NovelToon NovelToon
A Grandmother'S Time Travel

A Grandmother'S Time Travel

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Time Travel / Romansa / Tamat
Popularitas:424.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aryani_aza

Bagaimana jadinya seorang Nenek menjelajah waktu ke zaman kuno?

Would you believe that?

Yaa ... Dia adalah seorang Nenek berusia 50 tahun bernama Chan Lya, yang harus menjelajah waktu ke Zaman kuno.

Nenek Chan terbunuh di saat ia menyelamatkan cucu kesayanganya dari pria yang ingin menangkap mereka, dan di saat-saat terakhirnya ... Nenek Chan berdo'a kepada sang dewa jika dia ingin mempunyai kehidupan ke dua, di mana dia adalah wanita kuat dan berkuasa agar semua orang tidak semena mena terhadapnya.

Akan ‘kah Nenek Chan bisa hidup di zaman kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aryani_aza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 : Kepulangan Putra Mahkota.

A Grandmother's Time Trevel•

...🐉🐉🐉...

Kereta kuda berlambang kerajaan melaju menuju jantung kota kekaisaran. Nenek Chan terus melihat ke arah jendela, menikmati sejuknya angin spoy-spoy yang masih asri.

Terbayang sejenak kenangan dirinya dan sang cucu ketika berlibur di pantai. Tawa itu ... senyuman itu ... keceriaan itu ... tidak bisa ia lupakan begitu saja.

Andai cucu nya ikut bersama dengan dirinya, mungkin saja hidupnya akan lebih sempurna. Tapi takdir Dewa tidak bisa mengubahnya, ia hanya bisa berdo'a untuk keselamatan sang cucu.

''Niyu, perintahkan kusir agar pergi ke Kuil terlebih dahulu.''

''Ba-baik Putri.'' Niyu mengerutkan keningnya saat Junjungan nya ini meminta di antar ke Kuil, bahkan dari kecil sampai sudah sedewasa ini, Junjungan nya tidak pernah ke Kuil.

''Semenjak bangun dari sakitnya, Putri selalu berlaku aneh.'' Gumam dayang Niyu dalam hati.

''Tidak perlu berpikiran yang bukan-bukan Niyu! Aku hanya ingin berdoa.'' pekik Nenek Chan yang tau arti diam nya Niyu.

Sedangkan dayang Niyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mengangguk. ''Maaf Putri ''

Tak butuh waktu lama ... Kereta kuda berhenti di depan kuil, Nenek Chan berjalan kedalam Kuil dan berdiri di depan patung Dewa Buddha.

Berdoa untuk keselamatan sang cucu yang jauh darinya, mungkin dengan cara ini Dewa akan sedikit kasihan terhadap dirinya karna jauh dari sang cucu.

Setelah urusan di Kuil selesai, Nenek Chan dan dayang Niyu pun masuk kembali ke dalam kereta kuda menuju Ibukota.

~

~

Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya kereta kuda berhenti tepat di jantung Ibukota kekaisaran. Membuat semua orang melihat ke arah kereta kuda yang mewah berlambang Istana berhenti tepat di depan mereka.

"Bukankah itu kereta kuda dari istana?"

"Iyaa betul."

"Siapa yang datang?"

"Putri Shuan mungkin."

"Atau jangan-jangan Putri Guan yang ada di dalam kereta kuda itu."

"Bukahkah Putri Mahkota Guan sedang sakit?"

"Lihat itu, lihat itu."

''Apa kalian sudah mendengar desas-desus nya.''

Semua orang berbisik bisik saat Nenek Chan melangkahkan kaki untuk turun dari kereta kuda, membuat semua orang membelalakan mata mereka karna melihat Putri Mahkota Guan yang turun dari kereta kuda.

''Salam Putri Mahkota Guan Lien.'' Ucap para Rakyat serentak, namun ada juga yang enggan mengucapkan salam karna mereka tidak suka dengan kehadiran Putri Mahkota Guan Lien.

Termasuk para Nona-nona Bangsawan yang sudah mendengar rumor yang tersebar. Bahwa Putri Mahkota Guan Lien selalu bersikap kasar dan tidak pantas menjadi Putri Mahkota.

''Tidak perlu canggung, aku hanya ingin jalan-jalan.'' Ujar Nenek Chan, mencoba untuk membubarkan kerumunan.

Dayang Niyu pun membubarkan dan mengusir semua orang yang berkerumun, hingga semua orang kembali beraktivitas lagi setelah di bubarkan oleh Niyu.

''Tuan Putri anda ingin ke mana?''

''Aku ingin makan di Restoran itu.'' Tunjuk Nenek Chan ke arah sebuah bangunan megah.

''Tapi Putri, tempat itu bukan hanya restoran saja, melainkan ...'' dayang Niyu berbisik hingga kedua bola mata Nenek Chan membulat sempurna.

''Baik, aku ingin ke sana.'' Nenek Chan antusiasi.

''Tap-Tapi Putri, tempat ituuu ...''

''Sudah, hanya tempat judi saja kau takut. Kaisar tidak akan menghukum ku.'' Nenek Chan berlari, layaknya anak kecil yang akan melakukan permainan seru.

Dayang Niyu yang melihat Junjungan nya menggigit kukunya dengan gelisah, ia takut jika ada seseorang melapor pada Kaisar jika Putri Mahkota berada di tempat Judi.

''Aahh ... terserah lah, Putrii tunggu hamba.''

Dayang Niyu berlari menyusul Junjungan nya ke dalam, namun sesampai di dalam ia celingak-celinguk mencari Junjungan nya yang tidak terlihat.

Yang dia lihat di depannya ada beberapa orang yang sedang bermain musik, beberapa pelayan yang tengah menyajikan makanan pada pelanggan. Dan di sebelah kanan tempat bermain judi dari kalangan menengah ke bawah, sedangkan di lantai atas untuk vip.

Seperti para Bangsawan, Sodagar kaya, Pengusaha, dan ada juga anggota kerajaan termasuk Putri Guan yang baru saja gabung.

''Ya ampun Putri.'' dayang Niyu langsung berlari ke atas menyusul Junjungan nya.

Nenek Chan berjalan ke sana kemari, melihat permainan ini dan itu, tapi Nenek Chan enggan untuk bermain karna dia tidak bisa bermain Judi.

Nenek Chan turun ke lantai bawah setelah beberapa pria lemah gemulai yang bernamakan (Bencoy alias Banci) menggoda dirinya, alhasil membuat Nenek chan menjadi lapar karna kesal.

''Niyu ... pesankan aku makanan.'' Nenek Chan duduk, lalu dengan refleks memijat kakinya. ''Ya ampun, kebiasaan lama.'' Nenek Chan duduk manis menunggu hidangannya datang.

~

~

Daging rusa tumis, sarang walet, dan beberapa makanan penutup sudah tersaji di meja.

''Silahkan di makan Putri, cobalah makan jamur ini.'' dayang Niyu menyodorkan jamur ke atas piring Junjungan nya.

Nenek chan menyuapkan jamur itu menggunakan sumpit dan mengunyah nya. ''Waaahhh ini enak sekali.''

Nenek Chan dengan lahap memakan semua makanan yang ada di atas meja dengan kalap, ia jarang sekali makanan banyak karna dulu usus kecilnya tidak bisa menampung makanan sebanyak yang dia mau.

''Apa kau tau, jika Pangeran Mahkota sedang berada di perjalanan dari perbatasan menuju istana.''

''Yang aku dengar ini mendadak, apa ada hal yang mendesak.''

''Sepertinya begitu.''

''Apa tidak menjadi masalah jika perbatasan di tinggalkan.''

''Di sana banyak prajurit dan komandan, tentu saja aman. Terlebih mungkin Jendral Bao yang menggantikan Pangeran Mahkota.''

''Aku sebagai rakyat bersyukur karna Pangeran Mahkota menjadi Pangeran yang sangat hebat dalam bidang apapun.''

Nenek Chan yang mendengar bisikan itu mengerutkan keningnya dan menoleh pada dayang Niyu.

''Apa Gege ku akan pulang?''

Dayang Niyu menggeleng, ''Hamba juga kurang tau Putri, karna Kaisar atau kasim tidak ada yang memberi tau dan memberi pengumuman kepulangan Putra Mahkota.''

''Baiklah, ayo kita pulang.'' Nenek Chan berdiri dari duduknya dan keluar dari Reston.

~

~

~

Sedangkan di sisi lain~

Putra Mahkota dan rombongan sudah sampai di istana, gong di pukul dengan kencang menyambut sang penerus tahta kerajaan Zhang.

Semua orang yang berpapasan menunduk dan memberi hormat pada Junjungan nya.

Tap. Tap. Tap.

Putra Mahkota dengan gagahnya turun dari kuda dan berjalan dengan tegak menuju Aula istana untuk memberi salam pada Ayahanda nya.

"Putra Mahkota telah tiba ..." Teriak kasim menggema di aula.

Putra Mahkota berlutut. "Salam Ayahanda."

"Ya ya ya ... kenapa kau berlutut anakku." Kaisar turun dari singahsana nya dan memeluk Putra kebanggaan nya. "Tidak perlu secanggung ini, tidak ada orang di sini."

Pangeran Mahkota tersenyum.

"Etiket tidak bisa di tinggalkan, aku sudah lama tidak pulang Ayah. Ketika Ayah menyambut ku dengan drum dan musik, saya harus menerimanya nya dengan rasa terima kasih." Ucap Putra Mahkota yang begitu sopan dalam tutur kata dan tingkah laku.

Kaisar terkekeh dan merangkul sang anak. "Kita ini keluarga bukan? Sesekali tidak perlu canggung."

"Katakan, apa perbatasan aman aman saja?"

"Tentu Ayahanda."

"Baiklah, tidak perlu tegang seperti itu. Ayo temui Ibunda dan MeiMei mu."

"MeiMei ... apa dia sudah sembuh?"

"Tentu saja, kesehatan nya jauh lebih baik di bandingkan beberapa bulan yang lalu."

Pangeran Mahkota tersenyum dan mengangguk. "Baik Ayah, di mana dia?"

"Tadi Ayah menyuruhnya untuk mengajak Pangeran Hong Yu jalan-jalan di istana."

"Pangeran Barat di sini?"

Kaisar mengangguk. "Ada beberapa bisnis yang baru saja di sepakati."

Pangeran Mahkota mengangguk. "Mari Ayah, kita temui Ibunda terlebih dahulu."

Ayah dan anak itu berjalan beriringan menuju kediaman Phonix, di mana Permaisuri tengah meminum teh sambil menyulam.

...🐉🐉🐉...

...LIKE.KOMEN.VOTE...

1
Alfa Kristanti
/Heart//Heart//Heart//Heart/
palupi
Luar biasa
lily
pangeran zhu Quan brrti dri kekaisaran mana
im3ld4
lah 3 tahun jadi leo wu😅
im3ld4
pintar🤣🤣
im3ld4
mulai doyan🤣
im3ld4
putrimu yg bakal memperkosa bocah tengik itu pak🤣🤣
im3ld4
ajarin nek sampe lihay🤣🤣🤣
im3ld4
hahahaha cerdas🤣🤣🤣
im3ld4
nenek ganas lg mantau mangsa🤣
im3ld4
pepet terusss nek🤣🤣
im3ld4
kipas modesta 🤣🤣
im3ld4
bapak anak koplak
im3ld4
oo masih suka😅
im3ld4
calon bulol 🤣
im3ld4
Cheng Yiiiiii... wuaaaa pacar akuuuuu
im3ld4
ke pinjol ya nek🤣🤣
im3ld4
gppnek.. kan dah almarhum🤣
im3ld4
kena mental si nenek🤣🤣
im3ld4
maklum lah dah tua yg time travel🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!