NovelToon NovelToon
KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

KUTUKAN DARAH SABTU KLIWON Puncak Teror Siluman Ular Kalingga

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Tina Martince

Sinopsis: Kutukan Darah Sabtu Kliwon

"Setiap Sabtu Kliwon, tubuhku mengeluarkan bau kematian—dan makhluk itu datang menjemputku."

Sekar gadis biasa, memiliki kutukan turun-temurun. Setiap malam Sabtu Kliwon, tubuhnya mengeluarkan aroma bunga kenanga dan tanah kuburan—panggilan bagi makhluk ular purba bernama Kalingga. Makhluk itu mengklaim Sekar sebagai permaisuri dan tidak akan berhenti sampai ia menyerahkan jiwa dan raganya.

Siapa pun yang mencoba melindungi Sekar akan mati mengenaskan.

Namun Sekar tidak mau menyerah. Dengan bantuan Bintang, seorang praktisi spiritual pemberani, dan Gani, pemuda kota yang nekat mempertaruhkan nyawanya demi cinta, Sekar berjuang melawan kutukan yang membelenggunya. Perlahan, kulit Sekar mulai bersisik, jiwanya digerogoti kegelapan, dan waktu terus berjalan menuju malam penentuan.

Pertarungan terakhir terjadi di Istana Sisik Hitam—tempat semua kutukan berawal. Di sana, Sekar harus memilih antara menjadi manusia atau menjadi ratu ular selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Martince, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Jejak Leluhur yang Retak

Sisa-sisa asam korosif dari muntahan ghaib Kalingga semalam masih menyisakan kerak belerang yang keras di sudut kamarnya, tetapi Bintang menolak untuk menyerah pada rasa sakit yang menggerogoti rusuknya. Setelah menyaksikan bagaimana pekarangan rumahnya sendiri tewas membusuk dalam semalam akibat amukan sang siluman ular purba, garis pertahanan di dalam benak pemuda itu justru kian mengeras. Kalingga tidak sekadar marah; dia sedang panik karena Bintang nekat menyeret wadah pengantinnya ke pelataran Masjid Jami' Tua.

Dengan sisa tenaga yang dipaksakan menembus rasa sesak di dadanya, Bintang kembali memacu mobil tua pamannya membelah jalur perbukitan menuju ke kediaman Rahayu. Sepanjang perjalanan, awan hitam sisa semalam seolah menolak enyah, menggantung rendah membentuk formasi sulur-sulur kelabu yang konsisten menguntit di atas langit-langit jalurnya.

Begitu melangkah masuk ke dalam rumah Rahayu, atmosfer kematian langsung menyergap indra penciumannya. Bau bunga kenanga busuk—bau yang sama yang digambarkan Sekar saat cermin kamarnya pecah beberapa waktu lalu—kini menguar tebal dari arah ruang tengah. Tidak ada lagi sisa-sisa wibawa dari sosok Rahayu. Wanita tua itu kini duduk meringkuk di atas lantai tegel, tepat di samping lemari jati tua peninggalan almarhum suaminya yang terkunci rapat.

"Ibu Rahayu," panggil Bintang, suaranya parau namun sarat akan penekanan spiritual yang dingin.

Rahayu tersentak, wajahnya yang kuyu dan dipenuhi lingkaran hitam pekat mendongak kaku. Begitu melihat Bintang yang bersimbah sisa darah kering di sudut bibir, wanita itu langsung merangkak mendekat, mencengkeram ujung celana Bintang dengan jemari yang gemetar hebat.

"Dia tidak mau menunggu sampai besok, Bintang... Kalingga tidak mau menunggu!" ratap Rahayu, suaranya melengking sumbang seumpama gesekan papan lapuk. "Semalam dia berdiri di atas atap, mendesis sepanjang malam... Dia menagih janji Mbah Buyut Jatmiko! Dia bilang waktu dua puluh dua tahun itu sudah habis!"

Bintang menarik napas pendek yang terasa menusuk dadanya. Dia berlutut di hadapan Rahayu, menatap lurus ke dalam manik mata wanita tua itu yang dipenuhi oleh bayangan kegilaan.

"Bu, dengarkan saya baik-baik," cetus Bintang, mencengkeram balik kedua pergelangan tangan Rahayu agar wanita itu fokus. "Saya tahu semuanya sekarang. Saya tahu Sekar dihidupkan kembali dari kematian saat masih berusia tujuh bulan di dalam rahim Ibu. Saya tahu tentang ritual ruwat sengkolo sesat yang dilakukan Mbah Buyut Jatmiko dan almarhum bapak di lereng Gunung Raung. Hentikan semua ketakutan yang membuat Ibu lumpuh seperti ini. Jika kita tidak memutus rantai sumpah darah itu sekarang, besok malam—saat weton Sabtu Kliwon itu tiba—Sekar akan berubah menjadi mahluk melata sepenuhnya di dasar sendang!"

Mendengar nama Mbah Buyut Jatmiko dan Gunung Raung disebut oleh Bintang, pertahanan mental Rahayu yang tersisa runtuh seketika. Dia memekik histeris, menutupi kedua telinganya seolah-olah nama-nama itu adalah mantra kutukan yang mampu memanggil kilat ghaib untuk menyambar kepalanya.

"Jangan sebut tempat itu... jangan!" jerit Rahayu, tubuhnya berguncang hebat di atas lantai tegel. "Tempat itu dikutuk, Bintang! Air Sendang Kalingga itu hitam... anyir... Di sana bapaknya Sekar menyerahkan ari-ari dan tanah makam tua untuk ditukar dengan napas iblis! Nyawa harus dibayar nyawa... dan sekarang mahluk itu datang untuk mengambil kembali bagian tubuhnya yang tertanam di dalam daging anakku!"

Bintang melepaskan cengkeramannya, beralih menatap pintu lemari jati tua yang berada di sudut ruangan. Dari sela-sela lubang kuncinya yang kuno, uap dingin berwarna keperakan keluar tipis-tipis, menyebarkan bau kemenyan bakar yang teramat pekat hingga membuat mata Bintang perih berair.

"Apa yang ada di dalam lemari ini, Bu?" tanya Bintang, insting spiritualnya mendadak berdenyut kencang, menangkap adanya sebuah benda materi fisik yang menjadi jangkar ghaib bagi Kalingga di rumah ini. "Kematian bapaknya Sekar yang melilit kaku di ladang belakang... apa hubungannya dengan isi lemari ini?"

Rahayu tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepala dengan tatapan kosong yang mengerikan, sementara air matanya terus mengalir membasahi daster batik lusuh yang dikenakannya.

Bintang tidak menunggu izin lebih lama. Dia melangkah tegas mendekati lemari jati tua tersebut. Genggaman tangan kanannya pada sisa butiran tasbih gaharu kian mengencang. Begitu telapak tangannya berada dalam jarak beberapa sentimeter dari kayu lemari, sebuah getaran frekuensi tinggi yang menyakitkan telinga ghaib langsung menyengat batinnya.

Sreeet... sssss...

Dari dalam lemari, terdengar suara gesekan kain yang bergerak ritmis, seolah-olah ada sesuatu yang hidup dan melata di dalam ruang sempit yang terkunci tersebut. Bau kenanga busuk kian mendominasi udara kamar, bersaing dengan hawa suci yang memancar dari batin Bintang yang terus merapal ayat kursi tanpa jeda.

BRAAAKKK!

Bintang menghantamkan tumit kakinya ke arah kunci pintu lemari kayu jati tersebut hingga jebol. Pintu kayu tebal itu terbuka lebar dengan derit panjang yang menyayat keheningan.

Di dalam lemari tua itu, tidak ada tumpukan pakaian atau kain batik lama. Di atas rak kayu yang paling tengah, hanya ada sebuah kotak kayu hitam kecil yang dibungkus oleh selembar kain kafan putih yang sudah menguning dan dipenuhi bercak noda darah yang mengering kehitaman. Dari balik lipatan kain kafan itulah, aroma kemenyan dan sisa-sisa energi hitam dari Gunung Raung memancar dengan intensitas yang luar biasa masif.

"Itu... itu adalah tali pengikatnya..." bisik Rahayu dari sudut ruangan, suaranya nyaris tak terdengar oleh deru angin yang tiba-tiba berembus kasar menembus ventilasi rumah. "Di dalam kotak itu ada sisa ari-ari Sekar yang gagal dilarungkan dua puluh dua tahun lalu... ari-ari yang sudah direndam di dalam air hitam Sendang Kalingga."

Bintang mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba meraih kotak kayu hitam tersebut. Namun, tepat sebelum jemarinya menyentuh permukaan kain kafan yang membungkusnya, sebuah fenomena metafisik yang dahsyat meledak dari dalam kotak.

Cesssss!

Sebuah semburan uap dingin berwarna keperakan melesat keluar, menghantam telapak tangan Bintang hingga pemuda itu merasakan sensasi membakar yang luar biasa ekstrem seumpama kulitnya disiram air raksa pekat. Bintang terparah mundur dua langkah, memegangi pergelangan tangannya yang kini langsung meremang hebat dengan kulit yang mendadak memucat kaku.

"KAU BERANI MENYENTUH SIMPULKU, MANUSIA CACAT?!"

Sebuah suara bariton yang teramat berat, masif, dan penuh dengan kemurkaan purba menggema langsung keluar dari dalam rongga kotak kayu tersebut. Suara itu begitu bertenaga hingga membuat lampu gantung di ruang tengah bergoyang liar, lalu padam serempak dengan letupan tajam yang memecahkan bohlam kacanya.

Prak! Prak!

Ruangan itu seketika disergap oleh kegelapan senja yang pekat dan mencekam. Hanya bersumber dari sisa cahaya luar yang temaram, Bintang bisa melihat dengan ngeri bagaimana bayangan kotak kayu hitam di dalam lemari itu mendadak memanjang ke atas dinding, membentuk siluet kepala ular sanca raksasa dengan rahang terbuka lebar, siap menelan kewarasan siapa saja yang berani mencampuri urusan perjanjian darah tersebut.

Di tengah kegelapan yang pekat itu, sebuah pekikan ngeri yang teramat melengking kembali terdengar dari arah kamar belakang—kamar tempat Sekar dikunci.

"Panas! Ibu... panas! Lepaskan aku!" jerit Sekar, suaranya tidak lagi murni suara manusia, melainkan bersahut-shutan ekstrem dengan desisan jutaan reptil yang sedang meregang nyawa di atas hamparan bara api ghaib

Pekikan Sekar di kamar belakang memutus kepungan intimidasi ghaib yang memancar dari lemari jati. Bintang mengabaikan rasa perih membakar di telapak tangannya yang mulai memerah keunguan. Dengan sisa kekuatan batin yang dihimpit sesak, dia berlari menembus koridor rumah yang gelap gulita, meninggalkan Rahayu yang terus meracau gila sembari menyembunyikan wajahnya di bawah sofa kayu.

Atmosfer di depan pintu kamar Sekar terasa berkali-kali lipat lebih berat. Udara di sekitar kusen kayu itu seolah membeku, mengalirkan hawa sedingin es yang bercampur dengan aroma anyir darah dan bunga kenanga busuk yang kental.

Brak! Brak!

"Mbak Sekar! Buka pintunya, Mbak!" teriak Bintang sembari menghantamkan bahunya ke pintu kayu yang terkunci rapat dari dalam.

Tidak ada jawaban berupa kata-kata fana. Dari balik dinding papan, yang terdengar hanyalah suara gesekan kasar yang ritmis—suara sesuatu yang berat, bersisik, dan meliuk kaku di atas lantai tegel kamar. Suara itu disusul oleh derit kuku manusia yang menggaruk permukaan kayu dengan keputusasaan yang teramat murni.

"PERMAISURI... KEMBALILAH KE DASAR AIR..." sebuah suara desisan ganda kembali bergaung di dalam kepala Bintang, mencoba merontokkan fokus ayat-ayat suci yang terus dia rapal di dalam hati.

Bintang mundur satu langkah, memantapkan kuda-kudanya. Dia memusatkan seluruh sisa energi tirakatnya ke telapak tangan kanan yang masih menggenggam sisa butiran tasbih gaharu dari Gunung Lawu. Dengan satu sentakan nafas yang menghentak dada, dia menghantamkan telapak tangannya tepat ke arah selot kunci pintu ghaib tersebut.

DUAARRR!

Sebuah benturan energi spiritual meledak, mematahkan selot besi bagian dalam hingga pintu kamar itu terbuka lebar berdentang menghantam dinding.

Begitu pintu terbuka, bau busuk yang teramat korosif langsung menyembur keluar, membuat Bintang terbatuk-batuk hingga kembali mengeluarkan bercak darah segar di telapak tangannya. Kamar Sekar kini telah berubah menjadi representasi dari ceruk Sendang Kalingga yang terkutuk. Cahaya di dalam ruangan itu memancar kemerahan suram, berasal dari pendaran energi ghaib yang keluar dari balik pori-pori kulit Sekar.

Di sudut ranjang, Sekar duduk meringkuk dengan kondisi yang akan membuat siapa pun kehilangan kewarasannya. Gadis itu telanjang dada membelakangi pintu, mengekspos seluruh bagian belikat hingga ke pangkal lehernya.

Tanda lahir bersisik yang di usia awal dua puluh dua tahun hanya berupa siluet kecil di belikat kanan, kini telah bermutasi menjadi monster ghaib yang mengerikan. Sisik-sisik tebal berwarna emas kelabu dan hitam legam telah merayap naik, menguliti dan menggantikan kulit lembut manusianya. Sisik itu melingkari seluruh leher Sekar seumpama cekikan ular sanca raksasa, dan polanya tampak hidup—bergerak kembang kempis mengikuti ritme napas Sekar yang memburu kencang.

Saking kuatnya tekanan kutukan dari Gunung Raung tersebut, sepasang mata Sekar saat dia menoleh ke arah Bintang sudah kehilangan selaput putihnya. Matanya membelalak kaku tanpa berkedip, memancarkan rona kuning keemasan dengan pupil vertikal yang tajam seumpama mata predator melata yang siap mematuk.

"Bintang... panas... tubuhku bukan milikku lagi..." bisik Sekar. Suaranya terdengar ganda; satu adalah suara manusianya yang meratap lirih, dan yang lain adalah suara desisan bariton Kalingga yang menguasai pita suaranya.

Bintang melangkah masuk ke dalam kamar, melompati serpihan kaca cermin lama yang masih berserakan di atas lantai tegel. Setiap kali kakinya melangkah, hawa dingin dari tubuh Sekar mencoba membekukan aliran darah di kakinya.

"Mbak Sekar, tatap saya! Jangan serahkan jiwamu pada mahluk itu!" tegas Bintang, suaranya menggelegar dipenuhi daya batin murni. Dia mengangkat tangan kanannya, mengarahkan butiran tasbih gaharu tepat ke arah kening Sekar.

Namun, begitu jarak mereka tersisa satu meter, sisik-sisik di leher Sekar mendadak menegang kaku. Tubuh gadis itu meliuk dengan kelenturan yang tidak masuk akal bagi anatomi manusia, melompat mundur ke atas dipan dengan gerakan yang teramat cepat seumpama ular yang hendak menyerang.

"MANUSIA BODOH KETURUNAN ADAM!" desis Sekar—atau lebih tepatnya Kalingga yang berbicara melalui bibir gadis itu yang mulai membiru kaku. "DIA ADALAH PERMAISURIKU! NYAWANYA ADALAH PINJAMAN DARI SENDANGKU! BESOK MALAM, SAAT SABTU KLIWON TIBA, AKU AKAN MENGUPAS SELURUH KULIT MANUSIA INI DAN MEMBAWANYA PULANG!"

Bersamaan dengan kalimat itu, sebuah gelombang energi hitam pekat berbau belerang melesat keluar dari tubuh Sekar, menghantam dada Bintang hingga pemuda itu terpental keluar kamar, jatuh menghantam lantai ruang tengah dengan sangat keras.

Brak!

Pintu kamar Sekar langsung menutup kembali dengan sendirinya, disusul oleh suara dentang kunci ghaib yang mengunci mati ruangan tersebut dari dalam.

Bintang terkapar di lantai ruang tengah dengan napas yang terputus-putus. Luka dalam di dadanya kian parah, dan darah segar kini mengalir deras dari hidungnya. Di sampingnya, Rahayu masih menangis meratapi dosa masa lalunya yang kini menjelma menjadi petaka yang siap merenggut paksa nyawa anak kandungnya sendiri.

Bintang menatap langit-langit rumah yang kian menggelap. Rahasia yang disembunyikan selama dua puluh dua tahun itu kini telah telanjang sepenuhnya. Sumpah darah di Sendang Kalingga, lereng Gunung Raung, tidak meninggalkan celah sedikit pun untuk bernegosiasi. Kotak kayu hitam di dalam lemari jati yang berisi sisa ari-ari dan tanah makam tua adalah jangkar absolut yang mengunci takdir Sekar.

Waktu terus berjalan mundur dengan kejam. Matahari esok hari akan menjadi matahari terakhir sebelum malam Sabtu Kliwon—malam puncak bulan Suro yang dikutuk—tiba.

Bintang menyeka darah di hidungnya dengan lengan baju, lalu bangkit berdiri dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh kebulatan tekad yang ekstrem. Dia tahu, dia tidak bisa lagi bersembunyi atau sekadar bertahan. Besok malam, rumah ini akan menjadi medan perang supranatural yang sesungguhnya. Dia harus menghancurkan kotak hitam dari Gunung Raung itu, atau menyaksikan Sekar menjelma menjadi mahluk melata selamanya di dasar sendang yang hitam.

1
Tina Martince
Halo! Terima kasih banyak sudah membaca Kutukkan Darah Sabtu kliwon dan meluangkan waktu untuk memberikan pesan ini. Senang sekali mendengar kalau kamu menyukainya! Dukungan dari pembaca seperti kamu sangat berarti buat saya. Semoga karya-karya selanjutnya juga bisa menghibur, ya!"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!