Seberkas Cinta dari perjodohan, apakah ada?
Davina gadis berumur 25 tahun, mencoba ikhlas akan perjodohan yang dilayangkan oleh sang Ayah yang sedang berjuang melawan penyakit Kankernya.
Hati anak mana yang tidak sakit. Melihat sang Ayah berjuang untuk bertahan hidup. Di selah rasa kuatir sang Ayah akan dirinya, bila mana suatu saat nanti, selamanya menghilang dari dunia, tanpa ada sosok pria pengganti dirinya untuk sang putri.
Jadilah Albert nama sang Ayah, menjodohkan putri semata wayangnya Davina dengan cucu sahabat kakeknya Davina.
"Aku harus ikhlas, mungkin Rasyid bukan jodohku. Apakah kelak, ada seberkas cinta dari perjodohan ini? Mari kita coba." Davina duduk di koridor rumah sakit sambil mengusap air matanya.
.
Jangan lupa follow IG saya, @putritritrii_
Tolong jadi pembaca yang aktif
Tolong berikan dukungan kalian. Terima kasih ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB11– SOK AKRAB.
"Selamat pagi Oma, Mama, Papa." sapa Davina saat dia duluan tiba di meja makan.
Tampak Papa Hezron yang menggenggam surat kabar, menoleh pada kedatangan anak menantunya.
"Duduklah Nak. Di mana suamimu?" tanya Papa Hezron.
"Dave masih di kamar dan hampir selesai Pa. Dave meminta Vina duluan turun. Katanya mulai saja, dia akan menyusul."
"Baiklah anakku, mari kita makan." balas Papa Hezron.
"Ambil yang menjadi selera makan mu nak. Oma sudah memerintahkan koki terbaik di rumah ini, agar bisa memenuhi standar makanan-mu." kata Oma Alexa.
Davina menganggukan kepalanya.
"Terima kasih Oma." balas Davina dengan mengambil garpu dan sendoknya.
Tidak lama kemudian, muncul sosok Dave dari belakang Davina. Menarik salah satu bangku yang memang berada di samping Davina. Davina terkesiap, melihat Dave dengan balutan pakaian ke kantornya. Sungguh tampan di lihat mata.
"Selamat pagi semuanya." sapa Dave tak lupa tersenyum.
"Pagi, duduk dan habiskan sarapan pagi-mu." saut Papa Hezron.
Davina refleks menarik piring kosong yang ada di atas meja makan. Lebih tepatnya di depan Dave. Tangan Dave yang hendak menyentuh, sudah di sambar Davina duluan.
Dahi Dave mengerut, Oma Alexa tersenyum, Mama Alice juga tersenyum, Papa Hezron tak kala kaget dari Dave.
"Apakah makanmu banyak?" tanya Davina sambil menyendokkan nasi putih ke atas piring dalam genggamannya.
"A-aku? Secukupnya saja." balas Dave dengan ragu.
Davina dengan semangatnya menyendokkan nasi dan lauk untuk Dave.
"Nih, selamat makan." ucap Davina dengan lembut.
Dave sekilas menatap piringnya dan menoleh ke Davina, "Terima kasih." jawabnya masih dengan menatap Davina yang sedang menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya sendiri.
Papa Hezron terbatuk, saat mendengar jawaban Dave ke Davina. Mama Alice langsung saja menepuk pundak suaminya dengan lembut dan segelas air putih yang tidak jauh dari jangkaunnya, buru-buru Ia teguk.
"Pelan-pelan dong Pa." kata Mama Alice.
Papa Hezron menoleh ke Dave. Keduanya saling berpandangan. Ada keanehan di lihat Papa Hezron dari sang anak.
Oma Alex masih senyum-senyum pecicilan. Benar saja, ini pilihan pas dari Oma Alexa. Baru sehari juga, ada perubahan yang terjadi pada sang cucu.
"Sejak kapan anak itu tau mengucapkan terima kasih Ma?" bisik Papa Hezron ke Mama Alice.
Mama Alice menggedikkan bahunya.
"Mungkin karena perhatian Davina kali Pa. Kita lihat saja kedepannya si Dave berubah jauh lebih baik." Bisik Mama Alice.
Dave yang sedang makan, sesekali memperhatikan Davina. Nasi Davina yang seperti nasi kucing menurut si Dave, membuat dirinya tergerak menyendokkan nasi ke atas piring Davina. Benar-benar tidak terduga, Dave menyendokkan nasi ke atas piring Davina dan mengambil beberapa menu lauk dan meletakkannya ke atas piring kaca Davina.
"Dave! Aku tidak bisa makan banyak."
"Makanlah! Makananmu seperti anak kucing. Bagaimana bisa kau makan sedikit. Bukankah kau mau bekerja? Kalau mau bekerja itu harus makan yang banyak." Dave tersenyum.
Papa Hezron mendelik. Bibirnya tertutup rapat. Di luar dugaan sekali pikirnya. Apakah anaknya terkena kuasa makhluk halus? Ini kejadian langkah pikir Papa Hezron.
Oma Alexa lagi-lagi hanya diam dan tertawa kecil. Di sana Davina hanya pasrah, perlahan dia menghabiskan sisa makannya yang di tambah Dave untuknya.
"Di mana Davina bekerja Nak?" tanya Mama Alice.
"Di Perusahaan Miracle group, Ma." balas Davina dengan jelas.
Kali ini Dave yang tersedak. Tiba-tiba dia terbatuk. Buru-buru Davina menepuk dan mengusap tubuh Dave dengan lembut dan memberikan segelas air putih.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Davina khawatir.
"Kenapa hari ini dua pria ini terus tersedak? Kalian ini mirip sekali." Gumam Oma Alexa sambil mengunyah makanannya.
"Entahlah Ma... sepertinya, rumah kita di selimuti para Malaikat." balas Papa Hezron.
"Bukan Pa. Dave kesedak, bukankah Miracle group milik keluarga Williams?" tanya Dave memastikan.
"Benar. Terus kau cemburu karena Davina akan bekerja dengan williams?" Oma Alexa menyipitkan matanya.
'Apa lagi rencana Oma Alexa? Aku tidak boleh terjerumus oleh tipu muslihat Oma.'
"Tidak! Dave mana mungkin cemburu dengan Davina Oma! Davina itu bukan tipe-nya Dave! Jadi jangan banyak memaksa Dave, Oma." balas Dave dengan lantang. Matanya sekilas menatap ke Davina yang juga menatapnya.
"Benar Oma. Davina juga, mana mungkin bisa jatuh cinta sama pria hidung belang seperti Dave!" kata Davina dengan menatap Dave lekat-lekat. Dave di buat melotot menatap Davina.
"Sepertinya, Iblis mulai menggoda rumah ini lagi." Gumam Papa Hezron.
"Jangan pada ribut. Kalian berdua masih punya banyak waktu untuk saling mengenal dan memahami." saut Mama Alice.
"Ya sudah Ma, Pa, Oma. Dave berangkat dulu." Ucap Dave seraya beranjak.
"Jangan lupa di antar Istrimu." Saut si Papa Hezron.
Davina pun beranjak, menarik tas jinjingnya lalu bergantian memberikan salim ke Oma Alexa dan mertuanya. Hingga berlalu dari ruangan makan.
Sesampainya di luar, rumah itu sangat luas. Membuat Davina bingung, ke arah mana si Dave pergi. Mana di rumah itu berjejer mobil mewah dan kendaraan roda dua model pria.
'Ini rumah atau showroom?'
"Maaf Nona Muda." Suara Pak Ari menyadarkan Davina.
"Iya Pak." balas Davina.
"Anda di tunggu Tuan muda di mobil. Mari ikut saya," dengan sopan Pak Ari selaku kepala asisten rumah tangga membawa Davina menyusuri pinggiran rumah yang terhubung ke Carport.
"Itu Nona muda, mobil berlogo segitiga berwarna hitam. Silahkan, saya izin." katanya setengah berbungkuk.
Spontan Davina menundukkan badannya.
"Terima kasih Pak."
Setelah Pak Ari meninggalkan Davina, Davina membawa kakinya berjalan menuju carport di mana Dave dan mobilnya menunggu dirinya.
Davina menarik handle pintu mobil jok belakang dan membawa tubuhnya duduk.
Mata Dave menyipit, melihat Davina dari kaca spion tengah. Dengan spontan Dave menoleh ke jok belakang.
"Apa aku sopir transportasi online?" tanya Dave. Matanya terpancar hawa gunung berapi.
Davina mengerutkan dahinya.
"Yah, masih mikir! Pindah ke depan!"
"Tapi Dave—"
"Gak ada tapi-tapian. Buruan pindah! Kalau kau tidak ingin telat ke kantor."
Davina membuang napasnya.
"Baiklah." Davina kembali membawa tubuhnya berpindah ke depan tanpa membuka pintu belakang. Dave semakin di buat bingung dengan wanita yang menjadi Istrinya.
"Sudah benar begini?" Davina tersenyum ke arah Dave yang sedari tadi memandanginya karena aneh. Tatapan Dave berubah, sesaat setelah mendapatkan senyuman yang berbeda dari sebelumnya.
'Senyuman itu sangat manis.'
"Hemmmmm." balas Dave dengan berdehem.
"Pakai seatbeltmu!" ucap Dave lagi seraya melajukan mobilnya dan meninggalkan area rumah mereka.
Mobil yang di kendarai Dave, melesat di tengah jalanan Ibu Kota. Suasana mobil sedari tadi hening. Tiba-tiba, terbesit di hati Dave, ingin mempertanyakan tentang pekerjaan Davina.
"Kau kenal williams?" tanya Dave tiba-tiba membuat Davina mengubah pandangannya ke arah Dave.
"Siapa Williams?" tanya Davina balik.
"Atasanmu di mana. Masa kau sendiri tidak tau nama atasanmu?"
"Tidak. Namanya bukan Williams, setauku atasanku di perusahaan itu bernama Wills bukan Williams. Tapi Aku juga tidak pernah melihatnya, karena setauku atasanku itu masih berada di Roma, mengurusi perusahaannya di sana."
"Dia sudah kembali!" balas Dave.
"Siapa?"
"Siapa lagi yang kita bicarakan? Kenapa kau lelet sekali?"
"Kenapa kau jadi marah-marah sama Aku?" tanya Davina dengan lembut.
Bibir Dave bergetar.
"Bu-bukan seperti itu maksud Aku. kau benar-benar tidak mengenalnya?" tanya Dave memastikan. Dave tidak berniat, untuk mengatakan soal Williams yang menolong Davina saat itu.
Davina menggelengkan kepalanya.
"Tidak Dave. Bertemu saja Aku tidak pernah, bagaimana bisa aku mengenalnya." balas Davina dengan tegas.
"Ouuu... kalau ketemu dengannya, jangan dekat-dekat."
Davina langsung menatap Dave.
"Apa kau mengenalnya?"
Dave menganggukan kepalanya.
"Hemmmm... aku mengenalnya."
Davina tersenyum dengan mata berbinar. Dave mengerutkan dahinya dengan respon Davina yang tidak biasa.
"Apa dia tampan Dave?"
Refleks Dave menoleh dengan mata membola.
"Aku tidak seakrab itu denganmu! Jangan membuat wajahmu seperti itu. Aku tidak suka. Dan ingat! Jangan keganjenan. Aku ini suamimu! Bukan kakakmu." balas Dave kesal.
"Maaf, Aku lupa." balas Davina membuang pandangannya ke arah jalanan.
Davina memilih berdiam. Bagaimana bisa dia kelupaan bahwasannya Dave memiliki sikap yang berubah-ubah. Dan kenapa juga, dia sok akrab dengan si Dave. Dia belum mengenal Dave sepenuhnya. Harusnya, Davina waspada dengan Pria seperti Dave.
Bersambung.
.
Jangan lupa vote yang kencang wkwkwkw.. gak ngarep di Vote deh. Entar kena bully di kata menuntut sama pembaca kwkwkw...
Tapi, makasih untuk yang udah setia VOTE Novel saya gak seberapa ini ^^
kirain bener Dave mulai menyukai Davina 🤔🤔🤔🤔