Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8: Hatinya Retak
Semua sudah siap.
Kalimat itu terdengar mudah di kepala Keira, tetapi saat langkah di koridor semakin dekat, telapak tangannya tetap basah.
Di kamar, Stephanie duduk menghadap jendela. Punggungnya lurus, terlalu lurus untuk orang yang baru melahirkan dan hampir tidak tidur. Cardigan putih di bahunya membuat tubuhnya tampak lebih kecil. Di lantai, kertas-kertas berserakan dalam jarak yang sudah dihitung Keira. Satu kata kenapa? tampak jelas dari arah pintu.
Keira berdiri di dekat boks bayi.
Ia tidak boleh terlihat seperti dalang. Ia harus terlihat seperti pengasuh yang sedang menjaga bayi. Semua tekanan harus jatuh pada satu pemandangan: seorang istri yang tidak lagi mengejar.
Pintu luar ruang keluarga kecil terbuka.
Suara laki-laki terdengar lebih dulu.
"Saya sudah datang. Lima belas menit."
Gilbert Kang.
Nada itu kering, rapi, dan dingin. Bukan dingin seperti Ethan yang menekan dengan kekuasaan. Dingin Gilbert seperti aturan yang sudah diketik, dicap, dan tidak menerima coretan tangan.
Ethan menjawab dari luar kamar. "Lima belas menit cukup untuk melihat istrimu?"
"Saya datang karena Ko Ethan menghubungi saya tiga kali dan mengirim draft kerja sama Keluarga Kang dengan Ciu Group. Jangan salah paham."
"Kontrak tahap pertama nilainya puluhan miliar rupiah. Kalau itu satu-satunya cara membuatmu datang ke sini, berarti harga dirimu lebih mahal daripada istrinya?"
Keira menahan napas.
Gilbert tidak langsung menjawab.
Di balik pintu, Stephanie mencengkeram ujung cardigan. Keira melihat buku jarinya memutih.
"Saya tidak pernah menelantarkan Stephanie," ucap Gilbert akhirnya. "Saya membayar semua kebutuhannya. Dokter, perawat, rumah, keamanan. Semua."
"Kau menyebut itu suami?"
"Saya menyebut itu tanggung jawab."
Ethan tertawa pelan. "Menarik. Jadi kau punya definisi tanggung jawab, tapi tidak punya waktu masuk ke kamar istrimu sendiri?"
"Saya masuk ketika keadaan memungkinkan."
"Kapan? Setelah dia sembuh sendiri?"
Suara Gilbert menjadi lebih rendah. "Ko Ethan, saya menghormati keluarga Ciu. Tapi saya tidak akan membiarkan siapa pun menulis ulang fakta. Stephanie menyerang orang di depan umum, melempar barang, menuduh tanpa bukti, dan membuat nama Keluarga Kang terseret dalam drama yang seharusnya diselesaikan di rumah."
Di dalam kamar, napas Stephanie patah.
Keira mengangkat satu jari kecil, mengingatkan.
Diam.
Stephanie menutup mulutnya dengan tangan. Air matanya jatuh, tetapi ia tidak mengeluarkan suara.
Gilbert melanjutkan, "Saya tidak punya hubungan seperti yang dia tuduhkan dengan Chenny. Saya membantu Chenny karena dia junior di yayasan sosial keluarga kami. Kalau setiap perempuan yang saya bantu harus diperlakukan seperti musuh, bagaimana saya bekerja?"
"Kau yakin Chenny sepolos itu?"
"Saya yakin saya tidak berselingkuh."
"Itu bukan pertanyaanku."
Hening.
Keira dapat membayangkan Gilbert berdiri dengan jas rapi, kancing manset lurus, wajah tanpa kerut. Pria seperti itu tidak mudah ditarik dengan amarah. Ia akan menutup diri begitu mendengar tuduhan.
Maka Keira menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Ketika suara Ethan terdengar lagi, lebih dingin, Keira membuka pintu.
"Permisi, Ko Gilbert."
Dua laki-laki di luar menoleh.
Gilbert Kang berdiri beberapa langkah dari pintu. Tingginya sedang, jas abu gelapnya sempurna, rambutnya tersisir tanpa satu helai pun keluar. Wajahnya tampan dengan cara yang terlalu tertib. Matanya menatap Keira, lalu langsung bergerak ke celah pintu di belakangnya.
Ethan berdiri di sampingnya, tangan masuk saku celana, tetapi matanya lebih dulu menangkap gerakan Keira.
Keira menunduk sopan kepada Gilbert. "Nyonya Stephanie meminta saya untuk mengantar Anda keluar. Beliau bilang... cukup."
Kata terakhir itu sengaja ia ucapkan lebih pelan.
Gilbert mengerutkan dahi. "Apa maksudnya?"
"Beliau tidak ingin bertemu Ko Gilbert hari ini."
"Saya sudah datang."
"Beliau tahu."
"Kalau begitu, minta dia mengatakannya sendiri."
Keira tidak bergeser. "Beliau sedang istirahat."
"Saya suaminya."
"Benar. Karena itu saya tidak akan menghalangi kalau Nyonya Stephanie meminta Ko Gilbert masuk." Keira menatapnya dengan sopan, tetapi tidak menunduk lagi. "Tapi barusan beliau meminta saya mengantar Ko Gilbert keluar."
Wajah Gilbert berubah tipis. Bukan marah, lebih seperti seseorang yang menemukan halaman kontrak dengan pasal yang tidak ia baca.
Dari celah pintu, pemandangan kamar terbuka sebagian.
Gilbert melihatnya.
Kertas di lantai.
Tisu basah di meja.
Selimut bayi yang terlipat rapi di boks.
Kata kenapa? di atas kertas putih.
Dan Stephanie.
Istrinya duduk di dekat jendela, membelakangi pintu. Baju tidur putih membuat bahunya tampak rapuh. Rambutnya jatuh longgar. Ia tidak menoleh, tidak memanggil, tidak menangis keras seperti yang mungkin sudah disiapkan Gilbert dalam kepalanya.
Justru diam itulah yang membuat semuanya retak.
Gilbert mengangkat satu kaki.
Gerakan kecil, hampir tidak terlihat. Namun Keira melihatnya. Ethan juga.
Gilbert ingin masuk.
Di dalam kamar, Stephanie pasti mendengar langkah itu. Jari-jarinya meremas cardigan sampai kainnya berkerut. Namun ia tetap menghadap jendela.
Keira merasakan dadanya ikut sakit.
Ini bukan permainan kecil. Ini seorang perempuan yang memaksa dirinya tidak menoleh pada laki-laki yang masih ia cintai.
"Steph," panggil Gilbert.
Suara itu tidak sekeras tadi.
Stephanie memejamkan mata.
Keira menahan napas.
Jangan jawab panjang.
"Aku capek, Gilbert," kata Stephanie.
Hanya itu.
Gilbert membeku.
Ethan menatap adiknya dari celah pintu, ekspresinya tidak terbaca. Tapi tangan yang ada di saku celana bergerak sedikit, seperti mengepal.
Gilbert akhirnya berkata, "Aku datang untuk bicara."
"Besok saja."
"Kau yang meminta aku datang."
"Itu kemarin."
Keira menunduk sedikit, menyembunyikan kilatan puas di matanya. Stephanie tidak sempurna, suaranya masih bergetar, tetapi ia tidak memohon. Tidak menjelaskan. Tidak menyebut Chenny.
Gilbert menatap punggung istrinya lebih lama.
"Apa ini?" tanyanya. "Kau ingin membuatku merasa bersalah?"
Stephanie mengeluarkan napas pelan. "Aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk itu."
Kalimat itu jatuh lembut.
Tapi justru karena lembut, ia menancap.
Gilbert tidak punya jawaban.
Selama ini ia mungkin terbiasa menghadapi Stephanie yang meledak. Stephanie yang menuduh. Stephanie yang membuatnya bisa berkata pada diri sendiri bahwa ia sedang bersikap rasional.
Tapi perempuan di depannya tidak menyerang.
Ia hanya habis.
Keira melangkah setengah badan ke depan, menutup sudut pintu sedikit. "Ko Gilbert, dokter menyarankan Nyonya Stephanie mengurangi stres. Untuk hari ini, lebih baik Ko Gilbert pulang dulu."
"Kamu siapa?" tanya Gilbert.
"Suster Keira. Pengasuh bayi Nyonya Stephanie."
"Sejak kapan pengasuh ikut mengatur urusan rumah tangga majikan?"
Nada itu kembali dingin.
Keira sudah menduganya.
"Sejak bayi Nyonya Stephanie hampir kehilangan napas kemarin dan Nyonya Stephanie tidak boleh mendapat tekanan tambahan pagi ini," jawab Keira. "Saya tidak mengatur rumah tangga Ko Gilbert. Saya menjaga kondisi ibu dan bayi sesuai tugas saya."
Untuk sesaat, Gilbert menatapnya tajam.
Di sisi lain, Ethan menoleh perlahan kepada Keira.
Kalimat itu rapi. Tidak melampaui batas, tetapi juga tidak memberi jalan mundur. Seorang pengasuh seharusnya takut pada suami majikannya. Keira justru berdiri di batas pintu seperti garis kecil yang tidak bisa diinjak tanpa membuat semua orang melihat.
Gilbert menarik napas.
"Steph."
Stephanie tidak menoleh.
"Aku tidak pernah melakukan hal yang kau pikirkan."
Keira melihat bahu Stephanie bergetar.
Ini bagian paling berbahaya.
Kalau Stephanie meledak sekarang, semua yang mereka bangun semalam runtuh.
Beberapa detik berlalu.
Stephanie akhirnya berkata, "Kalau begitu, bagus."
Gilbert tampak tersentak.
"Bagus?"
"Berarti aku yang salah." Stephanie menatap keluar jendela. Suaranya hampir tidak ada. "Kalau aku yang salah, kamu tidak perlu ada di sini."
Keira menelan ludah.
Ini bukan kalimat yang ia ajarkan.
Tapi kalimat itu benar. Terlalu benar.
Gilbert menunduk sedikit. Matanya jatuh pada kertas kenapa? di lantai.
Tangannya bergerak, seperti ingin mengambilnya. Lalu berhenti.
Ethan berkata datar, "Kau dengar sendiri. Keluar."
Gilbert menatap Ethan. "Saya tidak butuh diusir."
"Tadi kau butuh kontrak untuk datang."
Wajah Gilbert mengeras.
Namun ia tidak membalas. Pandangannya kembali ke punggung Stephanie. Kali ini, di balik kerapian wajahnya, ada sesuatu yang retak. Tipis, tapi terlihat.
Keira memegang gagang pintu.
"Saya antar sampai koridor, Ko Gilbert."
Gilbert masih berdiri beberapa detik, lalu akhirnya mundur.
Keira menutup pintu perlahan.
Begitu bunyi klik terdengar, Stephanie meraih tangan Keira.
Kukunya menusuk kulit Keira sampai perih.
Keira tidak menarik tangan.
Di balik pintu, langkah Gilbert menjauh. Satu, dua, tiga. Lalu berhenti.
Keira dan Stephanie sama-sama menahan napas.
Di koridor, suara Gilbert terdengar melalui celah tipis pintu.
"Hubungi Arya."
Ada jeda singkat. Mungkin ia sedang menelepon asistennya.
"Cek ulang semua CCTV hari itu. Semua sudut. Frame per frame."
Stephanie menutup mulut dengan tangan satunya.
Air matanya jatuh lebih deras, tetapi kali ini bukan tangis putus asa yang sama.
Keira meremas balik tangannya, hanya sekali.
Di luar, Gilbert melanjutkan dengan suara lebih rendah, "Aku mau tahu siapa yang berdiri paling dekat dengan Chenny sebelum dia jatuh."
Langkahnya akhirnya menjauh.
Di lantai tiga, Ethan berdiri di balkon dalam yang menghadap koridor Stephanie.
Ia sudah berpindah sejak tadi tanpa membuat suara. Dari tempat itu, ia melihat Gilbert menolak masuk, melihat Keira menutup pintu, melihat adiknya tidak mengejar, dan mendengar perintah pemeriksaan CCTV.
Semua terjadi terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Keira Lo.
Nama itu muncul di kepalanya seperti catatan yang sengaja digarisbawahi.
Perempuan itu bukan hanya berani. Berani saja mudah ditemukan di orang yang nekat.
Keira membaca kelemahan orang, lalu menempatkan satu kalimat di titik yang tepat.
Ethan menatap pintu kamar Stephanie yang sudah tertutup.
Untuk pertama kalinya, ia merasa rumah ini menerima seseorang yang tidak bisa ia ukur hanya dengan dokumen lamaran.
Ia berbalik menuju ruang kerjanya.
Jefri Tan sudah menunggu di dekat tangga, membawa tablet dan map hitam.
Ethan melewatinya tanpa berhenti.
"Jefri."
"Ya, Ko Ethan?"
"Cek latar belakang Keira Lo."
Jefri mengangkat kepala.
Ethan membuka pintu ruang kerja. Cahaya gelap dari dalam menyentuh wajahnya.
"Semua."