Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 : CERITA YANG DIRAJUT AIR MATA PALSU
...BAB 11...
...CERITA YANG DIRAJUT AIR MATA...
Tinggal delapan hari lagi menuju akad nikah. Sore itu langit di atas Surabaya tampak mendung kelabu, seolah ikut merasakan sesuatu yang berat sedang bergulir pelan di dalam rumah Bu Kirana. Angin berhembus pelan menerobos celah teras, menggerakkan kelopak bunga melati yang baru saja dipetik untuk hiasan ruangan, saat Arka melangkah masuk melewati pagar rumah dengan langkah yang tenang dan terukur. Bukan seperti hari‑hari biasanya dia datang membawa oleh‑oleh makanan atau alat perbaikan rumah. Hari ini dia datang dengan sengaja, membawa satu hal yang sudah dia siapkan berbulan‑bulan lamanya: rangkaian kata‑kata bohong yang disusun sehalus mungkin, cukup untuk meluluhkan hati wanita yang selama ini menjadi benteng terkuat Alina.
Dia memastikan lebih dulu keadaan sekitar. Alina baru saja berangkat ke penjahit untuk mencoba bagian akhir gaunnya, diperkirakan baru pulang dua jam lagi. Farhan masih terjebak di kantor, sibuk berusaha melacak jejak aneh yang terus saja berakhir buntu setiap kali hampir ketahuan—jejak yang memang Arka hapus dengan sangat cerdik setiap kali selesai menanamnya. Hanya ada Bu Kirana sendirian di ruang tengah, duduk termenung sambil memegang selembar kain sutra bahan hantaran, wajahnya tampak lelah namun masih bersinar bahagia. Kesempatan itu sempurna. Persis seperti yang sudah dia rencanakan.
Bu Kirana langsung menyambutnya dengan senyum lebar begitu melihat pemuda itu berdiri di ambang pintu. Seperti biasa, hatinya terasa hangat melihat Arka. Baginya, laki‑laki itu adalah anugerah yang dikirim Tuhan di saat keluarga mereka paling sibuk dan butuh bantuan. Tidak pernah sekalipun terlintas sedikit pun di benaknya, bahwa di balik senyum teduh dan budi bahasa yang begitu halus itu, tersimpan niat sedingin es yang perlahan berniat menghancurkan apa saja yang paling berharga bagi anak sambungnya.
“Datang lagi, Nak? Padahal kamu pasti juga sibuk sekali dengan pekerjaanmu,” kata Bu Kirana lembut sambil beranjak hendak mengambilkan minuman, tapi segera dicegah halus oleh Arka.
“Jangan repot‑repot dulu, Bu. Biarkan saya saja yang ambil. Saya ke sini memang ingin duduk sebentar saja bicara sama Ibu. Ada sesuatu yang sudah lama saya pendam, berat sekali rasanya dibawa sendirian, sampai saya sering tidak bisa tidur memikirkannya.”
Nada bicaranya pelan, bergetar tepat di bagian‑bagian yang dia hitung sendiri. Matanya ditundukkan dalam‑dalam, seolah menahan beban yang jauh lebih besar dari yang sanggup dipikul pundak muda itu. Sikapnya yang tiba‑tiba begitu muram dan berat langsung membuat hati Bu Kirana berdebar. Senyum di bibirnya perlahan lenyap, diganti kerutan cemas di dahi. Dia menarik kursi duduk berhadapan dengan Arka, tangannya terulur lembut menyentuh lengan pemuda itu.
“Ada apa, Nak? Kamu baik‑baik saja? Jangan dipendam sendiri, cerita lah sama Ibu. Bukankah Ibu sudah anggap kamu seperti anak sendiri?”
Itu kalimat yang paling Arka tunggu. Dia menghela napas panjang, berulang kali menelan ludah seolah berjuang keras melawan rasa berat hatinya, baru kemudian mulai bercerita. Dia membuka semuanya dari awal yang paling menyentuh hati, kebohongan yang sudah dia hafal di luar kepala, tentang bagaimana dia menjadi yatim piatu sejak masih berusia tujuh tahun, tumbuh berpindah‑pindah dari satu rumah kerabat ke rumah kerabat lain, jarang sekali mendapatkan kasih sayang yang tulus dan tulus tanpa pamrih. Sampai suatu hari bertahun‑tahun lalu, dia pernah ditolong oleh seorang wanita yang wajah dan sifatnya sangat mirip dengan Bu Kirana, wanita yang memberinya makan, memberinya tempat berteduh sebentar, dan berpesan agar dia selalu berbuat baik pada siapa saja.
“Sejak saat itu saya berjanji dalam hati, Bu, kalau suatu hari nanti saya bertemu wanita sebaik beliau lagi, saya akan berbakti sekuat tenaga, saya akan lindungi dia dan keluarganya sebaik‑baiknya, walau hanya dengan tenaga dan doa. Dan ketika saya bertemu Ibu, rasanya seperti Tuhan mengabulkan janji saya itu. Makanya saya senang sekali bisa bantu‑bantu di sini, rasanya seperti berada di rumah sendiri, bersama ibu kandung saya sendiri.”
Air mata palsu perlahan menggenang di pelupuk matanya, lalu jatuh satu butir membasahi pipi. Hati Bu Kirana langsung luluh seketika. Air matanya sendiri sudah menetes lebih dulu, terharu mendengar cerita yang terdengar begitu tulus, begitu menyayat hati. Dia menarik tangan Arka, menggenggamnya erat‑erat, seolah meyakinkan bahwa pemuda itu tidak sendirian lagi. Di saat itulah, Arka mulai memasukkan inti dari segala rencananya. Perlahan, sangat pelan, seolah setiap kata yang keluar menyakiti dirinya sendiri.
Dia bercerita bahwa belakangan ini dia banyak mendengar hal‑hal aneh yang beredar di lingkungan kantor tempat Alina bekerja. Hal‑hal yang dia sembunyikan rapat‑rapat selama berbulan‑bulan, karena dia tidak tega melihat Ibu sedih, tidak tega nama baik keluarga yang begitu baik dan terhormat ini tercemar. Dia berbicara seolah sangat berat mengucapkannya, bahwa mulai beredar kabar samar‑samar soal kelakuan Alina yang konon sering pulang larut malam bersama laki‑laki lain, soal berkas‑berkas pekerjaan yang diurusnya ada yang janggal dan berbau pelanggaran, bahkan ada yang berbisik bahwa ketulusan hati Alina yang selama ini dikenal semua orang, hanyalah topeng belaka.
“Saya sudah berusaha tutup‑tutupi semuanya, Bu. Saya sudah bicara baik‑baik sama orang‑orang yang menyebarkan, saya bahkan berusaha hapus jejak‑jejak yang mungkin bisa dipakai orang untuk menjatuhkan dia, sampai saya kewalahan sendiri. Saya takut sekali kalau ini sampai terdengar oleh Bapak‑Ibu keluarga Farhan, apalagi sebentar lagi mereka akan bersatu. Saya takut nama baik Ibu dan keluarga besar yang selama ini begitu dihormati orang, malah hancur hanya karena omongan orang. Saya juga sempat berpikir, mungkin Alina cuma sedang lelah, mungkin ada tekanan batin yang dia pendam sendirian sampai bertindak di luar kesadarannya. Dia kan wanita yang selama ini sangat menjaga agama dan kehormatannya, pasti ada alasannya. Tapi makin lama makin banyak saja hal aneh yang muncul, Bu… saya tidak sanggup lagi memendamnya sendirian. Saya takut kalau saya diam saja, nanti malah bencana yang lebih besar yang datang.”
Untuk memperkuat omongannya, dia mengeluarkan dari sakunya beberapa lembar kertas dan potongan gambar yang sudah dia siapkan jauh hari sebelumnya—semuanya palsu, disunting sedemikian rupa hingga terlihat sangat nyata, catatan waktu masuk‑keluar kantor yang janggal, foto buram yang seolah memperlihatkan Alina bersama orang asing di tempat yang tidak semestinya, salinan data berkas yang angka‑angkanya dia ubah sendiri. Dia menyerahkan kertas‑kertas itu dengan tangan yang tampak gemetar, matanya terus menunduk seolah malu dan sedih sekali harus menunjukkan hal itu.
Bu Kirana memegang kertas‑kertas itu dengan tangan yang mulai bergetar hebat. Awalnya dia menolak percaya, sama sekali tidak mau percaya bahwa anak sambung yang dia besarkan dengan begitu ketat dalam agama dan akhlak, bisa melakukan hal‑hal seperti yang diceritakan Arka. Tapi kata‑kata pemuda itu terlampau halus, terlampau penuh keprihatinan, bukti yang ada di tangannya terlihat begitu nyata, dan yang paling menyentuh. Arka sama sekali tidak berbicara dengan nada menuduh atau membenci. Dia berbicara sebagai seseorang yang khawatir, sebagai seseorang yang sudah menganggap mereka keluarga sendiri, yang rela berkorban tenaga dan pikiran demi menutupi aib dan melindungi mereka.
Air mata Bu Kirana akhirnya tumpah juga. Rasa bahagia yang beberapa hari lalu memenuhi hatinya, seketika digantikan rasa sedih yang mendalam, bingung, dan takut yang luar biasa. Dia memeluk bahu Arka erat‑erat, sambil terisak pelan, sama sekali tidak sadar bahwa justru laki‑laki yang sedang dia peluk dan dia percayai sepenuh hati itulah yang menjadi sumber dari segala kabar buruk dan bukti‑bukti palsu itu.
“Terima kasih, Nak… terima kasih banyak sudah jujur sama Ibu, sudah berjuang melindungi kami semua sendirian. Kalau bukan karena kamu, mungkin Ibu dan keluarga baru sadar ketika semuanya sudah terlambat, sudah hancur lebur. Kamu benar‑benar anak yang baik, Tuhan pasti membalas semua kebaikan hatimu. Ibu tidak tahu lagi harus berbuat apa selain bersyukur Tuhan kirim kamu ke tengah‑tengah kami.”
Arka membalas pelukan itu dengan lembut, di balik bahu Bu Kirana yang sedang menangis itu, bibirnya sedikit terangkat membentuk senyum tipis yang dingin dan penuh kemenangan. Rencananya berjalan sempurna. Hati benteng terkuat Alina sudah luluh sepenuhnya di tangannya. Kini, dia bukan lagi sekadar pemuda penolong yang disayang. Dia sudah menjadi satu‑satunya orang yang dianggap paling tahu, paling peduli, dan paling bisa diandalkan oleh ibu calon pengantin itu sendiri.
Mereka berdua tidak sadar, tepat di balik pintu kaca yang sedikit terbuka, Alina baru saja pulang lebih awal dari rencana. Dia hanya sempat mendengar sepenggal kalimat terakhir ibunya yang berbicara sambil terisak, dan melihat Arka sedang mengelus punggung ibunya dengan gerakan yang begitu akrab dan meyakinkan. Dia tidak mendengar isi pembicaraan mereka dari awal. Tapi firasat buruk yang selama ini menghantuinya, kembali menusuk dadanya jauh lebih tajam dari sebelumnya. Dia tahu, sesuatu yang sangat buruk baru saja terjadi. Sesuatu yang mengubah segalanya.
Bersambung....
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏