Di dunia ini, tidak semua orang bekerja demi mengejar mimpi. Sebagian hanya berusaha bertahan hidup.
Ling Qi adalah salah satunya.
Sebagai penambang biasa di China, hidupnya dipenuhi debu tambang, utang yang terus menumpuk, dan hari esok yang tidak pernah menjanjikan harapan. Ketika sebuah kejadian menghancurkan sisa keberuntungannya, ia mengira hidupnya telah mencapai titik terendah.
Namun, jauh di bawah tanah, sebuah portal misterius membuka jalan menuju dunia yang belum pernah dijamah manusia.
Di balik kegelapan gua-gua kuno, tersembunyi mineral berharga, reruntuhan yang menyimpan rahasia, serta monster yang menjaga harta mereka dengan nyawa.
Di sana, Ling Qi memperoleh 《World Mining System》, sebuah sistem yang mengubah setiap ayunan pickaxe menjadi kesempatan untuk mengubah takdir.
Tetapi semakin dalam ia menambang, semakin ia menyadari bahwa dunia itu bukan sekadar tambang.
Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggu di balik setiap portal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Ling Qi berdiri sambil menyaksikan Zhao Dahai berguling-guling kesakitan di tanah, mengerang seperti binatang yang terjebak dalam perangkap. Dia tertawa puas, suara tawanya menggema pelan di antara reruntuhan batu di sekitar mulut tambang.
"Rasakan itu, bajingan," gumamnya, masih menyeringai di balik perbannya.
Dia menoleh ke arah dua anak buah Zhao Dahai yang sejak tadi berdiri mematung menyaksikan kekalahan bos mereka. Ling Qi hanya melirik mereka sambil tersenyum tipis, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kedua orang itu langsung pucat pasi, saling bertukar pandang sesaat, lalu berbalik dan berlari tunggang langgang, meninggalkan Zhao Dahai yang masih meringkuk kesakitan sendirian.
Zhao Dahai, dengan sisa tenaga yang ada, memaksakan diri berdiri sambil membungkuk, kedua tangan masih menutupi bagian bawah tubuhnya. Dia melirik Ling Qi sekilas dengan tatapan penuh dendam bercampur ketakutan, lalu berjalan terseok-seok menjauh, meninggalkan jejak rintihan di sepanjang jalan yang dia lalui.
Ling Qi menghela napas panjang, ketegangan di bahunya perlahan mengendur. Dia berbalik menghadap remaja yang tadi menjadi korban, yang kini duduk bersandar lemas di tumpukan batu, memegangi perutnya sendiri.
Ling Qi mengulurkan tangan. "Bisa berdiri?"
Remaja itu mendongak, menatap tangan yang terulur dengan ragu sebelum akhirnya menyambutnya. Ling Qi menariknya berdiri dengan mudah, terkejut betapa ringannya tubuh remaja itu.
"Terima kasih," ucap remaja itu, suaranya lembut, suaranya seperti perempuan. "Namaku Shi Yao."
Ling Qi mengerutkan kening di balik perbannya, memperhatikan wajah halus di depannya lebih saksama—alis tipis, bibir yang lembut, dan suara yang sama sekali tidak cocok dengan tubuh seorang remaja laki-laki delapan belas tahun.
"...Kau laki-laki, bukan?" tanya Ling Qi hati-hati.
Shi Yao terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, seolah sudah terbiasa mendapat pertanyaan serupa. "Sebenarnya, aku perempuan."
Ling Qi tercekat, matanya membelalak di balik perban yang tak terlihat orang lain. "Tunggu—apa? Kenapa kau menyamar jadi laki-laki di tempat seperti ini?"
Shi Yao menatap sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar sebelum menjawab, suaranya merendah. "Aku sedang menjalankan misi. Ada hal yang harus aku selidiki di sini."
"Misi apa?" Ling Qi mendesak, penasaran yang tiba-tiba tumbuh di dadanya.
Shi Yao menggeleng pelan, bibirnya terkatup rapat. "Aku tidak bisa memberitahumu."
Ling Qi hendak bertanya lebih lanjut, namun sebelum dia sempat membuka mulut, Shi Yao tampak teringat sesuatu—mungkin kemampuan Ling Qi menghindar dengan mata tertutup, atau helai rambut putih yang mencuat dari balik perban yang dia kenakan. Ekspresinya berubah, seolah mempertimbangkan sesuatu.
"...Baiklah. Aku akan memberitahumu sedikit saja," ucap Shi Yao akhirnya, menghela napas. "Ada sebuah retakan yang muncul beberapa waktu lalu. Aku ditugaskan untuk menyelidikinya."
Ling Qi mengingat portal keperakan yang membawanya ke dunia lain, teringat gua penuh kristal dan monster yang baru saja dia hadapi. "Retakan yang seperti apa? Apakah—"
"Aku harus pergi," potong Shi Yao tiba-tiba, matanya menyapu sekeliling dengan gelisah. Tanpa menunggu jawaban, dia berbalik dan berjalan cepat menjauh, menghilang di antara tumpukan drum bahan bakar dan gerbong lori tua.
Ling Qi berdiri mematung, menatap punggung kecil itu menghilang di kejauhan. 'Retakan... apa dia bicara tentang portal yang sama denganku?'
Dia menahan dorongan untuk mengejar dan memaksa Shi Yao menjelaskan lebih jauh. Namun logikanya mengambil alih—memaksa orang asing yang jelas menyembunyikan sesuatu bukan cara yang bijak, apalagi di tengah tambang yang ramai dengan orang berlalu-lalang.
'Biarkan saja. Aku punya urusan yang lebih penting sekarang.'
Ling Qi menghela napas, menepuk debu dari bajunya, lalu berbalik menuju jalan keluar tambang, langkahnya mantap menuju rumah tempat ibunya menunggu.