NovelToon NovelToon
Terikat Janji Dalam Kegelapan

Terikat Janji Dalam Kegelapan

Status: tamat
Genre:Terpaksa Menikahi Suami Cacat / Penyelamat / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Menyembunyikan Identitas / Kekasih misterius / Tamat
Popularitas:252.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Kaivan, anak konglomerat, pria dingin yang tak pernah mengenal cinta, mengalami kecelakaan yang membuatnya hanyut ke sungai dan kehilangan penglihatannya. Ia diselamatkan oleh Airin, bunga desa yang mandiri dan pemberani. Namun, kehidupan Airin tak lepas dari ancaman Wongso, juragan kaya yang terobsesi pada kecantikannya meski telah memiliki tiga istri. Demi melindungi dirinya dari kejaran Wongso, Airin nekat menikahi Kaivan tanpa tahu identitas aslinya.

Kehidupan pasangan itu tak berjalan mulus. Wongso, yang tak terima, berusaha mencelakai Kaivan dan membuangnya ke sungai, memisahkan mereka.

Waktu berlalu, Airin dan Kaivan bertemu kembali. Namun, penampilan Kaivan telah berubah drastis, hingga Airin tak yakin bahwa pria di hadapannya adalah suaminya. Kaivan ingin tahu kesetiaan Airin, memutuskan mengujinya berpura-pura belum mengenal Airin.

Akankah Airin tetap setia pada Kaivan meski banyak pria mendekatinya? Apakah Kaivan akan mengakui Airin sebagai istrinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Canggung

Wongso menginjak pedal gas, mobilnya melaju pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan rumah Airin yang berangsur sepi. Tetapi kemarahannya masih membara. Meskipun ia terpaksa mundur untuk saat ini, ia tahu bahwa pertempuran ini belum selesai. Dalam pikirannya, ia merencanakan langkah-langkah berikutnya, tidak peduli seberapa sulit atau licik cara yang akan ia lakukan. Wongso yakin, jika ia berusaha cukup keras, ia masih bisa meraih apa yang ia inginkan.

Setelah semua warga pulang, rumah sederhana itu terasa sepi. Hanya ada Airin, Kaivan, dan Nenek Asih yang kini duduk bersama di ruang tamu yang sederhana. Keheningan itu terasa begitu tebal, membuat Airin tiba-tiba merasa canggung. Ia menundukkan kepala, berpikir tentang keputusan besar yang baru saja ia ambil. "Apa aku sudah gila Bagaimana bisa, hanya dalam waktu kurang dari 24 jam mengenal Kak Ivan, aku langsung menikah dengannya?" gumamnya dalam hati. Meskipun ia tahu itu langkah nekat, entah mengapa hatinya merasa yakin bahwa Kaivan akan menjadi suami yang baik, dan bahkan ayah yang baik bagi anak-anak mereka kelak.

Airin merasa seolah ia sudah mengenal Kaivan sejak lama, padahal kenyataannya, mereka bahkan belum sempat saling berbicara panjang. Ia hanya merasa ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan, sebuah perasaan yang membuatnya percaya bahwa Kaivan adalah orang yang tepat.

Di sisi lain, Kaivan duduk dengan tenang. Ia tidak menunjukkan gelisah atau kebingungannya, meskipun tak pernah membayangkan bahwa ia akan menikah dengan seorang gadis desa yang belum pernah ia lihat wajahnya dan baru ia kenal tadi pagi. Baginya, pernikahan ini terasa seperti takdir yang datang begitu mendalam, dan ia menerima semua ini tanpa banyak bertanya. Kaivan merasa ada sesuatu yang indah dan tulus dalam keputusan ini, meskipun dunia di luar sana tidak tahu apa yang terjadi di dalam hatinya.

Kaivan menunjukkan tatapan lembut, meskipun matanya tak dapat melihat, ia bisa merasakan perasaan wanita itu. "Terima kasih, Airin," katanya pelan, suaranya hangat, "Aku mungkin tidak bisa melihat wajahmu, tapi aku merasakan kebaikanmu. Aku janji akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi suami yang baik bagi kamu dan keluarga kita."

Airin tertegun mendengarnya. Ia tidak menyangka Kaivan akan berkata seperti itu. Sebuah rasa hangat dan damai mulai menyelimuti hatinya. Ia tidak tahu bagaimana masa depan mereka akan berjalan, tapi ia merasa bahwa mereka berdua akan melewatinya bersama, apapun yang terjadi.

Airin hanya bisa menjawab dengan suara pelan, “Aku... tidak tahu harus berkata apa.” Ia merasa canggung, bingung dengan situasi yang begitu mendalam namun mendadak ini. Keputusan besar itu datang begitu cepat, dan meskipun ada rasa yakin dalam hatinya, ia tidak bisa menghindari kecanggungan yang kini menghampiri mereka berdua.

Melihat ketegangan di antara mereka, Nenek Asih yang sudah lebih berpengalaman dengan kehidupan, angkat bicara dengan lembut. “Sudah, Airin... kalian sudah menikah. Sekarang, Ivan adalah suamimu, jadi mulai malam ini, Ivan akan tidur di kamarmu,” ujarnya dengan penuh pengertian. "Sudah larut malam, Nenek akan segera beristirahat. Kalian berdua, sebaiknya juga segera beristirahat."

Nenek Asih mengusap bahu Airin sebelum beranjak dan melangkah menuju kamarnya.

Airin berdiri terdiam sesaat, tak tahu harus berbuat apa. Kemudian, dengan sedikit gugup, ia mendekati Kaivan yang masih duduk di kursi. "Kak, kita ke kamar, ya?" tanyanya lembut.

Kaivan menganggukkan kepalanya. Airin mengulurkan tangan untuk membimbing Kaivan ke kamarnya. Dengan lembut, ia mengarahkan Kaivan agar berbaring di kasur yang hanya berukuran 120 cm x 200 cm. Setelah itu, ia pun ikut berbaring di sisi Kaivan, dengan rasa canggung yang menggelayuti perasaannya. Suasana dalam kamar itu seolah terasa hening, hanya terdengar detak jantung mereka yang berdetak lebih cepat dari biasanya.

Kaivan, yang meskipun tidak bisa melihat, bisa merasakan perubahan dalam atmosfer kamar itu. "Kenapa aku jadi merasa canggung kayak gini?" batinnya. Namun ada kedamaian dalam dirinya. Mereka berdua hanya terdiam, mencoba beradaptasi dengan kenyataan baru ini.

Di luar, angin bertiup kencang, mengguncang pepohonan dan membawa suara petir yang menggelegar, disertai kilat yang menyambar langit. Hujan turun dengan deras, mengetuk jendela kamar dengan ritme yang semakin cepat. Di tengah-tengah ketegangan alam itu, suasana dalam kamar terasa sepi dan penuh kedamaian.

"Apa malam ini akan hujan semalaman seperti kemarin malam?" batin Airin. Ia melirik Kaivan yang sudah memejamkan mata. Airin meraih selimut dan dengan hati-hati menyelimuti tubuh Kaivan, menatap pria yang telah menjadi suaminya itu lekat. "Apa yang sedang kupikirkan? Aku baru mengenalnya, belum tahu siapa dia sepenuhnya, tapi kenapa hatiku merasa tenang saat bersamanya? Apakah ini karena keputusanku sudah bulat, atau karena aku melihat sesuatu yang lain dalam dirinya?" gumamnya dalam hati. Ia menghela napas panjang. "Apapun itu, aku percaya dia adalah pria yang baik. Aku harus percaya, pada takdir, pada jalan yang sedang kami lalui bersama," batin Airin meyakinkan dirinya sendiri. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan memakai selimut yang sama dengan Kaivan.

Kaivan yang terbaring dengan mata terpejam, menikmati kehangatan yang diberikan Airin. Meskipun ia tidak bisa melihat, ia merasakan perhatian yang tulus dari perempuan yang baru saja menjadi istrinya. "Dia menyelimutiku?" batinnya. Kaivan tersenyum samar, senyum yang tidak bisa dilihat oleh Airin, namun terasa dalam setiap gerakan tubuhnya yang semakin rileks.

"Dia mungkin merasa canggung, seperti aku yang juga merasa asing dengan keadaan ini. Tapi perhatian kecilnya... kehangatan ini, mengingatkanku pada mamaku. Mungkinkah aku akan menemukan rumah dalam diri perempuan ini? Tuhan, jika ini jalan-Mu, aku hanya bisa menerima dan mencoba menjadi suami yang layak baginya," gumam Kaivan dalam hati.

Entah mengapa pria yang tak mudah didekati wanita itu merasakan kehangatan dalam setiap sentuhan dan perhatian Airin. Entah mengapa ia setuju menikah dengan wanita yang baru ia kenal dan belum pernah ia lihat.

Di tengah suara hujan yang menghantam jendela, pikiran mereka berputar dalam kebisuan, seperti dua jiwa yang sama-sama mencari arah di tengah badai. Di bawah cahaya lampu kamar yang redup, mereka berdua merasa ada ikatan baru yang tumbuh. Walaupun semuanya terasa mendadak, dan penuh ketegangan, ada harapan yang diam-diam tumbuh dalam hati mereka.

***

Sementara itu, di sebuah ruangan megah yang dipenuhi rak buku dan perabotan klasik, Alva, seorang pria paruh baya dengan penampilan yang lebih muda dari usianya, duduk di kursi kerjanya dengan postur tegap dan ekspresi tenang yang memancarkan wibawa. Meski begitu, ada kehangatan yang tersirat dalam sorot matanya, terutama saat ia berbicara tentang keluarganya.

Di depannya, Ferdi berdiri dengan postur atletis, tubuh tegapnya mencerminkan masa lalunya sebagai mantan atlet bela diri. Rambutnya yang mulai memutih di beberapa bagian tak mengurangi kesan tangguh pada wajahnya yang dihiasi rahang tegas dan mata tajam. Pakaian Ferdi sederhana namun rapi, memungkinkannya bergerak dengan gesit jika situasi membutuhkan.

"Apa kau sudah menemukan keberadaan putraku?" tanya Alva dengan nada dingin namun terkontrol, menyembunyikan kecemasan yang mendalam di baliknya.

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Arida Susida
suka bangettt😘😘😘
꧁꒰✨N̊ån̊å K̊i̊år̊å✨ ꒱꧂: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
echa purin
👍🏻
Memyr 67
𝗂𝗍𝗎𝗅𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝖺𝗉𝖺𝗉𝗎𝗇 𝗄𝖾𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇𝖺𝗇 𝖺𝗇𝖺𝗄. 𝗐𝖺𝗅𝖺𝗎𝗉𝗎𝗇 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀𝗍𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗇𝖺𝖿𝗄𝖺𝗁 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 , 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝖽𝗂𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗎𝗇𝗒𝖺 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌, 𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖾𝗆𝗎𝖺 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖻𝖺𝗇𝗀𝗎𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍 𝖽𝖺𝗇 𝖻𝖾𝗋𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁 𝖽𝖺𝗋𝖺𝗁.
Memyr 67
𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖾𝗋𝗎 𝗂𝗇𝗂. 𝗍𝗈𝗄𝗈𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄𝗇𝗒𝖺 𝗌𝗈𝗆𝗉𝗅𝖺𝗄
Memyr 67
𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗉𝗈𝗅𝗈𝗌. 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖺𝖽𝖺 𝗄𝖾𝗁𝗂𝖽𝗎𝗉𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗇𝖺𝗇𝗀 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇?
Memyr 67
𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝗎𝗋𝗂𝗀𝖺𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖾𝗇𝖽𝗂𝖽𝗂𝗄𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗍𝖺𝗉𝗂 𝖻𝗅𝗈𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗂𝗃𝖺𝗓𝖺𝗁𝗇𝗒𝖺 𝗁𝖺𝗌𝗂𝗅 𝗆𝖾𝗇𝗒𝗎𝖺𝗉 𝖽𝖺𝗇 𝗇𝖺𝗂𝗄 𝗄𝖾 𝗋𝖺𝗇𝗃𝖺𝗇𝗀 𝗉𝖺𝗋𝖺 𝖽𝗈𝗌𝖾𝗇𝗇𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖿𝗂𝗋𝖺𝗌𝖺𝗍 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗍𝖺𝗃𝖺𝗆
Memyr 67
𝗁𝖺𝗅𝖺𝖼𝗁 𝗀𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗌𝗍𝗋𝖺𝗍𝖾𝗀𝗂, 𝗍𝗎𝗃𝗎𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺
Memyr 67
𝗄𝖾𝗋𝖺𝗌 𝗄𝖾𝗉𝖺𝗅𝖺, 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗍𝖾𝗇𝗀𝖺𝗁 𝗄𝗅𝖺𝗇 𝖺𝖾𝗋𝗈𝗇. 𝗃𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗇𝖺𝖿𝗌𝗎 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁𝗄𝖺𝗇 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄. 𝗇𝖺𝗇𝗍𝗂 𝗆𝖺𝗅𝗎 𝗅𝖺𝗀𝗂, 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗌𝗁𝖺.
Memyr 67
𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗍𝗎𝖺 𝗆𝖺𝗄𝗂𝗇 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖺𝗍𝖺𝗂 𝖺𝗂𝗋𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 "𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍" 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗆𝖾𝗇𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗄𝖺𝗒𝖺, 𝗆𝖾𝗇𝗎𝗍𝗎𝗉 𝗆𝖺𝗍𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗇𝗂𝗍𝖺 𝗉𝗂𝗅𝗂𝗁𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗆𝖾𝗇𝖼𝖺𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗅𝗎𝖺𝗇𝗀 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖻𝖾𝗋𝗍𝖺𝗆𝖻𝖺𝗁 𝗄𝖺𝗒𝖺.
Memyr 67
𝖺𝗉𝖺𝗅𝖺𝗀𝗂 𝗒𝗀 𝖺𝗄𝖺𝗇 𝖽𝗂𝗅𝖺𝗄𝗎𝗄𝖺𝗇 k𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆𝖺𝗇𝗍𝗒𝗈 𝖽𝖺𝗇 𝗏𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝗍𝗎𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗉𝗈𝗄 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄 𝖻𝗋𝖺𝗆
Memyr 67
𝗆𝖾𝗅𝗂𝖺𝗁, 𝖻𝖾𝗋𝗌𝗂𝖺𝗉 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝗁𝖺𝗇𝖼𝗎𝗋
Memyr 67
𝖺𝗄𝗁𝗂𝗋𝗇𝗒𝖺 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗎𝗇𝖻𝗈𝗑𝗂𝗇𝗀.
Memyr 67
𝗄𝗅𝖺𝗄𝗎𝖺𝗇 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗒𝖺? 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝗋𝗂𝖼𝗁𝗂𝖾 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀 𝗍𝖾𝗋𝗎𝗌.
Memyr 67
𝗄𝗈𝗄 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝖺𝗅𝗏𝖺 𝗄𝖾𝗃𝖺𝖽𝗂𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺? 𝗁𝖺𝗇𝗒𝗎𝗍 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗄𝖾 𝗍𝖾𝗉𝗂 𝗉𝖺𝗇𝗍𝖺𝗂?
Memyr 67
𝗎𝗎𝗎𝗁 𝗍𝖾𝗀𝖺𝗇𝗀
Memyr 67
𝗌𝖾𝖻𝖾𝗇𝗍𝖺𝗋, 𝖺𝗊 𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖿𝖾𝗋𝖽𝗒 𝗂𝗇𝗂 𝗒𝗀 𝗂𝗌𝗍𝗋𝗂𝗇𝗒𝖺 2? 𝗒𝗀 𝗌𝖺𝗍𝗎𝗇𝗒𝖺 𝖽𝗎𝗅𝗎 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗌𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗉𝗎𝖺𝗌𝗒 𝗋𝖺𝗌𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖾𝗇𝗀𝖾𝗍𝖺𝗁𝗎𝗂 𝗄𝖺𝗂𝗏𝖺𝗇 𝗆𝖾𝗇𝖺𝗁𝖺𝗇 𝗁𝖺𝗌𝗋𝖺𝗍𝗇𝗒𝖺. 𝗁𝖺𝗁𝖺. 𝖾𝗀𝗈𝗂𝗌 𝗌𝗂𝗁, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗎 𝗃𝗎𝗃𝗎𝗋 𝗌𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗇𝗈𝗋𝗆𝖺𝗅.
Memyr 67
𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗅𝖺𝗅𝗎 𝗁𝖾𝖻𝖺𝗍 𝗆𝖾𝗆𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺. 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗐𝖺𝗄𝗍𝗎 𝖺𝗄𝗎 𝖼𝗈𝖻𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝖾𝗉𝗂𝗌𝗈𝖽𝖾, 𝖺𝗄𝗎 𝗆𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖻𝗂𝗇𝗀𝗎𝗇𝗀. 𝗆𝖾𝗆𝖺𝗇𝗀 𝗁𝖺𝗋𝗎𝗌 𝖽𝗂𝖻𝖺𝖼𝖺 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗂𝗄𝗎𝗍𝗂 𝗎𝗋𝗎𝗍𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺, 𝗍𝖺𝗄 𝗇𝗂𝗌𝖺 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍 𝗅𝗈𝗆𝗉𝖺𝗍.
Diana Dwiari
sepasang mata yang mengamati....Hem....kira2 siapa ya...anak buahnya Ferdi atau orang kampung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!