Naura Gracesia wanita berusia 32 tahun nekat terjun ke dunia Mafia demi mencari pembunuh kedua orang tuanya. Dia bahkan membentuk perkumpulan Mafia sendiri demi menemukan orang yang dia cari.
Kehidupan yang dijalani oleh wanita dewasa itu diluar kata normal yang biasa di jalani kebanyakan wanita di luaran sana. Arogan, kejam, dan semena-mena menjadi ciri khas wanita berparas cantik itu.
Sampai akhirnya dia bertemu dengan pemuda yang usianya jauh lebih muda dari dirinya, pemuda alim dan juga tampan yang mampu menggetarkan hati dan menuntunnya ke jalan yang lurus.
Akan tetapi fakta mengejutkan pun terkuak, pemuda itu ternyata adalah putra dari orang yang telah membunuh kedua orang tuanya, sekaligus orang yang pernah merawat dirinya sampai dirinya berumur tujuh tahun.
Bagiamana perasaan Naura saat mengetahui bahwa orang yang menghabisi nyawa kedua orang tuanya adalah ayah angkatnya sendiri? dan bagaimana nasib Naura berada di antara Gairah dan Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir?
Naura masih belum terbiasa berada di rumah yang sudah dia tinggalkan selama lebih dari 20 tahun itu. Meskipun suasana rumah masih terlihat sama, begitupun kamar miliknya yang masih tertata rapi persis seperti saat dia tinggalkan dahulu. Namun tetap saja, karena dirinya sudah jauh berbeda dengan Naura kecil yang dahulu tinggal di sana, kamar itu terasa sesak sekarang.
Setelah selesai membersihkan diri, Naura pun keluar dari dalam kamar. Dia menghampiri sang ibu yang saat ini masih berkutat di dapur, memasak masakan yang spesial untuk dirinya. Dia pun berjalan pelan ke arah dapur menatap tubuh sang ibu yang berbalut gamis panjang berwarna navi lengkap dengan kerudung dengan warna yang sama. Sungguh ... Ini semua masih terasa mimpi baginya. Sang ibu yang saat ini berada di hadapannya itulah, dia masih belum merasa percaya bahwa apa yang sedang dia alaminya saat ini adalah benar-benar nyata.
''Hmm ... ibu masak apa?'' tanya Naura berdiri tepat di sampai sang ibu.
''Ibu masak gulai ayam sayang, makanan kesukaan kamu dulu.''
''Apa dulu aku suka sama makanan itu? aku lupa, hehehe!'' Naura tersenyum cengengesan.
''Masa sih? dulu kamu suka sekali dengan masakan ibu yang satu ini, sayang.'' Ibu menoleh lalu menatap wajah putrinya.
''Hmm ... Mungkin karena aku telah melewati waktu yang panjang, dan menjalani hidup yang berliku-liku membuat sebagian ingatan aku menghilang, bu,'' jawab Naura datar.
''Benarkah? apa kamu tidak bahagia tinggal bersama mereka di sana? Apa kamu hidup menderita selama ini?'' Ibu menghentikan gerakan tangannya lalu menatap lekat wajah Naura.
''Hmm ... Nggak, Bu. Bukan begitu, eu ... Selama ini aku hidup bahagia ko, beneran,'' jawab Naura tidak ingin membuat sang ibu merasa khawatir.
''Oh ... Syukurlah, ibu pikir kamu tidak bahagia tinggal di sana.'' Ibu pun melanjutkan gerakan tangannya.
''Hmm ... Bu, papa dimana? aku ko gak liat dia?''
''Papamu di depan, sama Ibra. Mungkin lagi ada pelanggan yang lagi benerin motor.''
''Oh begitu, aku bantuin ya, Bu.''
''Emangnya kamu bisa masak?''
''Nggak bisa sih sebenarnya, makannya sekalian belajar, he ... he ... he ...'' jawab Naura kembali tersenyum cengengesan.
''Ya udah, kamu kupas bawang merah itu ya, di potong, sama bawang putihnya juga.''
''Oke ...''
Naura pun menghampiri meja lalu menatap bawang-bawangan yang berada di atas meja. Dia menatapnya dengan kening yang dikerutkan. Dia sama sekali tidak tau harus bagaimana karena sebenarnya selama ini dia sama sekali tidak pernah mengupas bawang apalagi memotongnya. Akhirnya dengan sedikit ragu-ragu sebenarnya, Naura pun mulai meraih satu buah bawang dan mulai mengupasnya sembarang.
'Duh kenapa mesti nawarin bantuin segala si? tenyata susah juga kupas bawang kayak gini, mana mata mulai perih lagi,' (Batin Naura)
Tidak lama kemudian Ibra pun datang menghampiri. Dia berdiri tepat di samping Naura dan tersenyum menatap tangan lentik yang kini tengah berkutat dengan pisau dan satu buah bawang di tangannya. Ibra pun tersenyum menertawakan kemudian.
''Lagi apa, Non?'' tanya Ibra terkekeh.
''Gak liat aku lagi kupas bawang,'' jawab Naura mengedipkan matanya secara berkali-kali.
''Kamu ini lagi kupas bawang apa lagi buang-buang bawa si? salah tau.''
''O ya ...? masa sih?''
''Hmm ... Cewek kayak kamu mana bisa kupas bawang?''
''Sembarangan! Bisa ko,'' jawab Naura menoleh ke arah Ibra hingga tanpa sadar tangannya kini teriris oleh pisau.
''Aww ... Sakit!'' ringis Naura menatap jarinya yang kini mengeluarkan darah segar.
''Nah 'kan?'' celetuk Ibra meraih tangan Naura.
''Kamu kenapa, Nak?'' Jasmine sang ibu pun menghampiri.
''Kena pisau, Bu. Sakit ...''
''Ya sudah, Ibra tolong obati tangan kakakmu, ini biar ibu yang terusin.''
''Baik, Bu.''
Ibra pun berjalan ke arah dalam dengan tangan yang masih memegang pergelangan tangan Naura. Tentu saja gadis itu pun cengengesan dan pura-pura merasa kesakitan. Matanya nampak menatap jari lebar Ibra dengan tersenyum senang. Ibra membawa Naura masuk ke dalam kamarnya dan memintanya duduk di tepi ranjang, sementara dia mengambil kotak obat yang memang selalu dia sediakan di kamarnya.
''Makannya, jangan so-so'an bantuin segala, udah tau gak bisa megang pisau,'' ucap Ibra berjongkok tepat di depan Naura.
''Hmm ... Aku 'kan cuma mau bantuin ibu, kasian dia masak sendirian tadi,'' rengek Naura dengan suara manja.
''Iya, tapi jadinya kayak gini 'kan?''
''Apa kamu khawatir?''
''Nggak, siapa bilang. Biasa aja,'' jawab Ibra berbohong, karena nyatanya dia memang merasa khawatir.
''Hmm ... Kirain kamu khawatir.''
Ibra pun mulai membalut luka bekas sayatan pisau tersebut. Luka yang sebenarnya tidak terlalu dalam hanya berupa goresan kecil memanjang. Lanun, mengeluarkan darah segar yang lumayan.
''Argh ... Sakit, pelan-pelan!'' ringis Naura dan sontak Ibra pun meniup jari lentik yang kini telah tertutup pelester tersebut.
''Apa sakit banget?'' tanya Ibra menundukkan kepala.
''Sakit, Argh ... Sakit pake banget, Ibra!''
''Kamu gak bohong 'kan?''
''Nggak, ini beneran sakit,'' Naura meringis kesakitan, lebih tepatnya hanya pura-pura kesakitan.
''Awas aja ya kalau kamu sampai bohong.''
''Udah-udah gak sakit ko. Maksih ya, adikku yang tampan.''
''Hus ... kamu mau, saya bilangin sama papa kalau kamu nakal?''
''Apaan, aku 'kan gak ngapa-ngapain kamu,'' jawab Naura mengerucutkan bibirnya.
''Nah itu, goda-goda saya kayak gitu?''
''Ngegoda apaan, aku 'kan cuma bilang terima kasih doang, apa salahnya?''
''Hmm ... Dasar ... Ya udah sana keluar lagi, aku mau istirahat,'' usir Ibra kemudian.
''Kita istirahat bareng aja di sini? gimana?'' Naura mengedipkan satu matanya.
''Tuh 'kan mulai lagi deh, buruan keluar,'' Ibra memaksa Naura untuk berdiri.
Tanpa mereka sadari Gabriel berdiri tepat di depan pintu yang memang dalam keadaan terbuka. Dia menatap mereka berdua seraya tersenyum kecil. Gabriel pun masuk ke dalam kamar membuat Naura merasa terkejut seketika.
''Ibra, yang sopan dong sama kakak kamu sendiri,'' tegur Gabriel dan Naura pun tersenyum seketika menjulurkan lidahnya layaknya anak kecil yang sedang meledek.
''Iya Pah. Dia nakal nih kaisar juga. Aku 'kan bisa keluar sendiri gak usah di usir-usir kayak gini,'' jawab Naura dengan nada suara manja.
Ibra pun membulatkan bola matanya, menatap wajah Naura dengan sedikit bergumam kesal.
''Ibra?'' tegur Gabriel membuat Ibra seketika hanya tersenyum cengengesan.
''Naura, papa mau bicara sama kamu, kita ngobrol di luar ya,'' pinta sang ayah berjalan keluar dari dalam kamar.
Naura pun mengikuti sang ayah dari arah belakang. Namun, sebelumnya dia menoleh terlebih dahulu ke arah Ibra dan mengedipkan satu matanya, seolah sedang menggoda membuat Ibra mengepalkan tangannya merasa kesal.
Di luar rumah Gabriel nampak duduk di kursi bersama Naura yang kini duduk tepat di sampingnya. Kedua Mata Naura nampak menatap lekat wajah sang ayah yang sangat dia rindukan itu.
''Aku rindu sekali sama papa,'' lirih Laura.
BERSAMBUNG ...
...****************...