NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9 Keluarga Kertanegara

Nama Tumenggung Suralegawa membuat ruang kerja Puri Timur membeku.

Adi menatap sobekan kertas itu seperti melihat bara jatuh di atas kain kering. "Kementerian Perang terlibat, Yang Mulia. Ini bukan lagi soal gudang gelap."

"Memang bukan," jawab Arjuna.

Ia menarik peta Kota Raja ke tengah meja. Di atas peta itu sudah ada tanda kecil dari arang: Gedung Wayang Enam, gudang selatan, jalur menuju tembok luar, dan Pelabuhan Timur. Kini ia menambahkan satu tanda lagi di wilayah kediaman bangsawan barat.

Kadipaten Kertanegara.

Anindya memperhatikan dari kursinya. Wulan berdiri di belakangnya dengan wajah tegang. Tidak ada yang menyuruh Anindya pergi. Setelah temuannya tentang jadwal pertunjukan semalam, keberadaannya di ruang kerja tidak lagi terasa seperti kemurahan hati, melainkan kebutuhan.

"Keluarga Kertanegara terkenal dermawan," kata Anindya pelan. "Di catatan acara kerajaan, nama mereka sering muncul sebagai penyumbang kain, beras, dan minyak."

Arjuna menatapnya. "Kau pernah membaca catatan itu?"

"Eyang Jaya meminta hamba membaca daftar penyumbang upacara saat hamba belajar membedakan kemurahan tulus dan kemurahan yang membeli nama baik."

Adi hampir tersedak oleh kalimat itu.

Untuk pertama kalinya sejak malam panjang itu, Arjuna benar-benar tersenyum tipis. "Eyang Jaya mengajarimu dengan baik."

Anindya menunduk, tetapi telinganya memerah sedikit.

Garuda membuka catatan lain. "Kertanegara memiliki tiga gudang resmi di Kota Raja. Dua di antaranya sering dipakai Bendahara Kerajaan untuk menyimpan kain upacara. Gudang ketiga tercatat kosong."

"Gudang kosong yang dijaga bekas prajurit," kata Arjuna.

"Benar."

"Dan terhubung dengan jalan dari Gedung Wayang Enam."

"Jejak roda mengarah ke sana."

Semua potongan mulai membentuk gambar yang buruk. Gedung pertunjukan menjadi pintu. Gudang kosong menjadi perut. Jalur pelabuhan menjadi mulut. Kementerian Perang menjadi tangan yang menutup mata penjaga.

Anindya menyentuh satu laporan. "Kalau mereka memakai nama sumbangan kerajaan, peti-peti itu bisa masuk tanpa diperiksa terlalu ketat."

"Itulah sebabnya Kertanegara selalu tampak dermawan," ujar Arjuna. "Mereka memberi sedikit di depan pintu, lalu mengangkut sepuluh kali lipat lewat pintu belakang."

Wulan bergidik pelan.

Adi menunduk mendekati peta. "Apa yang harus kita lakukan? Menyerbu gudang?"

"Belum."

Garuda tidak tampak terkejut. Ia sudah mengenal cara Arjuna sejak beberapa hari terakhir. Pangeran Mahkota tidak lagi bergerak untuk memadamkan asap. Ia mencari sumber api.

"Kertanegara terlalu besar untuk dijatuhkan dengan satu gudang," kata Arjuna. "Jika kita menyentuhnya sekarang, Baskara akan memotong ekor dan pura-pura tidak tahu."

"Maka kita butuh bukti yang menyambung sampai kepalanya," kata Anindya.

Arjuna menoleh padanya. Mata mereka bertemu sejenak.

"Benar."

Ada sesuatu yang hangat dalam satu kata itu. Anindya menurunkan mata lebih dulu, tetapi bukan karena takut. Ia hanya belum terbiasa dihargai di ruang yang biasanya hanya dipenuhi laki-laki dan keputusan tajam.

***

Siang itu, Darmawan mengirim kabar baru dari Pasar Sentosa.

Seorang buruh gudang mabuk bercerita bahwa peti-peti bertanda kain upacara tidak boleh dibuka bahkan oleh petugas kerajaan. Setiap peti disegel dengan lilin Kertanegara, lalu diberi benang merah dari Badan Upacara agar tampak resmi. Bila ada penjaga bertanya, mereka akan diberi satu kantong kecil uang perak dan nama Tumenggung Suralegawa.

Nama seorang pejabat perang cukup untuk membuat banyak orang diam.

Arjuna membaca laporan itu di pendopo belakang. Anindya duduk beberapa langkah darinya, pura-pura membaca buku, tetapi ia tahu istrinya mendengar setiap kata.

"Mereka memakai nama kerajaan untuk menipu kerajaan," kata Adi, marah.

"Bukan menipu," Arjuna melipat laporan. "Mereka yakin kerajaan milik orang yang bisa mereka beli."

Kalimat itu membuat Anindya mengangkat mata. Ada kepahitan yang terlalu tua untuk usia Arjuna.

Sebelum ia sempat bertanya, seorang abdi dalem datang membawa undangan.

"Yang Mulia, Kadipaten Kertanegara mengirim undangan jamuan syukur. Mereka memohon Yang Mulia dan Gusti Putri berkenan hadir tiga hari lagi."

Adi menatap undangan itu seolah melihat ular kecil.

Anindya menerima baki, membaca kalimat berbunga-bunga di atas kertas wangi. "Mereka mengundang kita setelah tahu Gedung Wayang Enam mulai diawasi?"

"Mereka belum tahu," kata Arjuna. "Tapi mereka tahu aku menunda tambahan prajurit untuk Wilayah Pesisir. Mereka ingin mengukur seberapa jauh aku melihat."

"Apakah Yang Mulia akan datang?"

"Tentu."

Wulan terkejut. "Gusti, itu berbahaya."

Arjuna memandang Anindya, bukan Wulan. "Aku tidak akan memaksamu ikut."

Anindya menatap undangan itu lagi. Di sudut kanan ada gambar burung hitam yang sama seperti cap pada sobekan kertas. Keluarga ini tersenyum di depan umum sambil menutupi jalur gelap yang mungkin membiayai musuh suaminya. Bila ia terus bersembunyi di Puri Timur, orang-orang seperti Sinta dan Anggraini akan menulis ceritanya sebagai istri lemah yang hanya dilindungi.

"Hamba akan ikut," katanya.

Arjuna menahan tatapannya. "Kau yakin?"

"Jika mereka ingin mengukur Puri Timur, mereka harus melihat bahwa Puri Timur tidak berdiri dengan satu kaki."

Adi menunduk cepat untuk menyembunyikan senyum.

Arjuna memandangi Anindya lebih lama dari perlu. Dalam kehidupan lalu, ia baru melihat keberanian ini setelah terlalu banyak luka. Sekarang keberanian itu ada di depannya, tenang dan belum sepenuhnya percaya padanya, tetapi bersedia berdiri.

"Baik," katanya. "Kita akan datang."

Ia lalu menoleh pada Adi dan Garuda.

"Sebarkan kabar bahwa aku membawa Putri Mahkota karena ingin memperbaiki hubungan dengan Kertanegara. Biarkan mereka percaya kita datang untuk berdamai."

Garuda mengerti lebih cepat daripada Adi. "Mereka akan melonggarkan penjagaan depan dan memindahkan penjagaan ke gudang."

"Benar. Orang yang takut biasanya melindungi tempat yang paling kotor."

Anindya menatap peta. "Jika mereka tahu aku terbiasa membaca catatan, mereka mungkin menyembunyikan buku besar saat jamuan."

"Maka kita tidak mencari buku besar di ruang jamuan," jawab Arjuna. "Kita mencari orang yang berlari menyembunyikannya."

Kali ini, Anindya tidak menurunkan mata. "Hamba mengerti."

***

Malam menjelang, di sisi lain Kota Raja, Adipati Kertanegara membanting cangkir ke lantai.

"Siapa yang membiarkan petugas pasar bicara?"

Seorang pengurus gudang berlutut gemetar. "Ampun, Gusti. Orang itu hanya buruh kecil. Ia tidak tahu apa-apa."

"Orang kecil yang mabuk bisa menjual kepala kita lebih murah daripada harga arak."

Di ruangan itu, Parman berdiri dekat pintu dengan wajah tanpa ekspresi. Ia membawa pesan dari Puri Baskara: jangan membuat kegaduhan, jangan sampai nama pangeran terseret, dan bersihkan semua jalur sebelum Pangeran Mahkota mencium lebih jauh.

Adipati Kertanegara meremas surat itu sampai kusut.

"Bakar catatan gudang selatan. Pindahkan peti yang belum keluar. Semua saksi yang pernah melihat cap Kementerian Perang harus hilang dari Kota Raja."

Pengurus gudang pucat. "Gusti, semua itu butuh waktu."

"Kau punya tiga hari."

Pada saat yang sama, di Puri Timur, Garuda menerima pesan dari orangnya di gudang.

Ia segera berlutut di depan Arjuna.

"Yang Mulia, Keluarga Kertanegara mulai memusnahkan bukti. Waktu kita tinggal tiga hari."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!