Namanya Aira, seorang ibu yang belum pernah menikah namun memiliki seorang putra yang sangat tampan dan cerdas.
Aira adalah seorang gadis kecil yang putus sekolah akibat hamil saat masih di bangku SMA, orang tuanya merasa malu dengan keadaan Aira dan mengusirnya. Aira bahkan tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak karena ijazah terakhirnya yang hanya lulusan SMP.
Hingga suatu hari, sebuah fitnah keji akhirnya menerpa hidup Aira. Warung kopi sederhana miliknya di bakar warga karena alasan Aira yang katanya sering melakukan hal tidak senonoh di warung itu, dan tempat itu di jadikan markas tempat perzinahan.
Hal itu membuat hati Aira hancur, tempat menopang hidupnya kini nampak sudah tidak tersisa. Namun bukan di situ saja Aira dan putra kecilnya bahkan di lempar batu dan menderita secara fisik dan fisikis.
"Siapa yang berani melukai putraku dan istriku di sini?" Seorang pria tiba tiba datang dengan wajah menahan amarah.
Tunggu! Siapakah pria itu? Bukankah Aira belum menikah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Takut Disunat
Amza mengangguk faham sekarang, mata Aksan nampak berbeda dengan Aksen. Meski warnanya sama namun tatapannya berbeda, aksen sangat hangat dan bersahabat. Sedangkan Aksan sangat dingin dan kejam.
"Pulanglah, sisanya biar aku yang selesaikan." Aksan menatap Marjuk dingin, Marjuk mengangkat bahunya dan mengajak anak-anak di sana untuk menjauh.
Marjuk mengajak mereka datang ke rumahnya, Jo dan Indri nampak senang melihat anak kecil yang datang bernama Marjuk. Amza juga langsung memperkenalkan diri, sedangkan Marjuk yang mendengar itu hanya menggelengkan kepalanya saat mengetahui bila Karel ternyata sudah menikah.
Perumahan itu di bangun di sebuah tempat asri di dekat hutan, meski di sana nampak seperti biasa. Namun taukah kalian bila di sanalah tempat para penguasa tinggal, salah satunya Aksan, saudara kembar Aksen yang merupakan seorang pria dengan kekayaan tak terhitung.
Aksan sendiri awalnya adalah sosok yang sangat periang sama seperti Aksen, namun semuanya berubah setelah pengkhianatan istrinya dan kedua orang tuanya meninggal. Dia harus memikul beban berat sebagai pewaris dan melindungi keluarganya.
Jo dan Indri juga dua orang tua yang sudah sangat tua, Marjuk yang sudah dewasa belum pernah memikirkan untuk menikah, bahkan pria itu nampak masih asik membangun sebuah perusahaan kecil.
Amza mulai belajar susunan keluarga di sana. Amza mengerti ternyata mereka bukan benar-benar keluarga sedarah, namun mereka saling melindungi satu sama lain layaknya saudara. Itu sudah cukup bagi Amza merasakan kehadiran keluarga yang dulu hanya menjadi impian dan angannya saja itu.
Setelah perut kenyang dan hari sudah siang, Amza di antarakan oleh Kelvin pulang.
"Inget yang tadi kita bicarakan, kamu itu sudah besar!" Kelvin menepuk pundak Amza yang merinding. Dia teringat dengan pembicaraannya dengan Kelvin dan Marjuk saat di rumah Marjuk. Namun hatinya tiba-tiba menghangat saat melihat bagaimana harmonisasi keluarga yang sesungguhnya. Saat membuka pintu Amza melihat Mama dan Papanya yang sedang duduk di sofa sembari tertawa bahagia. Amza mendekat dan memeluk kedua orang tuanya.
"Mama, Papa, kalian sedang apa?" Tanya Amza. Saat menyadari kedatangan putra kecilnya, tangan nakal Karel yang tadi menyentuh gundukan dada Aira langsung turun dan tersenyum lembut.
"Amza sudah makan siang?" Tanya Karel berusaha memalingkan pembicaraan. Amza menangguk, dia menceritakan semua kejadian yang sudah terjadi hari itu pada kedua orang tuanya.
Aira yang melihat keantusiasan Amza merasa jauh lebih tenang, dia menatap suaminya yang juga mendengarkan semua cerita putranya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Pa, apa Amza punya Nenek sama Kakek?" Tanya Amza polos, dia sama sekali tidak berniat menyinggung Mamanya kala itu.
"Punya, mau ketemu?" Tawar Karel, Amza mengangguk cepat namun Aira memberikan kode dengan gelengen kepala.
"Kita akan ketemu Nenek sama Kakek nanti ya? Nanti sore mau temenin Papa belanja gak?" Tawar Karel pada Amza yang nampak kedua bola matanya yang berbinar.
"Iya Pa." Jawab Amza semangat, Amza langsung meluncur ke kamarnya dan langsung membulatkan kedua bola matanya saat melihat kamar tersebut.
Sebuah kamar impian Amza, sebuah pemandangan galaksi yang indah luar biasa dengan bintang bertaburan dan pesawat luar angkasa yang sangat indah. Sebuah teropong bintang nampak terpasang menengadah ke langit.
"Papa, ini kamar Amza?" Tanya Amza sekali lagi, Karel tersenyum dan akhirnya berjalan ke arah kamar putranya.
"Iya, coba lihat sini!" Karel menarik sebuah tuas hingga langit-langit kamar itu terbuka dan sebuah kaca jernih nampak indah. Cahaya matahari langsung masuk ke kamar itu dan menerangi seisi kamar dengan sinarnya.
"Kalo malam, Amza bisa lihat bintang beneran di sini." Ucap Karel menunjuk ke arah terpong besar, Amza tersenyum bahagia dan memeluk Papanya penuh sayang.
"Makasih Papa, Amza sayang Papa." Ucap Amza bahagia. Aira yang memperhatikan itu tersenyum lembut dan merasa hangat atas kedekatan ayah dan anak itu.
"Sekarang Amza mandi dulu ya? Mama sama Papa juga mau siap-siap dulu." Karel mengacak-acak rambut putranya hingga membuat Amza memajukan bibirnya dan nampak sangat menggemaskan.
Mereka akhirnya beriap-siap, Amza nampak sudah siap dengan setelan terbaiknya. Sedangkan Karel hanya menggunakan kemeja dan celana yang biasa dia pakai, sedangkan Aira menggunakan sebuah baju terusan berwana putih, dengan bunga-bunga kecil seperti sakura.
Mereka akhirnya meluncur ke salah satu pusat perbelanjaan yang ternama, Amza terus memandang kagum barang barang bermerek yang terjajar rapi di etalase di sepanjang jalan mereka.
"Mau beli apa dulu?" Tanya Karel saat menatap istrinya yang nampak bengong memandangi Amza.
"Kenapa?" Tanya lagi Karel saat pertanyaannya tidak di jawab oleh Aira.
"Lihat!" Aira menunjuk Amza yang tengah membolak balik sebuah kain sarung, Karel tersenyum dan menggenggam tangan istrinya untuk mendekati Amza.
"Suka?" Tanya Karel, refleks tangan Amza menjatuhkan kain di tangannya dan tersenyum kaku.
"A.. anu Pa." Amza nampak gelagapan, dia malu mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Dia kembali teringat dengan pembicaraan Kelvin pagi itu.
"Kenapa?" Akhirnya Aira menunduk dan menatap dua bola mata putranya yang nampak menghindari tatapannya, Aira semakin penasaran dengan apa yang sebarnya terjadi pada Amza.
"Ma, Amza malu bilangnya." Gumam Amza, Karel yang mendengar itu tersenyum dan mengelus puncak kepala putranya.
"Bilang dong, kenapa?" Karel mencoba memahami apa yang sebenarnya di rasakan sang putra.
"Pa, anu.. sebenarnya Amza belum di sunat, Amza takut di sunat. Kata teman-teman Amza dulu di sunat itu sakit, tapi kata Kak Kelvin gak sakit, kata Bang Marjuk kalo gak di sunat nanti Amza gak bakal nikah dan istrinya bakal jelek." Ucap Amza malu, terlihat jelas rona di pipi Amza yang membuat Karel ingin meledak tertawa namun sebisa mungkin sebagai orang tua dia akan berusaha bijak.
"Kata Kak Kelvin bener, sunat gak sakit kok. Kata Bang Marjuk juga bener, emangnya mau nanti istrinya jelek?" Amza dengan cepat menggeleng.
"Gak mau, Amza pengen istrinya yang cantik kaya Aina Pa." Ungkap Amza malu-malu, Karel benar-benar ingin tertawa mendengar penuturan polos putranya sendiri.
"Aina itu siapa?" Tanya Aira bingung, dia sama sekali tidak tahu bila putranya pernah dekat dengan bocah perempuan, bahkan Amza lebih terkesan menjauh dari para perempuan sebayanya.
"Putranya David dan Nayla, mereka tetangga kita. Tapi boleh juga pilihan anak Papa ini, bisa lihat mana yang cantik." Celetuk Karel dengan gemas mencubit pipi putranya.
"Makanya Pa, Amza pengen di sunat biar istrinya nanti cantik." Ucap Amza mengambil kain sarung yang dia jatuhkan, "Bolehkan Pa, kalo Amza beli ini?" Amza memeohon dengan wajah yang sangat memelas.