Di dunia fantasi Eldoria yang dikuasai oleh perserikatan klan penyihir, Aura Zephyra adalah perwujudan dari kepolosan masa muda. Sebagai putri sulung dari Klan Penyihir Angin yang agung, hidup remajanya dipenuhi dengan tulusnya cinta kepada tunangannya, Gavin Elrod. Namun, di hari pernikahan mereka yang seharusnya menjadi momen paling bahagia, cinta itu berubah menjadi mimpi buruk. Gavin mengkhianatinya, membantai seluruh klannya, dan menusuk dada Aura demi merebut Inti Sihir Angin untuk ambisi takhtanya. Di ambang kematian, dalam kobaran api kuil yang hancur, Aura mengutuk Gavin dengan air mata darah.
Bukannya lenyap, jiwa Aura justru terlempar kembali ke masa lalu—dua tahun sebelum tragedi pembantaian itu terjadi. Terbangun di tubuh remajanya yang berusia tujuh belas tahun, Aura bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Keajaiban regresi waktu tidak hanya membawa ingatannya, tetapi juga membangkitkan atribut sihir terlarang yang telah punah ribuan tahun: Sihir Es Kuno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mawar Hitam
Hawa dingin yang mencekam di dalam Koloseum Agung Kekaisaran seolah-olah menghentikan aliran waktu. Puluhan ribu penonton di tribun menahan napas, tidak berani melewatkan satu detik pun dari tontonan yang membalikkan semua ekspektasi ini.
Di tengah arena berlapis es, Aura berdiri bagaikan penjelmaan dewi kematian yang anggun, sementara mawar es dengan duri kristal hitam terus mekar dan berputar di atas telapak tangannya.
Gavin Elrod menelan ludah dengan susah payah. Sisa-sisa pengikut di faksi remajanya perlahan-lahan mundur selangkah demi selangkah, menjauh dari Gavin seolah-olah pria itu adalah pembawa kutukan.
Memangnya siapa yang mau mengorbankan masa depan mereka hanya untuk membela seseorang yang jelas-jelas memancing kemarahan monster?
"Mau ke mana kalian? Tetap di tempat masing-masing!" Gavin berteriak, suaranya bergetar antara amarah dan kepanikan yang mendalam. Kebanggaan masa remajanya sebagai salah satu penyihir paling berbakat di ibu kota seketika hancur lebur di bawah tatapan dingin Aura.
"Tuan Muda Gavin ...," Salah satu remaja dari Klan Tanah Hitam berbisik dengan wajah pucat pasi. "Ini bukan lagi ujian sihir tingkat remaja. Wanita itu ... dia berada di level yang berbeda. A-aku menyerah!"
Pemuda itu langsung mengangkat tangannya tinggi-tiggi ke arah tribun juri. "Aku menyerah! Aku menyerah! Tolong keluarkan aku dari arena! Keluarkan aku!"
Melihat satu orang kepanikan dan mundur, sisa peserta lainnya yang ketakutan langsung mengikuti langkah tersebut. Mereka berlarian menuju tepi arena, memohon kepada panitia untuk menonaktifkan kubah pelindung agar mereka bisa keluar dari neraka es tersebut.
Dalam waktu kurang dari satu menit, dari lima puluh peserta yang memulai pertandingan, kini hanya tersisa tiga orang yang berdiri di dalam arena resmi. Aura Zephyra, Gavin Elrod, dan satu orang remaja netral yang gemetar di sudut terjauh, hanya bertahan agar bisa masuk ke posisi sepuluh besar secara otomatis.
Kini, panggung megah itu sepenuhnya milik mereka berdua. Pertemuan takdir yang mengulang memori berdarah di kehidupan lalu, namun dengan posisi yang telah berbalik 180 derajat.
"Bagaimana ini, hanya tersisa kita berdua, Gavin." Aura melangkah maju dengan seringai tipis di ujung bibirnya, langkah kakinya yang anggun tidak menimbulkan suara di atas permukaan es.
Namun, setiap ketukan menciptakan retakan magis yang menyedot kelembapan udara. "Mengapa kau diam saja? Di mana semua kata-kata besarmu semalam tentang mematahkan kakiku?"
Gavin merasakan harga dirinya diinjak-injak di hadapan Kaisar dan seluruh elite kekaisaran. Rasa takutnya mendadak berubah menjadi kegilaan yang dipicu oleh keputusasaan.
"Aura! Jangan mengira kau bisa meremehkanku hanya karena menguasai sihir es aneh itu! Klan Elrod adalah pilar kekaisaran, dan aku adalah penyihir angin badai terbaik di generasiku!"
Gavin merentangkan kedua tangannya. Inti sihir angin di dalam dadanya berputar hingga mencapai batas maksimal, memicu raungan angin kencang di sekeliling tubuhnya. Bilah-bilah angin berwarna hijau tajam termaterialisasi di udara, berputar seperti gergaji raksasa yang siap memotong apa saja.
"Sihir Angin Tingkat Empat: Badai Pemotong Jiwa!" Gavin berteriak histeris, melemparkan kedua tangannya ke depan.
Belasan bilah angin raksasa melesat dengan kecepatan suara, memotong lapisan es di lantai arena hingga menciptakan parit-parit dalam, mengarah langsung ke titik-titik vital di tubuh Aura. Serangan ini adalah kemampuan terbaik Gavin, serangan yang ia gunakan di kehidupan lalu untuk membersihkan jalan bagi kejayaan klannya.
Aura menatap serangan itu dengan mata biru jernih yang dipenuhi rasa muak yang mendalam. Di kehidupan lalu, ia mengagumi teknik ini, menganggap Gavin sebagai pahlawan yang hebat. Betapa bodohnya ia saat itu.
"Menyedihkan," bisik Aura lembut.
Ia tidak menghindar. Ia hanya melemparkan mawar es hitam di tangannya ke depan dengan gerakan santai.
Begitu mawar es hitam itu terlepas dari tangannya, mawar tersebut langsung mekar sepenuhnya dan meledak menjadi ribuan kelopak es hitam yang sangat tipis namun sekeras berlian Abyss. Kelopak-kelopak es itu menari di udara, membentuk pusaran angin es tandingan yang langsung menabrak belasan bilah angin milik Gavin.
Klang! Klang! Klang!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga bergema. Bilah-bilah angin badai yang dibanggakan oleh Gavin hancur berkeping-keping begitu menyentuh kelopak es hitam milik Aura.
Tidak ada satu pun serangan Gavin yang mampu menembus pertahanan es tersebut. Sebaliknya, kelopak-kelopak es hitam itu terus melesat maju, memotong jubah putih kebesaran Gavin dan menciptakan puluhan luka sayatan kecil di lengan dan wajahnya.
Darah segar berwarna merah pekat mulai menetes dari pipi Gavin, menodai lantai es di bawahnya.
"Ahhh!" Gavin mengerang kesakitan, terhuyung mundur.
Luka-luka sayatan itu tidak hanya perih, tetapi juga menyalurkan energi es terlarang yang langsung membekukan aliran darahnya, membuat tubuh remajanya menjadi kaku dan lambat.
"Apakah ini batas kemampuan dari 'Jenius' Klan Elrod?" Aura melangkah mendekat, berdiri hanya berjarak lima langkah dari Gavin yang kini terduduk di atas lantai es sambil memegang lengannya yang terluka.
Tatapan Aura begitu merendahkan, seolah melihat seekor serangga yang menggeliat di ambang kematian.
"Di kehidupan ini, kau bahkan tidak layak menjadi debu di bawah sepatuku, Gavin."
"Kau ... kau monster ...." Gavin terbata-bata, menatap Aura dengan mata yang dipenuhi oleh teror yang murni. Hawa dingin yang memancar dari tubuh gadis itu kini benar-benar mengunci seluruh persendian tubuhnya.
Di tribun tertinggi, Duke Gerald Elrod berdiri dari kursinya dengan wajah yang dipenuhi kecemasan yang luar biasa.
"Kaisar! Pertandingan ini sudah tidak seimbang! Aura Zephyra menggunakan sihir terlarang yang membahayakan nyawa penerus klan besar! Aku menuntut agar pertandingan dihentikan sekarang juga!" teriak Duke Gerald berapi-api.
Raymond Zephyra ikut berdiri, membalas dengan suara lantang. "Gerald! Aturan ujian menyatakan bahwa pertandingan hanya berhenti jika salah satu pihak menyerah atau pingsan! Putramu belum mengucapkan kata menyerah, jadi mengapa kau panik?"
Kaisar Eldoria tidak memedulikan perdebatan kedua pemimpin klan tersebut. Matanya tetap terpaku pada Aura. Sang Kaisar ingin melihat seberapa jauh gadis dari Utara ini akan bertindak di bawah pengawasannya.
Di dalam arena, Aura mendengar teriakan Duke Gerald dari kejauhan, namun ia mengabaikannya. Tangannya perlahan terangkat, memanifestasikan sebilah belati es panjang yang tajam dari udara kosong. Penampakan belati itu persis sama dengan bentuk pedang yang digunakan Gavin untuk menusuk dadanya di kehidupan lalu.
"Gavin, apa kau ingat rasa sakit saat sesuatu yang tajam menembus dadamu?" Aura berbisik dengan nada yang sangat rendah, hanya bisa didengar oleh Gavin.
Gavin mengernyitkan dahi, tidak memahami maksud perkataan Aura, namun insting bertahannya menjerit bahwa gadis ini benar-benar berniat membunuhnya di sini.
"A-Aku menyerah! Aku menyerah!" Gavin berteriak dengan sisa kekuatannya, air mata keputusasaan mulai mengalir di pipinya yang terluka.
Aura tersenyum dingin. "Terlambat."
Dengan gerakan yang sangat cepat, Aura mengayunkan belati es tersebut. Namun, bukannya menusuk dada Gavin untuk mengakhiri nyawanya dengan cepat—yang mana akan memicu intervensi langsung dari ksatria emas Kaisar—Aura justru menghunjamkan belati es itu tepat ke arah pergelangan tangan kanan Gavin, menembus daging dan menguncinya ke lantai es arena dengan suara JLEB yang mengerikan.
"AAAKKKHHH!" Jeritan histeris Gavin menggema di seluruh Koloseum, memotong keheningan malam musim panas yang mendadak berubah menjadi musim dingin.
Aura tidak berhenti di sana. Aliran energi es kuno dari belati tersebut langsung menjalar masuk ke dalam saluran sihir di tangan Gavin, menghancurkan pembuluh magis utamanya secara paksa dari dalam.
Ini adalah hukuman yang lebih kejam daripada kematian. Aura sedang menghancurkan pondasi kultivasi Gavin, memastikan bahwa di kehidupan ini, pria itu tidak akan pernah bisa melangkah ke tingkat sihir yang lebih tinggi lagi. Gavin Elrod akan menjadi seorang cacat sihir seumur hidupnya.
"Gavin!" Duke Gerald berteriak histeris di tribun, wajahnya memerah karena murka yang luar biasa.
Aura menarik kembali tangannya dengan anggun, membiarkan belati es itu tetap tertancap di tangan Gavin yang kini pingsan karena rasa sakit yang ekstrem. Kubah pelindung sihir arena perlahan turun saat pembawa acara yang gemetar mengumumkan akhir dari babak eliminasi bebas.
Aura berbalik, tidak lagi melirik tubuh Gavin yang mengenaskan. Tatapannya beralih ke arah tribun tempat Kaelen duduk.
Kaelen berdiri dari kursinya, memberikan tepuk tangan tunggal yang lambat namun berwibawa. Sepasang mata merah delimanya memancarkan rasa bangga dan kepuasan yang mutlak atas tindakan kejam sang istri.
Aliansi Utara malam ini telah menunjukkan taringnya kepada seluruh ibu kota, dan tidak ada satu orang pun yang berani meremehkan sang Ratu Es lagi.