Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Di sebuah vila tersembunyi yang terletak di perbukitan hijau Sentul, suasana malam terasa begitu sunyi dan mencekam.
Tempat ini adalah salah satu safe house dengan sistem keamanan tingkat tinggi milik Deacon.
Setelah menempuh perjalanan darurat yang menegangkan dari Jakarta, Jonas akhirnya bisa mengunci pintu gerbang besi vila tersebut rapat-rapat.
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang tengah yang luas, Angela tidak bisa lagi menahan rentetan pertanyaan yang sejak tadi berkecamuk di dalam kepalanya.
Ia menghentikan langkah Jonas dengan menyentuh lengan pria itu.
"Kenapa kita pindah ke sini? Ada apa sebenarnya, Jonas? Dari tadi di mobil kamu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku!" tanya Angela dengan nada suara yang bergetar penuh kepanikan, menuntut penjelasan atas aksi pindah paksa di tengah malam buta ini.
Jonas menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badan, menatap lurus ke dalam sepasang mata Angela yang sembap.
Jonas tahu, menyembunyikan kenyataan pahit ini justru akan membahayakan mereka semua.
"Kedua kakakmu. Andre dan Riko, mereka telah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Papa kamu, Ngel," jawab Jonas dengan nada suara yang rendah, dingin, dan tanpa keraguan sedikit pun.
Deg.
Dunia Angela seolah runtuh seketika mendengarnya.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa sesak.
"Ngg-nggak mungkin. Mereka kakak-kakakku, Jonas! Mereka tidak mungkin sekeji itu pada Papa!"
"Mereka gila harta, Angela. Mereka memalsukan tanda tangan Om Darren untuk mencairkan warisan, dan sekarang mereka ingin melenyapkan Om Darren agar mendapat warisan dobel tanpa ada jejak," lanjut Jonas, memaparkan fakta logis yang didapat dari ayahnya, Deacon.
Angela mendadak kelu. Langkah kakinya terasa berat saat ia berjalan perlahan menuju ambang pintu kamar tamu tempat ayahnya dibaringkan.
Dari balik celah pintu yang terbuka sedikit, Angela menatap wajah Darren yang sudah tertidur lelap di atas ranjang kamar tamu.
Pria paruh baya itu tidur sembari masih memeluk guling basahnya, dengan sisa-sisa guratan kesedihan dan linglung yang tercetak di wajah tuanya.
Air mata Angela menetes dalam keheningan malam di Sentul.
Ia tidak pernah menyangka, dua orang yang sedarah dengannya kini menjelma menjadi monster yang siap mengirim ayah kandung mereka sendiri ke alam baka.
Rasa benci dan penyesalan kini bergolak menjadi satu di dalam dada Angela.
Sementara itu, di pinggiran Jakarta, kegelapan malam menyelimuti rumah sederhana milik Jonas.
Tiga bayangan hitam bergerak dengan senyap, melompati pagar halaman belakang tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Mereka adalah para eksekutor bayaran utusan Riko, lengkap dengan pakaian hitam-hitam dan penutup wajah.
Dengan keahlian terlatih, salah satu dari mereka mencongkel selot jendela samping.
Klik.
Jendela terbuka, dan ketiga pria berdarah dingin itu menyelinap masuk ke dalam ruang tengah yang gelap gulita.
Pemimpin eksekutor menarik sebilah pisau taktis berkilat, sementara rekannya telah menyiapkan jarum suntik berisi dosis fatal yang akan membuat kematian target terlihat seperti serangan jantung murni.
Mereka bergerak cepat menuju kamar tidur utama dan kamar tamu, siap mengeksekusi Darren Bramantyo yang mereka kira sedang terlelap di sana.
Brak!
Pintu kamar didobrak dengan sentakan kuat. Mereka langsung mengarah ke atas ranjang dan bersiap menghujamkan serangan. Namun, gerakan mereka seketika terhenti di udara.
Di bawah temaram cahaya senter taktis mereka, kasur itu kosong melompong.
Selimutnya terlipat rapi, dan tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali.
Mereka memeriksa kamar mandi, lemari, hingga ke kolong tempat tidur, namun hasilnya nihil. Rumah itu benar-benar telah dikosongkan.
"Sial!! Kemana mereka?!" umpat sang pemimpin eksekutor dengan suara tertahan, matanya berkilat penuh amarah di balik penutup wajahnya.
Ia menyentuh seprai tempat tidur, meraba bekas bantal, dan menyadari bahwa suhu di ruangan itu sudah mendingin.
"Target sudah pergi sejak beberapa jam yang lalu! Informasi kita bocor!"
"Bos, lihat ini," panggil salah satu anak buahnya sambil menunjuk ke arah meja dapur. Di sana, sebuah gelas bekas susu hangat milik Angela masih sedikit tersisa, namun selain itu, tidak ada barang berharga atau dokumen yang tertinggal.
Sang pemimpin mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga urat-uratnya menonjo.
Gagal mengeksekusi target berarti reputasi mereka dipertaruhkan, dan Riko pasti akan mengamuk.
"Cari di sekitar area ini! Mereka tidak mungkin pergi jauh tanpa kendaraan!"
Mereka tidak pernah tahu bahwa pelarian Darren dan Angela telah diatur secara presisi oleh Deacon dari belahan bumi lain.
Sementara para pembunuh itu kebingungan di rumah yang kosong, Darren sudah mendengkur aman di bawah perlindungan ketat safe house Sentul.
Di mansion mewah Bramantyo, ponsel Riko yang diletakkan di atas meja kaca tiba-tiba bergetar hebat.
Riko dengan cepat menyambar ponsel tersebut, berharap mendengar kabar bahwa ayah kandungnya telah tiada.
"Bagaimana? Sudah beres?" tanya Riko tanpa basa-basi, suaranya berbisik penuh ketegangan.
Namun, suara parau di seberang telepon justru memberikan jawaban yang membuat darah Riko seketika berdesir dingin.
"Target tidak ada. Rumahnya kosong melompong sejak beberapa jam sebelum kami tiba. Seseorang telah memindahkan mereka, Tuan Riko. Informasi Anda bocor."
"Sialan! Bagaimana bisa kosong?!" bentak Riko setengah berteriak, tidak mampu lagi menahan kepanikannya.
"Kalian ini pembunuh bayaran profesional atau amatir, hah?! Cari mereka sampai dapat!"
Riko membanting ponselnya ke atas sofa dengan napas memburu.
Wajahnya pucat pasi, keringat dingin mulai bercucuran membasahi pelipisnya.
Andre yang sejak tadi duduk santai sembari menikmati cerutunya langsung menegakkan tubuh.
Melihat ekspresi adiknya yang ketakutan, ia tahu ada yang tidak beres dengan rencana mereka.
"Ada apa, Riko? Kenapa wajahmu seperti melihat hantu?"
"Rencana kita gagal, Kak! Rumah mahasiswa bernama Jonas itu sudah kosong!" seru Riko sambil berjalan mondar-mandir dengan gelisah.
"Papa dan Angela sudah kabur. Seseorang yang memiliki kekuatan besar pasti sedang membantu mereka di belakang layar. Kalau si tua itu sampai sembuh atau dilindungi oleh pihak hukum, kita berdua bisa membusuk di penjara atas kasus pemalsuan dokumen dan percobaan pembunuhan!"
Mendengar hal itu, Andre perlahan meletakkan cerutunya ke asbak.
Matanya menyipit tajam, memancarkan aura kelicikan sekaligus kekejaman yang mendalam.
Ia menyadari bahwa posisi mereka sekarang sedang terancam jika Darren berhasil mengumpulkan kekuatannya kembali bersama Angela.
"Kita harus segera menemukan lelaki tua itu!" tegas Riko dengan urat-urat leher yang menonjol, menatap kakaknya dengan penuh tuntutan.
"Sebelum semuanya terlambat, kita harus melenyapkannya dengan tangan kita sendiri kalau perlu!"
Andre terdiam sejenak, memikirkan segala konsekuensi dan jaringan koneksi yang mereka miliki untuk melacak keberadaan Darren.
Perlahan, Andre menganggukkan kepalanya dengan mantap, menyetujui kepanikan adiknya.
"Kamu benar. Si tua itu tidak boleh dibiarkan berkeliaran," ucap Andre dengan suara yang terdengar begitu dingin dan kejam.
"Kerahkan seluruh anak buah kita di perusahaan dan sewa informan jalanan. Ke mana pun si tua gila itu pergi membawa gulingnya, dia tidak akan bisa bersembunyi lama di kota ini."
Dua bersaudara itu kini mulai terbakar kepanikan, tanpa menyadari bahwa pergerakan mereka justru semakin mempercepat runtuhnya takhta palsu yang baru saja mereka kuasai.