NovelToon NovelToon
Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Dewa Primordial Yang Mahakuasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Fantasi
Popularitas:168
Nilai: 5
Nama Author: DaoisttjmlCe

Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.

Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?

Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.

Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.

Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Ikan Bersisik Emas

Walaupun dia baru saja mengalami pengalaman yang ajaib, tapi fakta bahwa ikan hitam itu masuk ke dalam tubuhnya tak bisa dilupakan begitu saja. Apalagi waktu dia berpindah ke tempat aneh itu, yang semuanya adalah lautan berwarna biru gelap dengan bintang-bintang berwarna perak, kuning, dan hijau. Ikan itu juga ada di sana, berenang bahkan menyelam ke kedalaman.

"Apa tempat itu dibuat oleh ikan itu? Aneh saja rasanya tiba-tiba aku berpindah ke sana tanpa alasan yang jelas. Tapi aku memiliki satu pemikiran bahwa, aku berpindah ke tempat itu saat ikan itu masuk ke tubuhku," Rostav menunduk, menatap dadanya sendiri, dan mencengkramnya. Dia masih dapat merasakan sensasi aneh di dadanya, terutama jantungnya. Rostav menambahkan, "apa ini semua hanya kebetulan semata? Tapi kebetulan macam apa yang membuat ikan itu masuk ke tubuhku, dan beberapa saat kemudian aku dipindahkan ke tempat aneh itu? Aku tidak tahu apakah aku sedang mengalami keberuntungan, atau malah kesialan. Aku hanya bisa berharap tubuhku baik-baik saja setelah ikan itu masuk ke tubuhku."

Rostav yang khawatir dengan tubuhnya akhirnya memilih untuk menunggu dalam jangka waktu yang cukup lama. Dia hanya duduk dan berbaring di dek kapal, menghabiskan waktu setengah jam melakukan hal tersebut. Dia khawatir jika dia melakukan aktivitas yang terlalu berat, itu dapat memicu reaksi di tubuhnya, siapa yang tahu apa yang akan terjadi pada tubuhnya setelah ikan itu masuk ke dadanya? Lebih baik berhati-hati dalam bertindak.

"Sudah setengah jam berlalu, dan aku tidak merasakan apa pun yang aneh pada tubuhku. Bahkan rasa aneh di dada, terutama di jantung juga telah menghilang. Kurasa aku akan baik-baik saja. Semoga ikan hitam itu tidak berniat jahat," Rostav mendorong kedua tangannya untuk membantunya terduduk, dia menatap lautan luas dari balik pagar dan menghela napas sebelum melanjutkan, "aku sebenarnya tidak yakin di mana ikan itu setelah masuk ke tubuhku. Tapi aku hanya bisa menyimpulkan dengan kasar bahwa, kemungkinan besar ikan itu bersarang di jantungku.

"Ayolah, itu kesimpulan yang masuk akal. Tepat setelah ikan itu masuk ke dadaku, aku merasakan sensasi aneh di jantung, seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalamnya. Tidak hanya itu, setelah ikan itu masuk ke dadaku, jantungku terasa lebih dingin dan berdetak dengan lebih jelas. Jujur saja kalau pemikiranku benar, aku ingin menanyakan sesuatu... bagaimana bisa ada sesuatu yang ajaib seperti ini? Bagaimana mungkin ada makhluk yang dapat hidup di jantung makhluk hidup lainnya? Apakah ikan hitam ini adalah sebuah parasit?" tubuhnya merinding tanpa sadar saat pikirannya berimajinasi jantungnya diambil alih oleh ikan hitam ini.

Dia sekali lagi mencengkram dadanya dan menghela napas panjang. "Hah. Aku sungguh-sungguh berharap bahwa apa yang aku pikirkan sebelumnya tidak sepenuhnya benar. Kuharap ikan hitam ini tidak berniat jahat," dia mengacak-acak rambutnya dengan frustasi lalu mengambil alat pancing. Dia mematahkan roti keras menjadi bagian-bagian kecil, dan meletakkannya di kail pancing.

Melemparkannya, benang tebal berwarna perak itu meluncur dengan kecepatan tinggi, kail pancingnya terjatuh jauh di sana. Berbeda dengan sebelumnya yang memerlukan waktu hingga tiga jam tapi hanya mendapatkan ikan hitam yang penuh dengan misteri, kali ini dia hanya perlu memerlukan waktu kurang dari sepuluh menit hingga ikan memakan umpannya.

"Ya, ini dia. Aku bisa merasakan tarikannya, kali ini hasil tangkapannya pasti tinggi," Rostav segera memencet tombol, dan mekanisme mesin uap segera aktif, menarik benang dengan kecepatan tinggi. Ketika jaraknya sudah sesuai dengan jangkauannya, dia memastikan mekanisme mesin uap dan menarik ikan itu sekuat tenaga.

Ikan itu melayang di udara, ekornya meliuk-liuk, tubuhnya berusaha memberontak, menyipratkan air ke segala arah, sebelum akhirnya terjatuh, tergeletak di atas dek kapal.

"Hm, tangkapan yang bagus," mata Rostav berbinar saat melihat ikan apa yang dia tangkap. Dia mengingat-ingat informasi di buku dan bergumam, "kalau tidak salah, dari informasi di buku, ikan ini memiliki nama ikan bersisik emas. Namanya bukan sekadar julukan, karena sisik pada tubuhnya benar-benar memantulkan cahaya keemasan saat terkena sinar matahari. Konon, setiap sisiknya memiliki tingkat kekerasan luar biasa, bahkan mampu menahan goresan dari logam biasa. Karena itulah, harga sisik ikan ini lumayan mahal di pasaran. Bukan hanya karena sisiknya yang keras, tapi juga karena ikan ini sangat langka dan sangat sulit untuk didapatkan. Karena ikan ini hidup di kedalaman laut dan sangat pandai bersembunyi.

"Tapi di buku juga tertulis bahwa ikan ini bahkan memiliki nilai yang lebih tinggi jika ditemukan di Laut Mayat, karena tingkat kekerasan sisiknya entah kenapa meningkat berkali lipat di Laut Mayat. Karena itu, harga sisiknya bisa menjadi jauh lebih mahal dari sisik ikan bersisik emas biasa.

"Ikan langka ini hidup jauh di dasar perairan yang gelap dan dingin, tempat yang hampir mustahil dijangkau manusia. Beberapa nelayan tua percaya bahwa kemunculannya adalah pertanda keberuntungan, sementara yang lain menganggapnya sebagai makhluk yang membawa bencana bagi siapa pun yang mencoba menangkapnya demi keuntungan pribadi.

"Tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah ikan bersisik emas yang masih tersisa di dunia. Setiap kabar penampakannya selalu menghilang menjadi cerita, meninggalkan jejak misteri yang membuat banyak orang semakin terobsesi untuk menemukannya," Rostav mengangguk, bangga pada dirinya sendiri karena masih mengingat dengan jelas informasi di dalam buku. 'Tak kusangka aku memiliki ingatan yang cukup baik. Tidak buruk, tidak buruk.'

"Tapi, hei, lihatlah sekarang. Seorang remaja antah berantah yang hanya berniat memancing tanpa sekalipun mengira akan mendapatkan ikan langka ini, malah tanpa sengaja mendapatkannya. Sungguh, keberuntungan apa yang kumiliki?" dia tertawa dalam hati. Mengingat harga sisik ikan ini sangat berharga, dia harus menyimpannya, siapa yang tahu mungkin nanti di masa depan dia akan menemukan sebuah kota. "Tapi, walaupun begitu, rasa daging dari ikan ini lebih alot dan keras dari ikan-ikan lainnya. Mungkin itu untuk menyesuaikan sisiknya yang keras. Juga, dagingnya memiliki rasa yang hambar, dan sedikit susah untuk mengolahnya karena dagingnya yang keras. Orang-orang lebih tergiur dengan sisiknya dari pada dagingnya.

"Tapi, di tempat seperti ini, hal paling berharga adalah dagingnya. Tidak peduli dagingnya alot, keras, atau hambar, aku akan tetap mengolahnya, dan menjadikannya sebagai makanan," Rostav tanpa ragu mendekati ikan itu, menarik pedangnya dan mengangkatnya tinggi dengan kedua tangan, lalu menebas kepala ikan itu hingga terpisah dari tubuhnya.

Darah berwarna merah kental menyembur dengan derasnya, membasahi wajah dan pakaiannya. Dia ingin mengolahnya langsung di dek, alasan utamanya adalah karena dia malas mendorong ikan ini sampai ke dapur. Dan alasan lainnya adalah karena praktis, dia bisa langsung membuang kepala, organ dalam ikan ke laut. Jika dapur memiliki sebuah jendela yang dapat dibuka, dia mungkin akan mempertimbangkan untuk mengolahnya di sana, tapi karena dapur tidak memiliki jendela, dia lebih memilih untuk mengolahnya di sini.

Rostav membuang kepala ikan ke laut setelah mengambil kail pancing yang masih tertanam di mulutnya.

Karena dia tidak ingin membuang bagian paling berharga dari ikan ini, yaitu sisiknya, dia mengambil sisik ikan itu satu per satu, mencongkelnya menggunakan pedang. Sisik ikan bersisik emas bisa dibilang besar, sebesar setengah telapak tangan Rostav. Ditambah dengan ketebalan dan kekerasan sisiknya, hal itu malah membuat Rostav semakin mudah untuk mencongkelnya.

Dua puluh menit kemudian dia akhirnya selesai memisahkan semua sisik dari tubuh ikan. Dia menyeka keringat di dahinya dan bergumam setelah melihat sisik ikan bersisik emas yang telah dia kumpulkan. "Kalau ditotal, aku mendapatkan sekitar lima ratus sisik. Sangat banyak, aku penasaran berapa banyak kekayaan yang akan kudapatkan jika menjualnya," tapi, dia cukup menyadari bahwa dia barada di tengah-tengah lautan, memikirkan hal itu saat ini belum terlalu berguna. Dia juga tidak tahu informasi apa pun tentang dunia ini.

Jadi, dia akhirnya mengalihkan perhatiannya dengan mengolah daging ikan itu. Setengah jam kemudian, dia telah membersihkan ikan itu, organ dalamnya telah dia buang ke laut, dan dia juga telah memisahkan daging dari tulangnya. Kini daging ikan itu tertumpuk dengan rapi.

Rostav kemudian pergi ke ruang penyimpanan dan mengambil sebuah barel, dia mendorong barel itu hingga ke aula makan, sebuah tempat yang sangat luas dengan beberapa barel di sudut, dia mengambil satu barel lagi di sana dan mendorongnya hingga ke dek. Membuka salah satu penutup barel, dia meletakkan sisik ikan itu ke dalamnya. Setelah semua sisik ikan tersimpan, itu hanya mengisi setengah dari barel itu.

Rostav kemudian membuka satu barel lagi, dan mengisinya dengan daging. Itu mengisi setengah barel, sama dengan sisik sebelumnya, hanya saja daging ikan ini terlihat lebih banyak karena tebal, padahal aslinya jumlahnya bahkan kurang dari seratus.

Rostav mengangkat barel berisi sisik ikan terlebih dulu dan menyimpannya di ruang penyimpanan. Setelah itu dia kembali ke dek dan mengangkat barel berisi daging. Dia berjalan menuruni tangga, melewati aula makan, membuka pintu tempat banyak kamar tersedia, dan dia pun menuju ke dapur.

1
anggita
klo bisa novelnya dipromosikan Thor, biar dikenal pembaca NT.
anggita: ga pa" ijin promo aja. ditempat kami bebas. banyak kok teman" author yg promo dsini.
total 2 replies
anggita
ikut dukung like👍 iklan☝aja, moga novelnya lancar👌.
Blueria: semangat gann🔥
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!