NovelToon NovelToon
Saat Aku Berhenti Pulang

Saat Aku Berhenti Pulang

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:375.1k
Nilai: 5
Nama Author: Larasati

"Selama lima tahun pernikahan, Alina Prameswari adalah sosok istri dan ibu yang sempurna bagi suaminya, Adrian Wicaksono, dan anaknya, Arka. Namun, cintanya seperti makanan basi yang dibuang begitu saja di hadapan Vania Safira, cinta pertama Adrian yang kembali dengan alasan sakit parah.

Adrian dan Arka memilih merayakan ulang tahun Vania, meninggalkan Alina sendiri di malam ulang tahun pernikahannya. Tak hanya itu, Vania juga mengunggah foto kalung peninggalan ibu Alina yang ""dipinjamkan"" Adrian dan cangkir buatan Arka bertuliskan ""Mama"" untuk Vania.

Alina langsung mengajukan gugatan cerai. Ia meninggalkan rumah, pindah ke apartemen kecil, dan mengumpulkan bukti dengan pengacaranya. Di tengah-tengah rasa sakit itu, Alina bertemu dengan Damar Adhitama dan putranya Nara yang menolongnya saat malam hujan.

Di antara Damar yang memberinya ketenangan dan Adrian-Arka yang masih mengikat hatinya, ke manakah hati Alina akan berlabuh?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 - Istri Sah Yang Jahat

Nama Alina Prameswari mulai muncul di akun gosip pukul sembilan malam.

Awalnya hanya inisial.

A.P., istri sah pewaris grup besar, disebut meninggalkan rumah setelah cemburu pada pasien sakit yang dekat dengan suaminya.

Lalu ada foto buram.

Alina berdiri di depan rumah Damar dengan koper, hujan di sekelilingnya, wajahnya tidak terlihat jelas. Namun siapa pun yang mengenal lingkaran Jakarta Selatan tahu rumah itu milik Damar Adhitama.

Caption akun gosip itu tajam.

Katanya menggugat cerai karena suami perhatian ke wanita sakit. Tapi malamnya malah menginap di rumah duda kaya?

Komentar datang cepat.

Perempuan kalau cemburu memang ngeri.

Kasihan Vania. Udah sakit masih dijahatin.

Istri sah kok kabur ke rumah laki-laki lain?

Anaknya ditinggal juga?

Alina membaca semuanya dari apartemen barunya yang masih kosong. Ia duduk di lantai karena belum membeli sofa. Di sampingnya ada kardus berisi pakaian, laptop, dan satu gelas kopi instan.

Ia tidak menangis.

Mungkin karena lelah.

Mungkin karena ia sudah menduga ini akan terjadi.

Pesan dari Nadia masuk.

Nadia:

Jangan balas komentar. Saya sedang kirim somasi ke dua akun yang paling besar. Simpan semua unggahan.

Alina:

Sudah saya simpan.

Nadia:

Ada kemungkinan pihak sana membentuk opini untuk menekan mediasi. Kita perlu susun kronologi.

Alina menatap kata kronologi.

Hidupnya selama lima tahun memang bisa disusun menjadi kronologi.

Tanggal ketika Adrian meninggalkannya demam.

Tanggal ketika Arka ulang tahun dan Vania duduk di kursi yang seharusnya untuknya.

Tanggal ketika kalung ibunya hilang dari brankas.

Tanggal ketika Vania pertama kali mengirim pesan tanpa nama.

Tanggal ketika Adrian berkata ia tidak akan bisa hidup tanpa uang Wicaksono.

Semua tanggal.

Semua luka.

Ternyata sakit pun bisa menjadi arsip kalau seseorang cukup lama diabaikan.

Ponselnya berdering.

Damar.

Alina mengangkat. "Maaf."

Di seberang, Damar terdengar bingung. "Untuk apa?"

"Foto di depan rumahmu tersebar. Namamu terseret."

"Aku sudah lihat."

"Aku akan klarifikasi kalau perlu. Aku tidak ingin Nara ikut..."

"Alina," Damar memotong dengan tenang, "aku menelepon untuk memastikan kamu baik-baik saja. Bukan meminta penjelasan."

Alina diam.

Kalimat sederhana itu hampir membuat matanya panas.

"Aku baik-baik saja."

"Kamu terdengar seperti orang yang sedang berusaha keras baik-baik saja."

"Itu masih dihitung."

Damar tertawa kecil. "Nara marah."

"Marah?"

"Dia bilang orang-orang di internet bodoh karena tidak tahu Tante Alina kehujanan."

Alina menutup mata, tersenyum lemah. "Bilang padanya jangan baca komentar."

"Sudah. Tapi dia sempat bertanya apakah orang dewasa memang suka membuat cerita sendiri."

"Jawab apa?"

"Aku bilang iya, kalau mereka tidak punya keberanian melihat cerita yang benar."

Alina terdiam lama.

Damar tidak mendesak.

Setelah beberapa detik, Alina berkata, "Terima kasih karena semalam menolongku."

"Sama-sama."

"Dan maaf kalau..."

"Jangan minta maaf untuk keputusan orang lain memfitnahmu."

Lagi-lagi Alina diam.

Di rumah Wicaksono, jika ada masalah, ia selalu diminta memikirkan efeknya pada nama keluarga. Di sini, seseorang mengatakan fitnah bukan tanggung jawabnya.

Rasanya asing.

Rasanya hampir terlalu baik.

*****

Di rumah Wicaksono, Ratna menatap unggahan akun gosip dengan wajah gelap.

"Memalukan."

Melisa duduk di sebelahnya, matanya justru berkilat puas. "Tapi ini bagus, Ma. Orang-orang jadi tahu Mbak Alina juga tidak sesuci itu."

Adrian berdiri di dekat meja bar, membaca komentar dari ponselnya. Wajahnya tidak menunjukkan banyak ekspresi, tapi jari yang menggenggam ponsel terlihat kaku.

"Siapa yang menyebarkan foto ini?" tanyanya.

Melisa mengangkat bahu. "Mana tahu. Mungkin tetangga Damar."

Ratna mendengus. "Apa pun itu, Alina sendiri yang pergi ke rumah pria lain. Kalau tidak mau digosipkan, jangan melakukan hal yang mengundang gosip."

Adrian tidak menjawab.

Ia memperbesar foto.

Alina berdiri di bawah hujan dengan koper kecil. Damar di dekat mobil, Nara memegang payung. Foto itu diambil dari sudut yang sengaja membuat Damar dan Alina tampak dekat, sementara Nara hampir terpotong.

Adrian menatap anak kecil di sudut foto.

Kenapa akun itu memotong Nara?

Pertanyaan itu muncul cepat, lalu ia tekan.

Vania duduk di sofa, wajah cemas. "Aku sedih sekali melihat komentar-komentar itu."

Melisa menoleh. "Kamu yang diserang duluan, Van. Wajar kalau orang membelamu."

Vania menggeleng. "Tapi aku tidak ingin Alina dihujat. Bagaimanapun, dia istri Adrian."

Ratna menghela napas. "Kamu terlalu baik."

Adrian menatap Vania.

Terlalu baik.

Kalimat itu dulu selalu ia percaya.

Malam ini, entah kenapa, ia teringat rekaman sekolah.

Tante juga keluarga Arka, kan?

"Vania," kata Adrian tiba-tiba, "kamu tahu siapa yang mengambil foto itu?"

Wajah Vania membeku sepersekian detik.

Melisa langsung berkata, "Mas, kamu curiga Vania?"

"Aku bertanya."

Vania menunduk, mata mulai merah. "Aku tidak tahu. Adrian, kamu pikir aku..."

Ratna memotong, "Adrian, jangan keterlaluan. Vania seharian menjaga Arka."

Adrian diam.

Arka turun dari tangga sambil memegang boneka dinosaurus. "Pa, orang-orang bilang Mama jahat?"

Semua orang terdiam.

Adrian menyimpan ponsel. "Kamu baca dari mana?"

"Tante Melisa tadi ngomong."

Melisa tampak panik. "Aku nggak bilang ke dia, Mas. Dia dengar sendiri."

Arka menatap Adrian. "Mama jahat karena tidur di rumah Om Damar?"

Vania segera mendekat. "Arka, jangan pikirkan itu."

Arka memandangnya. "Tante Vania bilang kalau sayang, orang tetap tinggal. Berarti Mama nggak sayang aku?"

Vania pucat.

Adrian menatapnya.

Kali ini, Vania tidak bisa berpura-pura tidak pernah mengatakan apa pun. Anak itu mengulang terlalu jelas.

"Aku..." Vania menggeleng. "Aku hanya berusaha menghibur Arka."

Adrian tidak menegur.

Tapi tatapannya berubah.

Dan Vania melihatnya.

*****

Keesokan paginya, akun gosip yang sama mengunggah lanjutan.

Kali ini, ada potongan video Vania di rumah sakit, duduk lemah di kursi roda. Caption-nya menyebut Vania sebagai wanita sakit yang tetap berusaha menyayangi anak suami orang, sementara istri sah memilih kabur.

Alina menonton video itu sekali.

Lalu ia membuka folder bukti.

Nadia menelepon beberapa menit kemudian. "Mbak, kita bisa diam dulu atau keluarkan klarifikasi terbatas."

"Kalau diam, mereka akan memakai Arka."

"Benar."

"Kalau klarifikasi, mereka akan bilang saya menyerang orang sakit."

"Juga benar."

Alina menatap layar laptopnya. Di sana ada rekaman CCTV sekolah, tangkapan layar Story Vania, pesan nomor tidak dikenal, foto kalung ibunya, dan file transfer Adrian untuk apartemen Vania.

"Bu Nadia," kata Alina, "saya tidak mau perang komentar."

"Lalu?"

"Saya mau kronologi."

Nadia terdengar tersenyum. "Itu lebih baik."

Alina membuka dokumen kosong.

Judulnya:

Kronologi Kejadian dan Bukti Terkait Proses Perceraian Alina Prameswari - Adrian Wicaksono.

Ia tidak menulis dengan emosi.

Ia menulis tanggal.

Ia menulis fakta.

Ia menulis bukti.

Pada hari ulang tahun pernikahan, suami membawa anak menemui Vania Safira dan memberikan barang peninggalan ibu kepada Vania.

Pada tanggal berikutnya, Vania mengunggah foto hadiah dengan caption yang menimbulkan kesan keluarga.

Pada hari sekolah, Vania memberi catatan kepada Arka yang membuat anak menganggapnya bagian dari keluarga inti.

Pada malam Alina meninggalkan rumah, Damar Adhitama dan putranya memberikan pertolongan karena Alina berada di luar rumah dalam kondisi hujan.

Tidak ada kalimat cengeng.

Tidak ada makian.

Tidak ada seruan agar orang memihak.

Hanya fakta yang disusun seperti pisau di atas meja.

Nadia membaca draf itu melalui dokumen bersama.

"Mbak yakin ingin memasukkan kalung?"

"Ya."

"Itu akan menyentuh emosi publik."

"Bagus."

"Dan transfer apartemen?"

"Sensor nominal lengkap, tapi tampilkan pola."

"Baik."

Alina berhenti menulis ketika sampai bagian Arka.

Anaknya masih kecil.

Ia tidak ingin menjadikannya bahan konsumsi publik.

Setelah berpikir lama, ia menulis:

Untuk melindungi anak, detail percakapan anak tidak akan dipublikasikan. Namun bukti lengkap telah diserahkan kepada kuasa hukum.

Ia menatap kalimat itu.

Ia masih melindungi Arka.

Meski Arka belum mengerti.

Meski dunia mungkin tidak peduli.

*****

Sore itu, klarifikasi Alina diunggah melalui akun pengacaranya, bukan akun pribadi.

Bahasanya rapi.

Dingin.

Tidak menyebut Vania sebagai pelakor.

Tidak menyebut Adrian sebagai suami jahat.

Tapi setiap lampiran bicara lebih keras daripada makian.

Foto kalung ibu.

Screenshot Story Vania.

Bukti apartemen.

Potongan CCTV sekolah yang disensor wajah anak-anaknya.

Foto asli malam hujan yang memperlihatkan Nara memegang payung dan jarak Damar dari Alina.

Publik berbalik dalam hitungan jam.

Jadi dia ditolong anak kecil juga?

Kalung ibu dikasih ke perempuan lain? Gila.

Kenapa anaknya dibiarin manggil tante sebagai mama?

Yang sakit belum tentu yang paling tersakiti.

Di apartemen kosongnya, Alina mematikan ponsel setelah melihat cukup banyak.

Ia tidak merasa menang.

Kemenangan tidak terasa seperti duduk sendirian di lantai apartemen tanpa kasur.

Tapi setidaknya, malam itu, untuk pertama kalinya, cerita tidak hanya ditulis oleh orang yang melukainya.

Di rumah Wicaksono, Adrian membaca klarifikasi itu sampai selesai.

Ketika foto kalung muncul, ia berhenti lama.

Ia baru sadar satu hal yang seharusnya ia sadari sejak awal.

Alina tidak pernah meminta banyak darinya.

Bahkan benda terakhir dari ibunya pun ia gagal jaga.

1
Fi Fin
tadinya ku berharap lina jadian sama damar eeeee tau2 hamil anak riven makin ga jelas ceritanya
Emily
Dulu merasa berkuasa dan berfikir Alina gak akan melawan..
ternyata di luar ekspektasi
Emily
Adrian mau aja di goblokin vania
Runi Hardaningsih
cape baca nya, tapi benar benar benar
Santi Seminar
kapan bikinnya woy,belum nikah pula🤔
Santi Seminar
katanya kata2 adalah doa,kapan kata2 Vania terkabul tidak akan melihat dunia lagi
Santi Seminar
ini kapan Vania nya kena karma ,sih aman2 wae wong iku😡
Santi Seminar
lha Bimo Kuwi sopo Jan jane
An'ra Pattiwael
biar zj vania mampus
Yati Syahira
rasain sekaran andrian ,lakor zerta cs mulai kalang kabut
Yati Syahira
rasain lakor
Yati Syahira
bagus alina
Yati Syahira
korban dari seorang laki yg arogan dan lakor licik
Yati Syahira
pelakor licik lakinya murahqn
Yati Syahira
rasain laki egois demi lakor
Yati Syahira
lakor licik mainin peran
Yati Syahira
lakor jahat lakinya bodoh
Yati Syahira
jijik lihat pasangan munafik ,alina sdh tepat amvil langkah
Yati Syahira
jijik ama adrian
Yati Syahira
jgn luluh alina cuma di jadiin babu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!