Seperti boneka, Lilyana merasa hidupnya diperalat keluarganya untuk kepentingan bisnis. Diminta bertunangan dengan Dave demi bisnis lalu tiba-tiba diminta putus karena tunangannya dituduh berkhianat terhadap perusahaan keluarganya.
Lily merasa inferior karena kelainan jantung bawaan yang dideritanya. Sejak orang tuanya meninggal, ia bersusah payah dengan segala keterbatasannya membangun kepercayaan diri, memperjuangkan cintanya dan membebaskan sengketa warisan dan perebutan kekuasaan di perusahaan keluarganya.
Akankah keberuntungan selalu berpihak padanya? Apakah ia mampu mengembalikan kedamaian dan kejayaan keluarganya? Bagaimana pula akhir kisah cinta segitiganya dengan seorang arsitek yang romantis dan petani sukses yang penuh semangat?
JANGAN LUPA DUKUNG LILY DENGAN LIKE dan VOTE yaa 😍😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wisata Budaya dan kebun kopi
Perjalanan pertama pagi ini adalah menuju goa kutamaneuh guna menelusuri salah satu jejak petilasan prabu Siliwangi sang penguasa pasundan di sukabumi selatan. Mobil melaju ke arah utara melewati jalan aspal yang hanya bisa dilintasi 2 mobil saja. Rutenya pun berkelok-kelok lewat perkebunan, hutan dan sedikit perkampungan penduduk. Mereka menikmati saja perjalanan itu dengan ngobrol santai.
Setelah hampir satu jam perjalanan, pajero itu berhenti di sebuah tanah lapang yang digunakan untuk tempat parkir. Selanjutnya perjalanan menuju goa dilakukan dengan melintasi jalan setapak.
Alamak, kasihan sekali raja-raja jaman dahulu kala. Raja besar penguasa agung tanah pasundan kalau hidup di jaman sekarang pasti sudah naik mobil sport dan tidak mungkin harus sembunyi di tempat terpencil seperti ini. Oh iya, Lily lupa kalau dulu transportasi paling keren hanya kuda. Jalan setapak pun tidak masalah buat kuda.
Ini pengalaman pertama Lily melintasi jalan setapak . Sepanjang jalan setapak yang ditemui orang-orang berpakaian lusuh dan telanjang kaki sedang melakukan beragam aktivitas. Ada yang angon kambing. Ada ibu-ibu bertopi caping yang bercengkrama sambil memasukan hasil panen umbi-umbian dalam bakul. Ada gadis tanggung yang lewat membawa belanga. Ada juga bapak-bapak yang sedang mencangkul lahan pertaniannya.
“Permisi.” selalu kata itu yang diucapkan kang Asep yang berjalan di depan ketika melintasi orang-orang kampung itu.
Mereka menjawab dengan kata “Mangga, bade ka goa kutamaneuh, kang?”
“Nuhun.”
Mereka tampak ramah berbasa basi. Baru kali ini Lily blusukan lewat jalan setapak sekecil ini. Setiap orang yang ditemui dan disapa kang Asep selalu menatapnya dengan tertegun, menghentikan aktivitasnya, dan melemparkan senyum sambil menundukan kepala. Lily membalas senyum ramahnya. Setelah rombongan lewat mereka berbisik dengan sesamanya lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. Entah apa yang dibicarakannya. Kalau dulu putri Campaka –anak prabu Siliwangi- yang terkenal sangat cantik itu pernah mampir ke tempat ini, barangkali orang-orang kampung itu akan melakukan hal yang sama.
Suasana pedesaan begitu asri di sepanjang jalan setapak yang dilewatinya. Dida dan mbak Gea sejak tadi sigap mengambil gambar dengan kamera video dari sisi depan maupun belakang rombongan. Pak Dani juru kunci goa sibuk menerangkan sejarah bagaimana goa itu ditemukan, orang-orang yang datang ke situ dan berbagai cerita lain layaknya seorang tour guide.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka ke bukit karang dimana goa itu berada. Ada 2 patung harimau di sisi kanan dan kiri anak tangga naik menuju pintu goa. Mereka ambil gambar sebentar di depan goa itu. Benar-benar tidak ada yang menarik bagi Lily. Entah bagian mana yang disebut Asep sebagai spot instagramable. Bentuknya hanya berupa goa kuno yang sederhana dan kurang terawat. Anak-anak tangga pun tampak kotor oleh sampah dedaunan. Beberapa sampah plastik juga tampak bertebaran di sekitar situ.
Bulu kuduk Lily sudah tergidik ketika sampai di mulut goa. Di dalam sangat gelap. Mereka harus bawa obor, senter atau penerangan lain agar dapat melihat jalan karena goa itu bukan bunker buatan manusia yang bentuknya los. Ada bebatuan stalaktit dan stalaknit di atas maupun dibawah goa yang kalau tidak hati-hati dapat mencelakai
pengunjung. Sebenarnya Lily urung memasuki goa karena takut dan jijik melihat kondisi sekitar. Namun rasa penasaran seperti apa kamar-kamar dan mata air di dalamnya yang katanya bertuah itu membuatnya mengurungkan niat buat mundur. Dia memilih posisi aman di tengah rombongan sehingga ada yang membantu dari depan, belakang, atas dan bawah apabila terjadi sesuatu yang membahayakan keselamatannya. Selain gelap dan luas goa yang tidak merata, ia takut kalau-kalau ada ular, kelelawar, kecoa atau binatang buas maupun binatang menjijikkan lain mengganggunya di dalam goa.
Semakin ke dalam, suasana semakin gelap. Kadar oksigen juga sepertinya berkurang, terutama ketika lewat lorong sempit dimana mereka harus jalan dengan membungkuk agar kepalanya tidak terbentur batu yang menggantung tajam di atasnya.
Goa Kutamaneuh pernah jadi tempat persembunyian Jonny Indo yang dikenal sebagai Robbin hood
Indonesia sekitar tahun 1979. Goa yang memiliki luas sekitar 1,2 hektare tersebut, ratusan tahun sebelumnya juga merupakan tempat persembunyian Raja Pajajaran Prabu Siliwangi. Dalam goa ini memiliki sembilan lubang yang berbentuk seperti ruangan atau kamar-kamar. Kesembilan ruangan tersebut dulunya merupakan tempat peristirahatan keluarga Hyang Prabu Siliwangi. Sekarang kamar-kamar itu digunakan sebagai tempat tirakat atau bersemedi bagi sebagian peziarah yang mempunyai hajat tertentu.
Setiap langkah, Lily mengiringinya dengan doa agar selamat dari segala marabahaya. Apapun pantangan yang dikatakan juru kunci ia taati. Dalam hati ia bertekat, ini adalah tur pertama dan terakhir mengunjungi goa batu. Rasa takut dan jijik menghantuinya sepanjang tur memasuki goa itu. Lily bahkan sempat terpeleset batu licin ketika
di dalam goa. Untung mbak Gea cekatan segera menangkap tubuhnya hingga tidak sampai terjatuh.
“Terima kasih, mbak Gea.”
“Hati-hati, Non. Pegang terus tangan saya”
Lily mengangguk dan memastikan pada rombongan lainnya kalau ia baik-baik saja. Perjalanan pun
dilanjutkan.
Perjalanan berakhir di mata air dekat kamar yang paling besar. Mereka semua sempat cuci tangan, membasuh muka dan rambut sesuai petunjuk kuncen. Konon air itu mengandung banyak mineral yang baik buat kesehatan juga bertuah mengabulkan hajat orang yang datang dengan kebutuhan spiritual tertentu.
Lega rasanya, Lily akhirnya bisa keluar goa itu dengan selamat.
“Bagaimana Lily? Apa kamu baik-baik saja?” sapa Siska setengah meledek. Ia tahu Lily pasti sangat ketakutan. Wajah sahabatnya itu terlihat sangat pucat.
Lily mengangguk.
“Apa kamu punya hajat yang disampaikan di dalam tadi?”
“Aku berdoa sepanjang berada di dalam goa supaya selamat dari segala marabahaya. Sumpah, aku takut. Kalian jangan pernah ajak aku ke dalam goa lagi.”
Siska tertawa.
“Lihat Lily, kang Asep! Kasihan sekali dia. Dia sangat ketakutan. Seharusnya kita tidak usah ajak dia masuk tadi”
Asep trenyuh juga melihat paras puteri saljunya jadi pucat pasi begitu. Beruntung ada banyak kurcaci yang menemaninya di sini. Kalau saja tak banyak kurcaci yang dibawanya ikut ke sini, pasti dia bisa cari-cari perhatian sedikit pada sang puteri sesuai modifikasi cerita dalam otaknya. Mungkin pelukan hangat bisa meredam
rasa ketakutannya.
Ya ampun, Asep. Bisa-bisanya membayangkan memeluk mesra sang puteri di tengah para kurcaci lain. Kenapa pikiranmu jadi mesum begini. Asep segera mengalihkan pikirannya ke hal lain sambil melangkah menyusuri jalan setapak untuk kembali ke tempat parkir mobil tadi.
“Non Lily mau tahu apa doa saya saat di goa tadi?” tanya Gea yang biasanya jarang bicara.
Lily tak menjawab. Ia terlalu sibuk menghentak-hentakan kakinya ke tanah. Tampaknya dia risih sekali dengan sepatunya yang basah dan tampak menebal dengan banyak lapisan tanah yang menempel pada alasnya.
“Kamu berdoa apa, Gea?” malah Siska yang merespon pertanyaan dengan pertanyaan juga. Penasaran.
“Saya berdoa semoga Tuhan mengabulkan apapun permintaan nona Lily,” jawab Gea malu-malu.
“Kalau begitu doa kita sama, Gea,” seru Siska dan Dida bersamaan.
Siska, Dida dan Gea tertawa lalu saling menepukan tangan kanannya satu sama lain. Tos.
“Kok bisa sama ya doa kita. Bapak juga berdoa dengan doa yang sama,” pak Kalim senyum-senyum heran kenapa mereka bisa berpikiran sama tanpa koordinasi lebih dahulu.
Siska dan yang lain mengajak pak Kalim tos juga.
“Ini benar-benar aneh. Berarti goa itu benar-benar bertuah menyatukan pikiran kita. Jangan-jangan kang Asep juga berdoa dengan doa yang sama,” celetuk Siska
“Hai, kang Asep. Cuma anda yang belum cerita apa doa anda ketika di dalam goa tadi,” teriak Gea penasaran.
Asep tersenyum tengil seperti biasa. “Mau tahu apa mau tahu banget nih?”
“Mau tahu banget,” kata siska sewot.
“Aku berdoa supaya kopiku dapat nomor di kompetisi Rio nanti.”
Mereka kecewa, berharap Asep berpikiran sama dengan mereka.
“Tapi bohong,” sambar Asep kemudian
Gadis-gadis itu kecuali Lily memberondong Asep dengan pukulan manja karena kesal merasa dipermainkan.
“Ayo dong jujur. Katakan apa doa kang Asep.” Semua berharap Asep juga berdoa dengan doa yang sama.
“Ayo ngomong dong, kang Asep berdoa apa.”
“Iya. Jujur dong, kang.”
Asep malah tertawa-tawa. Dia membiarkan semua penasaran apa doanya. Padahal dalam hati ia punya banyak doa, salah satunya supaya bisnis kopinya makin maju dan berharap semoga modifikasi cerita dongeng puteri salju yang jatuh cinta pada salah satu kurcaci itu jadi kenyataan. Tentu saja kurcaci beruntung itu adalah Asep
Sumarna Prawatasari. Ha ha ha….
Jujur sempat terlintas juga doa serupa dengan ke empat kurcaci itu. Entahlah, seperti ada sesuatu yang menggiring pikirannya bahwa nasib Lily akan serupa dengan dongeng puteri salju. Dia akan jadi sasaran pembunuhan ibu tirinya yang jahat. Karenanya, ia juga berdoa untuk keselamatan Lily dari apapun mara bahaya yang mengancamnya. Tapi ia tak ingin memberitahu itu karena takut muncul pikiran sesat yang mengkultuskan goa itu. Walaupun aroma mistik bisa dirasakan rombongan itu. Pasti ada sesuatu yang mendorong 5 kurcaci melantunkan doa yang sama buat seorang Lilyana Wirajaya Halim. Bukan sebuah kebetulan. Tapi mereka tak boleh percaya goa itu bertuah hingga sampai ke level menduakan Tuhan. Berdoa itu meminta pada Tuhan dimana pun kita berada. Mengunjungi goa semata-mata hanya wisata budaya yang perlu dilestarikan supaya orang-orang tidak lupa hikayat pasundan. Jadi, biarlah hanya dia dan Tuhan yang tahu isi doa-doanya.
Sesampainya di tempat parkir mobil, Dida buru-buru membuka kap bagasi mobil. Ia mengambil kain lap dan sandal untuk Lily.”Non Lily perlu ganti pakaian?”
“Nggak. Tolong siapkan sandal, tissue basah dan cairan antiseptic aja. Kakiku bisa jamuran kalau dibiarkan lama-lama lembab begini.”
Dida buru-buru menyiapkan apa yang diminta Lily. Gadis itu mencopot sneakernya, melap kaki dan bagian bawah celana jeans yang basah dengan kain. Dida membantunya melakukan hal yang sama pada kaki sebelah kiri majikannya itu. Setelah cukup kering, kakinya dilap lagi dengan tissue basah sebelum dioleskan cairan antiseptic.
Asep baru tahu, ternyata merawat kaki cantik cukup merepotkan. Ajaibnya para kurcaci itu tampak begitu ikhlas membantu majikannya. Tercermin dari sigap kerjanya, perhatiannya dan harapan yang dipanjatkannya dalam bentuk doa tadi. Mereka benar-benar orang yang setia dan tulus mencintai majikannya itu. Sungguh menakjubkan.
Sementara Dida dan Gea sibuk mengurusi kaki majikannya, Asep, Siska dan pak Kalim ngopi di warung seberang tempat parkir. Mereka membeli buah nangka utuh untuk oleh-oleh dan menikmati makan gorengan sambil ngobrol dengan penjaga warungnya.
“Mau ngopi nggak Ly?” Siska berteriak menawarkan kopi pada Lily yang duduk di seberang jalan.
Lily menggeleng. Dida menegaskan dengan berteriak tidak pada Siska. Lily tak terlalu suka kopi, apalagi gorengan pinggir jalan yang biasanya banyak minyaknya. Di mobil Dida sudah menyiapkan air mineral, teh tawar, buah-buahan dan pisang kepok rebus untuk camilan Lily. Ia tahu betul majikannya tidak bisa makan sembarangan begitu.
Perjalanan dilanjutkan menuju kebun kopi pak Ramli –salah seorang mitra binaan- yang didampingi oleh Asep sejak 5 tahun lalu. Kebun pak Asep ini terletak di dataran tinggi sekitar 2300 mdpl. Luasnya semula hanya 2 hektar tapi sekarang sudah bertambah 3 kali lipat. Kebun pak Ramli ini salah satu kebun percontohan untuk bibit kopi unggulan hasil persilangan kopi Jampang dengan beberapa jenis kopi arabika lainnya yang oleh Asep dinamakan kopi cinta sukabumi.
Sepanjang jalan Asep terlibat berdiskusi dengan pak Kalim tentang budidaya kopi dan pengetahuannya tentang pemuliaan tanaman.Sesekali Siska ikut menimpali obrolan kedua laki-laki itu. Lily hanya jadi pendengar. Begitupun Dida dan Gea. Saking asyiknya kedua asisten yang duduk di kursi paling belakang itu mendengarkan,
mereka sampai terkantuk-kantuk seperti anak kecil dibacakan cerita dongeng sebelum tidur.
Sampai di kebun salah satu mitra binaan kang Asep, rombongan itu disambut ramah sang pemilik kebun. Namanya Pak Ramli. Usianya belum terlalu tua, sekitar 30-an. Dia bersedia berbagi pengalaman dan tak keberatan dengan kamera video yang dibawa Lily.
“Wah, saya malah senang sekali kalau dimasukan VLOG, neng. Siapa tahu jadi viral, mendadak terkenal lalu diundang wawancara di TV-TV.” komentar pak Ramli sambil tertawa.
Tidak hanya orang kota, orang kampung pun sudah teracuni otaknya dengan vlog-vlog viral yang membuat orang cepat terkenal. Lily mengarahkan Gea untuk menempatkan tripod dengan angle terbaik saat wawancara dengan pak Ramli, Asep dan pak Kalim di kebun. Sementara Dida memegang kamera berbeda sambil mencari angle yang lain.
Suasana kekeluargaan dan sambutan ramahnya membuat Lily merasa sangat nyaman. Isteri dan keluarga pak Ramli ikut bergabung kemudian. Rupanya mereka telah menyiapkan makan siang dengan lauk pepes ikan mas, sayur asam, sambal, petai dan ikan asin jambal roti. Mereka makan siang lesehan dengan menggelar tikar di tengah kebun. Rasanya nikmat sekali. Senang sekali menikmati makanan sederhana di tengah perkebunan seperti ini. Lily kagum mendengar cerita jatuh bangun pak Ramli dalam usaha perkebunan kopinya.
Benar-benar pengalaman pertama blusukan ke kampung-kampung seperti ini membuat Lily menemukan dunia yang berbeda dari apa yang dilihatnya sejak kecil. Ada kebahagiaan yang tak dapat dituliskan dengan kata-kata.
wawasann kerennnn, mantapp
sayangg yg bacaa nya msih sdkittt..
smangat kaa..