"Tandatangani kontrak ini, maka seluruh utang keluargamu lunas dan ibumu akan mendapatkan perawatan terbaik malam ini juga."
Bagi Viona (23 tahun), dunia ini tidak pernah ramah. Demi menyelamatkan nyawa ibunya dari ancaman rentenir kejam, dia terpaksa membuang harga dirinya sedalam mungkin. Di bawah guyuran hujan badai, dia menjual kebebasannya kepada seorang pria asing yang ternyata adalah penguasa bisnis paling ditakuti di ibu kota—Arkan Mahendra (29 tahun).
Arkan adalah pria berwajah dewa yang berhati es. Baginya, Viona hanyalah mainan eksklusif yang dia beli untuk memuaskan obsesi dan gairahnya. Hubungan mereka adalah rahasia mutlak. Di siang hari, Viona hanyalah staf administrasi biasa yang tak terlihat. Namun di malam hari, dia adalah wanita yang terkurung dalam pesona membara sang CEO dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: BayangBayang Masa Lalu
Pagutan Arkan malam itu terasa berbeda. Tidak ada lagi sisa kekasaran seperti malam sebelumnya, berganti menjadi sebuah tuntutan yang dipenuhi oleh rasa frustrasi dan kepemilikan yang absolut. Ketika Arkan akhirnya melepaskan bibir Viona, pria itu tidak langsung menjauh. Keningnya bersandar pada kening Viona, napasnya yang memburu terasa hangat di permukaan kulit gadis itu.
Viona memalingkan wajah, meremas pinggiran sweter kremnya dengan erat. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Dia membenci kenyataan bahwa tubuhnya selalu mengkhianati logikanya sendiri setiap kali Arkan berada terlalu dekat.
"Lepaskan aku, Tuan," bisik Viona, suaranya parau karena emosi yang tertahan.
Arkan tidak menjawab dengan katakata. Dia justru menarik tubuh Viona ke dalam pelukannya, mendekap kepala gadis itu di dada bidangnya. Detak jantung Arkan yang konstan dan kuat terdengar jelas di telinga Viona. Untuk beberapa saat, sang CEO yang angkuh itu hanya diam, menikmati keheningan malam yang kembali merayap di dalam penthouse mewah mereka.
"Jangan pernah sebut nama pria lain saat kau bersamaku, Viona," gumam Arkan rendah, suaranya terdengar seperti sebuah peringatan sekaligus permohonan yang samar. "Kau tidak tahu apa yang bisa kulakukan jika aku kehilangan kendali."
Viona memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bersandar pasrah pada dada Arkan. "Anda selalu mengendalikan segala hal, Tuan Arkan. Termasuk hidupku. Apa lagi yang belum Anda kendalikan?"
Arkan terdiam. Cengkeramannya pada bahu Viona sedikit melonggar. Dia menatap wajah pucat wanita di pelukannya, lalu tanpa berkata apaapa lagi, Arkan berbalik dan berjalan menuju kamar tidur utama, meninggalkan Viona yang masih terpaku di dekat pintu dengan sejuta rasa buncah di dadanya.
Keesokan harinya, suasana di kantor pusat Mahendra Group tampak lebih sibuk dari biasanya. Arkan Mahendra duduk di kursi kebesarannya di lantai paling atas gedung pencakar langit itu. Di hadapannya, beberapa berkas laporan audit perusahaan logistik yang baru diakuisisinya berserakan. Namun, fokus pria itu sama sekali tidak tertuju pada angkaangka digital di layar monitornya.
Pikiran Arkan terus berputar pada raut wajah ketakutan Viona semalam. Isak tangis gadis itu seolah masih terngiang jelas di telinganya. Arkan mengepalkan tangannya di atas meja marmer. Dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan dengan kekuasaan dan uangnya. Namun, mengapa ketika menghadapi Viona, semua senjatanya terasa tumpul? Wanita itu mematuhinya karena kontrak, bukan karena menginginkannya. Dan kenyataan itu entah mengapa menggores ego Arkan yang paling dalam.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunan Arkan. Sekretaris pribadinya, Baskara, melangkah masuk dengan wajah yang tampak formal namun menyimpan sedikit keraguan.
"Masuk, Baskara. Ada laporan apa?" tanya Arkan dingin, seketika memasang kembali topeng tiraninya yang tak tersentuh.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan Arkan. Ini mengenai jadwal makan malam keluarga besar Mahendra akhir pekan ini," ujar Baskara sambil menyerahkan sebuah undangan fisik berlapis emas. "Nyonya besar berpesan agar Anda tidak mencari alasan untuk absen kali ini. Beliau juga menyebutkan bahwa... Nona Clarissa akan hadir."
Mendengar nama itu, rahang Arkan langsung mengeras. Sorot matanya yang semula tenang berubah menjadi setajam silet. Clarissa. Wanita dari kalangan sosialita papan atas yang sejak lama dijodohkan oleh ibunya untuk menjadi pendamping hidupnya. Seorang wanita yang hanya melihat nama besar Mahendra sebagai batu loncatan sosial, sama persis seperti wanita di masa lalunya yang telah menanamkan trauma mendalam di hati Arkan tentang apa itu kepercayaan dan cinta.
"Katakan pada Ibu, aku akan datang jika jadwalku senggang," jawab Arkan pendek, nada suaranya mengusir.
"Tapi, Tuan, Nyonya besar menegaskan bahwa ini adalah pertemuan penting untuk membahas tanggal pertunangan resmi Anda dan Nona Clarissa," Baskara mencoba menambahkan dengan hatihati, tahu betul risiko memancing kemarahan tuannya.
"Cukup, Baskara! Keluar!" potong Arkan dengan suara bariton yang meninggi.
Baskara segera membungkuk hormat dan undur diri dari ruangan dengan cepat sebelum amukan sang CEO benarbenar pecah.
Setelah pintu ruang kerjanya tertutup, Arkan menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Pertunangan. Pernikahan politik bisnis. Semua itu adalah rantai emas yang dipersiapkan keluarganya untuk mengikatnya. Arkan tahu dia tidak bisa selamanya menghindar, namun memikirkan harus berbagi ranjang dan hidup dengan wanita seperti Clarissa membuat jiwanya merasa muak.
Secara tidak sadar, jemari Arkan bergerak menyentuh layar ponselnya, membuka rekaman CCTV penthouse miliknya. Di layar digital itu, dia bisa melihat siluet Viona yang sedang duduk di tepi jendela, menatap ke arah luar dengan pandangan melamun. Kontras dengan Clarissa yang penuh kepalsuan, Viona adalah segumpal realitas yang nyata. Gadis itu membencinya dengan jujur, menangis dengan jujur, dan gairah yang mereka bagi di bawah selimut malam adalah satusatunya hal yang membuat Arkan merasa benarbenar hidup belakangan ini.
Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibir Arkan. "Kau adalah milikku, Viona. Dan tidak akan kubiarkan siapa pun, termasuk keluargaku sendiri, mengambil ketenanganku."
Sementara itu, di kantor divisi administrasi logistik, Viona mencoba fokus pada pekerjaannya. Suasana hari itu jauh lebih tenang karena Rendy sengaja mengambil cuti mendadak—sebuah keputusan yang Viona ketahui diambil pria itu untuk menghindari masalah lebih lanjut dengan pihak Mahendra Group. Viona merasa sedikit lega, namun juga didera rasa bersalah yang amat besar kepada sahabatnya.
Saat jam istirahat makan siang tiba, ponsel di dalam tas Viona bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal tertera di layar. Dengan ragu, Viona menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinganya.
"Halo?"
"Apakah ini Viona?" suara seorang wanita di seberang telepon terdengar sangat anggun, namun memiliki nada superioritas yang kental. Tipe suara orang yang terbiasa memerintah.
"Iya, benar. Maaf, ini dengan siapa?" tanya Viona sopan.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku sekarang. Datanglah ke kafe Le Petit di kawasan Menteng jam satu siang ini. Ada hal penting mengenai Arkan Mahendra yang perlu kita bicarakan," ucap wanita itu tanpa basabasi, langsung memutus sambungan telepon secara sepihak sebelum Viona sempat merespons.
Jantung Viona berdegup kencang. Mengenai Arkan Mahendra? Siapa wanita itu? Apakah rahasia statusnya sebagai wanita simpanan sang CEO telah terbongkar? Rasa takut seketika menyergap benak Viona. Bayangan wajah ibunya yang masih terbaring di rumah sakit dan ancaman kehancuran hidupnya membuat Viona tidak punya pilihan lain. Dia harus mencari tahu siapa orang di balik telepon itu.
Dengan langkah tergesagesa, Viona meminta izin keluar kantor untuk urusan mendesak dan langsung memesan taksi menuju alamat yang disebutkan.
Setibanya di kafe mewah bernuansa Eropa klasik tersebut, mata Viona menyapu ruangan. Di sudut kafe yang agak privat, duduk seorang wanita muda yang sangat cantik dengan pakaian desainer ternama, kacamata hitam bertengger di hidungnya, dan sebuah tas Hermes edisi terbatas diletakkan di sampingnya. Aura kemewahan yang memancar dari wanita itu langsung membuat Viona menyadari jurang pemisah status sosial mereka.
Viona melangkah mendekat dengan ragu. "Maaf... apakah Anda yang menelepon saya tadi?"
Wanita itu melepaskan kacamata hitamnya perlahan, menatap Viona dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat merendahkan. Sebuah senyum sinis tersungging di bibir merah meronanya.
"Jadi, kau yang bernama Viona?" wanita itu mendengus pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Duduklah."
Viona duduk di kursi hadapan wanita itu, meremas tali tasnya dengan gugup. "Siapa Anda sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan Tuan Arkan?"
Wanita itu menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di atas meja dengan anggun. "Namaku Clarissa. Aku adalah tunangan resmi Arkan Mahendra. Wanita yang dalam beberapa bulan lagi akan menjadi nyonya sah di Mahendra Group."
Bagaikan disambar petir di siang bolong, tubuh Viona seketika membeku. Tunangan? Arkan sudah memiliki tunangan resmi? Rasa perih yang teramat sangat tibatiba menghantam dada Viona, meremukkan sesuatu yang selama ini coba dia sangkal di dalam hatinya. Dia tahu dia hanya wanita simpanan kontrak, namun mengetahui kenyataan bahwa ada wanita lain yang memiliki hak legal atas diri Arkan membuat Viona merasa dunianya runtuh seketika.
"Aku tahu apa posisimu di penthouse itu, Viona," lanjut Clarissa dengan nada suara yang tenang namun setajam pisau. "Arkan mungkin menganggapmu sebagai mainan malam yang menarik untuk saat ini. Pria memang seperti itu sebelum menikah. Tapi ingat satu hal... mainan selamanya tetaplah mainan. Jangan pernah bermimpi untuk melangkah keluar dari tempat persembunyianmu, atau aku sendiri yang akan memastikan kau dan keluargamu hancur tanpa sisa."
Viona mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kukukukunya memutih. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya, namun dia menolak untuk terlihat lemah di depan wanita ini. Badai besar baru saja dimulai, dan Viona sadar, dia berada di posisi yang paling rapuh dalam pusaran konflik ini.
bener sih kecewa sama perbuatan anak,tapi semua itu buat nyambung hidup mu.