Karena cinta bertepuk sebelah tangan, Aldin sulit untuk menerima cinta yang baru.
Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang wanita sampai keduanya melakukan hubungan terlarang dan menyebabkan gadis itu hamil.
"Kau harus menikahiku! Aku tidak ingin anak ini lahir tanpa seorang Ayah!" Renata Aprilia.
"Aku akan menikahi mu, tapi hubungan kita hanya sampai anak itu lahir." Aldin Maldives.
Lantas, akankah cinta hadir di antara keduanya? Lalu bagaimana kisah rumah tangga mereka?
*****
Lanjutan dari novel I'm Fine
JANGAN LUPA TEKAN LIKE, KOMEN DAN FAVORITNYA YA GUYS!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Zoya?
Tak terasa hari berlalu begitu cepat, sudah satu bulan berlalu pernikahan antara Aldin dan Rere. Kedua pasangan itu itu kini sudah menjalankan aktivitas mereka seperti biasa. Sekarang Rere juga sudah tinggal di Apartemen Aldin karena lokasinya yang dekat dengan kantor.
Namun, meksipun kini Rere tidak tinggal bersama orang tuanya, wanita itu masih sering pulang kerumah karena Aldin tidak membiarkannya bekerja. Setiap hari yang dilakukan Rere hanya menemani Ibunya berdagang, kalau tidak ya dirumah saja.
Pagi itu Rere terbangun cukup pagi, ia merasa kepalanya sangat pusing sekali, perutnya juga sangat mual hingga ia buru-buru bangkit dari tempat tidurnya.
"Huek ... Huek ...." Rere memuntahkan isi perutnya hingga kerongkongannya terasa sangat pahit.
"Kenapa pusing banget," gumam Rere tidak biasanya dia seperti ini, apa bawaan bayinya yang sudah menginjak usia tiga bulan?
Rere membersihkan mulutnya yang basah karena muntah, dengan tertatih ia berjalan kembali ke kamarnya seraya berpegangan dengan tembok. Ia dan Aldin tidur terpisah, jadi pria itu tidak tahu jika Rere dengan mual.
"Aku belum buat sarapan, nanti Aldin keburu bangun," gumam Rere teringat akan tugasnya, meski selama ini Aldin jarang makan di rumah, tapi ia selalu menyiapkan makanannya.
Rere menahan sakit dikepalanya, ia memejamkan matanya rapat-rapat seraya menarik nafas dalam, saat dirasa cukup tenang, Rere segera berjalan keluar kamar untuk membuat sarapan di dapur.
Aldin sendiri sudah rapi dengan pakaian kerjanya, hari ini ia cukup sibuk dan harus berangkat pagi-pagi ke kantor. Saat dirinya keluar kamar, ia mencium bau sesuatu yang gosong.
"Bau apa ini?" Aldin mengernyit heran, ia bergegas berjalan ke dapur untuk melihat apa yang terjadi.
Begitu sampai disana, mata Aldin membulat sempurna saat melihat Rere yang tengah menahan kesakitan di pinggir meja makan, sedangkan dari arah kompor terlihat asap yang mengepul.
"Astaga Rere, apa yang terjadi?" Aldin segera mematikan kompor yang masih menyala, ia lalu menghampiri Rere yang berdiri dengan wajah pucat.
"Maaf, aku merusak dapurmu," ucap Rere lirih, kepalanya ternyata sangat sakit hingga tidak bisa digunakan untuk memasak.
"Jangan pikirkan itu, kau kenapa?" Aldin mengabaikan dapurnya yang hampir terbakar itu. "Kamu duduk dulu," ucap Aldin mendudukan Rere di kursi, ia lalu mengambil minum untuk Rere.
"Minum dulu Re, kamu kenapa? Sakit? Kita ke dokter ya?" Aldin terlihat begitu cemas, ia memegang dahi Rere untuk melihat apakah wanita itu demam.
"Mual," ucap Rere seraya memegang perutnya.
"Ngidam? Mau makan apa? Biar aku carikan," ujar Aldin sudah sangat paham jika masalah seperti itu karena dulu ia yang menemani Zoya selama masa kehamilan Rayden.
"Nggak tahu, nggak enak aja perut aku," jawab Rere masih dengan suara lemas nya.
"Kamu istirahat aja kalau gitu." Aldin langsung menggendong tubuh Rere, membawanya masuk ke kamar wanita itu.
Rere terdiam dalam pelukan Aldin, saat ia mencium harum khas pria itu semua rasa pusing dan mualnya seolah hilang begitu saja. Rere tentu sangat heran dengan hal itu, ia memperhatikan Aldin yang kini menyelimuti dirinya.
"Al ..." panggil Rere.
"Ya?" Aldin langsung menoleh dengan wajah bertanya.
Rere mengatupkan mulutnya, ia ragu jika ia sangat nyaman saat berada bersama pria itu. Lagipula pria itu pasti akan kepedean nanti.
"Ada apa?" Tanya Aldin lembut.
"Disini saja, temani aku." Dengan menahan rasa malu yang luar biasa, Rere akhirnya mengatakan apa keinginannya.
Aldin tertegun sejenak sebelum mengangguk mengiyakan. "Baiklah, aku akan menghubungi Haven dulu untuk memundurkan jadwal meeting," ucap Aldin tidak keberatan, ia juga tidak mungkin meninggalkan Rere saat wanita itu sedang sakit.
Rere mengigit bibirnya, bukan itu yang dia inginkan, bagaimana ia mengatakan kalau ia ingin mencium bau tubuh Aldin yang khas?
"Aku keluar dulu, nanti sekalian aku pesankan sarapan," ucap Aldin menyelimuti kaki Rere.
Rere segera menahan tangan Aldin sebelum pria itu beranjak.
"Ada apa?" Aldin mengernyit heran, ia cukup terkejut dengan sikap Rere yang seperti ini.
"Tidak jadi," ucap Rere cepat-cepat melepaskan tangan Aldin lalu ia merubah posisinya agar membelakangi pria itu.
Aldin semakin mengerutkan dahinya, ia bingung dengan apa yang diinginkan oleh Rere ini. "Kau ingin aku temani disini?" Tanya Aldin dengan ragu.
Rere memejamkan matanya singkat, ia tidak mau menjawab karena merasa malu. Selain itu ia juga kesal karena Aldin ini pria yang sangat tidak peka. Haruskah dia mengatakannya?
Karena tidak ada jawaban, akhirnya Aldin bangkit dari duduknya. Rere berpikir jika pria tidak peka itu akan pergi, tapi ternyata dia salah. Beberapa saat kemudian terasa gerakan di tempat tidur, disusul sebuah tubuh hangat yang menempel di punggungnya lalu sebuah tangan besar yang melingkari perutnya.
"Kalau mau dipeluk bilang saja, aku tidak keberatan," bisik Aldin mengulas senyum tipisnya.
Rere berdecak pelan, ia memutar tubuhnya agar mereka berhadapan. "Siapa bilang? Bukan aku yang menginginkannya, tapi anakmu," kata Rere membantah, ia yakin jika tidak sedang hamil, ia tidak mau dekat-dekat pria ini.
"Benarkah? Bukan Ibunya yang ingin dipeluk?" kata Aldin seolah tidak percaya.
"Tentu saja tidak, lagipula aku tidak minta dipeluk, kau saja yang ingin memelukku," ucap Rere pura-pura kesal.
"Kalau begitu, aku berangkat kerja saja," ujar Aldin melepaskan pelukannya, ia bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi.
"Jangan!" seru Rere menarik tangan Aldin dengan cepat hingga tidak sengaja tubuh pria itu menimpah padanya.
Keduanya saling pandang dengan mata yang saling mengunci. Aldin tersenyum tipis seperti sebuah ejekan bagi Rere.
"Aku tahu kau memang yang menginginkan ku tetap tinggal, Rere." Aldin berucap dengan penuh percaya diri, matanya yang tajam mengawasi setiap gerak-gerik Rere yang hanya bisa terkaku.
"Aku bilang bukan," kata Rere masih tidak ingin mengaku.
"Matamu tapi berkata lain," ujar Aldin semakin menatap dalam mata Rere hingga membuat wanita itu terhipnotis.
Aldin mengusap bibir Rere dengan lembut, ia mendekatkan wajahnya dan bersiap untuk mencium bibir wanita itu, tapi ... tiba-tiba ponselnya berdering membuat keduanya langsung tersadar.
Rere segera melepaskan dirinya, ia mengutuk kebodohannya yang hampir saja terlena. Aldin sendiri segera mengangkat panggilannya karena Dewa yang menghubungi.
"Halo, Dewa?" Aldin melirik Rere sekilas sebelum mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dewa.
"Apa? Rayden diculik? Lalu bagaimana dengan Zoya? Dia tidak apa-apa 'kan?" Aldin begitu syok mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Dewa.
"Baik, baik, aku akan menjemput Zoya ke sekolah Rayden, kau berhati-hatilah," ucap Aldin langsung memasukan ponselnya ke dalam saku jas, wajahnya sangat panik saat tahu jika Rayden diculik.
"Siapa yang telepon?" Tanya Rere ingin tahu.
"Dewa, aku harus secepatnya pergi, Zoya saat ini pasti ketakutan," kata Aldin buru-buru pergi tanpa berpamitan pada Rere.
Rere menatap Aldin yang perlahan menjauh, hatinya cukup terusik saat Aldin lebih memilih orang lain daripada dirinya, padahal pria itu tahu kalau dia sedang sakit.
Siapa Zoya? Aldin sepertinya sangat khawatir saat menyebut nama wanita itu.
Happy Reading.
TBC.
Rere keras kepala 👎😡
buta itu gelaff
gelap itu banyak nyamuknya 😂😂😂🤣🤣🤣