NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Cinta

Tiba-Tiba Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:884.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Rasti yulia

Pertemuan kembali dua sahabat lama yang kini telah sama-sama memiliki anak. Mereka berniat menjodohkan kedua anak mereka untuk lebih mempererat hubungan pertemanan yang telah lama terjalin.

Namun siapa sangka jika sebelum pertemuan dua sahabat lama itu, anak-anak mereka justru lebih dulu dipertemukan oleh takdir melalui kejadian-kejadian yang tidak pernah mereka duga sama sekali.

Arumi Nasha Razeta dan Arsyad Dzaki Mahendra, akan memulai kisah mereka di sini.

Apakah cinta dalam perjodohan itu benar adanya? Apakah pepatah Jawa yang mengatakan Witing Tresno Jalaran Soko Kulino itu akan berlaku di kehidupan keduanya? Dan akankah kehidupan mereka dipenuhi dengan kebahagiaan ataukah justru sebaliknya?

Jangan lupakan juga kehidupan kedua kakak mereka yang pastinya akan menambah bumbu sedap cerita ini..

WARNING:

Sisi lain cerita cinta dalam perjodohan. Tidak ada unsur penyiksaan maupun kekerasan terhadap pasangan. Cerita ringan dan semoga bisa menghibur para pembaca semua...

UPDATE

SELASA, KAMIS & SABTU


Happy reading semua, salam love, love, love😘😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rasti yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 11. Rencana Perjodohan

Di sebuah rumah makan di pinggiran kota Jogja terlihat dua pasang paruh baya tengah menikmati bakmi godhog juga jeruk hangat yang tersaji di depan mereka. Ya, mereka adalah ibu Anita bersama pak Herman dan ibu Risma bersama pak Hendra.

Ibu Anita dan ibu Risma dulu merupakan teman satu kelas saat duduk di bangku kelas dua SMA. Keduanya menjalin sebuah persahabatan hingga akhirnya mereka berpisah setelah ibu Risma pindah ke Semarang bersama keluarganya. Dan kini setelah dua puluh tahun lebih mereka tidak bertemu, akhirnya takdir kembali mempertemukan mereka.

"Jadi sekarang kamu menetap di Jogja, Ris?, tanya ibu Anita sambil menyeruput jeruk hangatnya.

Ibu Risma mengangguk. "Iya Nit, semenjak anak bungsuku dipindah ke Jogja, kami semua memutuskan untuk ikut pindah juga"

Ibu Anita terlihat mengangguk juga. "Jadi sekarang anakmu ada berapa?"

"Dua Nit, laki-laki semua. Yang nomer satu udah punya anak, dan yang nomer dua ini nih yang susah banget dibujuk untuk segera nikah"

Ibu Anita pun hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Oh iya kalau anak kamu berapa Nit?", sambung ibu Risma.

"Aku juga dua Ris, tapi laki-laki sama perempuan. Malah kedua-duanya juga sama-sama susah untuk diajak segera menikah", jawab ibu Anita.

"Pak Herman sibuk apa di rumah?", tanya pak Hendra yang sedari tadi terdiam.

Pak Herman hanya mengulas senyum sedikit. "Saya sibuk ngurusin burung pak"

Pak Hendra tersentak. "Burung?, burung apa pak?

Sembari meneguk jeruk hangatnya pak Herman pun kembali berbicara. "Burung kenari pak. Kebetulan saya memang hobi memelihara burung. Lagipula dari peliharaan saya itu bisa untuk membiayai kuliah anak-anak saya"

Pak Hendra terkekeh kecil. "Oalaahhh burung kenari toh, saya kira burung bapak sendiri, hhhaahaa"

Ibu Risma kemudian mencubit pinggang suaminya dan matanya pun sedikit melotot. "Papa??!!!"

Keempat orang paruh baya itupun terlihat tertawa lepas sembari bernostalgia dan menyantap hidangan yang ada di depan mereka.

Ibu Risma mengusap mulutnya menggunakan tisu setelah makanan di hadapannya tandas. "Oh iya Nit, gimana kalau kita coba jodohkan anak bungsu kamu dengan anak bungsu aku?"

Ibu Anita tersentak. Arum memang belum punya pasangan, namun sejauh ini ia tidak pernah berpikir untuk menjodohkan dengan anak teman-temannya.

Ibu Anita terlihat sedikit berpikir. Ia merasa tidak masalah juga jika menjodohkan dengan anak sahabatnya ini. Dia cantik dan suaminya juga ganteng, jadi pastinya bibitnya pun juga bagus pula.

Ibu Anita melirik ke arah suaminya. "Pa, gimana?, apa papa setuju kalau putri kita dijodohkan dengan putra bungsu Risma?"

Pak Herman terlihat mengernyitkan dahinya. "Boleh juga sih ma, tapi hasil akhir tetap ada pada anak kita masing-masing, papa cuma tidak mau memaksakan kehendak yang justru nantinya malah membuat anak kita kecewa"

Ketiga orang paruh baya itupun terlihat mengangguk. "Betul apa yang dikatakan oleh pak Herman. Karena bagaimanapun juga merekalah yang akan menjalani kehidupan berumah tangga. Tapi tidak ada salahnya jika kita membuat agenda untuk kembali bertemu. Ya siapa tahu mereka sama-sama cocok", ucap pak Hendra.

Ibu Risma tersenyum. "Bagaimana Nit?,"

Ibu Anita pun mengangguk. "Baiklah kalau begitu, kita bikin agenda agar anak-anak kita bisa bertemu secara langsung".

Dan obrolan mereka masih berlanjut. Dua puluh tahun lebih tidak berjumpa, membuat ibu Risma dan ibu Anita larut dalam cerita hidup masing-masing. Hingga akhirnya obrolan mereka terpaksa terhenti ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing.

****

"Sayang, mau ya ketemu sama anak temen mama?", ucap ibu Anita mencoba membujuk Arum.

Arum memutar bola matanya. "Mama ingin menjodohkan Arum dengan anak teman mama?".

"Ini baru rencana, sayang", jawab ibu Anita.

Arum tersenyum getir. "Apa menurut mama Arum tidak bisa mencari calon suami sendiri ma?, sampai-sampai mama ingin menjodohkan aku dengan anak teman mama?".

Ibu Anita terlihat cemas. Dilihatnya air mata putrinya itu sudah berkumpul di pelupuk matanya dan hanya tinggal menunggu untuk menetes. "B-bukan begitu maksud mama sayang, mama cuma ing_____________"

Arum beranjak dan mencoba mengusap pipinya. "Arum masih bisa mencari calon untuk diri Arum sendiri ma, jadi mama tidak perlu repot-repot untuk menjodohkan Arum dengan anak teman mama itu".

Seketika Arum meninggalkan papa dan mamanya yang terlihat masih terbengong di ruang keluarga. Mereka hanya bisa menatap punggung anaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.

****

Sementara itu di kediaman Arsyad. Terlihat ia tengah memasang muka masam nya di hadapan kedua orang tuanya. Terlihat ia sesekali mengusap wajahnya kasar. Ia tidak menyangka jika kedua orangtuanya berniat menjodohkannya dengan anak temannya.

"Pokoknya Arsyad tidak mau ma", ucap Arsyad.

"Tapi ini semua untuk kebaikanmu sayang", jawab ibu Risma.

Arsyad mendengus. "Kebaikan seperti apa yang mama maksud?, Arsyad masih belum mau nikah ma"

"Nak, ini hanya pertemuan biasa. Untuk semua keputusan kami serahkan sepenuhnya kepadamu", pak Hendra pun angkat bicara.

Arsyad mengacak kasar rambutnya.

"Tapi....", ucap pak Hendra menggantung.

Arsyad membelalakkan mata. "Tapi apa pa?"

Pak Hendra menyunggingkan senyumnya tipis. "Tapi papa harap kamu menerimanya karena papa yakin kamu pasti menyukai anak sahabat mama ini"

Arsyad menatap malas wajah ayahnya. "Memang papa pernah lihat orangnya?",

"Eh?!", pak Hendra dan ibu Risma tersentak bersamaan.

Arsyad menyunggingkan senyum tipisnya. "Kenapa ma, pa?, jangan bilang kalau mama sama papa belum melihat anak sahabat mama itu seperti apa, atau bahkan jangan-jangan papa sama mama juga tidak tahu siapa namanya?".

Ibu Risma dan pak Herman tersenyum kikuk. Mereka menggaruk kepala yang tak gatal.

"Mama bisa hubungi temen mama untuk tanya namanya juga minta fotonya sayang", ucap ibu Risma sambil mengeluarkan ponselnya.

Arsyad berdiri dari duduknya. "Tidak usah ma. Agendakan saja kapan aku akan bertemu dengan anak sahabat mama itu".

Ibu Risma dan pak Hendra terlihat berbinar. "Serius sayang?", tanya ibu Risma memastikan.

Arsyad pun hanya mengangguk kemudian melenggang meninggalkan kedua orang tuanya.

*****

"Dek, buka pintunya!", ucap Haki di depan pintu kamar Arum.

Tidak ada jawaban dari si empunya kamar. Haki kemudian menarik tuas pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Kemudian ia masuk ke kamar Arum. Dilihatnya sang adik tengah meringkuk di atas kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Samar terdengar isakan tangis Arum di bawah selimutnya itu.

Haki menghembuskan nafas kasar. Pada akhirnya dia lah yang berada di garda paling depan untuk menenangkan adik semata wayangnya itu.

"Dek, kamu jangan seperti ini. Kalau kamu kayak gini, papa sama mama bisa sedih", ucap Haki.

Arum membuka selimut yang menutupi wajahnya. "Mama sama papa jahat kak. Arum tidak mau dijodohkan!"

Haki tersenyum tipis. "Dek, papa sama mama memang berniat menjodohkan kamu_________"

"Tuh kan, mama sama papa gak ngerti perasaanku kak", timpal Arum memotong ucapan Haki.

Haki menggeleng-gelengkan kepala. "Dek, dengerin kakak dulu".

Arum terdiam berusaha mendengar penjelasan Haki. Haki menarik nafas dalam. "Papa sama mama memang berniat menjodohkan kamu, tapi mereka tidak akan pernah memaksamu."

Arum mengernyitkan dahinya. "Maksud kakak?"

Haki tersenyum simpul. "Semua keputusan ada di tangan kamu dek. Papa sama mama juga bisa menerima jika memang kamu tidak setuju. Ya tapi mereka berharap kamu menerima sih!"

Arum mendengus. "Tuh kan...."

Haki mengacak kasar rambut Arum. "Sudahlah dek, temui saja anak sahabat mama itu, lagipula hanya sebuah pertemuan biasa, siapa tahu memang berjodoh, hehehe".

Arum memukul lengan Haki, kemudian kembali menutup wajahnya dengan selimut. Haki pun hanya tersenyum tipis.

.

.

. bersambung....

Hai-hai para pembaca tersayang. Terima kasih banyak ya sudah berkenan mampir ke novel keduaku ini. Jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejak like juga komentar di setiap episode nya yahh... terima kasih..

Salam love, love, love💗💗💗

1
ika
yg ini jg udah ak baca
bagus critanya
ika
Alya istri Afif?
ika
cafe moon light di cerita apa ya?
sprtinya prnh baca tp lupa
ika
bagus
Siti Setiyowati
ngakak
Yeni Nur aini
👍
Nunung R
salah sendiri bang gengsi di gedein...
Nunung R
angkuh nya kebangetan
Ummi Alfa
Hm ...kenapa ndak diungkapin depan Arum Syad,. kata2 cintanya.
Ummi Alfa
Pas Ilham mencuri pandang ke Arumi aku berpikir jangan sampai ada pebinor si rumah tangga Arsyad dan Arum rasanya Ndak rela.
Ummi Alfa
Hm....so sweet banget sih, bikin kita pada iri aja deh!
Iya lah anggap aja gang lain ngontrak.
Ummi Alfa
Hm.....keliatannya Arsyad dah mulai bucin nih!
Ummi Alfa
Akhirnya yang seharusnya terjadi, terjadi juga.
Sekarang Arumi sudah menjadi istri yang seutuhnya.
Smoga aja Arsyad sudah mantap hatinya dan mencintai Arumi.
Ummi Alfa
Lucu sama kelakuan si Arsyad ini, lagian Arumi kan udah halal ini dah hak.kamu juga mau ngapain jangan gengsi aja digedein, giliran orangnya tidur Ndak mau diem kamu.
Kalau minta baik2 pun pasti Arumi kasih koq karena dia juga mengharapkan lebih dari perbuatan kamu tadi.
Ummi Alfa
Aku berharap nanti kamu bucin abis sama Arum ya Syad..
Ummi Alfa
Dasar kamu ya Syad ...merindukan tapi gengsi.
Ummi Alfa
Smoga aja abis ini Arsyad tidak terpisah lagi tidurnya.
Ummi Alfa
Aneh kamu mah Syad, gimana bisa menyakinkan perasaan kamu kalau kamunya sendiri malah menjauh.
Emang sikap kamu manis sama Arum, tapi aku agak kecewa aja yang sepertinya kamu menghindari sesuatu.
Ummi Alfa
Smoga di tempat yang baru tidur mereka tidak terpisah lagi.
Aku pikir .mulai ada rasa di hati Arsyad tapi liat dia memilih tidur di lantai rasanya koq sedih ya......
Ummi Alfa
Smoga aja seiring berjalannya waktu segera tumbuh benih2 cinta di antara mereka berdua.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!