Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Aktor!
Pelajaran di kelas pun berlangsung. Pak Dodi, guru sejarah mereka, sedari tadi terus menjelaskan materi di depan kelas. Namun, di antara semua murid, hanya beberapa orang yang benar-benar menyimak pelajaran.
Andira dari awal pelajaran terus menguap berusaha menahan kantuk. Saat kepalanya menoleh ke meja Oca, matanya langsung melotot.
Bagaimana tidak, di mejanya Oca tertidur dengan bibir sedikit terbuka. Buku pelajaran sejarah berdiri menghalangi agar wajahnya tidak terlihat.
"Oca," bisik Andira sekecil mungkin, "Oca, bangun!"
Tak ada respons. Oca masih anteng dalam dunianya sendiri, bahkan sesekali terdengar dengkuran halus dari balik buku itu.
Andira melirik ke depan, memastikan Pak Dodi masih sibuk menjelaskan tanpa menoleh ke arah mereka. Setelah dirasa aman, kakinya mulai bergerak di bawah meja, menendang-nendang pelan kaki Oca.
"Oca," bisiknya lagi, sedikit lebih keras, "Pak Dodi, woy!"
Tendangan ketiga akhirnya berhasil. Oca tersentak, kepalanya terangkat cepat hingga buku yang menyangga wajahnya jatuh menggebrak meja dengan suara cukup keras.
Seisi kelas menoleh serempak ke arah sumber suara.
Pak Dodi menghentikan penjelasannya, menatap Oca dengan alis terangkat. "Ada yang ingin ditambahkan, Francesca?"
Oca masih setengah sadar, mengusap matanya cepat sebelum berdiri sedikit dari kursinya. "E-eh, tidak, Pak. Maaf, Pak."
Beberapa anak di kelas mulai tertawa kecil, termasuk Andira yang menutup mulutnya sendiri menahan tawa, sementara wajah Oca memerah menahan malu.
"Lain kali kalau ngantuk, cuci muka dulu di toilet," ucap Pak Dodi sebelum melanjutkan pelajaran seperti tidak terjadi apa-apa.
Oca menghela napas lega begitu perhatian kelas kembali ke papan tulis. Ia melirik tajam ke arah Andira yang masih cengar-cengir di sebelahnya.
"Lo sih, nendang-nendang. Sakit, tau!" bisik Oca kesal.
"Salah sendiri tidur di kelas. Untung gue yang bangunin, coba kalau Pak Dodi duluan yang notice," balas Andira, masih menahan tawa.
Oca cuma mendengus, lalu kembali memaksakan matanya tetap terbuka, meski rasa kantuk masih menggantung di kelopak matanya. Baginya, pelajaran sejarah Pak Dodi terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang sukses membuat matanya berat.
Tak terasa, beberapa menit kemudian bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring.
"Yes!" ucap Andira sambil meregangkan kedua tangannya. "Akhirnya selesai juga."
Pak Dodi menutup buku sejarahnya, lalu melirik seisi kelas.
"Materi hari ini cukup sampai di sini. Minggu depan kita lanjutkan. Jangan lupa baca materi selanjutnya."
"Iyaaa, Pak," jawab beberapa murid kompak.
Begitu Pak Dodi keluar dari kelas, suasana langsung berubah ramai. Siswa-siswi langsung berhamburan keluar. Ada yang menuju kantin, ada juga yang memilih tetap berada di kelas.
"Gue laper banget," keluh Oca sambil memegangi perutnya.
"Sama. Dari tadi perut gue udah konser," sahut Andira.
Kinan yang baru selesai merapikan bukunya langsung berdiri. "Yaudah, kuy ke kantin. Gue juga belum makan."
Tanpa pikir panjang, ketiganya langsung berjalan keluar kelas. Koridor sekolah sudah dipenuhi murid-murid yang sama-sama bergegas menuju kantin.
Sesampainya di sana, mereka langsung mencari meja yang masih kosong. Suasana kantin benar-benar ramai, dipenuhi obrolan para siswa yang saling bersahutan dan dentingan sendok dari berbagai penjuru.
"Mang, tiga bakso biasa!" teriak Andira ke arah penjual bakso langganan mereka.
"Nambah es teh tiga sekalian, mang!" timpal Oca.
Mang Ujang penjual bakso tersebut langsung menoleh sambil mengacungkan jempol. "Oke, siap neng."
Tak lama kemudian, Mang Ujang membawa tiga mangkuk bakso hangat dan tiga gelas es teh, lalu meletakkannya di atas meja. Setelah itu, ketiganya langsung melahap bakso.
Kinan tiba-tiba menghentikan kunyahannya. "Eh! Gue jadi inget!"
Tangannya bergerak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian menggulir layarnya.
"Apaan sih?" tanya Andira sambil meniup kuah baksonya.
"Itu loh yang tadi mau gue ceritain sebelum bel masuk bunyi," ucap Kinan, masih sibuk menggulir layar ponselnya. "Nih, liat deh."
Kinan menyodorkan ponselnya ke tengah meja. Andira langsung mencondongkan tubuh buat liat lebih jelas, sementara Oca masih asyik mengunyah baksonya, tidak terlalu peduli dengan apa yang dibahas dua sahabatnya itu.
"Ini kan Anthony Valtierre," ucap Kinan dengan mata berbinar. "Semalam dia ketahuan kepotret lagi makan malam bareng lawan mainnya, namanya Emma Delia. Postingannya viral banget, banyak yang bilang chemistry mereka di film terbaru tuh real banget sampai kebawa ke kehidupan nyata."
Oca yang baru mau menyuap bakso berikutnya, refleks menoleh ke arah ponsel Kinan. Matanya membulat begitu melihat wajah yang terpampang di layar, wajah yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Anthony, suaminya.
"UHUK!"
Oca tersedak, baksonya hampir muncrat ke meja. Tangannya cepat-cepat menutup mulut, wajahnya memerah menahan batuk.
"Eh, lu nggak apa-apa, Ca?!" Andira kaget, buru-buru menyodorkan gelas es teh ke depan Oca. "Sini, minum dulu!"
Oca menyambar gelas itu, meneguknya beberapa kali sampai batuknya mereda. Kinan dan Andira saling pandang, bingung.
"Lu kenapa sih tiba-tiba kayak kaget gitu?" tanya Kinan, alisnya berkerut.
Oca tidak langsung menjawab. Matanya masih terpaku pada layar ponsel Kinan, pada wajah yang baru semalam ia cium di depan altar.
Ini nggak mungkin, batinnya. Anthony itu aktor?