Namaku Indira.
Karena kesalahan satu malam yang tidak aku sadari, aku harus melahirkan bayi kembar di usia yang masih sangat muda. Akan tetapi, aku lagi-lagi harus menelan pil pahit saat mengetahui bahwa satu diantara kedua anakku meninggal dunia beberapa detik setelah dilahirkan.
Dukung novel baru aku ya kak.
Bismillah, semoga kalian semua suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11.
Tidak terasa sudah hampir satu jam Nala dan Indira berada di ruangan itu, tapi hingga detik ini belum ada kata-kata pasti yang keluar dari mulut Nala selain menanyakan kabar Indira dan keluarganya.
Indira sendiri masih saja kaku dan hanya menjawab apa yang bisa dia jawab. Berkali-kali dia mengajak Nala untuk kembali ke rumah sakit tapi pria itu tidak menggubrisnya sama sekali.
Pada akhirnya Nala menggeser posisi duduknya hingga menghadap Indira yang tengah terdiam dengan kepala tertunduk, dokter itu benar-benar tidak dapat menyembunyikan rasa takutnya yang kian menjadi.
"Maafkan aku, tolong jangan takut!" ucap Nala dengan pandangan sendu. Seketika Indira pun mengangkat kepalanya, manik mata keduanya saling mematut satu sama lain.
"Aku tau ini salah, aku sadar tidak seharusnya membawamu datang ke tempat ini. Tapi apa yang bisa ku lakukan? Aku sendiri bingung, ini benar-benar sulit bagiku." terang Nala dengan suara bergetar, dadanya terasa sesak mengatakan semua itu.
Indira menautkan kedua alisnya, dia benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan Nala sebenarnya. "Maaf, apa ini ada kaitannya dengan Nasya?"
Nala diam sejenak sembari menghirup udara sebanyak-banyaknya kemudian memandang Indira dengan mata berkaca-kaca. "Ya, kamu benar." Nala mengangguk lemah. "Dialah yang memberiku keberanian untuk datang kepadamu. Sebenarnya aku sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran anak itu."
Perlahan, Nala mulai menceritakan bagaimana keadaan Nasya sesungguhnya. Setelah membawa Nasya berobat kemana-mana, hanya Indira yang dapat menyembuhkan keanehan bocah perempuan itu, bahkan tanpa obat.
Sampai saat ini benak Nala masih dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Baginya ini semua adalah mukjizat, hanya dengan melihat wajah Indira sepintas saja, Nasya langsung bersuara bahkan memanggilnya mama.
"Niatku menemui mu hanya satu. Aku ingin melamar mu dan menjadikanmu istriku."
Duarrr...
Indira terkesiap seiring detak jantung bergemuruh kencang, matanya membulat sempurna, bibirnya gemetaran tanpa tau harus berkata apa.
Melamar? Apa dia tidak salah dengar? Lelucon seperti apa yang tengah dimainkan pria itu padanya?
"To-tolong jangan marah dulu! Maksudku..." Nala mendadak gelagapan lalu berusaha terlihat tenang dan mencoba menjelaskannya pada Indira. "Aku tau kita berdua baru bertemu beberapa kali, kita bahkan belum saling mengenal sebelumnya. Aku sama sekali tidak bermaksud kurang ajar, ini semua ku lakukan demi Nasya. Dia sangat menyayangimu, dia ingin sekali menjadi putrimu."
Lalu Nala menceritakan bagaimana keadaan Nasya sejak pulang dari rumah sakit kemarin. Bocah itu selalu murung dan terus saja memikirkan Indira. Apa salah jika Nala ingin mewujudkan keinginan putrinya? Dia hanya ingin membahagiakan sang putri dan melihatnya tersenyum seperti anak lain.
"Maaf, aku tidak bisa." tolak Indira dengan gamblang lalu segera bangkit dari duduknya.
"Dokter Indira, tolong..." seru Nala dengan suara tercekat di tenggorokan.
"Maafkan aku, aku benar-benar tidak bisa." jawab Indira tanpa menoleh ke arah Nala kemudian meninggalkan ruangan itu terburu-buru.
Nala hanya tertegun di tempatnya duduk seraya mematut punggung Indira yang semakin menjauh dan berangsur hilang dari pandangannya.
Akhirnya yang dia takutkan terjadi juga, mana mungkin dokter itu mau menerima lamarannya?
Nala menyandarkan punggungnya di kepala sofa dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia sudah mencobanya, tapi apa yang bisa dia lakukan jika Indira tidak berkenan menjadi istrinya? Nala hanya kasihan pada Nasya, entah apa yang harus dia katakan pada bocah itu?
...****************...
Di depan rumah sakit, Indira tidak sengaja berpapasan dengan sang ayah yang baru saja kembali setelah makan siang. Keduanya berjalan beriringan memasuki gedung itu.
"Kemana pria itu mengajakmu?" tanya Hendri sembari tersenyum simpul.
Deg...
Indira terperanjat kaget hingga langkahnya terhenti di depan pintu ruangan Hendri.
"Tidak kemana-mana, Yah. Tadi hanya makan..."
"Sepertinya pria itu orang yang baik, buktinya dia meminta izin terlebih dahulu sebelum mengajakmu makan di luar. Ayah harap..."
"Jangan aneh-aneh, Yah! Kami hanya membicarakan masalah Nasya, tidak ada yang lain." selang Indira yang terpaksa berbohong.
"Hmm..." gumam Hendri dengan tatapan tak percaya.
"Ya sudah, Dira ke ruangan dulu ya, Yah. Masih ada pekerjaan yang harus Dira selesaikan." Indira sengaja mengelak agar Hendri tidak berpikir aneh tentang dirinya. Dia sadar akan posisinya yang hanya anak angkat, dia tidak mungkin membuat malu keluarga itu dan mengulang kesalahan di masa lalu untuk kedua kalinya.
Ya, sejak kejadian sekitar enam tahun yang lalu, Indira sudah berjanji tidak akan membuka hatinya untuk pria manapun. Dia hanya ingin fokus dengan karirnya dan membesarkan Isa sebagai ibu serta ayah. Mungkin semua itu tidak akan cukup bagi Isa, tapi lebih baik seperti ini saja. Indira trauma dengan masa lalunya yang kelam.
Sekitar dua tahun yang lalu sempat ada pria yang datang kepada Hendri untuk melamarnya, akan tetapi Indira langsung menolak dengan alasan belum kepikiran untuk berumah tangga dan ingin fokus membesarkan Isa.
Hendri dan Ulfa bahkan sudah membujuknya dengan berbagai cara tapi Indira tetap bersikeras pada pendiriannya.
Di tempat lain, Nala pulang dalam keadaan lesu. Tidak hanya wajahnya yang terlihat lelah tapi hati dan pikirannya ikut terbawa mengingat penolakan Indira di cafe tadi.
Seumur-umur, baru kali ini Nala merendahkan diri dan memohon pada seorang wanita. Tapi ternyata pengorbanannya malah berakhir sia-sia, Indira sama sekali tidak tertarik menjadi istrinya.
Lalu Nala memilih berjalan menuju kamar Nasya, dia ingin melihat wajah putrinya terlebih dahulu sebelum memutuskan membersihkan diri dan istirahat.
Siapa sangka kedatangan Nala justru disambut antusias oleh Nasya, bocah itu berseru memanggil sang papa yang tengah berdiri di ambang pintu lalu berlari ke dalam pelukannya.
"Papa sudah pulang? Jadi bagaimana, Pa? Apa papa sudah bertemu dengan mama? Apa kata mama, Pa? Mama mau kan..." ucapan Nasya sontak terhenti saat Nala memeluknya dengan erat seraya menggelengkan kepala.
Nasya mendorong pundak Nala sekuat tenaga hingga pelukan mereka terlepas, kemudian bocah itu berlari kencang meninggalkan kamar sembari menangis tersedu-sedu. Nala pun segera berbalik dan mengejar sang putri yang sudah tiba di ujung tangga.
"Aaaah..." suara jerit kesakitan Nasya terdengar jelas hingga suara itupun hilang seketika.
Nala terkesiap dengan mata membulat sempurna kala mendapati tubuh mungil putrinya berguling-guling di anak tangga, seketika darah segar nampak berserakan dimana-mana.
"Nasya..." pekik Nala seraya berlari menuruni anak tangga lalu berjongkok dan mengangkat tubuh ringkih itu dengan pikiran kacau tak menentu. Tangis Nala pecah saat merasakan panas di telapak tangannya.
Segera Nala berdiri dari jongkoknya dan berlari menuju pintu utama. Tidak ada waktu lagi, Nasya harus cepat dibawa ke rumah sakit akibat luka yang cukup besar di kepalanya.
lanjut Thor 💪💪💪🥰
makin seruu
tapi Alhamdulillah semua sudah jelas
buat indira semoga selalu bahagia setelah ini
untuk othornya sukses selalu sama karya-karya nya selalu ditunggu
terimakasih sudah menghibur 🙏🫰😘😘😘