NovelToon NovelToon
MATA TAKDIR

MATA TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Kultivasi Modern / Komedi
Popularitas:662
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Gagal naik ke Alam Dewa karena masih terikat karma fana, jiwa sang Kultivator Tertinggi terpaksa kembali ke tubuh aslinya di dunia modern sebagai Dika.

Berbekal Mata Takdir untuk membereskan hutang budi dan dendam masa lalu, Dika berniat menyelesaikan misinya dengan cepat dan diam-diam.

Namun, sebuah kesalahan takdir membuat isi hati dan keluh kesah batinnya bisa didengar jelas oleh wanita-wanita di sekitarnya!

Sanggupkah Dika menjaga wibawanya sebagai calon dewa, saat semua strategi dan gengsinya bocor lewat suara hati sendiri?

#UrbanFantasy #RomanceKomedi #KultivasiModern

#IsiHatiTerdengar #PuraPuraLemah #MantanDewa

#ZeroToHero #BenciJadiCinta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Riak Keruh di Aliran Hulu

Pagi merayap masuk ke dalam ruang rapat utama PT Megah Prakarsa melalui celah gorden venetian yang separuh terbuka. Cahaya matahari yang pucat memotong kegelapan ruangan, menyinari partikel debu yang menari-nari di atas meja kayu jati berpelitur mahal. Atmosfer di dalam ruangan itu begitu pekat, sarat akan ketegangan yang membeku laksana es di musim dingin. Di ujung meja, beberapa jajaran direksi duduk dengan raut wajah masai, sementara di hadapan mereka, seonggok tas kain kumal milik Lina tergeletak kontras di atas permukaan meja yang mengkilap.

Dari dalam tas itu, tumpukan berkas dokumen korupsi yang sebagian tepinya telah hangus dan bernoda oli bekas menyembul keluar, bersanding dengan bundelan uang tunai ratusan ribu rupiah yang tersusun berantakan.

Dika berdiri di sudut ruangan, bersandar pada pilar marmer hitam yang dingin. Postur tubuhnya tegak lurus, dagunya sedikit terangkat, menciptakan ilusi wibawa yang tak tergoyahkan seolah ia adalah seorang hakim agung dari pengadilan langit yang sedang menanti vonis duniawi. Sepasang matanya yang tirus menatap lurus ke arah jajaran direksi dengan pandangan yang dingin, acuh tak acuh, dan menyimpan sisa-sisa pendar emas purba yang lumat di balik selaput korneanya.

Namun, di balik topeng ketenangan yang megah itu, batin Dika sedang mengumandangkan kidung penderitaan yang luar biasa ngeri.

“Aduh, gusti... ini berdiri tegap begini siksaan macam apa lagi?! Pinggang gue berasa kayak disetrika dari dalem! Mana tadi malam sisa lima lembar koyo cabai di kosan udah gak mempan lagi, rasa panasnya malah bikin kulit punggung gue kayak digebukin preman pasar loak. Tolong ini bapak-bapak direktur yang perutnya maju ke depan, buruan dibaca itu dokumen korupsinya! Jangan kelamaan pasang muka sok kaget, gue udah gak kuat nahan beban hidup fana ini!”

Lina yang berdiri satu langkah di samping Dika harus meremas jemarinya sendiri kuat-kuat. Getaran batin Dika yang konyol kembali mengetuk kesadarannya, mengancam akan merusak wajah galak dan serius yang sejak tadi berusaha ia pertahankan di depan para petinggi perusahaan.

"Jadi..." Kepala Bagian Hukum perusahaan, seorang pria paruh baya berkacamata tebal, akhirnya memecah keheningan dengan suara yang bergetar tipis. Jemarinya yang gemetar membalik lembaran dokumen palsu yang selama ini digunakan Johan untuk memfitnah Dika. "Semua angka ini... pengalihan dana proyek gudang regional, semuanya dipalsukan oleh Johan? Dan Saudara Dika... sebenarnya sama sekali tidak terlibat?"

"Kebenaran bukanlah selembar kertas yang bisa kau robek lalu kau bakar di dalam tempat sampah, Tuan-Tuan," ucap Dika tiba-kira. Suaranya rendah, berat, dan bergaung dengan intonasi purba yang sanggup menggetarkan kaca-kaca jendela ruangan. "Kalian mengira telah mengubur sebuah nama di bawah tumpukan fitnah fana. Namun, di hadapan tatapan langit yang tak pernah berkedip, setiap kebohongan yang kalian pelihara hanya akan menjadi bahan bakar bagi api karma kalian sendiri."

Para direksi di dalam ruangan itu seketika menunduk, wajah mereka memerah oleh rasa malu yang bercampur dengan ketakutan gaib. Intonasi suara Dika entah bagaimana memiliki tekanan spiritual yang aneh, membuat dada mereka terasa sesak, seolah-olah mereka sedang disidang oleh entitas yang jauh lebih tinggi dari sekadar mantan karyawan kontrak yang mereka pecat secara sepihak.

Manajer HRD, seorang wanita berpenampilan angkuh yang dulu melemparkan surat pemecatan ke wajah Dika, kini meremas sapu tangannya dengan gugup. "Kami... kami atas nama manajemen PT Megah Prakarsa memohon maaf yang sebesar-besarnya, Saudara Dika. Nama baik Anda akan segera kami pulihkan di seluruh sistem korporasi. Kami juga akan menyiapkan kompensasi penuh atas kerugian materiil dan moril yang Anda alami selama ini."

Mendengar kata 'kompensasi', sepasang mata Dika yang semula dingin mendadak berkedip halus.

“NAH! Ini dia yang dari kemarin ditunggu lambung gue!” pekik batin Dika dengan sorak-sorai yang riuh laksana pesta rakyat di alun-alun kerajaan langit. “Kompensasi! Duit cash! Oh, wahai lembaran rupiah yang penuh berkah! Akhirnya gue bisa beli kaos baru yang gak ada cap pasar loaknya, terus bisa nyetok mie instan isi dua rasa soto buat satu bulan penuh! Tolong nominalnya jangan pelit ya Bu HRD, kalau bisa digitnya bikin mata dewa gue melotot!”

Lina berdehem kecil, sengaja menyenggol lengan Dika menggunakan sikutnya untuk meredam kegembiraan spiritual pemuda itu yang mulai terlalu berisik di dalam kepalanya. "Mengenai kompensasi, kami harap pihak perusahaan bisa menyelesaikannya dalam waktu 1x24 jam," potong Lina dengan nada tegas khas seorang sekretaris profesional. "Karena kerugian yang dialami Dika bukan sekadar soal uang, tapi soal waktu dan energi takdir yang terbuang sia-sia."

"Tentu, tentu. Segera kami proses hari ini juga," jawab Kepala Bagian Hukum dengan anggukan cepat, seolah takut jika mereka menunda, Dika akan melepaskan kutukan gaib ke atas gedung perusahaan mereka.

Namun, di tengah atmosfer penyelesaian yang tampak mulus itu, Mata Takdir di balik kelopak mata Dika mendadak berdenyut kencang. Denyutan kali ini tidak membawa kehangatan, melainkan rasa dingin yang menusuk, sewarna es abadi yang membekukan puncak-puncak gunung spiritual di alam atas.

Pintu ganda ruang rapat yang dilapisi kulit mahoni tiba-tiba terbuka perlahan.

Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu buatan penjahit Italia melangkah masuk. Rambutnya klimis disisir ke belakang, menyisakan beberapa helai uban di pelipis yang justru menambah kesan matang dan berwibawa. Langkah kakinya begitu tenang, konstan, dan berirama—sebuah langkah kaki dari seseorang yang terbiasa memegang kendali atas hidup dan mati ribuan orang di bawah telapak kakinya.

Dia adalah Pak Baskoro, Wakil Direktur Utama PT Megah Prakarsa, sosok yang selama ini dikenal sebagai pilar tak tergoyahkan di balik gurita bisnis perusahaan.

Saat Baskoro melangkah masuk, dunia di sekeliling Dika mendadak kembali beralih rupa menjadi monokrom. Warna-warna dinding, meja, dan wajah orang-orang di dalam ruangan luntur seketika. Di mata sang mantan dewa, yang paling menarik perhatian bukanlah jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangan Baskoro, melainkan aliran energi di sekeliling tubuh pria itu.

Seutas benang takdir berwarna ungu kelam—warna yang sama persis dengan yang dilihat Dika di sisi kuali nasi goreng tadi malam—tampak melilit erat di leher Baskoro, lalu menjalar turun ke lantai, bergerak laksana ular berbisa yang siap mematuk. Aroma busuk dari karma pengkhianatan yang pekat seketika memenuhi rongga penciuman spiritual Dika, jauh lebih tajam dan beracun daripada apa yang dibawa oleh Johan.

Dika menyipitkan matanya. Di dalam jalinan takdir yang rumit itu, ia melihat sebuah visualisasi masa lalu yang samar: Baskoro duduk di sebuah ruangan gelap, menyerahkan selembar cek berangka fantastis kepada Johan, sembari menunjuk foto Dika yang asli di atas meja dengan ujung cerutunya yang menyala.

“Hulu dari segala riak keruh ini... ternyata ada di sini,” bisik suara batin Dika, kali ini sepenuhnya dingin, tajam, dan kehilangan unsur komedinya. Keagungan seorang Penguasa Takdir yang sesungguhnya bangkit dari dalam tidurnya yang panjang. “Johan hanyalah seekor tikus kecil yang disuruh mengambil umpan. Pria di depan gue ini... dialah sang pemilik perangkap yang sebenarnya merancang kehancuran Dika yang asli demi menutupi aliran dana ilegal ke sekte bisnis di ibu kota.”

Pak Baskoro menghentikan langkahnya di ujung meja, menatap tumpukan berkas milik Johan dengan pandangan sekilas yang acuh tak acuh, sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya lurus ke sepasang mata Dika. Senyuman tipis yang sarat akan kelicikan dan kepalsuan terbit di bibirnya yang tebal.

"Ah, Saudara Dika," ucap Baskoro, suaranya terdengar ramah namun menyimpan getaran dingin yang menusuk. "Saya baru saja mendengar perihal keberhasilan Anda menangkap Johan di gudang tua semalam. Sungguh sebuah tindakan heroik yang luar biasa untuk seorang mantan karyawan kontrak. Perusahaan ini berutang besar pada Anda."

Dika tidak bergeming dari sandaran pilarnya. Ia menatap Baskoro dengan tatapan yang begitu menusuk, seolah-olah ia sedang melihat seonggok mayat berjalan yang tinggal menunggu waktu untuk membusuk di bawah terik matahari.

"Utang bumi bisa dibayar dengan perak, Tuan Baskoro," ucap Dika, nadanya datar namun setiap katanya membawa bobot takdir yang kian berat menjepit ruang udara di antara mereka. "Namun, utang langit... ia menuntut bayaran yang jauh lebih mahal. Kadang berupa runtuhnya sebuah menara kesombongan, atau hilangnya seluruh nafas kehidupan dalam satu jentikan malam."

Atmosfer di dalam ruangan rapat itu seketika drop hingga ke titik beku. Para direksi lainnya menahan napas, tidak mengerti mengapa Dika mendadak melontarkan kalimat yang begitu sarat akan ancaman terselubung kepada orang nomor dua di perusahaan tersebut.

Pak Baskoro sempat tertegun, kilat kemarahan yang pekat melintas di sepasang matanya selama sepersekian detik sebelum akhirnya ia kembali tertawa kecil, mencoba mencairkan ketegangan yang merayap. "Filsafat yang sangat mendalam, Anak Muda. Saya suka orang yang memiliki karakter kuat seperti Anda."

Namun, di balik tawa palsu itu, batin Dika menangkap bisikan frekuensi rendah dari pikiran Baskoro yang bergejolak penuh dendam: “Bocah sialan... bagaimana bisa dia selamat dari pukulan Ki Bersam? Sial, kalau dia sampai tahu keterlibatan gue dengan jaringan di Jakarta, urusannya bisa panjang. Gue harus menyingkirkan anak ini secepatnya sebelum dia menjadi duri yang lebih besar di dalam daging!”

Mendengar ancaman pembunuhan terselubung di dalam pikiran Baskoro, suara hati Dika yang asli justru kembali meronta dengan gaya konyolnya yang khas.

“Waduh, waduh! Ini bos besar kenapa auranya item banget kayak pantat wajan?! Mana di dalam otaknya udah mikirin rencana mau nyari pembunuh bayaran lagi! Tolong ya Pak Baskoro, gue ini cuma mau ngambil duit kompensasi terus pulang tidur! Jangan bikin gue terpaksa ngeluarin jentikan maut kedua deh, ini pinggang gue beneran belum sembuh dari encok tadi malam! Kalau gue dipaksa berantem lagi hari ini, gue beneran bakal pingsan di atas karpet mahal ini sambil megangin pantat!”

Lina yang menyadari perubahan situasi itu segera melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Dika seolah menjadi tameng bagi sang calon dewa yang fisiknya sedang ringkih. "Jika semua urusan administrasi sudah selesai, kami permisi keluar. Kami menanti transferan kompensasi itu sebelum matahari terbenam."

Baskoro hanya mengangguk pelan, memberikan gestur tangan yang mempersilakan mereka pergi.

Dika melangkah pergi meninggalkan ruang rapat dengan langkah yang sengaja dibuat lambat dan berwibawa, meskipun setiap tapakan kakinya di atas karpet beludru terasa seperti berjalan di atas paku panas akibat salah urat yang kian meradang. Saat pintu ganda mahoni itu tertutup di belakang mereka, menandai akhir dari babak pembongkaran korupsi Johan, Dika tahu bahwa sebuah gerbang menuju badai yang jauh lebih besar di ibu kota telah terbuka lebar di hadapannya.

1
SANG
Semangat ya thor💪👍
SANG
Sembilan belas bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Mantap, mantap banget💪👍
SANG
Cerita baru semangat baru ya dek💪👍
SANG
Ceritanya seru banget💪👍
Protocetus
jika berkenan mampir ya ke novelku Remontada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!