Hidup Vania langsung berubah saat kedua orang tuanya memutuskan untuk menjodohkannya dengan seorang laki-laki bernama Alfin yang merupakan putra dari sahabat papanya.
Berawal dari pertemuan yang tidak menyenangkan, keadaan terus memaksa mereka harus bisa hidup berdampingan dan saling memahami dengan segala perbedaan yang ada walau awalnya menikah tanpa cinta.
Let's cekidot⬇️
Story by Okiramitzu
________
📢 Mohon maaf jika masih terdapat banyak kekurangan🙏
enjoyyyyyy💃
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Okiramitzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Vania dan Alfin berada di rumah Vania. Hiruk pikuk ramainya suasana pernikahan mereka sudah sirna.
Orang tua mereka mempunyai kesepakatan bahwa malam ini setelah hari pernikahan, pengantin baru ini akan tidur di rumah mempelai perempuan dan besok akan bertolak untuk tinggal di rumah Alfin untuk sementara, sebelum akhirnya mereka nanti tinggal di rumah sendiri.
Malam ini Vania merasakan lelah yang luar biasa, setelah hampir seharian menyalami para tamu. Begitupun dengan Alfin.
Mereka harus rela berbagi tempat tidur, Vania harus merelakan malam ini kamarnya juga ditempati oleh Alfin yang sekarang sudah berstatus suaminya.
Alfin dan Vania mengambil posisi mereka masing-masing, bersebelahan dalam satu tempat tidur dan sama-sama masih dalam posisi duduk.
“Gini, sekarang kan kita sudah jadi suami istri,” kata Alfin memulai pembicaraan.
“Terus?”
“Ya sekarang kita tinggal jalani aja sebagaimana mestinya, mau gimana lagi.” Alfin terlihat pasrah.
“Maksudnya?”
“Sebagai suami istri, ya kamu tinggal melakukan tugas sebagai istri, tugas kamu melayani suami.”
“Hah??! Termasuk melayani lo untuk ... itu??! Ogah banget, gue nggak siap untuk ini, ya Tuhan.”
“Ya enggak lah, kamu tinggal nyiapin keperluanku, masak buat aku, nyuci baju, pokoknya pekerjaan rumah tangga.”
“Terus lo ngapain?”
“Ya aku kerja buat kasih nafkah kamu, gampang kan? Eittss, satu lagi. Kamu ngomong apa tadi? Gak ada gue gue elo elo ya, aku gak suka!”
“HAH?!!”
“Harus nurut dong!!”
“Gue ...”
“Atau, kamu harus ganti kalung berlian yang hilang itu?!”
“Dasar ya! Oke, Gue ….” Vania menahan omongannya. “Aku nggak sengaja ngilangin tuh kalung."
“Ya gapapa sih, asal nggak dijual aja.”
“Lo bener-bener ya!”
“Eh, ngomong apa?”
“Fin.” Vania melirik Alfin yang sekarang sedang sibuk main hp.
“Hmm?”sahutnya.
“Kenapa sih kamu mau menikah dengan aku? Kamu kan dari awal harusnya bisa menolak? Aku bener-bener nggak siap untuk ini," kata Vania terdengar lirih.
“Ya alasannya karena aku nggak bisa nolak permintaan papa sama mama.”
Alfin melepas pandangannya sebentar dari hanya dan menatap Vania.
“Vania, aku ini orangnya sangat sibuk, dan aku harus menikahi cewek yang bisa mengerti keadaanku, papa aku juga udah keluar uang banyak kan untuk pernikahan ini, aku nggak mungkin dong mengecewakan mereka, nyari uang itu nggak gampang!”
“Aku nggak bisa ngerti keadaan kamu.”
“Status kamu cuma istri, aku nggak nuntut lebih kok. Karena kita menikah bukan karena cinta, kita nggak akan peduli apapun yang dilakukan pasangan kita nantinya. Aku sibuk dengan pekerjaanku, kamu sibuk dengan aktivitas kamu sendiri, kita sama-sama nggak ada yang keberatan, kan?” terang Alfin.
Lalu ia meletakkan hp nya di atas nakas.
“Bahkan kita berbagi tempat tidur?”
“Iya. Nggak masalah kan?”
“Terus, kamu nggak bakal maksa aku kan buat melayani kamu di ranjang?” Vania bertanya dengan ragu.
“Nggak lah!” tegas Alfin. “Kecuali kalo aku lagi pengen, bisa jadi.”
Vania melempar bantal ke arah Alfin. “Gila lo!!”
“Etss … ngomong apa tadi?” Alfin mendongakkan kepalanya ke arah Vania.
“Iya, maaf! Beneran loh ya, nggak boleh ganggu kegiatanku di kampus?”
“Ya asalkan dalam hal wajar, nggak masalah. Udah ah! Aku ngantuk, capek rasanya.”
Alfin sudah mulai berbaring dan segera memejamkan matanya.
Sementara Vania masih terdiam termenung, memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dalam kehidupannya bersama Alfin.
Ini adalah malam pertama mereka setelah pernikahan, ia menatap ke arah wajah Alfin. Laki-laki ini benar-benar terasa asing baginya.
Alfin tiba-tiba membuka matanya. “Heh. Kok belum tidur?”
“Iya ini juga mau tidur.” Vania pun segera menarik selimut dan tidur di samping Alfin.
Ini pertama kali bagi Vania harus berbagi tempat tidur dengan seorang laki-laki.
Memang yang tidur di sampingnya sekarang adalah suaminya, tapi suami itu sekedar status, Alfin bukan suami yang sesungguhnya bagi Vania.
***
Keesokan harinya.
Vania mengemas barang-barangnya yang akan dibawa untuk tinggal bersama Alfin, Vania dibantu Saira yang sedang melipat-lipat pakaian.
Sementara Vania mengeluarkan pakaiannya dari dalam lemari.
“Dibawa semua, Sayang?” tanya Saira.
“Nggak, Ma. Yang Vania perlukan aja.”
“Buku-buku kuliah kamu, sudah?”
“Sudah, Ma. Tadi Alfin yang mengemasnya.”
“Udah selesai?” Alfin tiba-tiba masuk ke kamar menghampiri mereka.
“Dikit lagi,” sahut Vania.
“Oke, kalo gitu aku temenin papa ngobrol dulu sebentar.” Lalu Alfin segera pergi lagi.
“Vania, Mama udah bener-bener lega sekarang karena kamu dimiliki orang yang tepat, apapun akan kami lakukan untuk membuat kedua putri kami bahagia,” kata Saira.
“Iya, Ma.” Vania hanya bisa pasrah, tapi baginya melihat orang tuanya merasa bahagia itu sudah cukup.
***
Vania dan Alfin sudah siap memasukkan barang mereka ke bagasi mobil dan siap untuk segera berangkat ke rumah orang tua Alfin.
Mereka berpamitan kepada Suherman dan Saira.
“Nanti baik-baik ya di sana,” pesan Saira kepada Vania.
“Alfin, Papa titip Vania ya, jaga dia baik-baik.”
“Iya, pasti Pa,” jawab Alfin.
“Kamu Vania, yang nurut ya sama suami kamu.”
“Iya Ma.” Vania memeluk Saira, sebelum akhirnya mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
“No.. tunggu!” Bella mengejar jejak Nino yang berjalan sangat cepat. Ia baru saja keluar tiba-tiba dari ruang rapat BEM.
“Lo kenapa sih? Pergi gitu aja?”
“Lo masih nanya? Bel, nggak semua orang kan harus setuju sama apa mau lo?”
“Gue cuma mau acara Festival Musik dan Seni di kampus kita dimajukan. Salah ya? Lagian anak-anak yang lain setuju kok.”
“Lo pikir gampang bikin acara sebesar itu dengan waktu sesingkat yang lo mau?!”
“Lo kenapa sih No? Kok marah-marah sama gue? Biasa aja kali, No. biasanya kan lo juga suka bikin persiapan acara dalam waktu singkat?”
Nino menatapnya diam.
“Oh, gara-gara mahasiswi baru itu mungkin ya lo jadi gini sekarang ke gue?! Lo udah nggak dukung gue lagi?”
“Maksud lo apa?!”
“No, gue tau tipe lo bukan kayak cewek itu! Lo masih ngejar dia? Buat apa? Nggak guna!”
“Lo udah melenceng ya Bel dari pembahasan kita! Lagian masalahnya apa buat lo?”
“Lo masih nggak nyadar?!! Denger No, dia itu nggak ada apa-apanya dibanding gue! Selera lo rendah banget sih?!” Bella menyilangkan lengannya.
“Setidaknya dia lebih baik dari lo yang main curang di belakang!” ketus Nino.
“Maksud lo apa No?”
Nino menyeringai.
“Lo pikir gue nggak liat lo ngedorong Vania ke jurang waktu itu?!”
Bella jadi skakmat dibuatnya, ia menatap heran ke punggung Nino yang sudah menjauhinya.
...❉❉❉...
Tiba di kediaman rumah orang tua Alfin, mereka disambut hangat oleh orang rumah.
Di rumah Alfin ada Haris, Ningsih, adiknya Alfin, Randi. Seorang security bernama Hardi, satu orang supir keluarga mereka, pak Suryo dan satu orang asisten rumah tangga, bi Sarni. Semuanya sekarang menjadi bagian keluarga baru Vania.
Mereka terlihat sangat gembira menyambut Vania sebagai anggota baru keluarga Haris. Vania benar-benar diperlakukan secara istimewa di rumah ini.
Malam ini keluarga mereka berkumpul untuk makan malam bersama. Vania merasa agak sedikit canggung menghadapi mertuanya.
“Jadi besok kalian udah kembali beraktivitas lagi?” tanya Ningsih. “Kamu Vania, besok mulai masuk kuliah?”
“Iya, Tante.. eh… Mama.”
Ningsih tersenyum maklum. “Dan kamu Alfin? Besok kembali kerja?”
“Iya, Ma. Besok pagi Alfin ada janji dengan klien dari Jepang.”
“Ya nggak apa apa, kalian bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, tapi kalian belum ada memikirkan untuk bulan madu?” tanya Haris.
"Mm.. nanti, Pa," sahut Alfin.
“Randi, PR kamu udah selesai dikerjakan?” tanya Ningsih.
“Sudah, Ma.”
“Bagus, deh. Kalo gitu. Ayo habisin makanannya.”
“Alfin, Vania. Nanti setelah rumah kalian rampung semua, kalian bisa langsung menempatinya,” kata Haris.
“Yah Papa, Mama kan maunya mereka di sini aja,” sahut Ningsih.
“Itu terserah mereka, Ma.”
Sebenarnya Vania memang senang berada di rumah ini karena semua orangnya sangat baik dan perhatian kepadanya, hanya saja Vania merasa kurang nyaman karena menjalani hubungan yang seperti ini.
Ia tidak ingin keluarga Alfin mengetahui keadaan dirinya dan Alfin yang sebenarnya.
Mereka harus tinggal di rumah Haris untuk beberapa saat dulu sebelum akan pindah ke rumah mereka sendiri.
Alfin sudah memberitahu Vania bahwa ia memang sudah membangun rumahnya sendiri selama ini, hanya saja belum rampung semua.
***
Vania mondar mandir tidak jelas sambil terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Malam ini mereka kembali harus tidur di kamar yang sama, yaitu di kamar Alfin yang tampaknya sudah di atur senyaman mungkin oleh Ningsih, khusus untuk mereka.
Alfin yang sedang duduk di tempat tidur sambil bermain gawai, merasa agak risi melihat kelakuan Vania.
“Kamu kenapa? Mondar mandir kayak metromini!”
“Kita harus secepatnya pindah dari sini…!”
“Ya kan aku udah bilang, sabar dulu,” sahut Alfin santai.
“Nggak bisa!”
“Nggak bisa kenapa?”
“Kita nggak bisa pura-pura mesra terus kan di depan mereka? Aku nggak nyaman!”
Vania sekarang sudah berhenti seliweran.
"Akan lebih baik kalo kita nggak tinggal sama mereka, kita bisa bebas ngapain aja kan? Kita bisa cari kontrakan, yang penting pindah segera,” kata Vania.
Sementara Alfin tertawa geli.
“Kenapa ketawa?!”
“Kamu aneh aneh aja. Ngapain kita cari kontrakan? Rumah aku cuma belum beres aja, kalo sudah rampung semua, terisi perabotannya, ya kita langsung bisa tinggal di sana, sabar dulu lah!”
“Nggak bisa! Aku mau secepatnya,” pinta Vania sebal dan langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Alfin.
Alfin menatap punggung Vania.
“Kamu hanya tinggal menganggap rumah ini seperti rumah kamu juga, kan gampang?”
“Tapi kan tetep aja nggak enak sama mama papa kamu, apalagi kalo aku mau pergi kemana-mana.”
“Iya, secepatnya kita pindah.”
...✿✿✿...
Hari sudah pagi, semalam mereka tidur dengan pulas. Vania yang masih setengah sadar dalam tidurnya membalikkan badan dan perlahan membuka matanya.
Tampak di depannya terlihat wajah Alfin yang masih tertidur pulas hanya berjarak beberapa inchi darinya, Vania terkesiap dan langsung berteriak histeris, membuat Alfin tiba-tiba terbangun.
Baru bangun tidur mereka merasa panik karena teriakan Vania yang sangat mengganggu.
Sebenarnya Alfin sangat kesal dengan Vania, tapi begitu melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan sudah jam 7 pagi, mereka sama-sama tambah panik karena bangun kesiangan.
Tanpa pikir panjang Alfin langsung loncat dari tempat tidurnya, bergegas menuju kamar mandi.
“Eh, kamu mau kemana?!” Vania mengikutinya.
“Ya mau mandi lah, kamu nggak lihat jam berapa sekarang?”
“Nggak, nggak boleh!" Vania mencegah Alfin. “Aku duluan yang mandi!!!”
“Aku duluan!"
“Enggak, aku duluan!”
Mereka saling menghalangi, sampai pada akhirnya tiba di depan pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar mereka.
“Aku duluuu..!!!”
Vania sudah panik karena hari ini ada jadwal praktikum jam 8, sementara kampusnya agak jauh dari rumah Alfin.
“Ya udah, mandi bareng," ajak Alfin.
Sementara Vania masih berusaha keras merebut gagang pintu kamar mandi dari tangan Alfin.
“Nggak mau!!”
Akhirnya Alfin langsung mengangkat tubuh Vania dan menjatuhkannya ke kasur, lalu langsung berlari ke kamar mandi.
“Aku duluaann!!”
Vania tak bisa berbuat apa-apa, selain merasa kesal karena Alfin tidak mau mengalah dengannya.
“Menyebalkaann!” pekiknya sambil terus merasa panik.
Hari ini jadwalnya pak Bowo, dosen killer di fakultasnya. Vania pasti akan kena omelan karena terlambat, omelan sih tak seberapa, tapi tugas susulannya itu yang membuatnya kenapa-kenapa.
Tapi Vania tak kehabisan akal, ia memutuskan untuk turun dari lantai dua rumah itu ke lantai dasar untuk menumpang mandi di kamar mandi dapur.
“Non Vania mau ke mana?” tanya bi Sarni yang kala itu sedang menyapu di dekat dapur. Bi Sarni terheran melihat Vania terburu-buru.
“Numpang ke kamar mandi, Bi,” jawab Vania sambil setengah berteriak.
Sementara bi Sarni hanya merasa kebingungan melihatnya.
***
Alfin sudah siap di mobilnya dan masih menunggu Vania.
“Vania!! Cepat dongg!” teriak Alfin sambil membunyikan klakson mobil.
Sementara Vania masih di dalam rumah berjalan menuju keluar.
“Kalian nggak sarapan dulu?” tanya Ningsih.
“Enggak, Ma. Nanti aja di kampus.” Vania menyalami mama mertuanya dan langsung masuk ke mobil.
“Dasar pengantin baru,” ucap Ningsih sambil menggelengkan kepalanya dan tersenyum melihat mereka.
Saat sudah di perjalanan, Alfin tersadar akan sesuatu. “Kampus kamu kan beda jalur dari arah kantorku?”
Vania mengiyakan.
“Aku nggak bisa harus nganter sampai ke kampus, kamu cari taksi aja ya?”
Alfin langsung mengesampingkan mobil nya dari jalan tersebut untuk menurunkan Vania. Sedangkan Vania hanya melongo.
“Loh ... loh. .. kok?”
“Kamu turun di sini, cari taksi, ini uangnya!” Alfin menyerahkan beberapa lembar uang ke Vania.
Tanpa banyak kata, Vania langsung begitu saja keluar dari mobil dan membiarkan mobil Alfin cepat melaju menjauhinya.
Vania masih terbingung-bingung sambil melihat ke arah genggaman tangannya yang berisikan uang pemberian dari Alfin.
***
Di Kampus.
“Udah dong, Vania.” Adelia resah melihat Vania yang sedang cemberut sedari tadi. “Santai."
“Santai gimana? Udah kena omelannya pak Bowo, dapat tugas darinya pula.” Vania sebal.
“Mungkin Alfin benar-benar lagi terlambat jadi nggak bisa nganter lo,” kata Adelia yang sambil melahap baksonya.
“Mana ada? Dia sengaja tuh! Gara-gara dia kan gue telat jadinya, telat dua puluh menit aja kok, mana dapat tugas lagi.”
“Emang tugasnya apa?” tanya Adelia.
“Nih.” Vania meletakkan sebuah buku pelajaran di atas meja. “Disuruh nyatet semua isi ni buku!”
“Gokil.” Adelia tertawa.
“Udah gue bilang kan Alfin tu …” Vania menahan ucapannya.
Nino menghampiri mereka, ia duduk di kursi seberang meja mereka.
“Kak Nino?”
“Gimana kabarnya?" tanya Nino ke Vania.
“Baik, kok," jawab Vania.
“Oh ya, jadi anak-anak UKM lain sama anak-anak BEM bakal ngadain acara Festival Musik dan Seni gitu dari UKM-UKM kampus. Lo pada dateng ya, pampletnya udah ditempel kok di mading.”
“Iya, kita pasti dateng!” seru Adelia.
“Sip! Gue tunggu ya.”
Nino melihat ke arah Oris yang sedang mendekati mereka.
“Hei Oris! Kebetulan lo ada di sini.”
“Kenapa?” tanya Oris berlagak cuek.
“Jadi gini, kan anak-anak pada mau ngadain acara Festival Musik dan Seni di kampus. Kebetulan kita lagi perlu bantuan lo nih, kita perlu vokalis band karena vokalis yang ada sudah konfirmasi berhalangan hadir pada tanggal acara, lo bisa kan?”
Mendengar sebuah tawaran menarik, wajah Oris mendadak hangat. “Yang bener??”
Oris duduk sekarang bersama mereka. Adelia dan Vania terlihat bersemangat mendengarnya.
“Iya.”
“Udah, Ris. Sikat!! Ini acara satu kampus loh, lo bisa terkenal deh," timpal Adelia sangat bersemangat.
“Oke deh, gue mau! Gimana menurut lo Vania?”
“Loh kok gue? Ya siipppp lah.”
“Okeh, nanti gue kabarin lagi ya.” Nino menepuk bahu Oris, lalu pergi.
“Gue bakal jadi artis kampus!!” kata Oris bersemangat.
“Yaelah lo, seneng banget.”
“Apaan sih Del, sirik aja lo! Lo tuh punya bakat akting masa nggak dikembangin?”
“lhaaa, bakat akting apaan?”
“Akting suka pura-pura bahagia jadi jomblo!” Oris tertawa geli meledeknya.
“Aaaarggghhh, dasar kamprett lo, Ris. Lo juga jomblo kali.”
“Yee. Emang bener kan? Gini ya, kalo lo garang gitu, mana ada cowok yang mau ama lo?!”
“Isssstttt. Oris lo sumpah ya, ngeselin banget!!!!” Adelia sangat kesal dibuatnya.
“Oris, Oris …” Vania menggelengkan kepalanya.
“Eh, Van. Gue tau lo baru nikah, tapi gak usah juga sampe telat ke kampus, lo kan tau pagi jamnya pak Bowo! Ngerasa kan lo dapet tugas dari pak Bowo.” Oris kegirangan meledeknya.
“Iya, gara-gara kesiangan gue.”
“Emang lo di ‘hajar’ semaleman Van sama Alfin? Sampe kesiangan gitu.” Adelia tertawa geli.
Vania bergidik ngilu. “Apaan sih lo!” ketusnya.
“Yaelah lo Del, gue tu tau banget kali Vania tu nggak bakal mau dia sama orang yang nggak dia suka, meskipun dia udah jadi istrinya.”
“Sok tau lo, Ris! Kalo udah cowok kayak Alfin yang ngajak gituan, semua cewek pasti mau lah!” sahut Adelia, Vania menyimak mereka berdua.
“Udah udah! Kita nggak usah bahas dia! Lama-lama beneran ngeres otak lo!” pungkas Vania.
...✿✿✿...
Vania membantu Ningsih dan bi Sarni menyiapkan makan malam.
“Vania harap maklum ya, harusnya Alfin dari sore sudah pulang.”
“Nggak apa-apa, Ma.”
“Iya. Anak itu kadang kalo banyak pekerjaan memang suka pulang malam, bahkan sampai larut malam. Tapi kan ini baru hari ketiga kalian setelah menikah, harusnya dia bisa cepat pulang dong."
“Iya, biarin aja, Ma. Ayuk kita makan. Mungkin dia akan makan di luar malam ini,” kata Vania tersenyum.
“Iya Sayang.”
Ningsih lalu terheran melihat Vania yang tiba-tiba terdiam seperti memikirkan sesuatu.
“Vania kamu kenapa?”
“Mm … soal kalung berlian itu, aku minta maaf ya, Ma?”
“Ya ampun, dikira apa. Udah nggak papa, tenang aja. Nanti Alfin belikan yang baru.”
“Bukan gitu maksudnya, Ma. itu kesalahan Vania.”
“Iya, gak papa. Yang penting kamu baik-baik aja.”
“Kak Vania.” Randi menghampiri mereka. “Nanti habis makan, ajarin Randi ya mau buat PR.”
Vania mengiyakan. Randi terlihat sangat girang. Ia sangat senang akhirnya memiliki kakak perempuan.
***
Alfin menaruh tas kerjanya di atas meja. Ia baru sadar bahwa di kamarnya sekarang tidak ada Vania. Suasana rumah sudah terasa sunyi malam ini.
Tak lama kemudian Alfin selesai mandi dan tiba-tiba Vania masuk ke kamar.
Vania langsung berteriak ketika melihat Alfin yang masih memakai handuk yang melingkar di pinggangnya selesai dari kamar mandi.
Vania merasa geli melihat badan Alfin yang putih bersih dan berbentuk sangat bagus.
“Cepetan pakai baju,” kata Vania sambil menutup matanya. Alfin mengiyakan.
“Kamu dari mana?” tanya Alfin sambil memakai baju.
“Habis bantu Randi kerjakan PR.”
“Hah?!! Dikamar Randi? Berdua?!!” Mata Alfin melotot menatapnya.
“Ya enggak lah, di ruang TV, ada papa juga di sana.”
“Kirain di kamar Randi, taunya nanti malah mau macem macem sama adekku.”
“Idih … maksud kamu?!” Vania berjalan ke tempat tidurnya.
“Ya sapa tau, kamu nggak suka sama kakaknya, malah mau sama adeknya! Randi kan ganteng dan udah remaja!”
“Ihh … mikirnya sampai ke situ!"
“Ya lagian kamu, udah tau suami pulang, bukannya melayani suami!” Alfin menyusul Vania, ikut duduk di tempat tidur.
“Ayo sini." Alfin menyuruhnya duduk lebih dekat.
“Aku masih kesal ya, gara-gara kamu tadi pagi aku telat!” Vania melipat tangan dengan wajah judesnya.
“Hah?! Kamu hamil?!” Alfin membulatkan mata. “Belum juga diapa-apain.”
“Arrrgghh. Bukan itu, aku telat masuk kelas!” Vania kesal. "Pikirannya macam-macam aja ya."
Alfin tertawa geli.
“Oh itu? Bilang dong, jadi kan aku nggak harus mengira kamu hamil. Kali aja udah keduluan orang lain.”
“Iihhhh … aku masih ori ya.”
Vania makin kesal melihat wajahnya.
“Masa?” Alfin mencondongkan badannya mendekat ke arah Vania.
Ia memperhatikan, setelah dilihat-lihat lagi, ia baru menyadari betapa cantiknya gadis di hadapannya saat ini.
Njirr … jantung guee, Vania menggerutu dalam hatinya.
“Kita buktikan sekarang yuk?!!” goda Alfin.
Bukkkk… Sebuah bantal mendarat di wajah Alfin dengan mulus.
“Fokus donk!!! Gimana soal kepindahan kita??”
“Mmm … Tadi sih, aku sama papa udah cek rumah, dan udah selesai dibersihkan juga, cuma masih ada ruangan yang belum terisi perabotan,” terang Alfin.
“Ya udah, kita langsung pindah aja. Toh rumahnya kan sudah bisa ditempati dan masalah perabot, kan kita bisa beli belakangan?”Vania begitu bersemangat.
“Iya, nanti kita pindah. Aku ngomong ke papa sama mama dulu tapinya, kunci rumahnya mereka yang pegang.”
Vania mengangguk bersemangat.
"Jadi gimana, jadi ngebuktiin sekarang nggak?" goda Alfin lagi.
Vania langsung memasang wajah kesal seperti hendak langsung menghajarnya.
***
arsitek itu profesi. sedangkan, ilmunya arsitektur.
ambil jurusan apa? dokter. anehkan?
yang benar ... kedokteran.
mengingat masa remaja wwkwk