~NOVEL KE 15~
Nama ku Myrtle. Aku telah jadi yatim piatu sejak masih bayi. Kemudian aku ikut tinggal di rumah sepupu ibu ku dan menjadi bagian dalam keluarga nya.
Sebuah tragedi kemudian terjadi pada keluarga sepupu ibu ku itu. Hampir semua anggota keluarganya meninggal dalam kecelakaan pesawat. Hanya menyisakan Sang Sulung, Rayn Millard seorang saja.
Sejak itulah Aku tinggal berdua dalam asuhan Kak Rayn. Sampai kemudian aku menyadari rahasia tersembunyi terkait Rayn.
Bahwa sebenarnya, kakak sepupu ku itu ternyata adalah vampir!
Bagaimana kelanjutan hidup ku setelahnya?
Haruskah aku tetap hidup bersama Rayn, atau pergi sejauh-jauhnya?
Bagaimana juga kehidupan ku bersama Ray nanti, bila sosok wanita vampir lain muncul dan mengaku sebagai pemilik Rayn? Wanita yang telah mengubah Rayn menjadi seorang vampir..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rayn Marah
Beberapa hari selanjutnya berlalu dengan perang dingin yang ku kibarkan di depan Kak Rayn.
Ia pernah menanyakan langsung padaku, tentang apa yang mengganggu pikiran ku saat ini. Hanya saja aku malas untuk menjawab nya.
Seperti pagi ini. Keberangkatan kami menuju sekolah, lagi-lagi harus diwarnai dengan percekcokan lagi.
"Kamu gak bisa bersikap kekanakan terus, Myrt. Kalau memang ada masalah, bilang. Cerita ke aku! Aku mana bisa tahu kalau kamu punya masalah sama sesuatu. Sikap diam mu itu sungguh membuat ku bingung!" Rutuk Kak Rayn di depan ku.
Kini ia sudah duduk di atas motor nya. Hanya tinggal menunggu ku saja yang sedang mengunci rumah.
Mendengar pernyataan dari Kak Rayn soal sifat kekanakan, hati ku pun seketika meradang.
Akhirnya setelah mengunci pintu rumah dan meletakkan kunci nya di bawah keset, aku langsung berlalu melewati Kak Rayn begitu saja. Dan ini membuat Kak Rayn terdiam seketika.
Tin..tin..!
Kak Rayn membunyikan klakson motornya di belakang ku. Namun aku mengacuhkannya.
"Myrt! Kamu mau kr mana? Ayo cepat naik ke motor Kakak!" Panggil Kak Rayn lagi. Namun aku tetap mengacuhkannya jua.
Menyadari langkah ku sudah cukup jauh darinya, akhirnya Kak Rayn menghidupkan menggas motornya hingga menyusul berjalan di samping ku.
"Myrt! Ayolah! Jangan begini.. Kamu mau terua jalan kaki sampai sekolah apa?"
Aku tetap memilih diam. Ku acuhkan Kak Rayn yang tetap mengiringi ku berjalan dengan motor nya.
"Myrt! Jangan kekanakan begini dong? Ayo cepat naik! Sebelum Kakak paksa kamu naik!" Kak Rayn mulai mengeluarkan ancaman.
"Jangan bilang aku kekanakan! Umur ku hampur 17 tahun. Dan aku bisa milih apa yang ku suka dan gak ku suka. Juga apa yang baik dan gak baik buat ku, Kak!" Omel ku tiba-tiba sambil berkacak pinggang di pinggir jalan.
"Oke. Kakak minta maaf. Tapi Myrt. Ayolah naik dulu ke motor. Kamu mau sampai ke sekolah jam berapa nanti?"
"Terserah Myrtle lah mau sanpai jam berapa. Lebih baik Kak rayn urus aja tuh Miss Cisela yang kakak anggap penting itu! Berangkat ke sekolah sama dia aja deh sana, Kak!" Omel ku keceplosan.
Sadar kalay aku telah alah ucap, aku pun langsung buru-buru melanjutkan langkah ku meninggalkan Kak Rayn.
'Ya ampun, Myrtle! Kenapa kamu keceplosan bahas tentang Kaj Cisella sih? Nanti yang ada Kak Rayn malah kegeeran lagi!' rutuk ku dalam hati.
"Myrt! tunggu Kakak!"
Tiba-tiba saja seseorang menahan lengan kiri ku. Begitu ku tengok, ternyata itu adalah Kak Rayn.
Agaknya ia telah turun dari motor nya untuk mengejar langkah ju. Terlihat seringaian tipus tersungging di wajahnya yang tampan itu.
"Jadi.. kamu marah tentang Cisella?" tanya Kak Rayn dengan tatapan berkilat.
Aku melengos ke samping. Tak bernai menatap matanya lama-lama.
"Tauk, ah! Lepasin tangan Myrtle, Kak! Myrtle mau jalan cepat ke sekolah. Biar gak terlambat!"
"Hey.. Jagan ngambek gitu dong. Myrt.. Kan Kak Rayn udah jelasin ke kamu. Kalau hubungan antara Kakak dan Cisella itu cuma sebatas atasan dan bawahan aja. Atau antara adik dan kakak aja.. Percaya lah sama Kakak?" bujuk Kak Rayn padaku.
"Oke. Myrtle percaya. Tapi bisa tolong lepasin tangan Myrtle sekarang juga. Kak?"
"Nah! gitu dong..! Ehh, Myrt! Kamu mau ke mana? ayo naik motor sama Kak Rayn!" panggil Kak Rayn lagi di belakang ku. Karena begitu tangan ku dilepaskannya tadi. aku langsung lanjut melangkah lagi.
"Gak mau! Hari ini Myrtle gak mau berangkat sama Kak Rayn dulu!" Aku balas berteriak.
"Myrt! Jangan konyol deh!"
Belum selesai Kak Rayn bicara. ketika sebuah motor tiba-tiba saja berhenti tak jauh di dekat ku.
"Myrtle? why would you walked on your foot? Have a hike with me? (Myrtle? kenapa kamu jalan kaki? mau boncengan sama aku?)"
"Andrew! You're.."
"Myrt! ayo cepat naik ke boncengan Kak Rayn aja!"
Panggilan Kak Rayn di belakang ku pun membuat sapaan ku kepada Andrew terhenti. kemudian pandangan ku gantian melihat antara Kak Rayn fan juga Andrew. Setelag berpikir beberapa saat, hati ku pun akhirnya memilih.
"Sorry, Andrew.. if you don't mind.. may i.. (Maaf, Andrew.m kalau kamu gak keberatan. Bolehkah aku..)"
"Surely you may, chic. Sorry.. i mean, beauty.. (Tentu saja boleh, cewek.. maaf, maksud ku, Cantik..)" ujar Andrew dengan wajah sedikit tersipu.
Aku oun tak kalah malu seperti ya. Namun keberadaan Kak Rayn dengan mata elangnya tak jauh daru kamu itu jelas langsung memupuskan kecanggungan yang tercipta antara aku dan Andrew saat itu.
"Well, hop in then! (Kalau gitu, naiklah!)" ajak Andrew kembali.
Dan tanpa menunggu lama, aku langsung aja naik ke boncengan di belakang Andrew. Selanjutnya kami berdua meninggalkan Kak Rayn di pinggir jalan tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku bahkan tak bernai melirik lagi ke belakang. Karena aku cukup yakin, kalau saat ini Kak Rayn pasti sangat marah kepadaku.
***
Begitu sampai di depan gerbang sekolah, aku langsung minta turun kepada Andrew.
"Why don't you getting down there? (Kenapa gak turun di sana aja?)" tanya Andrew kemudian.
"I..i.."
Ketika mulut ku tergagap untuk memberikan jawaban, syukurlah netra ku menangkap keberadaan sosok Miranda tak jauh di depan kami.
"Miranda!!" aku bergegas meneriakkan nama bestie ku itu.
"You see... i wanna say hi to Miranda first.. (Kamu tahu.. aku pingin sapa Miranda dulu)"
"Well then, see you in the class, Beauty! (Kalau gitu, sampai jumpa di kelas ya. Cantik!)" pamit Andrew sebelum berlalu meninggalkan ku di depan gerbang.
Sepeninggal Andrew, aku langsung dibombardir oleh Miranda dengan rentetan pertanyaan.
"O.. Myrtle Merona yang Mempesona! aduh! Jangan main KDRT dong, Myr!" pekik Miranda yang kesakitan usai ku cubit pinggangnya barusan.
"Makanya itu punya mulut dijaga juga dong! Main panggil nama orang seenak jidat aja!" aku balas mengomel padanya.
"Heheehee.. Habisnya, pagi-pagi udah ngasih bahan gosip buat cewek satu sekolah aja sih kamu, Myr! Kok bisa kamu boncengan duaan sama si Bule?? Ayo jujur cerita deh!"
Kami pun lanjut berjalan santai menuju ruang kelas.
"Kalau bertiga, gak mungkin lah, Nda.. Takut kena tilang polisi gimana coba??" jawab ku asal!
"Diih.. gak lucu! Serius Myr! Gak pake bercanda-bercandaan deh!"
"Situ juga yang mulai duluan yee.."
"Iya. iya.. Jadi..??"
"Jadi tadi tuh.. aduh!"
Aku langsung mengusap bahu ku yang tersenggol oleh seseorang yang baru saja berjalan cepat melewati kami. Setelah ku lihat identitas orang yang menyenggol bahu ku itu ternyata dia adalah Kak Rayn.
Seketika aku oun tertegun. Entah sejak kapan Kak Rayn berada di belakang ku. Melihat punggung nya yang berlalu begitu saja, entah kenapa membuat ku jadi merasa sedih.
Sebuah penyesalan pun terbit di relung hati ku atas sikap kasar ku pada Kak Rayn dalam beberapa hari terakhir ini.
"Wah..wah..wah.. Rasa-rasanya ada yang lagi panas nih! Hihihi.." ku dengar suara Miranda cekikikan fi samping ku. Namun aku yak menggubrisnya.
Fokus perhatian ku saat ini adalah pada lelaki yang kini terus berjalan menjauhi ku dalam sikap diamnya.
'Kak Rayn..' lirih hati ku merasakan sedih.
***
PaMud Mampir
PaMud Papa Muda mampir
Ry Benci Pakpol Mampir