NovelToon NovelToon
Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Untuk Wanita Yang Pernah Menyelamatkanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Ribka pandiangan

Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Dua sisi alex yang berbeda

"Orang tuamu dulu tidak beli rumah? Sampai kau harus tinggal di apartemen sekarang?" tanya Alex, alisnya sedikit terangkat.

 "Dengan pekerjaan mereka, seharusnya mereka mampu beli rumah sendiri."

"Mereka punya rumah sendiri," jawab Lauren cepat, sedikit tersinggung dengan asumsi itu. "Rumah milik sendiri, bukan sewaan. Ayahku membelinya jauh sebelum aku lahir."

"Kalau begitu, kenapa kau harus sewa apartemen? Bukankah rumah itu seharusnya jadi milikmu?"

Lauren terdiam sejenak, jemarinya meremas ujung serbet di pangkuannya. "Seharusnya begitu. Tapi rumah itu diambil alih pamanku, kakak tertua ayahku."

"Diambil alih bagaimana maksudmu?"

"Begitu orang tuaku meninggal, dia langsung pindah ke rumah itu bersama keluarganya, bertindak seolah-olah itu rumahnya sendiri," jelas Lauren, suaranya mendatar meski jelas menyimpan kepahitan lama. "Waktu itu aku baru tujuh belas tahun, masih di bawah umur, jadi secara hukum dia yang jadi waliku. Dia manfaatkan itu sepenuhnya."

Alex menyimak tanpa menyela, matanya menajam mendengar cerita itu.

"Aku tetap tinggal di sana selama beberapa bulan setelahnya," lanjut Lauren. "Tapi bukan sebagai anggota keluarga. Aku lebih seperti pembantu di rumah sendiri. Disuruh masak, bersih-bersih, jaga anak-anaknya, sementara aku bahkan belum selesai berduka."

"Pamanmu itu tidak punya rasa malu sama sekali, ya?" tanya Alex, nadanya lebih tajam.

"Sama sekali tidak," jawab Lauren pahit. "Dia cuma peduli pada satu hal, yaitu warisan orang tuaku untukku. Suatu malam aku dengar dia bicara dengan istrinya, membahas cara mengakses rekening tabungan dan dana pensiun orang tuaku, karena dia tahu aku belum cukup umur untuk mengurusnya sendiri."

Alex meletakkan gelas anggurnya perlahan, rahangnya mengeras.

"Aku memang tahu PIN kartu rekening orang tuaku," kata Lauren pelan. "Dulu, setiap kali kami pergi berbelanja atau mereka menyuruhku membeli sesuatu sendiri, mereka sering memberikan kartu mereka kepadaku untuk membayar. Karena itu, mereka memberitahuku PIN-nya. Paman dan bibiku juga tahu, karena beberapa kali mereka ikut saat kami pergi bersama."

Alex mengangguk pelan, mulai memahami arah cerita Lauren.

"Setelah orang tuaku meninggal, paman dan bibiku terus membujukku supaya memberi tahu PIN itu. Mereka bilang uang di rekening akan lebih mudah diurus kalau mereka yang memegang kartunya. Katanya semua itu demi membayar biaya sekolahku, dan kebutuhan sehari-hari."

Lauren tersenyum hambar.

"Tapi aku tahu mereka hanya mengincar uang peninggalan orang tuaku."

"Lalu apa yang kau lakukan?" tanya Alex.

"Aku pura-pura percaya. Aku bilang akan memberitahukan PIN itu keesokan paginya." Lauren menundukkan pandangannya sejenak. "Malam itu juga aku mengambil kartu-kartu milik orang tuaku dan pergi ke ATM terdekat."

"Kau langsung mengganti PIN-nya?"

Lauren mengangguk.

"Iya. PIN lama sangat mudah diingat dan hanya aku yang masih bisa mengubahnya saat itu. Aku takut kalau mereka berhasil membujukku atau menemukan cara lain untuk mengakses rekening itu. Jadi sebelum mereka sempat melakukan apa pun, aku mengganti semua PIN kartu tersebut."

"Berani sekali," gumam Alex. Ada sedikit nada kagum dalam suaranya.

"Aku tidak punya pilihan lain," jawab Lauren. "Setelah selesai mengganti PIN, aku kembali ke rumah, mengemasi semua barangku malam itu juga, lalu pergi tanpa berpamitan. Aku tahu, begitu mereka sadar tidak bisa mengakses rekening orang tuaku, mereka pasti akan marah besar. Aku tidak mau berada di sana saat itu terjadi."

"Kau tidak pernah kembali sejak saat itu?"

"Tidak pernah," jawab Lauren mantap. "Aku bahkan tidak tahu apakah mereka masih tinggal di rumah itu atau tidak. Sejak tiba di London, aku memutus semua hubungan dengan mereka dan memulai hidup dari awal dengan uang yang berhasil kuselamatkan."

Alex menatap Lauren cukup lama. Sorot mata birunya berubah semakin dingin, seolah nama dan wajah orang-orang itu telah masuk ke dalam daftar orang yang tidak akan dibiarkannya begitu saja.

"Siapa nama pamanmu?" tanya Alex akhirnya.

Lauren mengerjap pelan. "Kenapa kau ingin tahu?"

"Hanya ingin tahu," jawab Alex datar.

Jawaban itu terlalu tenang hingga Lauren tidak sepenuhnya mempercayainya. Namun ia memilih tidak bertanya lebih jauh. Malam ini, ia sudah membuka terlalu banyak luka yang selama bertahun-tahun berusaha ia sembunyikan. Anehnya, menceritakan semuanya kepada Alex justru membuat beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Suasana kembali hening setelah Lauren menyelesaikan kalimat terakhirnya. Hanya suara dentingan halus peralatan makan yang sesekali terdengar di ruangan itu.

Beberapa menit kemudian, Alex menatap gelas anggurnya beberapa saat sebelum akhirnya berdiri dari kursinya.

"Sudah selesai?" tanyanya datar.

Lauren mengangguk pelan. "Iya."

Alex memberi isyarat kepada pelayan. Dalam hitungan detik, seluruh piring dan gelas di atas meja mulai dibereskan.

Lauren ikut berdiri. Mereka berjalan berdampingan meninggalkan ruang makan menuju ruang keluarga yang diterangi cahaya lampu berwarna hangat.

Sesampainya di sana, Alex berhenti di depan jendela besar yang menghadap taman belakang. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, sementara pandangannya lurus ke luar.

"Lauren."

Lauren menoleh. "Hm?"

"Aku tidak akan memaksamu."

Lauren memandangnya bingung.

"Tentang nama pamanmu."

Alex menghela napas pelan. "Kalau suatu hari nanti kau merasa siap, dan memang ingin menceritakannya kepadaku, katakan saja."

Lauren hanya bisa terdiam.

"Aku mungkin bisa membantumu mendapatkan kembali apa yang memang menjadi hakmu."

Lauren mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Rumah itu... dan semua yang seharusnya menjadi milikmu."

Suara Alex tetap tenang, seolah ia hanya sedang membahas urusan bisnis biasa. Namun justru ketenangan itu membuat setiap kata yang keluar darinya terdengar begitu meyakinkan.

Lauren menundukkan pandangannya.

"Aku sudah lama menyerah."

"Itu pilihanmu."

Alex menoleh, menatap langsung ke matanya."Tapi menyerah bukan berarti mereka benar."

Lauren tidak tahu harus menjawab apa.

Selama bertahun-tahun, tidak pernah ada seorang pun yang mengatakan kalimat seperti itu kepadanya.

Ia selalu berpikir bahwa melarikan diri adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup.

"Aku tidak menjanjikan apa pun sekarang," lanjut Alex. "Aku juga tidak akan ikut campur kalau kau memang tidak menginginkannya."

Tiba-tiba ponsel di saku jas Alex bergetar, memecah keheningan yang baru saja terbangun di antara mereka. Alex melirik layarnya sebentar, rahangnya langsung mengeras begitu melihat nama penelepon.

"Permisi," katanya singkat kepada Lauren, lalu mengangkat panggilan itu, melangkah beberapa langkah menjauh, membelakangi jendela.

"Katakan," kata Alex, suaranya berubah total dalam sepersekian detik, dari nada tenang yang sempat Lauren dengar sepanjang makan malam, menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin, lebih tajam, hampir tanpa emosi sama sekali.

Lauren berdiri kaku di tempatnya, tidak berani bergerak, mendengarkan sepotong-sepotong kalimat yang terlontar dari mulut Alex, meski ia tidak bisa mendengar apa yang dikatakan orang di ujung telepon sana.

"Aku tidak peduli alasannya." Suara Alex turun satu oktaf, dingin seperti es. "Kau punya waktu sampai besok pagi. Kalau tidak selesai, aku yang akan turun tangan sendiri, dan kau tahu betul apa artinya itu."

Hening sejenak, hanya suara samar dari seberang telepon yang tidak bisa Lauren tangkap jelas.

"Aku tidak mengulang perintah dua kali," lanjut Alex, nadanya semakin rendah, semakin mengancam, setiap kata terdengar seperti pisau yang diasah pelan-pelan. "Kalau kau gagal lagi, jangan berharap aku masih memberimu kesempatan ketiga."

Panggilan itu berakhir sepihak, Alex menjauhkan ponsel dari telinganya tanpa mengucap salam perpisahan, memasukkannya kembali ke saku jas dengan gerakan yang begitu terkendali hingga terasa mengerikan justru karena ketenangannya.

Lauren menatapnya dari kejauhan, jantungnya berdegup kencang. Sosok yang baru saja bicara di telepon itu terasa begitu jauh berbeda dari pria yang beberapa menit lalu menawarkan bantuan dengan nada lembut, dari pria yang menyimpan syal lusuh bernoda darahnya sendiri selama delapan bulan.

Alex menoleh, mendapati Lauren menatapnya, dan dalam sekejap topeng dinginnya kembali terpasang sempurna, seolah percakapan telepon barusan tidak pernah terjadi.

"Sudah larut," kata Alex, kembali ke nada tenangnya yang biasa, seolah tidak ada yang berubah sama sekali. "Kau harus pulang. Aku akan suruh asistenku mengantarmu."

Lauren mengerjap, mencoba menyesuaikan diri dengan pergantian suasana yang begitu cepat. "Maksudmu, supir yang tadi mengantarku ke sini? Kalau tidak salah, namanya Damian, kan?"

"Benar," jawab Alex singkat, sudah melangkah menuju pintu, tidak lagi membahas panggilan telepon barusan sedikit pun, seolah itu bukan sesuatu yang perlu Lauren ketahui atau tanyakan lebih jauh.

Lauren mengikuti langkahnya dalam diam, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tidak berani ia ucapkan. Suara dingin dan mengancam yang baru saja ia dengar, begitu kontras dengan pria yang menawarkan diri membantu mengurus pamannya beberapa menit sebelumnya, membuat Lauren semakin sadar bahwa ada dua sisi dalam diri Alex, dua dunia yang berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar bercampur.

Satu sisi yang bisa duduk tenang membicarakan keluarga dan masa lalu sambil menyesap anggur. Satu sisi lain yang bisa mengucapkan ancaman kematian dengan nada sedatar membaca laporan cuaca.

Di pintu depan, Damian sudah menunggu, membukakan pintu mobil begitu melihat mereka muncul. Lauren melirik Alex sekali lagi sebelum melangkah masuk ke dalam mobil, mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu yang bisa menjelaskan semuanya, tapi yang ia temukan hanya ketenangan yang sama, dingin dan sempurna, seolah topeng itu tidak pernah retak sedikit pun.

"Sampai besok, Lauren," kata Alex, suaranya kembali melunak sedikit, meski jejak dingin dari percakapan telepon tadi masih tersisa di sudut matanya.

Pintu mobil tertutup, dan Lauren duduk terdiam di jok belakang, menatap sosok Alex yang berdiri di depan rumahnya yang megah, semakin menjauh seiring mobil melaju meninggalkan kediaman itu. Satu pertanyaan terus berputar di benaknya sepanjang perjalanan pulang, sebuah pertanyaan yang mulai terasa jauh lebih menakutkan dari sekadar rasa penasaran biasa.

Sebenarnya, dunia macam apa yang selama ini disembunyikan oleh pria bernama Alex itu?

1
Chenyu Wang
crita nya bagus saya baru baca separuh tapi udah langsung sreg.. lanjutin sampe tamat ya..🙏🙏
Chenyu Wang: sama2..🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!