NovelToon NovelToon
Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Nyonya Kampung Di Rumah Megah Sang Perwira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyelamat / Menikahi tentara
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Vina, gadis desa sederhana, menyelamatkan Radit, perwira militer yang terjebak perangkap dan badai kabut di hutan perbatasan. Merasa berutang budi sekaligus kagum, Radit akhirnya membawa Vina ke kota untuk dinikahi dan tinggal bersama keluarganya yang kaya raya serta terpandang.

​Namun di rumah itu, Vina terus ditekan dan direndahkan sebagai "gadis kampung". Di tengah kejamnya intrik kasta kota dan perbedaan status sosial, sebuah rahasia masa lalu perlahan terkuak.

Akankah cinta mereka mampu bertahan diuji antara ketulusan, harga diri, dan kejamnya tatanan kasta kota?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 : Menjadi Seorang Nyonya

​Mobil jip militer milik Radit perlahan melambat dan berhenti tepat di depan pelataran mansion megah keluarga Laksmana. Vina menatap ke luar jendela dengan napas yang tertahan.

Di hadapannya, berdiri kokoh sebuah rumah yang begitu besar, jauh lebih luas daripada seluruh area pekarangan di kampungnya.

​Saat Angga membukakan pintu mobil untuknya, Vina justru mencengkeram erat jas militer Radit yang masih tersampir di bahunya. Ia melirik ke bawah, menatap kebayanya yang putih lusuh dan ujung kainnya yang sedikit terkena noda tanah kering.

​"Tuan... apakah tidak apa-apa aku masuk?" bisik Vina dengan suara yang bergetar minder. "Pakaianku kotor. Aku takut akan mengotori lantai rumahmu yang mengilat itu."

​Radit yang baru saja turun dari sisi lain, langsung berjalan memutari mobil. Tanpa ragu, pria itu meraih tangan mungil Vina yang dingin dan menggenggamnya dengan sangat erat, memberikan kehangatan yang protektif.

​"Mulai hari ini, tempat ini adalah rumahmu juga. Jangan pernah merasa takut selagi ada aku di sampingmu," ucap Radit dengan nada suara yang dalam namun sarat akan penegasan yang menenangkan.

​Vina hanya bisa mengangguk pasrah. Dengan langkah kaki yang masih terasa lemas, ia membiarkan tubuhnya dituntun oleh Radit berjalan menaiki anak tangga marmer dan melangkah masuk melewati pintu ganda mansion yang terbuka lebar.

​Namun, harapan Vina untuk mendapatkan ketenangan di rumah baru ini langsung hancur seketika.

Begitu mereka melangkah masuk ke ruang utama, Nyonya Laksmana dan Sella ternyata sudah berdiri menghadang di dekat meja kaca, seolah-olah memang sengaja menunggu kedatangan mereka sejak sore.

​"Radit! Jadi kau benar-benar nekat membawa sampah dari kampung ini ke dalam rumah Ibu?!" pekik Nyonya Laksmana, suaranya melengking tinggi memecah keheningan rumah.

Tatapan matanya menatap Vina dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan yang teramat jijik.

​Radit tidak gentar. Ia justru mengangkat tangan kirinya, menunjukkan dua buah buku pernikahan berstempel basah yang baru saja mereka urus. "Vina bukan lagi orang asing, Ibu. Dia sudah resmi menjadi istri sahku secara hukum negara."

​"Surat nikah itu tidak ada artinya bagi Ibu!" bentak ibunya dengan napas yang memburu menahan murka. "Keluarga kita tidak akan pernah sudi mengakui perempuan bau lumpur dan tidak tahu tata krama ini sebagai menantu di rumah megah ini!"

​Sella yang berdiri di samping Nyonya Laksmana ikut melangkah maju. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Vina dengan senyuman sinis yang meremehkan. "Lihat penampilannya, Tante. Pakaian putih murahan, rambut berantakan, dan wajah pucat seperti orang penyakitan. Sungguh tidak tahu malu. Dia pasti sengaja menggoda Radit di tengah hutan malam itu agar bisa kaya mendadak dan keluar dari kemiskinan kampungnya."

​Mendengar penghinaan yang begitu kejam bertubi-tubi, air mata Vina perlahan mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, mencengkeram jas Radit semakin kuat untuk menahan rasa sakit di hatinya.

​"Jaga bicaramu, Sella!" bentak Radit lantang, suaranya yang menggelegar khas militer seketika membungkam mulut gadis bergaun merah itu hingga ia mundur selangkah karena ketakutan.

​Radit kemudian menoleh ke arah koridor samping dan memanggil kepala pelayan setia di rumah itu.

"Bi Asih! Tolong antar istriku ke kamar utama di lantai dua sekarang. Bantu dia membersihkan diri dan istirahat."

​"B-baik, Tuan Muda," sahut Bi Asih yang buru-buru datang dengan wajah cemas, kemudian menuntun Vina yang berjalan terisak menaiki anak tangga.

​Setelah memastikan Vina aman di dalam kamar, Radit kembali melangkah ke ruang tengah untuk menghadapi ibunya sendirian. Tatapan matanya lurus dan tegas, khas seorang prajurit.

​"Ibu, keputusanku sudah bulat untuk menikahi Vina," ujar Radit tanpa ragu.

​Nyonya Laksmana menghela napas berat, wajahnya berkerut frustrasi. "Tapi anakku... jika kau hanya ingin bertanggung jawab tentang dirinya, kau bisa memberikan dia sejumlah uang yang banyak sebagai imbalan, kan? Tidak perlu sampai menikahinya!"

​"Ibu... ini adalah tentang harga diri seorang wanita yang sedang dipertaruhkan," tekan Radit, suaranya mulai meninggi menahan emosi. "Jika dia tidak menolongku malam itu, aku sudah bisa tiada di tengah hutan. Mungkin saja tubuhku saat ini sudah habis dimakan oleh seekor beruang, atau bahkan lebih. Coba Ibu pikirkan itu! Bagaimana aku harus berterima kasih kepadanya, sementara saat ini harga dirinya di kampung sudah tercoreng habis-habisan karena menyelamatkanku?"

​Nyonya Laksmana terenyak mendengar argumen fatal dari putranya. "Ibu tentu sangat, sangat berterima kasih kepada dia karena sudah menyelamatkanmu. Tapi, Nak—"

​"Ibu... sudah. Aku lelah," potong Radit cepat, menyudahi perdebatan yang tidak akan ada ujungnya itu. "Besok fajar aku harus segera kembali ke kamp militer untuk melaporkan diri bahwa aku sudah kembali dengan selamat."

​Tanpa menunggu jawaban lagi, Radit membalikkan badannya dan berjalan pergi, meninggalkan ibunya yang hanya bisa menatap punggung tegap sang anak dengan perasaan kesal yang tertahan.

​Sementara itu, di balik dinding pembatas ruangan, Sella berdiri menyembunyikan tubuhnya. Ia rupanya sejak tadi menguping seluruh pembicaraan panas antara ibu dan anak itu. Sepasang matanya berkilat penuh kedengkian, dan sebuah seringai licik muncul di bibirnya yang dipulas lipstik merah.

"​Aku punya rencana bagus untuk menghancurkan malam pertama mereka," batin Sella berbisik kejam.

​Di dalam kamar utama yang luas, Vina masih berdiri mematung di dekat jendela.

Pandangannya menatap kosong ke arah dinding, tenggelam dalam kecemasan atas nasibnya ke depan. Ketika pintu kamar berdecit terbuka dan Radit melangkah masuk, Vina bahkan tidak menyadari kedatangan suami barunya itu karena terlalu melamun.

​Radit berjalan mendekat, lalu berdeham pelan untuk memecah keheningan. "Maafkan aku atas sambutan ibuku dan Sella di bawah tadi. Aku akan—"

​"Tidak apa-apa, Tuan," potong Vina lirih, membalikkan tubuhnya perlahan. Ia menatap Radit dengan pandangan pasrah. "Sebenarnya... kita bisa bercerai saja setelah situasi ini mereda. Dan aku akan pergi dari sini. Jangan khawatir, aku tidak akan meminta sepeser pun uang darimu."

​Mendengar kata 'cerai' dan panggilan formal itu keluar dari bibir istrinya, kedua alis Radit seketika bertaut rapat. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Vina dengan intens.

"Tunggu, kau memanggilku dengan sebutan apa tadi?"

​Vina berkedip bingung, nyalinya mendadak ciut melihat perubahan ekspresi Radit. "T-tuan?"

​Radit melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka lalu sedikit mendekatkan wajah tampannya ke arah Vina. "Panggil aku suami. Atau... Mas suami."

​Wajah Vina seketika memerah sempurna sampai ke telinga akibat jarak yang terlalu dekat dan panggilan intim tersebut. "Tidak, Tu—"

​"Aku tidak menerima kau memanggilku dengan sebutan 'Tuan' lagi," potong Radit tidak mau dibantah, namun sorot matanya memancarkan binar jenaka.

​Vina menelan ludahnya dengan susah payah, menundukkan wajahnya yang terasa panas membara. "Mas... Suami."

​Mendengar kata itu keluar dari bibir Vina, Radit buru-buru memalingkan wajahnya, berusaha keras menyembunyikan senyum lebar yang hampir lolos dari sudut bibirnya.

Untuk menutupi kegugupannya sendiri, ia berjalan menuju ranjang dan mengambil bantal miliknya.

​"Karena aku tahu... pernikahan ini terjadi dengan begitu mendadak bagi kita berdua," ujar Radit, suaranya kembali melembut. "Aku... akan memberikan waktu untukmu. Untuk bisa menerima ini semua secara perlahan."

​Vina mendongak, memperhatikan bantal yang ada di pelukan pria itu. "Kau... mau ke mana membawa bantal itu?"

​"Aku akan tidur di sofa ruang tengah sana. Kau tidurlah di ranjang ini," jawab Radit seraya melangkah menuju pintu.

​"Ah, sebetulnya tidak perlu—"

​Tok! Tok! Tok!

​Ucapan Vina terputus seketika oleh suara ketukan pintu kamar yang terdengar sangat terburu-buru dan panik dari arah luar.

​"Radit! Tolong buka pintunya, Radit! Kau harus bantu aku!" teriak suara Sella dari balik pintu, terdengar sangat histeris. "Ibumu... ibumu tiba-tiba sesak napas dan sakit lagi! Aku minta tolong, cepat bantu aku bawa ibumu sekarang!"

1
Putri Ayu/PqxxyZ
aduh maaf banget di bab kali ini banyak typo bertebaran 😭🙏
Ris Ris.25
Semangat ya Thor🙏
Ris Ris.25
Semangat thor🙏🙏
Ris Ris.25
mana nih kelanjutannya?🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: Oke ditunggu ya kak😊
total 1 replies
Ris Ris.25
Bagus sekali Thor... semangat! 🙏
Sri Sulastri
mana lanjutannya min 🙏
Putri Ayu/PqxxyZ: huhu makasih ya kak sudah nungguin.. setiap Hari update 1 kali sehari ya biar sehat 🤣🤭 setiap jam 9
total 1 replies
Wawan
Salam kenal Vina ✍️💪
Putri Ayu/PqxxyZ: Hai kakk.. salam kenal kembali..
total 1 replies
Mustafa
Keren
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo kita lihat bersama PERWIRA GANTENG DAN BAIK
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!