CINTA ITU MANIS
CINTA ITU PAHIT
CINTA ITU HAMBAR
CINTA ITU INGIN TERUS BERJUANG
CINTA ITU TIDAK EGOIS
CINTA ITU INGIN DI MENGERTI
CINTA ITU PENGORBANAN
CINTA ITU HASRAT UNTUK MEMILIKI DAN MENGIKAT
CINTA ITU MELELAHKAN TAPI PENUH CANDU
CINTA ITU SELALU INGIN BAHAGIA
APAKAH SEMUA BISA MAYA DAPATKAN DARI SEORANG PLAYBOY BERNAMA REYNALDI
SIMAK NOVEL INI SAMPAI END
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinderella zaman now
Kamar 4 * 4 yang bercak putih dan berlantai keramik ini terlihat sangat sederhana hanya ada beberapa barang. Sebuah TV LCD berukuran 14 inci menempel di dinding 2 buah lemari plastik ukuran sedang dan sebuah meja kecil dengan kipas angin duduk berukuran sedang.
Mata Maya berkeliling mengitari kamar kontrakan yang sudah tujuh bulani menjadi tempat tinggalnya selama ini .
"Beda banget," bisik nya pelan .
"Apanya yang beda May?" tanya Laras yang sedang tiduran .
Maya ikut merebahkan tubuhnya di lantai tanpa alas, bagi Maya tidur di lantai keramik dan hanya menggunakan tangan sebagai penyangga kepala adalah yang paling nyaman hal ini sesuai dengan cuaca Jakarta yang panas .
"Ah nggak Kak bukan apa-apa," jawab Maya .
"Oh ya dek, gimana pertemuan mu dengan Om itu? apakah benar dia ayahmu?" tanya Laras.
"Iya benar Kak," jawab Maya .
"Terus bagaimana perasaanmu?" tanya Laras.
"May butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan keluarga Papa," jawab Maya.
"Iya pelan - pelan aja dek" saran Laras.
"Sepertinya Om itu baik May," sambung Laras.
"Iya semoga,"
krik.
Bunyi nada pesan masuk dari hp Laras, Laras mulai memeriksa notifikasi di Hpnya, Maya memiringkan tubuhnya ke samping di ambilnya kartu debit pemberian Papanya.
Dia memegang kartu debit itu, dipandangnya lekat-lekat kartu yang diberikan Papanya kartu itu menjadi salah satu bukti bahwa takdirnya telah berubah.
"Kak" Panggil Maya kepada Laras yang tiduran di sampingnya tangan Laras sibuk menggeser-geser layar HP.
"Hem...."
"Kakak percaya nggak sama cerita Cinderella?" tanya Maya matanya masih menatap kartu yang ada di tangannya.
"Itu kan cuma dongeng May," jawab Laras masih asyik dengan hp-nya.
"Gimana ya kak, kalau hidup Cinderella zaman sekarang?" bisik Maya seakan bicara dengan dirinya sendiri .
"Yang jelas, dia nggak pakai sepatu kaca tapi pakai sepatu breand terkenal, yang jelas dia enggak naik kereta labu tapi naik mabil sport dan dia nggak ketemu penyihir jahat tapi ketemu dengan tante-tante matre. Satu lagi dia nggak bertemu dengan pangeran tampan berkuda nan setia tapi ketemu sama Playboy gila ha....ha....ha," celoteh Laras diiringi tawanya.
Maya ikut tertawa tapi tawanya hambar, ia membalikkan tubuhnya ke arah Laras sehingga badan mereka saling berhadapan .
"Kak Laras, apa yang kakak nggak suka dari May," tanya Maya.
Pertanyaan yang mengusik keasyikan Laras dengan hp-nya, di tatapnya wajah Maya lekat-lekat .
"Kakak nggak suka senyum kamu," jawab Laras.
"Emang kenapa kak?" tanya Maya dengan mata membulat.
"Senyummu itu menghanyutkan," jawab Laras.
Maya memandang Laras tanpa mengerti apa arti ucapan sahabatnya ini.
"Kak Laras, bisakah kita berjanji untuk terus bersahabat walaupun hidup kita berubah tapi persahabatan kita gak akan pernah sekalipun berubah," pinta Maya.
"Janji," sahut Laras sambil mengangkat jari kelingkingnya dan Maya melakukan hal yang sama mereka berjanji dalam kaitan kelingking.
...----------------...
Pagi ini seperti janjinya pada Aldo, selesai shalat subuh Maya pulang ke rumah papanya. waktu masih menunjukkan pukul 06.35 saat Maya turun dari taksi tepat di depan pintu masuk pagar rumah papanya.
Dengan mengenakan celana Jogger paint warna coklat tua kaos putih polos yang di padu dengan kardigan rajut warna biru Dongker .
Maya menekan bel sesaat kemudian pintu pagar terbuka secara otomatis kemudian Maya masuk .
Tampak seorang satpam memberi hormat dengan sopan dan dari baju seragamnya tertera nama Kusno .
"Assalamualaikum Pak Kusno " kata Maya mengucap salam.
Pak Kusno sempat tertegun sejenak menerima salam dari Maya.
"Waalaikumsalam, selamat pagi Non," Pak Kusno menjawab salamnya.
Maya berjalan menyusuri jalan yang membelah halaman depan rumah papanya, sepanjang jalan menuju rumah mata Maya di manjakan dengan pemandangan taman yang asri dengan hijaunya pepohonan yang tertata rapi dan terawat .
Ada banyak tanaman bunga hias warna-warni yang berjejer di kanan kiri jalan ditambah suara kicau burung .
"Indah," desahnya.
Dia menghirup napas dalam-dalam, rasanya benar benar segar di tambah lagi wangi aroma bermacam bunga.
"Aaauuw....!" teriak Maya sambil memegang kepalanya .
Dia merasa ada benda keras yang membentur kepalanya, Maya mengusap-usap kepalanya dengan wajah tertunduk.
"Sorry," suara itu mengagetkannya tapi dia tetap masih sibuk mengusap-usap kepalanya yang terkenal sebuah bola basket .
"Kamu baik-baik sa - " tanya suara cowok itu yang ternyata Reynaldi.
Belum sempat Reynaldi menyelesaikan pertanyaannya, wajahnya dibuat terkejut dengan cewek yang ada di depannya yang ternyata adalah Maya si SPG. Maya mengangkat wajahnya.
"Kamu?" tanya Reynaldi sambil matanya membulat.
Wajahnya yang tadinya cemas berubah jadi kaget setelah melihat Maya yang terkena bola.
"Gila! berani juga nih cewek matre datang ke sini," batin Reynaldi dalam hati .
Sementara Maya diam mulutnya terbuka sedikit melihat cowok yang ada di depannya adalah Reynaldi sahabat kakaknya .
"Ada perlu apa Lu datang ke sini?" tanya Reynaldi dengan nada sinis , di tatapnya mata Maya dengan tajam .
Di tatap seperti ini membuat Maya kikuk dia menundukkan wajahnya tatapan Reynaldi membuatnya tidak nyaman.
"Ng...nggak,"jawab Maya pelan.
"Lu mau mencari Aldo?" tanya Reynaldi memancing Maya .
"Kesempatan nih buat gue buat cari tahu tentang niat cewek matre ini," bisik Reynaldi dalam hati.
Maya menatap Reynaldi.
"Ganteng sih tapi galak," gumamnya dalam hati.
"Kenapa ya, banyak cowok ganteng yang aku temui beberapa hari ini. Apa emang orang-orang kaya itu ganteng ganteng dan cantik-cantik semua," Maya membatin sambil tersenyum.
"Ngapain lu senyum, ngetawain gue lu!" bentak Reynaldi membuat Maya seketika mengatupkan bibirnya.
"Hey, Lu mau ngapain ke sini? mencari Aldo?" tanya Reynaldi dengan suara agak keras.
Belum sempat Maya menjawab tiba-tiba ada suara memanggil namanya .
"May!" panggil suara itu yang ternyata suara Aldo.
Ada senyum mengembang di bibir Aldo yang berlari kecil menghampiri Maya. Maya tersenyum tipis melihat Aldo Sementara Reynaldi hanya diam mematung.
"Baru sampai?" tanya Aldo sambil merangkul Maya.Tidak ada jawaban dari Maya dia hanya mengangguk.
"Papa nunggu kamu di teras samping," kata Aldo .
Maya mengangguk sebentar kemudian Maya meninggalkan kedua cowok itu. Aldo menatap Reynaldi dia bisa membaca dengan jelas wajah penasaran Reynaldi. Aldo mengambil bola yang tadi mengenai kepala Maya lalu,
Buuk .
Di lemparnya bola basket di tangannya ke arah kepala Reynaldi .
"Aaauuw ... si**"l**!" teriak Reynaldi sambil mengumpat.
"Makanya jangan bengong ha... ha...." Aldo berlari menjauh sambil tertawa puas.
Reynaldi mengambil bola basket dan berlari mengejar Aldo .
"Apa yang membuat cewek itu berani datang kesini bahkan tidak tampak sungkan sedikitpun . Dan kenapa dia nggak ngenalin gue karena kejadian di mall itu? dia nggak ngenalin atau pura-pura nggak kenal gue?"
bisik Reynaldi. Dia benar- benar di buat kesal dengan kehadiran Maya.
...Jangan mudah membenci seseorang bisa jadi di waktu yang akan datang kau mencintai nya lebih dari dirimu sendiri. ...
..._Reynaldi_...
Uda mulai muncul benih " asmara nih 🤭
Rey datang buat nyelametin maya