Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.
Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.
Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.
Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.
Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ternyata Aktor!
Pelajaran sejarah sudah berlangsung hampir lima belas menit. Suara Pak Dodi yang sedari tadi menjelaskan materi di depan kelas justru terdengar seperti lagu pengantar tidur bagi sebagian murid.
Andira bahkan sudah beberapa kali menguap sambil menopang dagunya. Saat kepalanya menoleh ke meja Oca, matanya langsung melotot.
Bagaimana tidak, di mejanya Oca ternyata sudah tertidur pulas. Buku sejarah berdiri tegak di atas mejanya, sengaja dipasang menutupi wajah. Bibirnya sedikit terbuka, bahkan sesekali terdengar dengkuran halus dari balik buku itu.
"Oca," bisik Andira sekecil mungkin, "Oca, bangun!"
Tak ada respons. Oca masih anteng dalam dunianya sendiri.
Andira kembali melirik ke depan. Pak Dodi masih sibuk menjelaskan materi sambil menulis di papan tulis. Setelah merasa situasinya aman, ia perlahan menggerakkan kakinya di bawah meja lalu menendang pelan kaki Oca.
"Oca..." bisiknya sekali lagi. "Bangun, woy. Pak Dodi."
Oca hanya bergeming.
Andira mengembuskan napas pelan. Mau tidak mau, ia kembali melayangkan tendangan, kali ini sedikit lebih keras.
Brak!
Oca langsung tersentak hingga kepalanya terangkat cepat. Buku yang sejak tadi menyangga wajahnya ikut terjatuh dan menggebrak meja cukup keras.
Seketika suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah hening. Hampir seluruh murid menoleh ke arah Oca, termasuk Pak Dodi yang menghentikan penjelasannya.
Pria itu menatap Oca sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ada yang ingin ditambahkan, Francesca?"
Oca masih setengah sadar. Ia buru-buru mengusap matanya lalu berdiri dari kursinya.
"E-eh... nggak, Pak. Maaf."
Beberapa murid langsung terkekeh pelan. Andira buru-buru menutup mulutnya, berusaha menahan tawa, sementara wajah Oca sudah memerah karena malu.
"Lain kali kalau ngantuk, cuci muka dulu di toilet," ucap Pak Dodi sebelum kembali melanjutkan pelajaran.
Oca mengembuskan napas lega begitu perhatian seluruh kelas kembali ke depan. Ia langsung melirik tajam ke arah Andira yang masih cengar-cengir di sebelahnya.
"Lo sih, nendangnya kenceng banget. Sakit, tau!" bisik Oca kesal.
Andira malah nyengir makin lebar.
"Salah sendiri tidur. Untung gue yang bangunin. Coba kalau Pak Dodi yang sadar duluan."
Oca cuma mendengus lalu kembali menopang dagunya sambil memaksa matanya tetap terbuka. Baginya, pelajaran sejarah Pak Dodi terdengar seperti dongeng pengantar tidur yang sukses membuat matanya berat.
Tak terasa bel istirahat akhirnya berbunyi nyaring.
"Yes!" Andira langsung meregangkan kedua tangannya. "Akhirnya selesai juga."
Pak Dodi menutup buku sejarahnya, lalu menatap seluruh murid di kelas.
"Materi hari ini cukup sampai di sini. Minggu depan kita lanjutkan. Jangan lupa baca materi selanjutnya.”
"Iyaaa, Pak," jawab beberapa murid kompak.
Begitu Pak Dodi keluar dari kelas, suasana langsung berubah ramai. Siswa-siswi langsung berhamburan keluar. Ada yang menuju kantin, ada juga yang memilih tetap berada di kelas.
"Gue laper banget," keluh Oca sambil memegangi perutnya.
"Sama. Dari tadi perut gue udah konser," sahut Andira.
Kinan yang baru selesai merapikan bukunya langsung berdiri. "Yaudah, kuy ke kantin. Gue juga belum makan."
Tanpa pikir panjang, ketiganya langsung berjalan keluar kelas. Koridor sekolah sudah dipenuhi murid-murid yang sama-sama bergegas menuju kantin.
Sesampainya di sana, mereka langsung mencari meja yang masih kosong. Suasana kantin benar-benar ramai, dipenuhi obrolan para siswa yang saling bersahutan dan dentingan sendok dari berbagai penjuru.
"Mang, tiga bakso biasa!" teriak Andira ke arah penjual bakso langganan mereka.
"Nambah es teh tiga sekalian, mang!" timpal Oca.
Mang Ujang penjual bakso tersebut langsung menoleh sambil mengacungkan jempol. "Oke, siap neng."
Tak lama kemudian, Mang Ujang membawa tiga mangkuk bakso hangat dan tiga gelas es teh, lalu meletakkannya di atas meja. Setelah itu, ketiganya langsung melahap bakso.
Kinan tiba-tiba menghentikan kunyahannya. "Eh!Gue baru inget!"
Tangannya bergerak mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja, kemudian menggulir layarnya.
"Apaan sih?" tanya Andira sambil meniup kuah baksonya.
"Itu loh yang tadi mau gue ceritain sebelum bel masuk bunyi," ucap Kinan, masih sibuk menggulir layar ponselnya. "Nih, liat deh."
Kinan menyodorkan ponselnya ke tengah meja. Andira langsung mencondongkan badannya untuk melihat lebih jelas, sementara Oca masih asyik mengunyah baksonya, tidak peduli dengan apa yang dibahas dua sahabatnya itu.
"Ini aktor favorit gue! Anthony Valtierre," ucap Kinan dengan mata berbinar.
"Semalam dia ketahuan kepotret lagi makan malam bareng lawan mainnya, namanya Emma Delia. Postingannya viral banget, banyak yang bilang chemistry mereka di film terbaru tuh real banget sampai kebawa ke kehidupan nyata."
Oca yang baru mau menyuap bakso lagi refleks menoleh ke arah ponsel Kinan. Matanya langsung membulat begitu melihat wajah yang terpampang di layar, wajah yang sangat ia kenal. Siapa lagi kalau bukan Anthony, suaminya.
"UHUK!"
Oca tersedak, baksonya hampir muncrat ke meja. Tangannya cepat-cepat menutup mulut, wajahnya memerah menahan batuk.
"Eh, lo nggak apa-apa, Ca?!" Andira kaget, buru-buru menyodorkan gelas es teh ke depan Oca. "Nih, minum dulu!"
Oca menyambar gelas itu, meneguknya beberapa kali sampai batuknya mereda. Kinan dan Andira saling pandang, bingung.
"Lo kenapa sih tiba-tiba kayak kaget gitu?" tanya Kinan, alisnya berkerut.
"Tau nih, jangan bilang lo juga fans si Anthony itu. hayo loh ngaku," selidik Andira sambil menyipitkan mata ke arah Oca.
"Dih ngaco kenal aja kagak sama tuh cowok," elak Oca sambil mendengus.
"Kirain ngefans. Soalnya reaksi lo lebay banget," celetuk Kinan sembari terkekeh geli.
"Udah, makan aja. Keburu dingin baksonya," sahut Oca buru-buru.
Andira dan Kinan saling pandang lalu tertawa sebelum akhirnya kembali mengobrol. Sementara Oca larut dalam pikirannya sendiri.
"Jadi selama ini suami gue aktor? kalau sampai pernikahan ini terbongkar... habislah hidup gue," batin Oca bimbang.
beda lagi sama aku lebih suka bahasa formal GK trlalu gaul karena aku sendiri mereka suka seperti itu 🤣