Warning! bijaklah dalam memilih bacaan!
***
Elkan duduk bersila, tangan kekarnya bersedekap di dada. Tatapannya tajam, menyapu tubuh Alsa dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Pelayananmu memuaskan. Tinggallah di sini, jadilah simpananku. Aku akan membayarmu semaumu." Nada bicara Elkan angkuh, penuh percaya diri.
"Jangan harap! Aku tak sudi lagi berhubungan dengan pria sepertimu. Bayar saja yang semalam, lalu tinggalkan aku. Anggap saja kita tak pernah bertemu."
Elkan tertawa, suaranya menggelegar. "Tak sudi berhubungan denganku?" tanyanya, memastikan. "Ingat, benihku ada di rahimmu, anakku! Kau takkan bisa lepas begitu saja dariku!"
***
Ikuti akun kami:
Instagram: OH HA LU
TikTok: OH HA LU
Facebook: OH HA LU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OH HA LU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Menikmati
"Terimakasih banyak!."
Meldi mengucapkan rasa terimakasihnya kepada seorang OB yang sedang bertugas membersihkan dan merapikan ruang inap Alsa.
Andai saja, Meldi telat mengambil kunci mobilnya, pasti kunci tersebut sudah di amankan, dan tentunya sangat rumit untuk mengambilnya lagi.
Karena telah mendapatkan apa yang dia cari, Meldi pun pergi.
Begitu telah sampai di parkiran, Meldi mengeryit bingung ketika tak mendapati keberadaan Alsa di dekat mobilnya, tapi semua barang-barangnya masih utuh di sana.
Positif thinking saja, mungkin Alsa sedang pergi ke kamar mandi atau dimana. Namun sudah 5 menit berlalu, Alsa masih tak kunjung datang jua.
"Astaga! Kamu dimana sih, Sa?." Gumamnya kebingungan.
Perasaan Meldi mulai cemas. Apakah kejadian tempo hari akan terulang kembali?.
Tak mau hanya diam saja, Meldi mencoba menghubungi nomer Alsa sambil mencoba mencarinya di sekitar parkiran.
Tut.. Tut.. Tut..
Beberapa saat kemudian, akhirnya panggilan telepon mereka telah terhubung.
"Hallo! Kamu dimana, Sa?." Tanya Meldi.
"Hallo, Mel, tolong...
Senyum yang semula tersungging di bibir Meldi, seketika menghilang lagi saat panggilan tersebut langsung di matikan begitu saja oleh Alsa.
"Kok malah di matiin, sih?." Gerutunya.
Meldi mencoba menghubunginya lagi, namun kali ini nomornya langsung tidak aktif. Tapi kalo di ingat-ingat lagi, suara Alsa terdengar bergetar ketakutan. Jangan.. jangan..
"Tidak! Ini tidak boleh terjadi lagi!." Cicit Meldi dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca.
Semoga saja tidak terjadi apa-apa terhadap Alsa. Kasihan sekali jika Alsa sampai mengalami hal yang serupa untuk kedua kalinya.
"Entah kenapa, hati dan pikiranku kok mengatakan kalo Alsa sedang bersama Elkan, ya?." Gumamnya lirih.
"Sebaiknya aku cari keberadaannya dulu!." Ujar Meldi, seraya berlari ke dalam ruang sakit lagi untuk mencoba mencari keberadaan Elkan, karena biasanya jam segini laki-laki itu ada di rumah sakit ini.
"Kalo laki-laki bal*jing*n itu tak ada di sini, jadi dialah yang telah menculik Alsa." Batin Linda sambil terus berlari.
Perlahan-lahan, langkah Meldi semakin melemah ketika melihat Risma sedang berpelukan dengan seorang laki-laki. Tidak terlihat jelas wajah laki-laki itu karena posisinya yang sedang memunggunginya, tapi kalo di lihat dari perawakan, mirip sekali dengan Elkan.
"Kalo Elkan ada di sini, lalu Alsa sama siapa?." Batinnya bertanya-tanya.
Meldi menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Akhir-akhir ini, Alsa sering sekali hilang dan membuat dirinya khawatir.
"Please, Sa. Kamu ada di mana? Jangan bikin aku cemas!." Gumamnya putus asa.
Tanpa kenal lelah, Meldi berlari keluar lagi. Mungkin dia bisa tanya kepada orang-orang sekitar. Siapa tahu, salah satu dari mereka ada yang melihat keberadaan Alsa.
.
.
.
Di sisi lain..
Elkan langsung mengunci pintu apartemennya, lalu kemudian berjalan mendekati Alsa yang masih menangis dalam diam.
"Mau sampai nangis darah pun, kau tidak akan bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat." Ujar Elkan tersenyum mengejek.
Tangan kekar laki-laki itu mengelus lembut permukaan pipi Alsa yang halus, lalu mengecup bibir ranum itu sekilas.
"Daripada nangis, lebih baik kita bersenang-senang sekarang."
Alsa menggeleng. "Aku tidak mau melakukannya lagi denganmu! Cukup satu kali saja dan jangan di ulangi lagi." Cicitnya takut-takut.
"Ha? Apa kau bilang?."
Elkan meminta Alsa untuk mengulangi kata-katanya, tetapi wanita itu malah diam saja.
"Kata dokter, kandungku lemah, jadi dia menyarankan ku untuk tidak melakukan kegiatan s*ks dulu."
"Itu 'kan saran dokter. Kau jangan terlalu percaya dengan kata dokter." Jawab Elkan, seraya mengelus rambut hitam legam Alsa.
"Tapi..
"Jangan banyak bacot! Aku membawamu kesini hanya untuk memberikanku kehangatan ranjang, bukan untuk mengoceh."
"Kehangatan ranjang? Kenapa kau meminta hak itu kepadaku? Bukankah kau sudah mempunyai kekasih?."
Alsa tak habis pikir dengan jalan pikiran Elkan yang tak masuk akal. Sudah jelas-jelas punya tunangan cantik dan juga kaya, tapi masih saja mencari kehangatan dari wanita lain.
"Kau tidak perlu ikut campur soal urusanku dan Risma. Biarkan itu menjadi urusan kami berdua."
"Apa kau tidak memikirkan perasaannya?."
"Sudah ku bilang jangan ikut campur!." Gertak Elkan mulai geram.
"Tugasmu cukup layani aku. Mulai saat ini, kau akan ku pekerjakan sebagai selimut pengganti untuk sementara."
Alsa menggeleng pelan dengan derai air mata yang terus mengalir. Dia memang tidak punya orang tua atapun harta benda, tapi setidaknya jangan perlakukan dirinya sehina ini.
Tak sabar lagi, Elkan langsung membaringkan tubuh Alsa di atas shofa panjang, lalu menindihnya.
"Jangan terlalu banyak berpikir ataupun mengeluh. Cukup nikmati saja keindahan surga dunia bersamaku." Bisik Elkan sebelum kemudian mencium bibir Alsa.
"Embbhhh.."
Tangan Alsa terkepal erat. Ingin rasanya dia menendang tubuh laki-laki itu menjauh dari atas tubuhnya, tetapi ia tak punya cukup nyali untuk melakukan itu.
"Meskipun kau adalah Ayah dari anak dalam kandungan ku, tapi aku berharap, anakku kelak tidak menuruni sikap-mu." Batin Alsa.
Tangan kiri Elkan semakin berkelana kemana-mana, sedangkan tangan kanannya di gunakan untuk menahan berat tubuhnya supaya tidak memberatkan Alsa dan juga kandungannya.
"Emmbhhh.."
Alsa tak kuasa menahan suara desahnya saat Elkan memegang aset berharganya.
"Buka mulutmu dan balas lah ciumanku." Bisik laki-laki itu di sela ciumannya.
Baiklah! Malam ini, Alsa akan mengubur harga dirinya dan perasaannya. Dia akan menuruti semua kemauan Elkan. Tak ada salahnya menjadi selimut pengganti, yang penting, ia mendapatkan uang untuk biaya hidupnya dan anaknya.
"Embbbhhh!."
Alsa memejamkan kedua matanya erat, mencoba menikmati ciuman panas yang mereka lakukan.
Sementara itu, tangan Elkan sudah mulai membuka kancing baju yang di pakai Alsa.
L*d*h mereka berdua saling mel*l*t dan saling m*nyes*p, mencari sensasi memabukkan antara satu sama lain. Bahkan, Elkan juga sesekali menggigit bibir bawah Alsa dan melumatnya.
Semakin lama, ciuman mereka semakin membara penuh g*ir*h. Dan tanpa sadar, tangan Alsa yang semula terkepal erat, kini menjadi sebuah cengkram k*nikm*t*n.
Elkan melepaskan tautan bibir mereka, lalu kemudian berganti menciumi l*h"r jenjang Alsa yang putih bersih.
Laki-laki itu meninggalkan banyak sekali tanda merah di leher tersebut, sebelum kemudian bibirnya semakin merayap ke bawah lagi.
Di saat Alsa ingin mencapai puncaknya, tiba-tiba Elkan menghentikan kegiatannya itu. Ia pandangi wajah Alsa yang telah memerah dengan mata yang sayu.
"Aku bahkan belum melakukan ke intinya, tapi kau dengan mudahnya ingin pelepasan. Tahan, sayang.. mari kita mendaki bersama dan mencapai puncak bersama-sama." Bisik Elkan. Setelah itu, ia membuka semua pakaiannya.
"Scream my name in your breath.." Gumam Elkan lirih.
"Mari kita lakukan ke tahap selanjutnya..