Dikhianati kekasih dan juga sahabat sendiri adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Gea Anastasya. Gadis 24 tahun itu sangat syok melihat secara langsung pengkhianatan dari dua orang yang sangat ia percayai.
Rasa kecewa Gea membuatnya mati rasa terhadap pria manapun, sampai akhirnya ia tak sengaja bertemu dengan Duda anak satu yang berhasil mematahkan janji Gea pada dirinya untuk tidak membuka hatinya kepada siapapun.
Mau tau cerita selanjutnya? Langsung klik subscribe yaaa!!! ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 11 : Menjadi Tidak Percaya Diri
Gea tak kunjung mendapatkan pekerjaan yang cocok untuk dirinya, sementara uang simpanan miliknya terpaksa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Meski masih tinggal bersama dengan kedua orang tua, Gea sungkan untuk tidak menggunakan uangnya ketika membeli makanan ataupun sekedar membayar tagihan listrik.
“Masih belum dapat pekerjaan yang cocok?” tanya Sang Ayah.
Gea menggelengkan kepalanya dengan raut wajah sedih karena belum juga mendapatkan pekerjaan yang cocok untuk dirinya.
“Terus apa yang harus Ayah lakukan untuk Gea? Apa Ayah harus ikut mencarikan Gea pekerjaan?” tanya Sang Ayah.
“Jangan dulu deh Yah, Gea masih ingin berusaha mencari sendiri. Lagipula, masih ada lowongan kerja yang lain yang belum Gea masukan lamaran,” jawab Gea yang masih menampilkan raut wajah sedih.
“Kok sedih? Jangan sedih dong kalau memang masih ingin berusaha mencari sendiri.”
Sebuah pesan masuk membuat senyum tercetak jelas diwajah Gea setelah membaca pesan tersebut. Tanpa pikir panjang Gea langsung meluncur ke tempat yang dimaksud oleh isi pesan itu.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 30 menit, Gea akhirnya tiba di sebuah gedung yang cukup terkenal di kota itu.
Kedatangan Gea ke tempat itu adalah untuk menjadi karyawati di sebuah toko kosmetik. Ia pun berharap besar bisa diterima oleh toko kosmetik tersebut.
“Permisi,” ucap Gea dengan menampilkan senyum terbaiknya. “Saya dengar di toko ini sedang mencari karyawati,” imbuh Gea yang terus tersenyum lebar.
“Kakak memangnya nggak tahu ya kalau pendaftaran sudah ditutup kemarin?” tanya salah satu pegawai di toko tersebut.
“Haa?” Gea sangat kecewa dan pada akhirnya ia balik kanan alias pulang ke rumah.
Ketika dalam perjalanan pulang menggunakan jasa ojek online, Radit menghubungi Gea untuk mengajak Gea bertemu.
Gea yang sedang dalam suasana kurang baik menolak ajakan tersebut dengan alasan kalau dirinya sedang sakit.
Aku sangat ingin bertemu dengan Radit, tapi aku tidak percaya diri dengan penampakan wajahku yang seperti ini. Sangat kusam dan tak terawat. (Batin Gea)
Pada saat Gea berhenti di lampu merah, ketidakpercayaan diri Gea semakin tinggi manakala ia melihat beberapa wanita yang tampilannya begitu modis hingga wajah pun nampak mulus tak bernoda.
“Apa ini? Kenapa aku merasa kecil?” tanya Gea lirih.
Sesampainya di rumah, Gea nampak murung dan tanpa sadar gadis itu duduk merenung di ruang tamu.
Ibu Sri yang melihat jelas kesedihan diwajah putrinya, perlahan mendekati Gea dan menyentuh tangan Gea dengan lembut.
“Masih belum mendapat pekerjaan yang cocok?” tanya Ibu Sri lirih.
“Bu, apa sekarang Gea terlihat jelek ya? Wajah Gea terlihat sangat kusam ya? Kenapa ya Bu semua harus dibeli dengan uang. Kalau saja Gea punya uang yang banyak, Gea pasti sangat cantik seperti wanita diluaran sana,” ujar Gea panjang lebar.
“Gea, kamu kenapa berpikiran seperti itu? Siapa yang mengatakan kalau kamu itu jelek? Kamu pasti banyak pikiran karena belum juga dapat kerja. Benar, 'kan?“ tanya Ibu Sri memastikan.
Gea beranjak dari duduknya karena pertanyaan Sang Ibu justru membuatnya semakin tidak percaya diri.
Alasan mengapa Gea kehilangan kepercayaan dirinya adalah kejadian di mana Radit pernah berselingkuh dan Gea tidak ingin hal itu terjadi lagi.
“Bu, sepertinya Gea harus beristirahat lebih awal. Tolong jangan bangunkan Gea ya! Nanti Gea sendiri yang keluar kamar,” ucap Gea dengan tatapan sedih.
Ibu Sri menghela napas panjang dengan menatap Gea penuh kekhawatiran.
“Apa yang sebenarnya anak itu pikirkan? Tidak biasanya dia memikirkan soal penampilannya,” ucap Ibu Sri bermonolog.
Gea yang hendak menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, seketika itu mengurungkan niatnya. Ia tiba-tiba teringat kejadian di mana ia memergoki kekasihnya dan mantan sahabatnya diatas ranjang yang sama.
“Apa keputusanku sudah tepat dengan memaafkan Radit dan kembali padanya? Bagaimana jika aku salah? Apakah aku kembali masuk ke dalam lubang yang sama?” tanya Gea bermonolog.
Disisi lain.
Radit tengah sibuk memeriksa pembukuan dari usaha ayam goreng miliknya. Ada sekitar 3 cabang yang tersebar di kota itu.
“Mas Radit, kamu kemana aja sih? Aku tuh kangen,” ucap Intan dengan manja seraya berjalan memasuki ruangan Radit.
“Apa kamu nggak lihat ya kalau saat ini aku sedang sibuk?” tanya Radit cuek.
“Mas kok bicaranya begitu sih sama aku? Aku juga tahu kok kalau Mas Radit lagi sibuk. Apa perlu aku bantu?“ tanya Intan dengan nada genit.
“Nggak perlu, aku bisa mengerjakannya sendiri. Kamu lebih baik kerja sana gih, bukannya masih banyak ayam yang belum digoreng?” tanya Radit ketus.
“Mas marah ya karena kemarin aku nggak bisa memenuhi panggilan Mas yang mengajak aku menginap di hotel? Mas tahu sendiri aku tuh capek banget. Kemarin dari pagi sampai sore aku sibuk menggoreng ayam karena banyaknya pesanan,” terang Intan dengan manja agar Radit tak lagi dingin padanya.
“Ya. Aku tahu kok kalau kamu sibuk. Sekarang kamu lanjutkan tugasmu dan biarkan aku memeriksa laporan keuangan ini,” balas Radit.
Intan tersenyum genit dan tak lupa memberikan kecupan mesra dibibir Radit.
“Seseksi apapun Intan, kenapa di otakku justru terbayang wajah Gea. Gea memang cantik, namun dia terlalu kaku sebagai wanita,” ucap Radit bermonolog.
Di sela-sela kesibukannya, Radit mencoba mengirim pesan kepada Gea dan berharap Gea dengan cepat merespon pesan darinya.
Sekitar 10 menit sudah Radit menunggu, namun belum ada pesan masuk satupun dari Gea.
Radit menghela napas panjang, pria itu mulai kesal dengan sikap Gea yang masih belum bisa berubah.
“Apa aku temui saja dia di rumahnya? Tapi bagaimana jika orang tuanya banyak tanya mengenai aku? Apakah mereka sudah tahu kalau aku dan Gea pernah putus? Nggak. Aku rasa Gea tidak akan memberitahu perihal aku dan Intan,” ucap Radit bermonolog.
Akhirnya yang dinantikan Radit datang juga. Sebuah pesan terkirim padanya dan itu tentu saja dari Gea.
Radit sedikit kecewa karena Gea menolak ajakannya untuk bertemu. Padahal Radit sangat ingin menemui Gea dan ingin bisa lebih intens dengan kekasihnya itu.
“Mas Radit, aku boleh istirahat di sini sebentar aja ya?” Intan kembali memasuki ruangan Radit.
“Kan, ada ruangan lain. Kenapa kamu malah datang kemari? Pergilah jangan ganggu aku,” ucap Radit menatap muak Intan.
Bukannya pergi, Intan justru mendekati Radit agar bersikap manis terhadap dirinya.
“Mas Radit kenapa sih kok jadi dingin begini? Maaf ya kalau aku ada salah,” balas Intan yang sudah duduk dipangkuan Radit.
Radit tersenyum kecil seraya menganggukkan kepalanya pada Intan yang terus menatapnya dengan manja.
“Nanti malam aku tidur di rumah Mas Radit ya,” pinta Intan dengan tatapan menggoda.
Radit berpikir sejenak dan didetik berikutnya ia mengiyakan permintaan Intan.