NovelToon NovelToon
One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)

Status: tamat
Genre:One Night Stand / Single Mom / Anak Kembar / CEO Amnesia / Tamat
Popularitas:255.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dea Anggie

Audrey ditipu Adik kembarnya. Ia dijual pada seseorang untuk pelunas hutang. Tahu ia dikhianati sang Adik, Audrey pun berhasil melarikan diri. Sayang sekali, ditengah pelariannya ia justru bertemu pria tampan yang dalam keadaan setengah mabuk.

Hansen yang dijebak perempuan licik, meminta bantuan Audrey. Ia lantas menarik paksa Audrey ke kamarnya. Hal tak terduga terjadi, Audrey tak mampu menolak dorongan tenaga pria kekar yang ada dihadapannya. Pada akhirya, Hansen dan Audrey menghabiskan malam panas bersama-sama.

Saat bangun keesoakan harinya. Audrey tak menjumpai adanya Hansen. Hanya ada secarik kertas dan kartu nama yang ditinggalkan Hansen untuk Audrey. Hansen ingin Audrey menemuinya setelah membaca pesannya. Membaca pesan Hansen, Audrey hanya memasang wajah masam. Ia meremat kertas dalam genggaman dan ingat akan wajah sang Adik yang membuatnya harus kehilangan kesucian sebelum menikah.

Apa yang akan terjadi pada Audrey? akankah ia pergi mendatangi Hansen, atau menghindarinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Anggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

One + One (11)

Sherlyn masuk ke dalam ruangannya. Ia terkejut saat tahu ada Audrey.

"Audrey ... " panggil Sherlyn. Berjalan menghampiri Audrey yang sedang duduk di sofa.

Audery tersenyum menatap Sherlyn, "Oh, kamu sudah selesai?" tanya Audrey.

"Kapan kamu datang? kenapa tidak minta Marie memanggilku?" tanya Sherlyn yang langsung duduk di samping Audrey.

Audrey menjelaskan alasan ia tidak memanggil Sherlyn. Itu karena Audrey tidak ingin mengganggu Sherlyn. Audrey memang sengaja diam menuggu di ruangan Sherlyn.

Sherlyn tidak senang dengan alasan Audrey. Meminta Audrey untuk tidak melakukan hal yang sama lain waktu. Audrey menganggukkan kepala mengiakan perintaan sang sahabat.

***

Akhir pekan tiba. Sesuai kesepakatan yang dibuat Audrey dan Diana. Mereka membuat janji temu untuk makan siang bersama disebuah restoran.

Audrey lebih dulu datang dan menunggu Diana. Tidak berselng lama Diana datang dan menyapa Audrey.

"Hai, Re. Bagaimana kabarmu?" tanya Diana tersenyum menatap Audrey.

"Hallo, Bu. Saya senang bertemu Anda kembali. Saya baik-baik saja. Bagaimana dengan Anda?" tanya Audrey.

"Aku juga baik." kata Diana.

Diana memanggil pelayan dan memesan makanan.  Pelayan mencatat semua pesanan Diana dan Audrey.

Setelah selesai memastikan pesanan. Pelayan pun pergi.

Diana menceritakan kesibukannya sejak pagi sampai siang. Untung saja Audrey menghubunginya. Jika tidak maka ia hanya akan tertimbun dalam tumpukan dokumen di atas meja kerjanya.

Audrey mendengarkan cerita Diana dengan seksama. Sesekali ia menanggapi dengan senyuman dan tawa kecil karena cerita Diana juga terdengar lucu di telinga Audrey.

"Jadi Anda sangat sibuk?" tanya Audrey.

"Tidak juga. Hanya saja akhir bulan ini akan ada pameran besar-besaran di galeri. Mau tidak mau semua pekerja bergerak." jawab Diana menanggapi.

Audrey menganggukkan kepala pelan. Ia memalingkan pandangan dan mengamati sekitarnya. Diana juga mengikuti arah pandang Audrey. Saat ingin bertanya, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Ada panggilan masuk dari Manager Galeri.

"Ahh ... ada panggilan. Aku terima dulu, ya." kata Diana.

Audrey menganggukkan kepala, "Oh, ya. Silakan," jawab Audrey.

Diana menerima panggilan dan berbincang dengan Manager Galerinya. Audrey hanya diam menunduk karena tidak tahu harus apa. Pelayan datang menyajikan hidangan makan siang yang dipesan Diana dan Audrey. Pelayan pun pergi setelahnya.

Diana mengerutkan dahi, " Apa? bagaimana bisa?" tanya Diana dengan nada tersentak.

Audrey terkejut, seketika menatap Diana yang duduk di hadapannya. Diana terlihat kebingungan, ia pun memilih mengakhiri panggilan.

"Ya, sudahlah. Mau bagaimana lagi. Anggap saja kita sedang sial, kan. Kita bicara lagi nanti di Galeri. Aku sedang bersama seseorang saat ini." kata Diana menatap Audrey.

Diana mengakhiri panggilan. Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Diana lantas meminta maaf karena terlalu lama menerima panggilan. Audrey berkata, tidak masalah menunggu. Justru ia merasa tidak enak, karena telah mengganggu Diana yang sedang sibuk.

"Tidak, tidak. Aku tidak sibuk saat ini, hanya saja ada kejadian mengejutkan." kata Diana.

"Kejadian apa? Anda sampai terlihat kesal tadi saat berbicara." tanya Audrey.

"Ahh, itu ... Asistenku. Dia melarikan diri dengan membawa sejumlah uang. Untungnya itu uang pribadiku, bukan uang Galeri.  Aku kesal, karena tidak menyangka saja. Dia yang aku percaya dan bekerja bersamaku sejak lama mengkhianatiku." jelas Diana.

"Lalu apa yang akan Anda lakukan? bukankah Anda seharusnya meminta pertanggung jawabannya?" tanya Audrey.

Diana menggelengkan kepala. Ia menjelaskan pada Audrey tentang keadaan dan kondisi kehidupan Asistennya. Diana hanya bisa mengiklaskan apa yang terjadi. Ia berpikir, mungkin saja Asiastennya itu memang sangat membutuhkan uang sampai berbuat nekat. Satu hal yang bisa dipastikan, Diana kini tak akan mau menerima orang tersebut meski memohon maaf dan pengampunan.

Audrey bisa melihat sosok tegas dan bijaksana dalam diri Diana. Audrey merasa prihatin, menerka jumlah uang yang dibawa lari pasti jumlahnya tidak sedikit.

"Oh, ya, Re. Apa kamu tidak punya kenalan atau teman yang mau bekerja di Galeriku? Sepertinya aku butuh," tanya Diana.

"Anda butuh pekerja?" tanya Audrey.

"Ya, karena Asistenku kabur. Aku butuh pengganti, kan. Posisi Asisten tidak bisa dibiarkan kosong begitu saja karena tugasnya berada dekat denganku. Jika tanpa Asisen, aku akan kelimpungan." jelas Diana.

"Apa ada kriteria khusus untuk jadi Asiasten Anda, Bu?" tanya Isobelle.

Diana menggelengkan kepala, "Tidak. Hanya butuh dua hal. Jujur dan pekerja keras. Mau itu masih muda, atau sudah berumurpun tidak masalah. " jelas Diana.

"Kalau begitu, apa saya boleh mendaftar jadi Asisten Anda? kebetulan saya juga sedang mencari pekerjaan. Jurusan saya memang bukan seputar kesenian, tapi saya cukup tahu dan menyukai seni juga sejarah." jelas Audrey.

Diana menatap Audrey dengan seksama, "Apa kamu sungguh-sungguh? kalau kamu mau tentu aku izinkan. Aku juga ingin melihat seberapa juah pengetahuanmu dan pegamatanmu tentang seni. Datanglah ke Galeri hari senin. Kamu bisa langsung bekerja," kata Diana.

Audrey diam sejenak, Ia berpikir apkah ia harus memberitahukan tentang kehamilannya atau tidak. Ia ingin jujur, tapi ia takut kalau jujur justru membuatnya kehilangan kesempatan.

Audrey mengusap perutnya. Ia meminta pendapat calon anak-anaknya karena bingung. Diana yang melihat Audrey gelisah pun bertanya. Diana ingin tahu apa yang dipikirkan Audrey karena raut wajah Audrey tanpak murung.

Saat ditanya oleh Diana, Audrey pun tersentak kaget. Ia kebingungan, tapi pada akhirnya Audrey mengunkapkan kehamilannya. Audrey lantas bercerita tentang tujuannya datang ke negara yang sekarang ia tinggali dan apa yang terjadi di negara asalnya. Tanpa disadari Audrey menceritakan juga tentang kembaranya, Alvaro. Yang ingin menjulnya untuk bisa melunasi hutang. Audrey juga bercerita tentang Hansen, yang merupakan Ayah dari janin kembarnya.

"Jadi ... ah, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi." kata Diana sedih.

Audrey menunduk, "Maafkan saya. Saya tidak bermaksud menyembunyikan apapun dari Anda." kata Audrey dengan suara pelan.

Diana menatap Audrey dengan wajah bingungnya, "Pantas aku merasa ada yang aneh dengannya sejak awaal bertemu. Dia seperti sedang melarikan diri dan menyembunyikan sesuatu." batin Diana.

"Jangan pikirkan apa-apa lagi. Kamu sudah cerita semuanya, dan aku sekarang sudah tau semuanya. Dengan ini tida akan ada rahasia lagi di antara kita, kan?" tanya Diana dan dijawab anggukan kepala oleh Audrey.

"Karena kamu hanya punya teman dan tidak punya wali. Bagaimana jika mulai sekarang aku adalaah walimu? aku ingin menjadi orangtua angkatmu. Apa kamu keberatan dengan permintanku?" tanya Diana lagi.

Audrey kaget, "A-apa? Anda mau menjadi Mama angkat saya?" tanya Audrey menatap Diana dengan mata membulat.

Diana mengangguk dan tersenyum, Sejujurnya aku juga punya anak perempuan. Jika saja dia bertahan, sekarang sudah sebesar kamu. Hm, aku bicara begini bukan karena ingin kamu jadi pengganti putriku. Hanya saja hatiku ini sudah tersentuh padamu sejak awal bertemu." jelas Diana.

Karena senang, Audrey pun menangis. Diana menenangkan Audrey, ia meminta Audrey mempertemukannya dengan Sherlyn. Agar bisa saling mengenal satu sama lain. Karena kini mereka sudah menjadi keluarga.

1
Bunda Puput
Luar biasa
nur yana
penuh ketegaran dari tokoh2nya.
Ran Aulia
terimakasih author, ceritanya manis, tanpa konflik yg berat 😍😍😍😍👍👍👍👍
Nur Adam
smgt untuk krya mu thoor
Sundari Sekariputi
bgs ceritanya tor 👍👍👍
Wiwik Retno Eni
lanjut
Wiwik Retno Eni
semangat rere
Wiwik Retno Eni
la jut
Wiwik Retno Eni
seru lanjud aja
gading elano
😘😘😘😘😘
Rose Winn
knp adegan enak2nya di skip thoor g asyik dechhhh
Ema Sofia
extracpart dong, sampai anak ke2 lahir
Like
keren
Ning Ning
maap Thor aku mau komen tulisan nya bagus cuman berbalikbek plasch back nya tapi semangat
Nani Mardiani
Kopinya wat nemenin up ya, semangat dan selalu sehat thor.aamiin..
Sean Justin
ditunggu kelanjutannya thor.. semangat 💪
Dea Anggie: Hallo kakak.. makasih sdh mampir ya.. ditunggu aja kak, lanjutannya msh dlm review sistem.. 😊
total 1 replies
Dew Dew
good
꧁🇵 🇴 🇵 🇴  ꧂
💕
Endang Susilawati
di tunggu up selanjutnya author....salam sehat dan tetep semangat melanjutkan karya karyamu....❤️
IndraAsya
👣👣👣 Jejak 💪💪💪😘😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!