Elleanor puteri Duke Penguasa Kegelapan telah dikutuk sejak dia lahir. Tapi anehnya, dia bisa melihat masa depannya sendiri sejak masih bayi. Dia melihat takdirnya yang terabaikan. Lahir tanpa kasih sayang membuatnya tumbuh menjadi antagonis yang kehidupannya berakhir tragis di tangan pria yang dicintainya.
Takdir seperti itu tidak bisa membuatnya tinggal diam. Dia akan mengubah cerita masa depannya. Apapun yang terjadi!
©A&Y original
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A&Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Begitu pelayan membuka pintu kamarku, Papa sudah beridri di sana. Dia seperti pangeran tampan yang muncul dari buku dongeng saja. Jik ada nominasi pria paling tampan di negara Saturia, aku pasti akan memvoting Papa berkali-kali. Aku malah curiga Papa meminum rauman awet muda, dia tidak keliahtan seperti Ayah beranak satu.
Papa menyambutku dengan senyum tipisnya yang khas. Ya, dia tidak mungkin bisa tersenyum lebar seperti kebanyakan orang. Jika dia bisa melakukan itu, munhgkin saja julukan ‘iblis’ dalam dirinya akan hilang, dan berganti ‘malaikat’. Meski begitu, aku mulai mengerti bagaimana perasaan Papa yang sebenarnya, ekspresinya yang datar Ketika marah, senang dan sedih, aku mulai bisa membedakannya.
“Puteriku sangat Cantik.” Ucap Papa seraya mengulurkan telapak tangannya untuk menggandengku menuju ballroom.
“Papa juga tampan 😊”
“Darimana kau belajar kata-kata seperti itu?” Tanya Papa, aku tau dia sedang menggodaku.
“Ehehehe, Ela mendengarnya dari orang.”
“Benarkah? Apa Ela sudah banyak belajar kosakata aneh belakangan ini?”
“Tidak. Ela hanya menyerap apa yang Ela dengar saja.”
“Baiklah, jika ada waktu Papa akan memberikan setumpuk buku bacaan untuk menambah kosakatamu.”
“Tidak mau. Ela lebih suka membaca dongeng kesatria daripada membaca buku pelajaran.”
“Memangnya Papa mengatakan ingin memberikanmu buku pelajaran?”
“Tidak. Ahhh, Papa memang yang terbaik, Papa tidak akan menyuruh Ela membaca buku-buku tebal itu kan?”
“Untuk sekarang tidak.”
“Humm. Ela Tarik lagi kata ‘terbaiknya’.”
Papa hanya terkekeh melihat ekspresi cemberutku. Tapi aku senang, Papa tidak pernah memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kusukai. Tapi, soal pelajaran, ada masanya Papa bisa tegas padaku. Ya, menjadi puteri duke memang tidak hanya sekedar pintar membaca, tapi aku juga harus mengerti apa yang Namanya attitude bangsawan dan ilmu pengetahuan lain. Saat ini usiaku masih 5 tahun, jadi semua pelajaran yang kudapat setara dengan usiaku, tapi banyak yang memujiku karena aku cepat menangkap apa yang mereka ajarkan. Jika kelak aku masuk ke akademi, aku pasti akan cepat lulus. Hohoho.
Lorong castil timur menuju castil utama memang cukup Panjang, tapi tidak akan terasa kalau berjalan sambil mengobrol dengan Papa.
“Papa, Ela ingin punya teman.”
“Teman? Apa Ela merasa kesepian di istana ini?”
“Tidak. Hanya saja, Ela ingin teman seumuran Ela, yang bisa bermain. Ela ingin bermain kejar-kejaran di taman, lalu bermain ayunan bersama.” Dalam ingatan masa depanku yang kelam, aku terkurung sendirian. Tentu saja, sekarang aku ingin seseorang yang bisa tumbuh bersama denganku. Dan orang itu, sudah ada dalam rencanaku.
“Baiklah, kalau begitu, Papa akan mencarikan teman untuk Ela, barangkali ada puteri bangswan yang seumuranmu.”
“Papa, sebenarnya Ela sudah punya satu.”
“Siapa?”
“Putera Lent, apa Ela boleh berteman dengannya?”
“Putera Florent?” Papa sedikit mengernyit.
“Apa Ela merasa nyaman berteman dengannya?” Tanya Papa.
“Tentu saja.” Papa menatapku, dia seperti melihat sesuatu dari ekspresiku.
“Apakah Ela mengkhawatirkan sesuatu?” Benar, aku khawatir dia tidak mau berteman denganku karena aku sudah merebut kasih sayang Florent. Tapi aku tidak bisa mengatakannya pada Papa.
“Sebenarnya, pagi ini Ela bertemu dengannya. Ela memanggilnya kakak. Bukankah Florent menyayangi Ela seperti puterinya sendiri. Bolehkah Ela menganggapnya keluarga?”
Papa tersenyum tipis, apa artinya Papa setuju?
“Apa Papa perlu menyuruhnya tinggal di sini?”
“Bolehkah?” Mataku benar-benar berbinar.
“Bagaimana kalau dia menjadi teman sekaligus kesatria Ela?”
“Tapi dia masih kecil?” Aku tidak mengerti.
“Papa akan tanyakan, apa dia bersedia atau tidak. Jika iya, maka dia akan memulai latihannya disini.”
“Terima Kasih. Ela sayang Papa 😊.”
Kesatria keluarga Duke memang yang terbaik hampir setara dengan kesatria kekaisaran. Untuk seleksi masuknya saja tidak semua orang bisa lolos, bahkan dari kalangan bangsawan tingkat tinggi sekalipun. Aku benar-benar merasa tersentuh karena permintaanku barusan Papa dengan sukarela melatih putera Florent menjadi kesatria. Tapi, keputusan ini ada ditangan anak itu, aku tidak tau apakah Valiant tertarik atau tidak dengan penawaran tersebut. Jika Valiant setuju, aku tidak hanya mendapat teman. Tapi aku punya kesatria pelindungku sejak kecil, bukankah ini menakjubkan?
Akhirnya, kami sampai di lantai atas ballroom. Aku benar-benar takjub, ada ratusan orang di bawah. Ini pertama kalinya dalam hidupku melihat manusia sebanyak itu berkerumun untuk menyambutku. Astaga, aku merasa keringat dinginku hampir keluar. Tapi, Papa seperti mengerti perasaanku, dia semakin erat menggandengku.
“Jangan takut, Papa disampingmu.”
“Uhm.”
Kamipun menuruni satu persatu anak tangga, semua orang sontak memberi salam hormat dan terpukau dengan kedatangan kami. Dua objek yang menjadi poros malam ini.
“Selamat atas peringatan ulang tahun puteri Anda yang ke-5 tahun Tuan Duke yang terhormat.” Aku tidak pernah melihat orang ini, tapi yang jelas dia adalah bangsawan yang cukup berpengaruh, buktinya dia berani datang mendekati Papa.
“Terima kasih sudah datang.”
“Salam Tuan Duke, salam Nona Muda.” Seorang wanita bangsawan yang tampak berpenampilan mencolok datang menemui kami, dia memegang kipasnya dengan gestur menggoda. Apa ini yang Namanya instuisi seorang wanita? Apa dia berusaha menggoda Papaku?
“Tuan Duke, perkenalkan Saya adalah Mercya puteri dari Count Benoit. Senang bertemu dengan Anda Tuan Duke, ternyata Anda lebih tampan daripada yang saya dengar.”
Benar kan? Dia berusaha merayu Papaku. Tidak mau. Aku tidak mau wanita ini dekat-dekat dengan Papa, dia seperti ular yang sedang mencari mangsanya. Dia bilang apa tadi? Puteri Count Benoit? Kenapa aku baru pernah mendengarnya? Apa keluarga itu tidak terkenal ya?
“Silahkan menikmati pesta Anda Nona.” Ucap Papaku datar, dia berusaha pergi dari tempat itu, tapi lagu dansa sudah diputar.
“Tuan Duke, apa Tuan Duke tidak berkenan mengajak saya berdansa.”
“Tidak. Aku hanya akan berdansa dengan puteriku.”
Bagus Papa, pertahankan ekspresi Papa yang dingin itu. dia benar-benar cukup pemberani untuk sekelas wanita, bahkan lalat pun enggan menghampiri Papa karena takut. Tapi, dia merelakan harga dirinya untuk menggoda Papaku.
Papa menarik tanganku menuju center dansa, sekarang, kami benar-benar akan menjadi pusat perhatian.
“Lihat, dia puteri Tuan Duke?”
“Iyaa, seperti boneka hidup ya,”
“Ada rumor yang mengatakan kelahirannya ditutupi karena wajahnya yang buruk rupa.”
“Sekarang rumor itu salah, lihatlah dia sangat manis.”
Ya, para bangsawan seperti biasa, mulai bergosip dan memperhatikan. Mereka suka menelan mentah-mentah rumor sebelum memastikan kebenarannya. Sekarang terbukti kan, kalau aku tidak seburuk itu.
“Papa kenapa Papa sangat tinggi?” Aku sampai menengadah untuk melihat wajah Papa, tentu saja apa yang diharapkan dari bentuk fisik bocah umur 5 tahun? Aku hanya sepinggang Papa, bahkan kurang dari itu. Bisa dibilang aku ini imut nan mungil. Aku tidak bisa menyamai Langkah Papa, tapi Papa memperlambat gerakannya. Tangan Papa yang hangat menggenggamku erat, agar aku tidak jatuh saat berputar. Papa benar-benar seperti sosok Ayah sejati. Mereka yang memperhatikan pasti tidak akan mengira sosok dingin yang dijuluki ‘iblis perang’ bisa menjadi sosok hangat yang menjaga betul-betul puterinya agar tidak terjatuh di pesta dansa, agar dia bisa menyamai langkahnya dan agar dia merasa nyaman dengan pandangan orang lain yang tengah menatapnya.
Akhirnya lagu pertama selesai diputar. Saat lagu pertama selesai, barulah semua orang boleh menikmati pesta dansa diputaran lagu kedua dan seterusnya. Karena sesuai adat, lagu pertama dikhususkan sebagai pembuka, dan hanya boleh dilakukan oleh pemilik pesta atau Tuan rumah. Nah, begitu selesai Papa langsung menuntunku menuju kursi khusus yang sudah disiapkan, bisa dibilang singgasana di rumah Duke.
Apa pesta memang seperti ini? hanya melihat orang-orang berdansa, menikmati hidangan dan membalas orang-orang yang satu persatu datang untuk memberikan ucapan. Menurutku, ini cukup membosankan. Aku sepertinya, memang tidak terlalu suka keramaian.
“Papa, Ela ingin makan cemilan di sana, bolehkah?”
“Huum, pergilah.”
Aku menuju tempat dimana aku merasa tertarik sejak tadi. Melihat ada begitu banyak cemilan dan salah satu makanan favoritku, keju. Air liurku benar-benar hampir menetes melihat aneka hidangan dari keju, pancake keju, dessert dengan toping keju, bahkan ada éclair yang biasanya berisi krim vanilla tiba-tiba isi keju?! Apa, Papa sengaja menyuruh juru masak untuk membuat banyak olahan keju? Jika bisa digambarkan mataku sudah hampir penuh oleh keju dan keju.
(Apa kau sebahagia itu karena makanan, bocah?)
Eh, suara ini tidak asing. Ya, siapa lagi kalau bukan makhluk yang tinggal di kalungku. Dia suka muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba juga.
“Kenapa tiba-tiba muncul begitu. Semalam kau sibuk mengabdi di kuil suci.”
(Ya, hari ini aku ingin bersantai sejenak. Kalau aku terlalu sering datang ke kuil, bisa-bisa dewa bosan denganku.)
“Mana ada dewa yang bosan pada umatnya. Kau ini aneh sekali.”
(Hohoho. Apa yang kau makan itu?)
“Kenapa bertanya? Memangnya Kau mau memakannya?”
(Tidak. Aku hanya penasaran karena baru pertama kali melihatnya.)
“Apa dijamanmu tidak ada éclair?”
(Humm aku hidup berabad-abad yang lalu. Tidak ada yang Namanya hidangan mewah apalagi pesta seperti ini.)
“Wah. Tua sekali umurmu ya. Kalau begitu kau benar-benar tinggal di kalung ini selama itu?”
(Ya. Karena tidak ada yang mewariskanku pada manusia setelah itu. Jadi aku hanya bisa menjaga wilayah kekuasaan dari dalam batu)
“Kasihan kau pasti bosan. Apa di dalam batu ada semacam kamar? Apa ada tamannya juga? Kau pasti bosan kalau tidak ada apapun di sana.”
(Kau sedang melawak ya bocah? Tentu saja, di dalam batu hanya ada ruang hampa, aku berdiam sambil mengabdi pada dewa. Karena sekarang aku bebas, aku bisa pergi ke kuil suci kapanpun aku mau.)
“Oh. Apa hanya aku yang bisa melihatmu?”
(Tentu saja. Kau tidak sadar mereka memperhatikanmu sejak tadi. Kau bicara sendiri.)
DAMN. Apa-apaan itu? kenapa baru bilang sekarang?! Dasar Spirit putih berhati hitam. Dia malah menghilang setelah mengatakan itu. Apa beberapa bangsawan itu melihatku seperti orang yang aneh? Aku bicara sendirian sambil memegang éclair yang baru kumakan setengah.
“Nona Muda Darcey, selamat atas ulang tahun Anda. Saya Odella Caradawg, merasa terhormat bertemu dengan Anda Nona 😊”
Wanita yang baru saja menghampiriku sepertinya berusia sekitar 18 tahun, dia baru menginjak usia dewasa, tapi mari kita lihat ada maksud apa dia menyapaku. Ya tentu saja, aku tidak boleh terlalu berpikiran negative pada wanita yang mendekatiku, tapi karena kelakuan si Mercya tadi membuatku merasa harus lebih hati-hati agar tidak ada yang berani merayu Papaku lagi.
“Terima Kasih Nona Caradawg, Saya senang Nona bersedia datang di pesta ulang tahun saya.”
“Nona Anda benar-benar manis, dan sangat dewasa. Kesannya sangat berbeda antara Nona dan Tuan Duke. Saya jadi tidak segan untuk menyapa Nona Darcey, apa Nona tidak keberatan?”
“Tidak, Saya merasa senang bisa berbincang dengan Nona Caradawg.” Sepertinya wanita ini memang hanya sebatas ingin menyapa, karena setelah itu dia meminta ijin untuk Kembali bergabung dengan wanita seusianya. Ya, aku sendirian lagi dan Kembali menikmati hidanganku, sampai aku benar-benar merasa bosan dan Kembali duduk di samping Papa.
Tiba-tiba datanglah seorang pria berambut putih seputih salju dengan mata biru secerah langit. Dia tidak sendiri, dia datang dengan membawa seorang gadis kecil berambut perak yang sangat cantik. Dia mendekati kami dan tersenyum lebar. CLING…CLING. Apa-apaan barusan? Apa dia malaikat yang baru saja turun dari langit?
“Wah Silau…sekali.”
Anehnya, begitu sampai di hadapan Papa. Siapa pria ini? dia tidak terlihat sungkan menatap mata Papa. “Kawan lama, apa kau sudah lama menungguku?” Dia bahkan bicara secara informal pada Papa. Dan mengulurkan tangannya pada Papa
“Duke Carlos Laurence, kau mengatakan padaku kau sibuk mengurus wilayahmu.” Papa bangkit dari kursinya dan langsung membalas uluran tangan pria itu.
Duke Carlos Laurence? Nama yang tidak asing. Ah, aku ingat. Bukankah pria itu yang ada dalam salah satu lukisan di kamar Papa. Di dalam lukisan, Papa dan Pria ini tampak memegang pedang mereka masing-masing dan anehnya meski di lukisan mereka tampak sama-sama dingin, tapi dikenyataan tampak begitu akrab. Apa pria ini Duke Wilayah Delmont di Selatan? Daerah yang didominasi oleh pegunungan bersalju dan biasa dijuluki kutubnya Saturia. Benar, dia adalah Duke paling ditakuti peringkat ke-2 setelah Papa.
“Ya, aku memang sibuk tapi sayang sekali kalau aku melewatkan pesta ini. Aku penasaran bagaimana wajah puteri yang berhasil meluluhkan hati si ‘iblis’ ini.” Pfft. Lihatlah, mata Papa hampir lepas karena ucapan Duke Laurence barusan. Duke Laurence menatap ramah kearahku. Aku langsung memberi salam dengan sopan padanya.
Wah, benar-benar diluar dugaan. Ternyata memang benar, iblis sekalipun pasti punya yang namanya teman. Aku masih terkesima dengan ketampanan musim dingin Duke Laurence. Seperti boneka salju yang berjalan. Tapi karena ketertakjuban itu sampai lupa kalau sedari tadi ada orang lain yang tengah memperhatikan. Gadis kecil itu yang seumuran denganku. Anak bungsu Duke Laurence, Aceline Cavendish Laurence. Mataku dan matanya bertemu. Apa yang terjadi? Dia—baru saja tersenyum ramah. Wuahhh. Apakah aku akan kena penyakit mata karena terlalu sering melihat wajah malaikat?
“Ah benar, kali ini aku datang dengan puteri bungsuku. Setelah mendengar puterimu juga berusia 5 tahun. Puteriku bersemangat sekali untuk ikut.”
“Beri salam pada Duke Darcey.”
“Perkenalkan Saya Aceline Cavendish Laurence. Senang bertemu dengan Anda Tuan Duke dan Nona muda Darcey.” Wahh, dia benar-benar sopan. Dia bahkan yang memulai perkenalannya.
Papa tersenyum tipis membalasnya. Ya, jangan berharap senyum Papa akan lebar. Itu mustahil. Sekarang giliranku memberi salam dengan ramah. “Saya Elleanor Violette Darcey. Saya juga merasa senang bertemu dengan Tuan Duke Laurence dan Nona muda Laurence.” Balasku tidak kalah sopan dan anggun. Baru pertama kali bertemu dengannya aku merasakan aura nyaman dan kecocokkan.
“Wah, lihat kedua anak kita sepertinya cepat akrab.” Ujar Duke Laurence.
“Aceline apa kau menyukai Nona Elleanor?” Tanya Duke Laurence
“Uhm, Nona Elleanor sangat manis.”
Lihat, si wajah malaikat baru saja mengatakan aku manis. Astaga. Mukaku pasti sudah merah seperti tomat. “Terima kasih, Nona Aceline juga sangat cantik seperti malaikat.” Aku tidak kalah memujinya. Giliran wajahnya yang memerah seperti tomat.
“Lihatlah, puterimu sangat manis dan kelihatan dewasa. Berbeda sekali dengan Ayahnya.” Lagi-lagi Duke Laurence menggoda Papa. Dan Papa hanya diam saja tapi tatapannya mengintimidasi.
“Halo Nona Elleanor, selamat atas perayaan ulang tahun Anda.” Ucap Tuan Duke ramah.
“Terima kasih Tuan Duke, uhm apakah Tuan Duke teman Papa?”
“Ya, bisa dibilang begitu.”
“Kalau begitu, panggil Saya Elaine.” Ya, itu nama panggilan untuk orang yang kupikir sedikit akrab tapi tidak akrab sekali. Karena untuk orang-orang terdekatku panggilan ‘Ela’ lebih khusus lagi.
“Nona Elaine?”
“Uhm. Akan lebih nyaman dengan itu.”
“Baiklah. Nona Elaine, Saya membawakan hadiah dari pegunungan selatan. Apa Nona muda bersedia menerimanya?” Duke Laurence mengulurkan sebuah batu putih yang mirip permata tapi sepertinya bukan.
“Ini Namanya batu Ardeen, batu ini hanya bisa ditemukan di selatan.”
“Apa fungsinya?” Tanyaku.
“Jika di musim dingin kami akan menggunakannya untuk menghangatkan tubuh. Sekarang, cobalah Nona menggosok-gosokkan batu tersebut di kedua tangan Nona.”
Aku menuruti intruksi Duke Laurence. Wah, ajaib, badanku terasa lebih hangat daripada sebelumnya. “Wah, benar-benar manjur.”
“Tentu saja, semoga Nona Elaine menyukai hadiah Saya.”
“Terima kasih Tuan Duke Laurence.”
“Nona boleh memanggilku Paman.” Duke Laurence mulai bicara informal padaku, sepertinya dia mulai merasa akrab.
“Baiklah, sekali lagi terima kasih atas hadiahnya Paman Duke.”
Sekarang aku berubah pikiran, aku merasa senang dengan adanya pesta ini. jika tidak ada pesta ini, aku mungkin tidak akan bertemu dengan Paman Duke Laurence dan puterinya. Aku tidak akan mengerti bagaimana kehidupan bangsawan yang sebenarnya, mereka saling berbaur di dalam pesta. Walaupun itu semua hanya sekedar formalitas semata. Tapi aku bisa melihat Duke Laurence memiliki hubungan persahabatan yang cukup erat dengan Papa.
Ya, setelah itu malam pun menjadi semakin panjang. Kami berempat menghabiskan waktu untuk mengobrol. Lebih tepatnya, mendengar Papa dan Duke Laurence saling berdebat tentang masa muda mereka. Duke Laurence lebih banyak bicara pengalaman, dan Papa lebih banyak menyangkal. Ini seperti pertandingan debat antara kubu Es dengan Iblis api. Baiklah, biarkan saja mereka bernostalgia.
Sementara itu, aku mencoba lebih dulu mengajak Aceline bicara, mengenai hobi yang dia sukai. Pada akhirnya, kami menjadi lebih akrab meski baru pertama kali bertemu.
***
tbc...
Suka dengan ceritanya? jangan lupa klik ❤...xie xie...