikkan telapak tangan.
"Namun, Tuan Muda..." Bagas menahan kalimatnya sejenak, menggeser tampilan layar pada tabletnya. "Ada satu hal yang berhasil dikumpulkan oleh tim intelijen kita. Usulan perjodohan paksa antara Nona Alya dan Brandon Pratama ternyata bukan murni ide Nyonya Maya atau Brandon sendiri."
Jari-jemari Reno yang tadinya mengetuk pelan di atas lutut mendadak berhenti. Sudut matanya menyempit. "Katakan."
"Ada dorongan halus dari Keluarga Surya—salah satu klan penguasa bisnis tingkat atas di kota ini," terang Bagas tegap. "Mereka secara sengaja memanfaatkan keserakahan Nyonya Maya untuk menjauhkan Nona Alya dari Anda, sekaligus berniat mengambil alih sisa-sisa hak aset pengembangan wilayah pesisir yang berada di bawah nama aset keluarga Pramudya. Brandon hanyalah bidak catur murah yang mereka manfaatkan."
Tawa dingin yang sangat tipis keluar dari bibir Reno. "Keluarga Surya, ya? Rupanya ada tikus yang lebih besar yang merasa bisa bermain-main di balik layar."
"Apakah Anda menginginkan saya meruntuhkan Keluarga Surya malam ini juga, Tuan Muda?" tanya Bagas mantap, siap mengeksekusi perintah kapan saja.
Reno menggeleng pelan. "Tidak perlu terburu-buru. Biarkan mereka memanjat sedikit lebih tinggi. Makin tinggi mereka memanjat, makin menyegarkan suara jatuhnya nanti."
Sementara itu, di kediaman keluarga Pramudya, suasana sama sekali jauh dari kata tenang. Jeritan histeris dan barang pecah belah terdengar dari ruang tamu. Maya berdiri di tengah ruangan dengan napas terengah-engah, matanya sembab dan penuh amarah yang tercampur rasa takut yang mendalam.
Hendra duduk terkulai di sofa kulit yang mulai kusam, memegangi kepalanya yang terasa mau pecah. Kesombongan yang beberapa jam lalu menyelimuti pasangan suami istri itu mendadak menguap tanpa sisa.
"Ini semua gara-gara kamu, Alya!" jerit Maya seraya menunjuk putrinya dengan telunjuk yang gemetar. "Seharusnya kamu mengejar Reno sampai dapat! Kamu tahu siapa dia sekarang?! Dia Penguasa Naga Hitam! Pria yang bisa membeli kota ini beserta isinya tanpa berkedip!"
Alya berdiri mematung di dekat pintu. Gaun sederhananya masih sedikit basah terkena cipratan air hujan saat ia mengejar mobil Reno tadi. Hatinya teriris mendengar ucapan ibunya. Tidak ada sedikit pun rasa penyesalan yang tulus tentang bagaimana mereka telah memperlakukan Reno selama tiga tahun ini. Yang ada di dalam kepala ibunya hanyalah penyesalan karena kehilangan sumber kekayaan yang sangat fantastis.
"Ibu," suara Alya terdengar serak, namun ada nada ketegasan yang belum pernah terdengar sebelumnya. "Apakah Ibu tidak punya rasa malu sedikit pun? Selama tiga tahun Reno berlutut di rumah ini, menyapu lantai, memasak, dan menahan semua makian Ibu, tidak sekali pun Ibu menganggapnya sebagai manusia. Sekarang, setelah tahu dia kaya raya, Ibu menyuruhku mengemis padanya?"
"Lalu kamu mau kita mati kelaparan?!" bentak Maya, suaranya naik satu oktaf. "Keluarga Pratama sudah bangkrut! Semua orang di kota ini menertawakan kita! Jika kamu tidak mau merayu Reno dan membawanya kembali ke rumah ini, bisnis ayahmu akan hancur total!"
Hendra ikut menengadah, menatap Alya dengan tatapan memohon. "Alya... dengarkan ibumu. Hanya kamu satu-satunya harapan kita. Reno dulu sangat mencintaimu. Jika kamu berlutut dan menangis di hadapannya, dia pasti akan luluh. Kamu harus menyelamatkan keluarga ini."
Alya memejamkan mata rapat-rapat. Air mata dingin menetes menyusuri pipinya, namun di dalam dadanya, sesuatu telah bergeser secara permanen. Ia teringat kata-kata Reno di bawah guyuran hujan tadi: *Ia hanya akan membuka hatinya jika Alya berdiri atas dasar ketulusan, bukan karena silau oleh harta dan kekuasaan.*
Alya membuka matanya. Tatapannya kini jernih dan kokoh.
"Aku tidak akan pernah melakukan hal menjijikkan seperti itu," kata Alya pelan namun tajam. "Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkan Ibu atau Ayah memanfaatkan namaku lagi. Jika keluarga ini ingin bangkit, kita harus bangkit dengan cara yang terhormat. Aku akan mencari pekerjaan besok pagi."
"Pekerjaan?!" Maya tertawa sumbang, penuh ejekan. "Kamu pikir gaji seorang pegawai biasa bisa menutup utang dan mempertahankan gaya hidup kita? Kamu bodoh, Alya! Kamu membuang kesempatan menjadi wanita paling terhormat di dunia!"
Tanpa membalas sepatah kata pun, Alya berbalik arah dan berjalan menuju kamarnya. Ia mengunci pintu dari dalam, mengabaikan gedoran dan teriakan ibunya yang terus bergema di luar.
Di dalam kamar yang sunyi, Alya berjalan ke arah meja kerjanya. Ia mengambil lembaran-lembaran portofolio dan resume yang pernah ia susun dulu sebelum menikah dengan Reno. Dengan jemari yang gemetar namun penuh tekad, ia mulai memperbarui data dirinya.
"Reno..." bisik Alya pelan pada kegelapan malam. "Aku tahu aku telah sangat terlambat. Tapi aku berjanji, aku tidak akan mendekatimu sebagai wanita lemah yang meminta belas kasihan. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas berdiri di sisimu bukan karena siapa dirimu, tapi karena siapa diriku."
Keesokan harinya, pendar matahari pagi menerobos celah-celah jendela lantai paling atas di gedung pencakar langit pusat kota. Reno berdiri di depan dinding kaca raksasa, mengenakan kemeja putih yang terlapis rompi hitam elegan. Tangannya memegang cangkir kopi aroma espresso yang pekat.
Bagas masuk dengan langkah teratur, membungkuk sopan sebelum memberikan laporan.
"Tuan Muda, Nona Alya baru saja mengirimkan lamaran pekerjaan secara daring," ujar Bagas.
Reno tidak berbalik, namun lirikan matanya menandakan ia mendengarkan. "Ke perusahaan mana saja?"
"Ada beberapa perusahaan perencana keuangan dan pengembang, Tuan. Namun, salah satu lamaran utamanya ditujukan ke Perusahaan Zena," jawab Bagas.
Reno meminum kopinya perlahan. Perusahaan Zena adalah salah satu perusahaan pengembang properti dan manajemen proyek terkemuka di kota itu, yang baru saja diakuisisi secara penuh oleh konsorsium Grup Naga Hitam dua hari lalu sebagai langkah awal ekspansi mereka.
Sebuah ukiran senyum tipis yang hampir tak terlihat muncul di sudut bibir Reno. Alya benar-benar membuktikan ucapannya. Dia tidak mencoba menghubungi nomor pribadinya atau menggunakan jalur belakang untuk meminta bantuan. Dia memilih menempuh jalur paling sulit secara mandiri.
"Apakah ada yang perlu saya atur untuk kelancaran wawancaranya, Tuan Muda?" tanya Bagas hati-hati. "Saya bisa memerintahkan direksi untuk langsung menerimanya."
"Tidak," jawab Reno tegas. Suaranya terdengar dingin namun sarat akan perlindungan tersirat. "Biarkan dia melangkah dengan kemampuannya sendiri. Jangan beri dia perlakuan khusus yang bisa merusak usahanya. Namun..."
Reno memutar tubuhnya, menatap Bagas dengan pandangan tajam yang menekan. "Pastikan tidak ada seorang pun di perusahaan itu yang berani memainkannya atau menggunakan cara-cara kotor padanya. Mengawasi bukan berarti mencampuri, Bagas."
"Petunjuk dipahami, Tuan Muda," jawab Bagas lugas.
Hanya dalam kurun waktu dua jam setelah dokumen lamarannya terkirim, ponsel Alya berdering. Sebuah notifikasi pesan masuk dari divisi Sumber Daya Manusia Perusahaan Zena mengundangnya untuk hadir dalam sesi wawancara tatap muka siang itu juga.
Alya menarik napas dalam-dalam, menggenggam ponselnya erat-erat di dada. Ini adalah langkah pertamanya menuju dunia nyata—sebuah panggung baru di mana ia harus berjuang keras tanpa perlindungan status, dan tanpa menyadari bahwa sosok pria yang pernah ia sia-siakan kini berdiri tepat di puncak tertinggi dari perusahaan yang akan ia masuki.