NovelToon NovelToon
Disenchanted

Disenchanted

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Persahabatan / Teen School/College / Teen / Cintapertama / Tamat
Popularitas:16.9k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Jeehan tak menyangka bahwa akhir persahabatannya dengan Harris harus berubah menjadi perasaan cinta dalam munajat panjang. Dengan rangkaian doa dan pinta, ia mencoba mengetuk pintu langit bersama nama Harris di hatinya. Berharap laki-laki itu jadi kekasih halalnya kelak.

Namun, ia tak menyangka bahwa perhatian yang sahabatnya berikan hanyalah wujud dari rasa simpati sebagai teman. Yang Harris cintai sebenarnya ialah seorang perempuan di masa lalunya yang tanpa sengaja kembali hadir.

Rasa cinta yang semula Jeehan miliki harus terpaksa ia hapus saat Harris menyatakan cintanya pada Alisha. Mau tak mau Jeehan harus menelan pahitnya kecewa sendirian, sebab setelah sekian lama bersahabat, Harris masih tak memahami diri juga perasaannya.

Sejak saat itu, Jeehan memilih untuk menutup rapat hatinya sebab kecewa bukanlah episode yang ingin ia ulang, apapun alasannya. Lalu, bagaimanakah perjalanan cinta mereka? Akankah Jeehan berhasil menghapus Harris dalam hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Disenchanted 11 — Cinta Dalam Sujudku

Jeehan berlari ke kamar dengan menyeka air matanya, sebisa mungkin menyembunyikan jejak tangisnya dari sang Ibu yang tadi sedang menonton televisi. Jee hanya mengucap salam lalu sedikit berlari ke arah kamarnya di lantai dua.

Mengunci pintu, Jeehan luruh jatuh ke lantai. Tangisnya pecah lagi, sungguh ia tak mengerti dengan perasaannya sendiri. Rasa cinta itu rasanya mulai mengoyak akalnya sedikit demi sedikit. Menekan dadanya yang terasa sesak, Jee melirik jam di atas nakas. Sudah pukul 5, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang.

Ia seka bekas tangis di pipi kemudian beranjak meletakkan tasnya di lemari. Sesaat ia termenung di depan cermin, menatap sosok dirinya sendiri yang tampak menyedihkan. "Apakah mencintai seseorang harus semenyedihkan ini?" ucapnya bermonolog. Lagi, ia mengusap air matanya yang tak sengaja turun ke pipi.

Adzan berkumandang tepat sekali saat Jeehan menuntaskan mandinya. Cepat-cepat ia mengenakan pakaian dan mukenanya. Menggelar sajadah dan siap mengangkat tangan untuk menyembah-Nya, Jeehan menuntaskan rukun-rukun salat itu penuh khusyuk. Sepenuhnya menundukkan diri di hadapan Sang Pencipta.

Selepas salam diucapkan, Jeehan mengangkat kedua tangannya untuk berdoa. Menengadah memohon ampun atas segala dosa dan kesalahannya, memohon ampun untuk kedua orangtua, meminta kebaikan-kebaikan bagi keluarga tercinta serta bersyukur atas semuanya. Atas apa-apa yang ia terima hari ini adalah cara Jeehan untuk menikmati karunia-Nya.

Terakhir sekali, dengan lirih Jeehan memohon agar Tuhan menjaga hatinya dari perasaan cinta yang berlebihan. Termasuk rasa cintanya terhadap Harris. Jeehan sungguh takut jika perasaan cinta itu akan mengundang murka-Nya dan membuatnya berpaling dari cinta yang seharusnya.

Mendoakan Harris di setiap sujud adalah cara yang dipilih Jeehan dibanding harus mengungkap perasaan itu. Jeehan berpegang teguh pada prinsip bahwa sebaik-baiknya cinta adalah dengan mendoakan orang yang dicintainya.

Setelah lirih doa itu, samar-samar Jeehan mendengar rintik hujan menampar-nampar jendelanya. Melipat sajadah, Jee beranjak ke tepi jendela, membukanya pelan dan membiarkan tetes-tetes air hujan itu membelai wajahnya mesra.

Dingin tapi cukup untuk membantunya menyembunyikan air mata yang entah kapan luruh lagi. Saat mengingat pernyataan Harris, hatinya sungguh terasa sakit dan sesak. Meski di satu sisi ia senang mengetahui fakta itu, tapi Jeehan masih tak dapat memercayainya.

Benarkah yang diucap Harris itu? Mengapa sulit sekali memercayainya? Dan jika itu benar, Jeehan merasa tak akan bisa menerimanya.

"Ya Allah, aku harus gimana?"

Bimbang. Jee tak dapat menemukan cara bagaimana ia bisa menghadapi Harris besok. Setelah apa yang terjadi, Jee merasa sangat sulit untuk bersikap seperti biasa.

•••

Sementara itu, di kamarnya, Harris tengah berusaha keras menghubungi Jeehan. Namun entah mengapa ponselnya tak bisa dihubungi.

"Jee pasti marah banget sama gue," monolognya melempar ponselnya ke tepi kasur. Membaringkan tubuhnya frustasi. Pikirannya kacau. Menyesali ucapannya tadi siang.

"Harusnya gue gak usah ikutin tantangan si curut Amir. Gimana dong aelah!" Harris mengacak rambutnya asal. "Hujannya deras banget lagi!"

Bangun dari tempat tidurnya, Harris membuka jendela dan merasakan hujan jatuh mengenai wajahnya. Ia menatap ke samping, tepat saat itu, ia lihat Jee tengah berdiri di jendela, sama sepertinya.

"Jeehan?" katanya seolah tak percaya.

Melihat itu, sontak sebuah ide muncul di kepalanya. "Gue harus ke rumah Jee sekarang! Gimana pun caranya gue harus jelasin semuanya ke Jeehan!" katanya lalu sedikit berlari keluar.

Ia bahkan mengabaikan sang ibu yang bertanya mau ke mana ia di tengah guyuran hujan. Harris berlari sampai ia berada tepat di bawah jendela kamar Jeehan.

"Jeehan! Lihat sini, Jee!" panggilnya cukup keras. Perempuan yang sedang menikmati hujan itu lantas menoleh ke bawah. Di sana, tampak Harris yang basah kuyup dan melambaikan tangannya.

"Harris? Ngapain sih? Kenapa main hujan-hujanan? Jangan-jangan ...." Jee langsung melepas mukenanya dan memakai hijab. Ia turun ke bawah dengan tergesa. Beruntung ibunya tak ada di ruang tamu, jika tidak, ia pasti akan menegur Jee.

Mengambil payung, Jee membuka pintu gerbangnya. Melihat Jee membuka gerbang, Harris tampak sumringah dan mendekati pagar.

"Kamu ngapain hujan-hujanan?" tanya Jee sedikit berteriak. Derasnya hujan membuat suaranya tak terdengar.

Harris mengusap wajahnya, air hujan membuat matanya terasa perih. "Aku mau jelasin sesuatu ke kamu Jee."

"Kan bisa besok!"

"Gak bisa! Aku gak mau kamu salah paham sama aku Jee. Maaf kalau aku keterlaluan tadi," ucap Harris menggigil kedinginan.

Jeehan jadi tak tega, ia pun membuka gerbangnya sedikit lebih lebar dan membiarkan Harris masuk. "Masuk dulu! Jangan sampai kamu masuk angin!" kata Jee khawatir.

"Kamu tunggu di sini, biar aku ambilkan handuk dulu!"

"Eng-enggak usah, Jee. Aku cuma mau bilang—"

"Tunggu di sini! Atau kamu mau flu? Pokoknya tunggu di sini, aku panggil Ibu dulu."

Harris hanya bisa mengangguk. Badannya menggigil lantaran menerobos hujan. Tak lama dari itu Jee kembali dengan membawa handuk.

"Duduk, Ris. Aku bikinin teh jahe ya?" katanya lalu berlalu lagi ke dapur. Membuat secangkir teh dengan tambahan jahe lalu memberikannya pada Harris.

"Makasih, Jee. Maaf bikin kamu repot malam-malam," ucapnya merasa sedikit bersalah.

"Tunggu, aku lupa sesuatu, kamu mau—"

"Jee, please. Aku gak butuh apa-apa," kata Harris memotong ucapan Jee. Seketika, gadis itu terhenti di tempat. Entah karena apa, perasaannya kembali bergemuruh seperti suara petir yang bersahutan di luar.

"Aku ... Aku mau minta maaf, Jee. Soal yang tadi di taman belakang sekolah. Maaf kalau aku bikin kamu kaget, aku gak niat gitu. Tadi waktu kelas musik, aku dapet tantangan dari Amir. Dan tantangannya adalah aku bilang suka sama kamu. Maaf, Jee. Aku gak seharusnya ngikutin kata Amir, tapi kamu tahu kan Amir tuh kayak gimana?" papar Harris menjelaskan semuanya.

Dada Jee kian sesak saat tahu kenyataan itu. Lebih sakıt dibanding saat ia mendengar pengakuan Harris tadi sore. Jadi, semuanya bohong?

Jee menyeka pipinya dan memaksakan senyumnya. "Kamu merasa bersalah gitu? Ya ampun, Ris! It's okay, maaf juga kalau tadi aku tiba-tiba lari. Walaupun ya beneran sih, aku emang kaget banget. Tapi gapapa, untuk selanjutnya tolong jangan ulangi lagi, oke?" katanya berusaha terlihat baik-baik saja.

"Kamu gak marah Jee?" tanya Harris meyakinkan dirinya sendiri. Ia cukup lega jika Jee tak begitu marah padanya.

Jee mengulas senyumnya lalu mengangguk. "Oh, satu lagi. Kamu harus nasehati Amir supaya gak main tantangan yang kemungkinan bisa bikin orang sakit hati, Ris. Apalagi kalau menyangkut perempuan," ucapnya lagi.

Harris mengangguk, untuk yang satu itu pasti akan ia lakukan. Sebab ia juga ingin sekali memarahi Amir. Mereka berdua tampak baik kembali. Namun, yang tak Harris ketahui, dalam senyum Jeehan itu terdapat luka dan kecewa yang menganga.

Setelah itu, Harris bercerita tentang kegiatannya di ruang musik. Keduanya pun tertawa. Seperti biasa, Jeehan akan menimpali cerita-cerita Harris dan menjadi pendengar yang baik bagi lelaki itu.

Bagaimana aku tidak jatuh cinta denganmu? Saat tawamu saja dapat melelehkan hatiku.

1
falea sezi
terusan jee mana jangan bkin gantung donk
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
fokus saja pada kebahagiaanmu Jee
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
salah orang woy 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Bastian udah kabur 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Setuju,
Semangaaat Jee 💪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Surprise 🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Hadeuh 😣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kan bener,ngapain marah" 🤪
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Dih ternyata numpang dirumah istrinya 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
jangan pas seneng" aja, noh urus suamimu yg lagi sakit 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Emang bukan madu tapi racuun 🤬
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Salah sendiri kenapa harus ada perempuan" padahal cukup 1 perempuan 😌
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
alasannya karena ayahmu punya istri baru 😏
falea sezi
kok end thor
Mukmini Salasiyanti
udah End ajaa.... ??
hiks.. hiks...

Gk usah buat sequelnya kk Hern..
sedih&kecewaku sdh Habis disini..
ikut Terbang bersama Jee
(eaaaaaaa lebay....)
wkwkwk

tp kl kk berazzam tuk itu..
yaahh dgn Terpaksa la aqu read
dgn syarat Jee hidup bahagia dgn pria lain.. NO HARRIS!!!!
(eh.. situ Siapa ya, kok ngatur Author..
hihiiiiiiiii)
HK: Entah harus berakhir di sini atau tetap lanjut, kita pikirkan idenya dulu Kak Min. Thanks ya udah baca karya recehan author ini. 🥺
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kebangetan nih masa ayahnya gak tau kl anaknya sekolah disitu😏
falea sezi
hahahah mampus kau azab tuh buat pelakor ma anak nya nunggu karma bapaknya stroke aja q
Mukmini Salasiyanti
tell the truth..
walaupun itu sgt pahit.....
Mukmini Salasiyanti
aihhhhh
ternyata, thor..
begini jg alurnya???
HK: Tunggu kelanjutannya /Chuckle/
total 1 replies
Mukmini Salasiyanti
Bagus laaa kl ingat Bastian..
kukira kyk drama di novel2,
bakal Harris yg kena getahnya

wkwkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!