Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Kolaborasi
Satu minggu kemudian ....
Ballroom Hotel Pradigma, kini mulai dipenuhi para pengunjung. Satu per satu masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan. House Concer kali ini diadakan dalam rangka penggalangan dana untuk korban bencana alam.
Banyak sekali pengisi acara dari para musisi ternama tanah air, salah satunya Nino. Ia sangat bersemangat, walaupun tidak mendapat bayaran.
Sofia selalu menanamkan pada putranya, tidak selalu menilai sesuatu dari uang. Namun, niat yang tulus.
Setelah menunggu beberapa kali penampilan, kini saat yang paling ditunggu-tunggu. Lampu panggung sudah dimatikan seluruhnya, lalu menyorot pada Nino yang tersenyum di atas panggung. Menatap ke arah sang mama, walaupun area penonton gelap gulita.
“Penampilan saya kali ini, saya persembahkan untuk mama. Wanita paling cantik yang duduk di sebelah sana,” tunjuk Nino pada kursi sang ibu. Dan kini satu lampu menyorot pada Sofia. Ia tersenyum sembari mengangguk.
“Selama ini banyak yang menanyakan di mana papa saya,” sambung Nino tak mengalihkan pandangan dari mamanya. Semua orang penasaran melongokkan kepala ke depan.
Sofia terperanjat. Senyum di bibirnya memudar, hal yang tidak pernah diungkapkan oleh Nino padanya.
Nino masih tersenyum, “Beliaulah papa saya. Hebat ‘kan? Bisa menjadi mama dan papa sekaligus. Ya, itulah mama saya. Mama yang selalu keras pada dirinya sendiri agar saya selalu bahagia. Mama yang tidak pernah mengeluh, kuat dan sangat baik.”
Suaranya tercekat, Nino tidak bisa melanjutkannya. Padahal masih banyak yang ingin ia sampaikan. Ia ingin menunjukkan pada dunia, bahwa mamanya orang paling hebat. Berhenti beberapa saat mengatur napas, lalu melanjutkan ucapannya.
“Ma, ini untukmu. I love you, Ma. Nino bangga jadi anak Mama!” ucapnya dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca.
Intro dimulai dengan denting piano, barulah Nino mengangkat biolanya di pundak. Matanya terpejam, tangan kanannya mulai menggesek senar hingga menghasilkan alunan biola yang menyayat hati. Sebuah instrumen lagu ‘ummi' sungguh membuat seluruh penonton terbius.
Perpaduan antara pianis dan gesekan biola yang menggetarkan hati setiap pendengarnya. Nino sendiri menitikkan air mata ketika memainkannya, betapa dia sangat bangga dengan ibunya. Tangisnya sampai pecah, tapi meski begitu, gesekan Nino justru semakin menyentuh kalbu.
Semua penonton terbius, tak sedikit yang berhasil menitikkan air mata karena instrumen indah yang berpadu di atas panggung. Hati mereka bak disayat sembilu. Begitu dalam masuk ke relung hati.
Sofia sedari tadi sibuk menyeka air matanya. Tak henti-hentinya bersyukur karena memiliki buah hati seperti Nino.
Betapa terkejutnya Sofia, ketika pianis di atas panggung mulai disorot. Matanya membelalak, sulit menelan salivanya. “Mas Reza,” gumamnya kesusahan menelan saliva. Dadanya berdegup kuat melihat ayah dan anak itu bergantian.
Jari jemari Reza begitu piawai memainkan tuts-tuts piano, bahkan tubuhnya sampai ikut bergerak menikmati setiap dentingnya.
Like father like son, ternyata bakat bermain musik diturunkan dari Reza. Ya, sewaktu muda Reza sudah piawai memainkan piano. Dan sejak kepergian Sofia, ia membeli satu set piano, kembali sering memainkannya untuk mengusir sepi.
Reza mencari informasi mengenai acara house concer ini pada guru les Nino. Alhasil, ia pun turut ingin tampil, berkolaborasi dengan Nino. Hingga selama satu minggu, mereka sering latihan bersama tanpa sepengetahuan Sofia.
Reza menoleh, lampu penonton masih menyorot pada Sofia seorang, yang duduk di barisan paling depan. Hingga ia bisa melihat dengan jelas keterkejutan wanita itu. Bulir bening pun menghujani wajah cantiknya.
Bersambung~
sambil dengerin instrumen biola lagu 'ummi' biar lebih menggetarkan 🤭
Terima kasih untuk like komennya, 🥰💖
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.