Zuyyina Al Humaira seorang gadis cantik nan imut yang terlahir dari keluaga sederhana.
Sang ayah yang hanya bekerja sebagai seorang petani hanya mengandalkan dari hasil kebunnya untuk kehidupan sehari-hari.
Dia mempunyai tekat yang kuat untuk memperdalam ilmu agamanya di pesantren DARUL QUR'AN.
Dengan kebaikan sang ummi mau menerima Zuyyina di pesantrennya.
Akankah Zuyyina mampu menjalani hari-harinya sang sangat di sibukkan dengan kegiatan-kegiatan pesantren.
Bagaimanakah kisah cinta Zuyyin yang jatuh hati dengan seorang anak dari putra yai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐀❣️𝐅, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
☘️☘️☘️☘️
Malam pun tiba, kumandang adzan isya' menggema di penjuru pesantren, kini semua santri bersiap melaksanakan sholat isya' dan di lanjutkan sholat tarawih di musholla.
Dengan khusyuk, semua santri melaksanakan sholat tarawih.
Angin yang berhembus sepoi-sepoi menyapa setiap insan manusia yang baru saja membubarkan diri selepas menjalankan sholat tarawih.
Menurutnya udara di bulan suci Ramadhan kini sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Begitu sejuk dan menenangkan jiwa.
Brugh ……
Tanpa sengaja Maydina menabrak pundak Zuyyin yang berada di depan kamar.
"Haiss kamu mah yin, ngalangin orang lewat ajah." Ucap Maydina sewot.
"Hey …… embak ya yang jalannya gak lihat-lihat, orang ana udah di pinggir tiang ini." Tak kalah meninggi suara Zuyyin.
"Haiss di bilangin juga nyrocos mulu." Timpal Maydina.
"Ana punya mulut ya, makanya gua jawab lah masak iya gue harus diem mulu." Tak kalah sinisnya Zuyyin membantah semua perkataan dari Maydina sambil menuju taman kecil guna untuk muroja'ah hafalannya.
Entahlah, kenapa Maydina selalu ingin mencari-cari sesuatu biar kita berdebat.
Zuyyin pun lebih baik menghindar dari pada meladeni Maydina, iya yang sudah malas terus berdebat kalau ketemu dan selalu membesar-besarkan masalah.
"Lebih baik aku muroja'ah hafalanku saja biar cepet kelar, apalagi ini bulan suci Ramadhan, bakal sia-sia puasa ku meladeni emosi mbak Maydina yang tak jelas." Gerutu Zuyyin sambil melangkahkan kakinya untuk ke taman.
Selang tiga puluh menit, Zuyyin pun kembali masuk ke dalam kamar mengambil kitabnya yang di kaji oleh Gus Atha.
Tak seperti biasanya, selepas sholat isya' adalah Diniyah malam, namun di bulan Ramadhan di rubah jadwalnya untuk mengkaji kitab-kitab kuning sesuai tingkatan masing-masing.
Kini Zuyyin pun menempatkan dirinya tepat di depan Gus Atha bersama mbak Adzkiya dan Zahra.
Gus Atha yang berjalan begitu elegan dan nampak terlihat mempesona bagi siapa saja yang melihatnya, yang menggunakan sorban yang di letakkan di bahu kirinya, Koko putih dan sarung yang senada dengan bajunya, dan membawa kitab tebal yang di taruh di depan dadanya, yang melihatnya pun semakin terpesona akan ketampanan Gus Atha.
Tak heran jika semua santri putri mengidam-idamkan Gus Atha menjadi pendamping hidupnya.
Tak sengaja Adzkiya yang berada di sampingnya pun seraya berkata, "ehem……"
Seketika Zuyyin pun memalingkan wajahnya ke arah Adzkiya dengan wajah bingung.
Zuyyin pun menundukkan pandangannya tak berani menatap Gus Atha.
Derap langkah kakinya yang berhasil membuat Zuyyin menjadi tak karuan karena kemarin yang tak sengaja bertatap muka di pasar seakan kini membuat Zuyyin merasa salah tingkah.
Gus Atha pun menempatkan dirinya di meja dimana tempat yang di sediakan bagi para santri putri.
Sunyi sepi tak ada yang berani berbicara sepatah katapun.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh."
Semua santri pun menjawab serempak.
Sebelum kita mulai mengkaji kitab ini saya memberitahukan kepada kalian, kenapa saya memilih kitab ini untuk di kaji di bulan ini, karena sebentar lagi pasti dari kalian ada yang boyong dari sini, apalagi kalian sudah besar-besar pasti sudah waktunya juga buat nikah.
Sorak Sorai dari para santri pun menggema ke seisi ruangan tersebut. Sedangkan Gus Atha sambil mencuri pandang ke arah Zuyyin sambil tersenyum manis.Tanpa sengaja mata mereka pun bersitatap, Zuyyin yang menyadari akan hal itu pun langsung memutuskan pandangannya dan menundukkan kepalanya ke arah dimana kitabnya berada.
"Bisa kita mulai ngajinya!!!" Ucap Gus Atha sambil memandangi semua santrinya.
Gus Atha pun berhasil membuat para santri terdiam seribu bahasa.
"Nggih Gus……" jawab santri serentak baik putra maupun putri.
Bismillahirrahmanirrahim…….
Bab 1 menjelaskan tentang
panduan pranikah untuk para santri di pesantren yang akhir-akhir ini viral di media sosial karena menguak rahasia tentang Penjelasan tetang berhubungan suami istri dan waktu yang paling baik
.
إعْلَم أَنَّ املَقْصُودُ األَعْظَم مِنَ النِّكَاحِ التَّعَبُّدُ وَالتَّقَرُّبُ وَاتِّبَاعُ سُنَّةُ الرَّسُولِ وَتَحْصِيلُ الوَلَدِ وَالنَّسْل
Ketahuilah bahwa tujuan utama dari suatu pernikahan adalah pengabdian, pendekatan dan mengikuti sunnah Rasul dan menghasilkan anak dan keturunan.
لِأَنَّ بِهِ بَقَاءَ العَالَمِ وَانْتِظَامَهُ وَبِتَرْكِهِ وَإهْمَالِهِ خَرَابَه وَدِرَاسَه
Karena hanya dengan pernikahanlah kelestarian alam dan teraturnya. Dan dengan meninggalkannya berarti sebuah kehancuran dan kemusnahan alam ini.
وَمَعْلُومٌ أَنَّهُ لَا يُحْصَلُ احلَصَادُ إِلَّا بِنَثْرِ البَذْرِ عَلَى األَرْضِ أَوَّلًوَحَرْثِهَا وَزَرْعِهَا بِطُرُقٍ وَكَيْفِيَاتٍ مَعْلُومَةٍ عِنْدَ الفَلَاحِا
Sudah maklum bahwa tak akan ada panen tanpa menyebar benih pada bumi dahulu, kemudian mengolah dan merawatnya melalui teori dan teknik yang telah diketahui di kalangan petani
نِسَاؤُكُمْ حَرْثٌ لَكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ مُلَاقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
“Istri-istrimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang yang beriman” (Qs. Al-Baqarah ayat 223)
Kemudian Gus Atha pun melanjutkan lagi.
َوَسَبَبُ نُزُولِ هَذِهِ اآليَةِ أَنَّ املُسْلِمِنيَ قَالُوا: إِنَّا نَأتِي النِّسَاءَ بَارِكَاتٍ وَقَائِمَاتٍ وَمُسْتَلْقِيَاتٍ وَمِنْ بَيْنَ أَيْدِيهِم وَمِنْ خَلْفِهِم بَعْدَ أَن يَكُونَ املَأتِيَ واحد
Sebab turunya ayat ini bahwasanya orang-orang islam mengatakan: kita me Nye tu buh! istri dengan posisi berlutut, berdiri, terlentang, dari arah depan dan dari arah belakang walaupun tujuannya
satu.
.فَفِي هَذِهِ اآليةِ دِلَالَةٌ عَلَى جَوَازِ إِتْيَانِ الرَّجُلِ زَوْجَتَهُ عَلَى أَيِ كَيْفِيَةٍ وَحَالٍ شَاء مِن قِيَامٍ وَقُعُودٍ وَاْستِلْقَاء
Jadi dalam ayat ini ada petunjuk diperbolehkannya seorang suami me ny3 tu buh1 istrinya dengan cara dan posisi apapun yang ia mau. Baik dengan berdiri, duduk atau terlentang.
وَمِنْ أَيِّ جِهَةٍ شَاء مِنْ فَوْقٍ وَمِنْ تَحْتٍ وَمِنْ وَرَاءٍ وَمِن قِدَام
Dan dari arah manapun suami mau, baik dari atas, dari bawah, dari belakang atau dari depan.
Jadi intinya semua boleh di praktikkan asal mendapat persetujuan dari keduanya.
Adzkiya yang berada di sampingnya, sambil senyum-senyum dan menyenggol tangan Zuyyin sambil berbisik, "tuh udah di jelaskan sama guse secara gamblang, besok tinggal prakteknya." Ucap Adzkiya sambil tersenyum menahan tawanya.
Zuyyin yang tak percaya akan omongan absurd Adzkiya hanya bisa menggelengkan kepala.
Satu jam lamanya yang begitu terasa singkat, karena apa yang di terangkan sama Gus Atha kini benar-benar jelas dan gamblang. Sorak Sorai santri putra dan putri kini memenuhi ruangan aula yang hanya berbataskan dinding pembatas.
"Terus Gus……" teriak santri putra yang ingin mendengarkan nya lagi.
Sontak para temen-temennya bersorak Sorai Karena minta tambah jam lagi.
Gus Atha pun tak menghiraukan celetukan dari para santri putra dan langsung menyudahi kajian malam ini.
Zuyyin yang tak berani berkutik di depan Gus Atha pun hanya menundukkan kepalanya saja.
Gus Atha pun beranjak keluar dari ruangan aula menuju ndalem, dan di iringi santri putra yang keluar duluan dari tempat tersebut.
Sedangkan santri putri keluar setelah santri putra habis meninggalkan tempat.
Zuyyin pun keluar dengan Adzkiya dan Zahra beriringan sambil menggoda Zuyyin.
"Dek kayaknya sudah siyap lahir batin tuh." Ucap Adzkiya dengan ke absurd an nya lagi.
"Hais kamu mah mbak, ada-ada saja."
Maydina yang denger pun berjalan sewot sambil menabrak pundak Zuyyin secara sengaja.
"Auhhh." Zuyyin yang mengaduh kesakitan sambil memegangi pundaknya.
Bersambung.