"siapa namamu?"
xavier menatap lekat bocah 5 tahun itu yang melotot marah kepadanya, bocah laki-laki dengan rambut gondrong ikal sebahu, memegang sebuah rubrik di tangannya.
mata bocah itu mengingatkan xavier pada wanita itu, wanita sialan yang pergi begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sebelas
"chef di, berapa menu yang harus kita siapkan?"
Rian, sous chef sedikit kemayu itu meletakkan alat-alat mereka ke atas meja,
"aku minta bantuan temanku, chef. Seorang asisten yang lincah, untuk membantu kita di pencucian piring dan alat masak lainnya"
"makasih yan.." angguk diandra mengangguk puas," seperti biasa kamu selalu gercep"
Rian tertawa senang, pujian diandra selalu tulus dan dia sangat menyukai bekerja dengan diandra.
"appetizer, sedikit simple yan. Tuan rumah tidak meminta secara spesifik. Jadi aku berencana membuat mushroom soup"
"bahannya sudah lengkap chef?" tanya rian tanpa menatap diandra, kelihatan dia sangat sibuk.
"selamat siang?"
Diandra dan rian serentak menoleh, seorang gadis muda memakai chef uniform berwarna putih berdiri sopan, meletakkan tasnya di atas kursi kayu.
"sudah sampai nay!, buruan kemari" lambai rian memanggil gadis itu.
"kenalin nih chef diandra"
Diandra hanya mengangguk dan tersenyum saat gadis itu mengangguk hormat ke arahnya.
"saya nayla, chef"
"saya diandra.." sahut diandra, "selamat datang nay"
Diandra mulai menyiapkan bahan yang akan mereka olah, apalagi pesta ulang tahun itu katanya akan dimulai jam 7 malam nanti, namun walau begitu matanya masih tetap mengawasi killian yang sedang asyik bermain.
Terkadang rasa bersalah selalu menghantui diandra, saat-saat seperti ini, ia harus membawa putranya bekerja. Sebenarnya bude ida, pengasuh killian tidak keberatan lembur, hanya diandra tak tega rasanya, wanita baya pengasuh killian itu seorang janda yang menafkahi 4 orang anak-anaknya.
Setelah mengasuh killian, biasanya wanita itu berjualan makanan dan gorengan di depan rumahnya pada malam hari.
Mereka sangat sibuk, diandra bagi tugas dengan rian, saat pria itu menyiapkan appetizer, diandra mulai menyiapkan bahan untuk main course. Sangking sibuknya, diandra sampai tak menyadari kalau killian sudah tidak berada di dapur lagi.
Dapur sudah seperti medan perang, untungnya diandra dan rian sudah memahami tugas masing-masing, saat pelayan dari depan meminta mereka menyiapkan hidangan pembuka, rian dan diandra baru selesai memplatingnya.
"hhhhhhh..." desah nafas diandra terdengar lega, senyumnya mengembang saat rian juga melakukan hal yang sama, menghembuskan nafasnya lega.
"main course sudah selesai juga yan, kita tinggal plating dan memberi garnishnya"
Rian mengangguk paham, " bukankah main coursenya setelah pemotongan tart ulang tahun kan?"
Diandra menggeleng, " tuan rumah meminta setelah appetizer, saat tart dipotong, kita harus menyiapkan desertnya"
"alamak..." seru rian mengibaskan tangannya,
"kek kerja rodi kita chef"
Diandra terkekeh, melihat rian yang menyelipkan rambut gaibnya di telinga.
"chef..." panggil nayla, asisten dapur yang tiba-tiba berdiri di hadapan diandra.
"desertnya boleh saya yang menyiapkan?"
Diandra mengernyitkan keningnya, rian yang memahami diandra segera menyahut.
"nayla calon pastry chef, biarkan saja dia mencobanya, chef di"
Diandra menoleh, menatap lekat rian. Pria kemayu itu mengangguk meyakinkan, "chef di bisa istirahat, awasi saja kami!"
Diandra kembali menatap nayla, gadis itu tersenyum berharap dengan wajah penuh keyakinan.
"oke deh, kalau begitu nayla bisa mulai sekarang!"
"terima kasih,chef diandra"
Diandra hanya mengangguk, menatap gadis itu yang kelihatan sangat senang.
Diandra merasa sedikit lega, akhirnya ia bisa istirahat sembari mengawasi killian.
"ahh killian" serunya berbalik, matanya membelalak seketika.
Killian tak ada di tempat bocah itu main tadi, wajah diandra langsung memucat, secepat kilat ia menarik celemek dari pinggangnya dan setengah berlari ke tempat mainan killian berserakan.
"yan..." panggilnya dengan suara bergetar.
"kamu lihat lian?"
Rian yang berdiri di samping nayla menoleh kaget, pria itu segera menghampiri diandra. Rian menggeleng resah, wajah pria itu juga memias.
"chef kamu cari lian deh, di dapur biar aku yang handle"
Diandra mengangguk cepat, plaque di kepalanya ditarik kasar.
Diandra berjalan melewati lorong yang lumayan panjang, ia berniat mencari killian di luar. Tadi ada kolam ikan di sana, diandra takut putranya di sana, killian sangat menyukai ikan hias.
Ia celingukan, tak menemukan siapapun. Sementara keramaian dan suara musik terdengar mengalun dari aula tempat pesta berada.
Diandra semakin gelisah dan ketakutan, kemana dia harus mencari killian. Kakinya berjalan cepat memutari taman, matanya masih jelalatan mencari bocah 5 tahun itu.
"cari siapa?"
Diandra menoleh kaget, seseorang dengan suara beratnya menegur diandra.
Diandra menghembuskan nafasnya, wajahnya terlihat sangat gelisah dan ketakutan.
"aku mencari putraku!"
Pria itu, yang ternyata xavier mengangguk pelan. Pria itu berdiri di undakan tangga dengan kedua tangannya berada di saku celana.
"bocah tampan itu tidur di kamarku, kelihatan dia sangat mengantuk"
Diandra membalikkan tubuhnya sempurna, menatap xavier penuh tanya, walau wajahnya tak lagi terlihat cemas.
"kok bisa?"
Xavier mengedikkan bahunya, " bocah itu nyasar ke kamarku"
"baiklah..." sahut diandra, "aku akan membangunkannya"
"jangan" geleng xavier cepat.
"bangunkan saja saat kalian akan pulang"
Diandra terlihat keberatan, kerutan di keningnya menebal.
Benar sih, kalau dibangunkan sekarang malah nanti killian akan uringan-uringan. Bocahnya itu akan tantrum kalau tidurnya terganggu.
Diandra masih berdiri dalam diam, seakan sedang sibuk memikirkan apa yang harus ia lakukan.
"xavi...!"
Diandra mendongak, pria itu menolehkan kepalanya ke arah suara.
"ngapain di sini, sayang?"
Diandra tertegun, menatap wanita yang memanggil xavier barusan dengan panggilan sayang itu, memeluk pinggang pria itu mesra.
"terima kasih, sudah melamarku di depan semua keluarga"
Diandra menatap xavier dan wanita itu lekat, xavier memeluk pinggang wanita itu mesra, merangkulnya dan mengajaknya berjalan, namun sebelum melangkah, pria itu sempat melirik sekilas ke arah diandra yang tertegun menatap mereka.
Diandra melangkah lesu, setelah kedua orang itu berlalu, mendadak hatinya galau.
"hhhhhhhh..." diandra menghembuskan nafasnya keras, seakan ingin membuang sesuatu yang terasa menyesakkan dadanya.
"mikir apa sih kamu, di" gumamnya,
'pria itu bukan siapa-siapa kamu, kenapa juga hatimu kesal mendengar pembicaraan mereka barusan'
"mana lian?" tanya rian, begitu diandra masuk.
Mata pria itu jelalatan mencari di belakang diandra.
"mana lian, chef?"
Diandra menggeleng pelan, senyum tipisnya terlihat sendu.
"lian tidur di dalam"
Rian mengernyitkan puncak hidungnya, "kok bisa?"
Diandra tak menjawab, ia hanya mengedikkan bahunya dan melangkah mendekati nayla yang sedang sibuk menata desert hasil buatannya ke atas food trolley.
"yan, main course sudah diantar ke depan?"
Pria kemayu itu mengangguk,"sudah chef di"
"setelah desert nayla diantar, bereskan barang-barang kita. Kalau sudah tak ada pekerjaan lagi, kalian berdua bisa pulang"
Rian dan nayla mengangguk bersamaan, namun wajah sous chefnya diandra itu, terlihat masih penasaran.
Dia tahu, pasti ada sesuatu yang terjadi pada diandra. Diandra adalah wanita tangguh, setahu dia.
Rian belum pernah melihat wajah diandra galau dan sendu seperti saat ini, bekerja 4 tahun dengan diandra, membuat rian mampu memahami sikap diandra.
"chef..." panggil rian dengan suara lirih.
"kamu kenapa?"
Diandra menghela nafasnya kembali, namun ia hanya menggeleng.
Bersambung...