Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Yang Beda
Dokter Devan duduk di single sofa ruang kerjanya. Matanya menatap lurus kearah Savira yang tidur karena kelelahan menangis di sofa panjang tak jauh darinya. Bukan seperti putri tidur yang anggun dalam dongeng. Rambutnya berantakan, sisa air mata di pelipis, hanya napas yang teratur.
Savira tidur seperti manusia biasa. Tubuh lelah itu akhirnya menyerah. Ia tidak tahu kenapa. Melihat sisi Savira yang rapuh, tidak dipoles, yang manusia banget...justru menarik perhatiannya.
Sudah 10 menit ia menatap Savira dengan tatapan yang sulit di artikan. Sesekali ia angkat cangkir. Menyesap kopi pahit. Yang entah kenapa rasa pahit itu jadi hambar di lidahnya.
Kelopak mata Savira mulai bergerak. Perlahan terbuka. Kedua mata mereka saling bertemu. Hingga Savira kembali memejamkan matanya rapat-rapat.
Dokter Devan tetap tenang mengangkat cangkir kopinya dan menyesap cairan hitam itu dengan pelan. Sampai, Savira kembali membuka matanya. Kali ini sedikit menyipit, seolah memastikan sesuatu.
"Dokter Devan." bisiknya, ia menggigit bibir bawahnya. "Ternyata bukan mimpi." batin Savira malu setengah mati.
"Bangunlah, pasien tidak bisa menunggu." Kata dokter Devan.
Dengan berat hati Savira bangun, merasa semakin kecil dan insecure. Bagaimana tidak? Dokter Devan terlihat rapi, wangi, dan sempurna seperti biasanya. Sedangkan Savira?.
"Cuci wajahmu." jarinya menunjuk kamar mandi di sudut ruangan. "Kita punya waktu 15 menit sebelum ronde pagi." katanya lagi.
Tanpa menunggu, Savira langsung berlari masuk kamar mandi. Jantungnya berdetak cepat, begitu sampai di depan wastafel. Savira merutuki dirinya.
"Dari sekian banyak momen, kenapa harus seperti ini." gerutunya melihat wajahnya yang sangat tidak manusiawi.
Mata bengkak, maskara lari ke bawah mata jadi panda, cepol rambut berantakan, anak rambut nempel di pipi karena keringat, jas putihnya kusut, ada noda air mata.
Mau di lihat dari sudut mana pun. Savira tidak ada cantik-cantiknya, berbanding 180° dengan dokter Devan. Tampan, bersih, rapi, wangi, rambut klimis, rahang tegas. Ibarat nilai, dokter Devan 10+ sedangkan Savira minus. Minus harga diri.
"15 menit." bisik Savira sambil mencuci muka dengan air dingin. Ia tidak punya banyak waktu untuk menyesali penampilan nya. Menyisir rambut dengan jari yang sudah dibasahi air ala kadarnya, hapus sisa maskara dengan tisu, menyetrika jasnya dengan telapak tangan.
Setelah merasa cukup, Savira keluar kamar mandi dengan penampilan lebih manusiawi, meskipun wajahnya polos tanpa makeup.
Baru beberapa langkah, hidungnya mencium aroma yang familiar. Nasi uduk hangat dan ayam goreng lengkuas. Dahinya berkerut tidak percaya, tapi dia benar-benar melihat dua porsi nasi uduk favoritnya di atas meja dengan uap tipis terlihat.
Dokter Devan yang tadinya memegang tablet, menaruh benda pipih itu, melepas kacamata bacanya, dan menatap Savira.
"Kita masih punya 12 menit untuk menikmati sarapan favorit mu." suara datar itu terkandung perhatian.
Savira duduk di sofa panjang, yang menjadi tempat tidurnya tadi. "Makan sebelum dingin." kata dokter Devan lagi.
Banyak pertanyaan di kepala Savira, tapi ia tidak punya waktu untuk mengajukan pertanyaan itu. Sekarang. Ia harus mengisi bahan bakarnya dengan menu favorit yang sudah di siapkan dokter Devan.
"Pilihan menu yang bagus. Simpel. Tapi enak." komentar dokter Devan, setelah piringnya bersih. Hanya tersisa tulang ayam kering.
"Saya pilih jus mangga. Kamu butuh glukosa banyak hari ini." katanya. Menggeser gelas jus ke arah Savira.
Savira hanya mengangguk. "Terimakasih, Dok." suaranya pelan. Canggung.
Dokter Devan menatapnya. Bukan tatapan datar, lebih lembut dari biasanya. "Jaga fokus kamu." Savira mengangkat wajahnya, menatap dokter Devan penuh tanda tanya.
"Dokter..." tapi Savira kembali menelan kata-katanya.
"Kita harus ke ICCU." potongnya, beranjak. Dokter Devan kambali memakai kacamatanya.
Savira hanya bisa telan ludah. Ia mengekori dokter Devan yang keluar ruangan lebih dulu. Mereka masuk dalam lift bersamaan, tidak ada obrolan meski mulut Savira gatal ingin bertanya.
Ting....
Pintu lift terbuka, Savira segera keluar. Dia noleh ke belakang karena dokter Devan masih diam dalam lift.
"Saya datang 5 menit lagi. Persiapkan semuanya." kata dokter Devan seolah tahu apa yang ingin Savira tanyakan.
"Baik dokter," kata Savira sebelum pintu lift kembali tertutup.
Gadis 26 tahun itu menghela napas lega. Menyender lemah di dinding koridor. Bersama dokter Devan, membuat jantungnya takikardia. Yang biasanya hanya terjadi kalau Savira minum kafein.
Sedangkan Savira tidak pernah menyentuh kafein sejak enam tahun lalu. "Saya datang 5 menit lagi." satu kalimat dokter Devan yang membuatnya seperti kesempatan kedua.
Ya, secara tidak langsung dokter Devan memberikan Savira waktu untuk bersiap sebelum ronde di mulai.
Savira masuk ruang ICCU. Dingin. Aroma antiseptik langsung nusuk hidung.
Bib... Bib... Bib...
Bunyi monitor kayak detak jantung kedua. Satu milik pasien, satu miliknya. Dengan bunyi ritmis.
"Vi, kamu ngilang kemana tadi malam?" tanya Riko saat ia baru mengambil rekam medis pasien di meja nurse station.
Savira terdiam sejenak. Tadi malam ia memang pamit mau ke ruang istirahat residen. Tapi malah berakhir di ruang kerja dokter Devan. Benar-benar di luar rencana.
"Aku...aku pulang ke apartemen." bohongnya asal. Cepat. Bahkan terlalu cepat.
Riko mengerutkan keningnya, menelisik penampilan Savira yang masih sama persis seperti tadi malam.
"Kamu yakin?" selidik Riko. Tentu saja dia tidak percaya. Apalagi melihat ID card Savira yang terbalik. Wajah polos tanpa polesan makeup. Dan rambut yang terlihat apa adanya.
Savira bukan tipe wanita yang akan memoles wajahnya dengan makeup tebal. Tapi Riko cukup paham dan teliti jika Savira selalu memastikan penampilan nya rapi dan all out. Tapi Savira yang sekarang di depannya. Bukan seperti Savira yang baru me-recharge tubuhnya.
Savira yang gugup pura-pura memeriksa tumpukan map yang ada di depannya. "Sus, pasien bed 3. Sudah ganti FiO2?" tanyanya berjalan menjauh dari Riko.
Riko? Pria itu menyandarkan tubuhnya di meja nurse station, mengamati Savira dari jauh. Mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan rekan residen nya, sampai terlihat begitu gelisah.
Di menit ke-6. Pintu ICCU kembali terbuka. Dokter Devan masuk beserta empat orang di belakangnya. Melihat itu, Savira malah merasa lega. Berbeda dengan residen lainnya, yang malah tegang saat berhadapan dengan dokter Devan.
Dia langsung memeriksakan pasien. Tidak ada basa-basi, tidak ada tatapan tajam, atau anggukan kecil. Padahal mereka semalam berbagi oksigen di ruangan yang sama, dan tadi pagi juga sarapan bersama. Tapi dokter Devan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa antara dirinya dan Savira.
Pria 35 tahun itu benar-benar profesional. Tahu kapan harus bersikap. Dan Savira? Kali ini ia harus mengakui pesona seorang Devan Adiguna Handaru, ia baru sadar jika apa yang dibicarakan para perawat dan koas memang benar.
"Bagaimana orang dengan ekspresi sedatar itu bisa bikin jantung takikardia? Suaranya dingin, matanya tajam. Tapi malah menjadi daya tarik yang sulit di hindari." batin Savira, tangannya meremas ujung snelli yang sudah kusut.
"Fokus Aira! Hidupmu udah ribet. Jangan bikin makin ribet dengan berurusan sama dewa maut." bisik Savira mengingatkan diri sendiri agar tidak terjatuh dalam pesona sang Dewa Maut.
*
*
*
*
*
To be continued