Gus Fatih diberikan pilihan oleh kedua orang tuanya. Menikahi seorang gadis sholeha yang merupakan seorang ning atau menikahi seorang wanita malam.
Kira-kira siapa yang akan gus Fatih pilih? Apakah gadis sholeha yang pandai agama, atau seorang wanita malam yang hidupnya tak tahu arah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~Wanita Pilihan Gus Fatih~ part 11
Saat ke pulangan Farhan. Mereka pun bersiap untuk ke rumah Inara, melamar gadis itu secara resmi dan sopan sekalian ke makam kedua orang tua Inara.
"Deg-degaan?" tanya Farhan menepuk bahu anaknya yang menghela napas berulang kali.
Padahal sudah dipastikan Dewi menerima perjodohan itu, tapi masih aja dia deg-degaan. Bahkan yang menyetir saat ini adalah abinya sedangkan dia berusaha untuk menenangkan dirinya di belakang.
Beberapa saat kemudian. Mobil mereka pun berhenti di sebuah gang. Mereka turun dan berjalan masuk ke gang tersebut. Jelas mobil tak bisa masuk di sana gangnya terlalu kecil dan sempit.
"Ini rumah Inara dan kakak?" tanya Farhan membuat Fatih mengangguk.
Fatih lebih maju lebih dulu dan mengetuk pintu rumah. Namun, belum ada sahutan sama sekali dari dalam. Mungkin tak ada orang.
"Kayanya mereka enggak ada deh. Kan umi udah ngasih tau sih kalau lebih baik kita kasih tau mereka aja dulu sebelum kita ke sini," omel umi Tifa. "Kayanya Inara lagi nemanin kakaknya dagang."
Farhan menatap putranya. Yang sedang berusaha menghubungi sang kekasih.
"Kamu tak tahu di mana biasa kakaknya Inara dagang?" tanya sang abi membuat Fatih menggeleng.
"Mereka tuh enggak menetap di satu tempat, abi. Mereka dagangnya keliling-keliling."
Setelah mendapatkan balasan dari Inara bahwa dia akan segera pulang. Barulah mereka bernapas lega dan memilih untuk menunggu kedatangan mereka.
Tak tunggu waktu lama. Dewei Inara yang datang seraya mendoronh gerobak membuat mereka menoleh dan berdiri dari duduknya.
"Assalamualaikum," ucap mereka membuat keluarga Fatih membalasnya.
"Astaga maaf sekali nyonya, tuan. Kami tidak tahu jika kalian akan datang ke sini. Padahal kami bisa menyambut kalian tanpa harus menunggu," sahut Dewi membuka pintu rumah dan mempersilahkan mereka masuk.
Rumah itu sangat pengam dan kecil. Ruangan yang hanya beberapa meter udah sampai di dapur, pikir kedua orang Fatih.
Inara langsung membuatkan teh hanget buat mereka minum. Hanya itu yang bisa mereka buat saat ini, Dewi tak bisa membeli cemilan, sebab uang makan aja kadang mereka masak satu mie berdua.
Saat kopi dan teh sudah jadi. Inara menyajikannya di meja, Fatih tersenyum dan menatap Inara. Inara pun hanya salah tingkah dibuatnya.
Mereka pun berbincang, hanya Inara yang menyimak pembahasan mereka.
"Jadi gimana Dewi apa kamu setujuh dengan pernikahan ini?" tanya Farhan serius.
Dewi menatap mereka secara pergantian, setelah itu menatap adiknya yang sedari tadi diam dan menunduk.
"Itu dari yang ditawarkan saja, tuan. Soalnya dia yang akan menjalani bukan saya. Kalau saya setujuh-setujuh saja."
Farhan menatap calon menantunya dab menanyakan apakah dia siap di pinang oleh Fatih?
Tanpa menunggu lama, Inara langsung mengangguk, siapa sih yang tak ingin bersama dengan Fatih?
"Alhamdulillah," jawab mereka semua puji syukur.
"Jadi mahar apa yang kalian inginkan dari kami? Kalian tinggal sebutkan saja," seru umi Tifa.
"Maharnya sesuai yang kalian berikat, karena yang pasti kalian tak mengecewakan kami."
Mereka manggut-manggut kali ini gampang urusannya. Fatih juga sudah memutuskan harus memberikan apa kepada Inara nanti.
"Ayo di minum dulu tehnya dan kopinya," pinta Dewi membuat mereka menyeruput secara perlahan kopi serta teh buatan Inara.
"Rencananya pernikahan ini kita adain di gedung saja, enggak sih?" tanya umi Tifa.
Inara dan kakaknya saling memandang dan menatap mereka.
"Kami serahkan aja kepada kalian yang terbaik."
"ok, fiks kita adainnya di gedung aja, tapi harus lebih mewah dari yang lain pokoknya."
Akhirnya mereka mengangguk dan semakin seru pembahasan sampai menghabiskan beberapa banyak waktu.
"Aku boleh ajak Inara bicara aja berdoa?" tanya Fatih membuat mereka mengangguk.
Dua calon pasangan itu berbicara dengan empat mata doang. Entah apa yang mereka bicarakan, hanya mereka yang tahu hahaha!
"Niatnya tanggal berapa kita adain pernikahannya? Gimana Dewi? Jangan kami terua saja."
"Mungkin tanggal dua puluh saja, sesuai tanggal lahirnya," jawab Dewi membuat mereka mengangguk.
"Bagus juga."
Karena sudah begitu lama berbincang-bincang. Mereka pun akhirnya berniat untuk ke makam orang tua mereka berdua.
Perjalan cukup jauh, sebab bukan di kota melainkan di sebuah perdesaan perkecilan.
"Ini masih jauh?" tanya Fatih kepada Inara membuat Inara menggeleng.
"Sebentar lagi, lurus aja terus ada pembelokan kanan di sana ada tempat makam," jelsd Inara membuat Fatih uang menyetir hanya manggut-manggut.
Mereka pun sampai di depan makam. Farhan maupun Tifa merasa tak asing dengan makam tersebut sepertinya mereka pernah datang ke tempat itu tapi kapan? Mereka sudah melupakannya.
"Abi kayanya kita pernah datang ke sini enggak sih?" tanya umi Tifa bsrbisik kepada suaminya.