NovelToon NovelToon
Benang Merah Arka

Benang Merah Arka

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Xora'

Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Pembelajaran

...----------------...

Malam setelah menghancurkan hidup Sania dan Pedro mereda, aku duduk di kursi penumpang baris kedua mobil milik keluarga kami. Sepanjang perjalanan pulang jalanan Jakarta mulai sepi, aku hanya diam. Pandanganku lurus menatap keluar jendela kaca yang gelap, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang berpendar tanpa minat sedikit pun. Tidak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutku.

Saudara-saudaraku yang duduk di sekelilingku langsung menyadari perubahan ekspresiku. Alih-alih memberikan simpati yang puitis, mereka justru mulai meledekku tanpa henti.

"Aduh, ada yang lagi patah hati nih, mukanya langsung ditekuk kayak baju belum disetrika," celetuk Kak Hendra sambil menyenggol lenganku, tawanya terdengar puas sekali.

"Makanya, Arka... kalau nyari cewek itu speknya yang bener. Jangan yang modal tampang doang tapi otaknya kosong," sahut Kak Zalya dari kursi depan, sembari sibuk memakai lipstik di bibirnya. "Lagian, lo malam ini kelihatan sok keren banget tadi. Pas di rumah nanti palingan lo nangis di pojokan kamar, kan"

"Ih, Kak Arka mukanya jelek banget kalau lagi galau!" Ellisya ikut-ikutan menimpali dari kursi paling belakang, menjulurkan lidahnya mengejekku.

Bahkan Kak Andra yang biasanya paling malas bersuara, melirikku sekilas dari kaca tengah mobil. "Baguslah kalau dia sadar. Anggap aja biaya seratus juta tadi siang itu ongkos buat bayar kebodohan lo selama setengah tahun ini, Arka."

Aku hanya mengembuskan napas pendek, tidak berniat membalas satu pun ledekan mereka. Di dalam hati, aku tahu mereka meledekku bukan karena jahat, melainkan cara khas Saudara saudara ku untuk mencairkan suasana agar aku tidak larut dalam kesedihan. Namun tetap saja, ada seikat rasa kosong yang mendadak bersarang di dadaku sebuah kekosongan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

...****************...

Hari-hari berikutnya kujalani seperti biasa. Hanya saja, perasaan kosong di dalam hati ini ternyata tidak bisa hilang begitu saja. Bahkan dengan statusku sebagai anak konglomerat yang memiliki banyak harta, ruangan megah di rumah, dan fasilitas tanpa batas, rasa hampa itu tetap tidak bisa terisi.

Hari berganti minggu, dan minggu perlahan berganti bulan. Tepat di akhir bulan Agustus, lembaran baru dalam hidupku dimulai.

Aku memulai hari pertama kuliahku. Sebagai mahasiswa baru di jurusan Teknik Informatika, aku dengan cepat menjadi pusat perhatian. Dalam waktu singkat, aku memiliki banyak teman di kampus. Tentu saja, alasan utamanya karena aku terkenal, tampan, dan memiliki banyak uang. Ke mana pun aku pergi, selalu ada sirkel yang mengelilingiku.

Namun, di titik ini, aku mulai belajar untuk serius pada hidupku sendiri. Aku tidak ingin lagi menjadi Arka yang naif, yang hanya tahu cara menghabiskan uang demi pengakuan orang lain. Aku mulai belajar dengan sangat serius tentang pelajaran pemrograman dan algoritma di jurusan kuliahku.

Suatu sore di dalam kamar, ketika aku sedang duduk di depan laptop untuk belajar membuat aplikasi pertamaku, pandanganku tidak sengaja menangkap sebuah paper bag yang tergeletak berdebu di sudut lemari pakaian. Itu adalah hadiah ulang tahun dari Rafqi dan Revan yang kutinggalkan begitu saja beberapa bulan lalu.

Aku beranjak dari kursi, mengambil tas kertas itu, dan mengeluarkan isinya. Ternyata, di dalamnya terdapat dua buah buku. Yang pertama berjudul "Cara Mengelola Uang Seperti Orang Kaya", dan yang kedua berjudul "Berperilakulah Selayaknya Manusia".

Di lembar pertama buku itu, ada selembar kertas catatan kecil dengan tulisan tangan yang agak berantakan dari Rafqi dan Revan:

> "Bukannya gue ngeledek lo dengan ngasih buku ini yaa, yaa siapa tau lu mau belajar dari buku ini. Soalnya buku ini penting banget bagi gue, makanya gue beliin buat lu. Dibaca, jangan dijadiin ganjalan pintu! – Rafqi & Revan."

Aku hanya tertawa kecil membacanya. Dadaku mendadak terasa sedikit hangat. Aku jadi teringat dulu saat aku sedang merayakan ulang tahun dan membuka hadiah-hadiah mewah, aku malah mengabaikan dan meninggalkan hadiah dari Rafqi dan Revan karena menurutku isinya kurang menarik dan tidak bermerek. Sekarang aku sadar, justru merekalah teman yang tulus memikirkan masa depanku.

...****************...

Beberapa minggu telah berlalu dengan cepat. Kini, di bulan September ini, aku mulai merasakan perubahan besar di dalam diriku. Aku mulai merubah setiap kebiasaan buruk ku yang manja dan impulsif. Aku banyak mendapatkan pelajaran hidup berharga dari buku-buku yang ku baca.

Bahkan, aku sudah menyelesaikan membaca satu buku pemberian Kak Andra yang berjudul "Cara Berpikir Menggunakan Otak". Walaupun judulnya terkesan sangat meledek dan menyebalkan khas Kak Andra, isi buku teori psikologi dan logika itu ternyata sangat bagus dan membuka cara pandangku dalam menilai diri ku sendiri dan orang lain.

Malam harinya, sekitar jam sembilan malam, kepalaku rasanya mau pecah. Aku sedang pusing setengah mati memikirkan tugas kuliah coding-ku yang terus-menerus memunculkan pesan error. Karena jenuh, aku berencana untuk keluar sebentar mencari angin segar menggunakan mobil ku.

Aku berkendara di Malam yang syahdu menuju ke daerah dekat pantai Ancol. Di sana, aku memilih bersantai sendirian di sebuah kafe terbuka di tepi pantai. Menikmati keheningan malam, ditemani oleh suara deburan ombak laut yang berkejaran dan hembusan angin malam yang dingin menusuk kulit. Di tempat sesunyi ini, rasa kosong di hatiku perlahan terasa lebih tenang.

Saat aku sedang melamun menatap kegelapan laut, tiba tiba suara nada dering ponsel di atas meja memecah keheningan. Layar ponselku menyala, menampilkan sebuah nomor asing yang tidak kukenal.

Awalnya aku mengabaikannya. Pikiranku sedang tidak ingin diganggu oleh panggilan bisnis atau salah satu teman kampusku yang ingin mengajak nongkrong. Namun, nomor itu terus menerus meneleponku berkali kali tanpa menyerah hingga membuatku jengkel.

Dengan helaan napas kasar, aku menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telingaku. "Halo, ini siapa?" tanyaku dengan nada ketus.

Suasana di seberang telepon sempat hening selama beberapa detik. Hanya terdengar suara helaan napas yang berat dan gemetar.

"Arka...?, masih Inget gue gak?"

Aku terkejut seketika. Tubuhku yang tadinya bersandar santai di kursi langsung tegap. Suara perempuan itu... pelan, lembut, dan sangat familier di ingatan terkecilku. Itu... Astrid.

"As... Astrid?" ucapku terbata bata.

Jantungku mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Rasa kaget yang luar biasa langsung menyerangku. Aku benar-benar tidak menyangka akan mendengar suaranya lagi setelah sekian lama, terutama setelah kejadian di hotel itu

Seketika, rasa canggung yang amat sangat menyergapku. Lidahku mendadak terasa kaku. Bayangan malam di hotel waktu itu, ditambah rasa bersalah karena aku telah mengambil kesuciannya, membuatku bingung harus bersikap seperti apa.

"I-iya, Strid. Ini gue. Ada... ada apa ya? Lu dapet nomor gue dari mana?" tanyaku, mencoba menutupi kegugupanku, meskipun suaranya terdengar sangat kaku.

"Kan lu yang kasih gue nomor lu sendiri pas di hotel, Ingat gak?, Ka," jawab Astrid lirih. Suaranya terdengar sangat lelah, seolah dia sedang memikul beban yang teramat berat sendirian.

"Oh... iya baru Inget hehehe," aku membuang muka ke arah laut demi mengurangi rasa canggung yang menyiksa, padahal dia tidak bisa melihatku. "Gimana... kabar lu, Strid? Kuliah lu gimana? Maaf ya, gue... gue kemarin-kemarin gak sempet ngabarin atau nanya kabar lu lagi setelah..." Kalimatku menggantung. Aku terlalu canggung untuk membahas soal hotel itu.

"Gak apa apa, Ka. gue tahu lu sibuk," potong Astrid pelan. Ada jeda yang cukup lama di antara kami. Keheningan di telepon itu terasa begitu mencekam, hanya diisi oleh suara desiran angin malam dari tempatku duduk.

Aku meremas pinggiran meja kafe, merasa semakin serba salah. "Strid? Lu masih di sana?"

"Arka..." Astrid memanggil namaku dengan nada yang berbeda. Kali ini terdengar sangat serius, tercekat di tenggorokan seolah dia sedang mengumpulkan seluruh sisa keberanian di dalam hidupnya. "Ada hal penting yang harus lu tahu."

"Hal penting? Soal apa?" tanyaku refleks, alisku bertaut erat. Rasa canggungku perlahan berubah menjadi rasa cemas yang tak menentu.

"Aku gak bisa ngomong di telepon, Ka. Kira-kira kita bisa ketemu nanti? Buat jadwal dan tempat... nanti gue yang atur. gue cuma butuh waktu lu sebentar aja," ucap Astrid dengan nada memohon yang teramat sangat.

Aku tersentak di kursi kafe. Kalimat Astrid yang begitu penuh misteri dan kepasrahan membuat bulu kudukku meremang. Pertemuan mendadak setelah berbulan-bulan tidak ada kabar, di saat dia sudah sebatang kara, benar-benar membuatku terkejut dan dipenuhi tanda tanya besar.

"Strid, lu bikin gue bingung. Gak bisa dibocorin sedikit sekarang?" desakku penasaran.

"Nanti, Ka... kalau kita udah ketemu. Tolong banget..." bisiknya lirih sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon secara sepihak.

Aku menurunkan ponsel dari telingaku, menatap layarnya yang kembali gelap dengan dada yang bergemuruh. Angin malam Ancol mendadak terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Pertemuan ini... firasatku mengatakan ada sesuatu yang besar yang akan merubah hidupku selamanya.

...----------------...

1
Atishaa
iiiii gregetannn bangettttt nanggung bangett minn, cepet' update dehh penasaran soalnyaaaa
Atishaa
cara buat malunya bener' di buat sejatuh'nya keren sih langsung di kuras hartanya
Atishaa
keren sih si arka ga langsung marah' malah nyari bukti dulu trus juga percaya sama kakanya coba kalo ga percaya pasti kena marah ayahnya gra' si arka mudah di bodohin cewek
darrel fadilasyah
bagus ceritanya 🔥🔥
Xora'
di baca guysss
Atishaa
kerenn rasaa keselnya juga adaaa
Cliff
/CoolGuy/
darrel fadilasyah
keren banget novelnya bikin penasaran 🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!